12.

1174 Words
Tubuh kurus berbalut jaket kulit warna hitam itu dibanting kasar diatas ranjang diikuti dengan nafasnya yang kasar dan frustasi. "Kali ini apa pembelaanmu, hah?!" bentak Damian kasar, "Untung saya datang tepat waktu kalau tidak apa yang akan terjadi padamu, MIKA?!" "Buktinya aku nggak papa, kan? Lagian aku kesana nggak sendirian. Marco akan menolongku!" "Yakin sekali kamu kalau b******n itu mau menolongmu?! Kau pikir dia punya akses akses untuk menjebol setiap pintu di Maximilian?!" ucapan Damian membuat Mika terdiam, gadis itu buang muka dan berkata, "Ya sudah terima kasih." Mika melirik sang kakak dari sudut matanya, setelah dirasa sang kakak agak menjauh, gadis itu berusaha bangkit dari atas sofa namun Damian mencengkram tangannya hingga gadis itu kembali terduduk. "Apa-apaan, sih? Aku sudah bilang TERIMA KASIH!" "Maaf Tuan." Seorang bodyguard masuk, mengalihkan perhatian Damian dari Mika, "Ini barang-barang Nona Mika yang tertinggal." tas tangan lengkap dengan dompet, ponsel serta kunci mobil diberikan. "Mana barangku!" Mika hendak meraih barang-barang miliknya yang berada di tangan Bodyguard namun Damian dengan cepat mengamankan benda-benda penting itu dari jangkauan sang adik. "Apa-apaan sih LO?! Itu barang gue semua, Damian!" teriaknya marah. "Mulai saat ini, semua barang ini akan saya sita." "Sita? Apa hak Lo nyita barang gue, Damian?!" manic itu melotot dengan emosi yang memuncak, tangannya yang bebas berusaha mencakar wajah sang kakak namun gerakan tangan Damian lebih cepat daripada tangan Mika hingga gadis itu kembali dalam kuasa Damian. "Ayah sudah menyerahkan dirimu pada saya." sudut bibir Damian naik, mengerikan, "Kenapa hm? Mau laporan pada Bunda?" Damian lantas bangkit dari atas tubuh Mika, pria itu mengulurkan tangannya dan sang bodyguard langsung memberikan ponsel Mika pada sang Tuan. "Pakai ponsel ini?" sudut bibir Damian menyeringai, "Prang!" ponsel itu dibanting kasar hingga menghantam lantai hingga barang mahal itu retak dibeberapa sisi, tak cukup sampai disana karena kaki berbalut sepatu itu langsung terangkat dan menginjak - injak layar ponsel itu berulang kali hingga layarnya pecah, tak berbentuk. "Damian b*****t! Apa yang kau lakukan pada ponselku, hah?!" Mika menjerit histeris, berusaha menyingkirkan kaki sang kakak yang tak henti menyiksa ponselnya. "Berhenti, b*****t!" tangis itu mengalir deras saat Damian menghentikan aksi brutalnya, tangan kecilnya yang bergetar meraih ponsel miliknya yang sudah hancur. "Bawa dia ke kamar dan jauhkan semua alat komunikasi yang memungkinkan dia menghubungi orang-orang sialan itu dan juga Bunda." "Baik, Tuan." Mika langsung digelandang oleh seorang Bodyguard, tubuhnya diseret paksa karena gadis itu kembali meronta. "Aku bukan tahanan, Damian b*****t!" teriaknya pada sang kakak dan melampiaskan kekesalannya itu dengan menggigit tangan bodyguard yang menyeretnya. Pria itu berteriak kesakitan, berusaha melepaskan gigitan Mika yang mirip seperti gigitan anjing, tajam hingga menusuk sampai ke kulitnya. "Lepaskan dia!" satu perintah tegas dan Mika langsung dilepaskan. "b*****t kau Damian! Jangan pikir kau bisa mengaturku seenak udelmu!" nafas Mika kasar sembari menatap Damian penuh benci. "Lalu kau mau apa Mika?" "Pergi dari rumah ini!"Jawaban Mika tegas, "Kau pikir aku Sudi satu atap dengan orang sepertimu?! NAJIS!" Mika membalikkan tubuhnya berniat keluar dari rumah namun suara Damian kembali terdengar. "Mau kemana kamu?!" Dan suara itu terdengar meremehkan, "Pergi ke tempat pacarmu atau ke rumah temanmu? Yakin sekali kalau mereka baik padamu dan mau menampungmu?" "Temanku bukan orang picik sepertimu, Damian!" "Ya, orang t***l tetap akan jadi orang tolol." Damian lantas menunjuk arah pintu, "Silahkan pergi sebelum kau berubah pikiran!" "Kau memang sialan, Damian! Awas saja kau! Kupastikan Bunda tahu semua perbuatanmu hari ini, Damian!" decih Mika sebelum keluar dari balik pintu rumah dan menutup pintunya kasar. "Awas saja kau b*****t! Gue pastiin Lo Mati setelah Bunda denger apa yang Lo lakuin ke gue!" Untuk terakhir kalinya Mika menatap gerbang tinggi warna hitam tempatnya tinggal selama ini dengan jari tengah terangkat diudara, "f**k YOU, DAMIAN!" Sementara itu, diujung sana disebuah rumah mewah khas keraton Solo, seorang wanita paruh baya berbaring nyalang diatas ranjangnya yang malam itu terasa sangat dingin. Manic tuanya menatap kearah meja, menyadari bahwa hari sudah semakin larut namun sang suami belum juga berada disisinya. "Kamu kemana Mas Alex." nafas itu lelah dan gundah sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menuju arah dapur berniat untuk menyeduh teh demi menenangkan hatinya. Suara air mendidih didalam ceret itu begitu panjang bertepatan dengan datangnya sang kepala keluarga, pria paruh baya itu menatap sang istri terkejut karena hari sudah malam namun wanita tercintanya itu belum tidur. "Kenapa belum tidur, hm?" Alex mendekat dan mengecup puncak kepala Luna dengan sayang. "Darimana?" Wajah Luna terangkat, menatap tepat di manic kelam sang suami yang teduh. "Ada urusan penting tadi. Maaf saya lupa membelikan pesananmu." Senyum Alex lembut, tanpa rasa bersalah hingga membuat sudut hati Luna sedikit tergores karena Alex tak jujur padanya. "Mas mau teh juga?" Luna berusaha menekan air matanya yang hendak mengalir, dia ingin membawa Alex duduk, menikmati teh dimalam hari sembari bicara berdua. "Maaf Luna, Mas lelah sekali. Mas mau istirahat dulu." Alex melepaskan pelukannya dari Luna. Pria itu hendak pergi saat Luna tiba-tiba mencengkram tangannya dengan erat. "Kenapa Mas Alex buru-buru pergi? Kenapa? Apa Mas Alex tidak mau duduk dan bicara pada Luna?" Luna menarik nafas sabar, "Kenapa Mas tidak jujur pada Luna?" "Jujur?" alis Alex naik, "Jujur mengenai apa, Luna?" "Tentang apa yang Mas lakukan hari ini." Luna menekan rasa sakitnya, "Tentang rahasia yang Mas sembunyikan selama ini. Tentang siapa Wulandari Ningsih?!" "Darimana kamu tahu nama itu, Luna?" "Jawab saja pertanyaanku mas!" air mata yang sedari tadi ditahan perlahan meleleh, "Kenapa kau sembunyikan dia dariku? Apa hubungan kalian?!" "Luna..." "Jawab saja pertanyaanku!" sentak Luna kasar, "Apakah dia orang yang penting bagimu?" "Ya. Dia adalah salah satu orang penting di hidup saya, Luna." "Oh." Luna menundukkan kepala, menggigit bibirnya dengan keras atas pengakuan Alex. Luna menahan nafasnya berat, membalikkan tubuhnya untuk mematikan kompor yang sedari tadi menjadi suara pengiring mereka berdua. "Aku akan pulang lebih dulu ke Jakarta dan tolong biarkan aku sendiri." "Bagaimana bisa membiarkanmu pergi sendiri? Jangan buat saya khawatir, Luna." "Untuk apa Mas peduli?" sudut bibir Luna tersenyum namun senyum itu penuh dengan luka. "Luna..." "Kalau mas masih peduli pada Luna, tolong hargai Luna." paruh baya itu hendak pergi dari dapur namun suara langkah kaki terburu-buru dengan nafas kasar datang diantara mereka berdua... "Maaf Tuan, Nyonya. Nona Mika kecelakaan!" Beberapa saat sebelumnya, di Jakarta. Gadis itu berjalan dengan langkah kesal, mengutuk jalanan kompleks yang sepi saat ini. "b*****t! Kalau aku masih pegang ponsel, aku bisa pesan Ojol." Mika lantas menarik nafas panjang, menekan rasa kesal karena hal itu bisa membuatnya lelah tanpa sebab sebelum akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanannya menuju pos security untuk meminjam ponsel mereka. Dan tanpa Mika sadari sebuah mobil terparkir tak jauh dari posisi Mika berada, sosok yang berada dalam sedan itu tersenyum sembari mengelus sudut dagunya. "Akhirnya kucing buangan itu keluar dari kandang tanpa pengawasan." Tangannya menyalakan mesin mobil, menekan gas dengan kekuatan penuh dengan sudut bibir menyeringai jahat. Tin! Pria itu menekan klakson keras dan bertubi-tubi hingga membuat Mika kaget. Mika belum sempat minggir untuk memberikan mobil itu jalan saat tubuhnya tiba-tiba dihantam dengan keras hingga tubuhnya membentur kerasnya aspal. Dan tubuh mungil itu perlahan memejamkan mata, menutup rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh dengan genangan darah yang menyebar di jalanan yang perlahan dingin itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD