13.

1061 Words
Wajah rapuh itu penuh dengan air mata, berusaha berjalan tegak dengan kedua kaki tuanya meskipun berulangkali hampir terjatuh karena sekujur tubuhnya melemas setelah mendengar kabar mengenai bungsu kesayangannya. "Hati-hati, Luna." Sang suami pada akhirnya memapah sosok rapuh itu, menuntunnya menuju ruangan dimana si bungsu kini dirawat. "Selamat pagi, Tuan Nyonya." seorang bodyguard yang duduk di lorong langsung berdiri, menyambut kedatangan sang Tuan sembari menundukkan kepala sopan. "Bagaimana putriku...?" Luna menggigit bibirnya keras dengan air mata mengalir di pipi, menatap bodyguard besar itu dengan rapuhnya. "Nona sudah mendapatkan perawatan dari dokter dan sampai detik ini, Nona belum juga sadar." Bodyguard itu lantas membuka pintu, mempersilahkan Tuan dan sang nyonya untuk masuk. Luna langsung melepaskan tuntunan sang suami begitu melihat bayi mungilnya terpejam erat diatas brankar. Kaki tuanya melangkah sebelum akhirnya jatuh terduduk disamping brankar. Menangisi kondisi Mika yang menyedihkan dengan luka di kepala sebelah kiri yang menjalar sampai ke pipi cantiknya serta serta luka lecet di tangan sebelah kiri. "Bagaimana bisa jadi seperti ini, Nak?" Tangan Luna terangkat, menyentuh tangan Mika yang kini teramat dingin di kulit hangatnya, mengecupinya perlahan dengan air mata tak henti mengalir. "Ceklek!" Pintu terbuka dan Alex yang sedari tadi berdiri dibelakang sang istri mengalihkan pandangannya. "Kita bicara diluar, Damian." ajak paruh baya itu pada si sulung. Keduanya memutuskan pergi ke kantin rumah sakit, duduk dengan ditemani satu cangkir kopi didepan masing-masing. "Bisa kau jelaskan kenapa Mika sampai seperti itu?" Alex bertanya setelah menyesap kopinya, manicnya menatap si sulung tajam, minta penjelasan. "Hal buruk menimpa Mika saat dia pergi ke club' beruntung Damian bisa menyelamatkannya dan membawanya pulang. Dia mengamuk dan pergi dari rumah saat Damian menyita barang-barangnya. Bodohnya Damian tidak segera menyusul Mika saat dia pergi karena Damian pikir Mika tidak mungkin pergi jauh tanpa membawa apapun." Damian menarik nafas lelah, "Harusnya Damian bisa mencegah hal itu terjadi pada Mika jika Damian menyusulnya lebih cepat." "Dimana kejadiannya?" "Masih di area kompleks perumahan, mobil yang menabrak Mika tertangkap CCTV kompleks namun sayangnya saat mobil itu berhasil terlacak, kami menemukan mobil itu hancur dan pengemudinya tewas." Damian memijat kepalanya, kepalanya berdenyut keras dengan ratusan palu yang berebut memukuli kepalanya. "Pulanglah, istirahat. Masalah Kantor dan Mika, biar ayah yang urus." Alex menepuk pundak Damian pelan sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi. Sedangkan Alex sendiri menghabiskan kopinya sebelum kembali ke ruang rawat Mika, meneguk cairan hitam pahit itu agar matanya tetap terjaga. "Apakah Mika akan cepat sembuh?" Luna yang sedari tadi menggenggam tangan Mika sembari menatap putri kecilnya itu dengan tatapan kosong mulai bersuara saat pintu dibuka. "Saya akan mengusahakan yang terbaik untuknya, jangan khawatir." "Kamu memintaku untuk jangan khawatir sedangkan putriku sedang tidak baik-baik saja saat ini?" Luna menggigit bibirnya keras, perih. "Luna..." "Ingatkah kamu kalau hari ini adalah ulang tahun Mika?" Luna tersenyum dibalik tangisnya, "Dia seharusnya tidak ada disini. Dia seharusnya di rumah, merayakan ulang tahunnya!" "Luna..." "Keluar Mas.! Aku hanya ingin berdua dengan putriku." "Kamu pasti lelah saat ini Luna, setelah semalaman tidak bisa tidur dan harus melakukan perjalanan jauh dari Solo ke Jakarta..." Mereka tidak bisa langsung pulang saat menerima kabar mengenai Mika dan harus menunggu pagi karena jadwal kereta maupun pesawat menuju Jakarta hanya tersedia di pagi hari. "Baiklah." akhirnya Alex mengalah, pria paruh baya itu mengecup puncak kepala Luna sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan. "Huft!" Alex menarik nafas lelah setelah sebelumnya menguap lebar, pria itu berusaha membuka matanya yang lelah. "Saya pergi sebentar. Tolong jaga istri dan anak saya." pesannya pada sang bodyguard. "Baik, Tuan." sosok besar itu menganggukkan kepala setelah sang tuan pergi. Alex berniat pulang sebentar untuk membasuh tubuhnya yang lengket dan ganti baju serta membawakan makanan untuk sang istri. Sementara itu setelah kepergian Alex, seorang dokter datang, menundukkan kepalanya sejenak pada sang bodyguard yang bertugas sebelum masuk ke dalam ruang rawat. "Selamat pagi, Nyonya." sosok bermasker dan berkacamata tebal itu tersenyum kearah Luna dan wanita paruh baya itu segera bangkit dari duduknya menyapa sang dokter dengan senyum teduhnya kemudian memberikan ruang bagi sang dokter untuk memeriksa putrinya. "Bagaimana putri saya dokter?" Luna tidak sabar untuk bertanya bahkan sebelum sang dokter melakukan pemeriksaan. "Putri anda sepertinya tidak pantas hidup, Nyonya." perkataan yang keluar dari balik masker itu membuat Luna melotot lebar, kaget. "Apa anda paham ucapan saya?" sosok itu menghadap kearah Luna, menatap sosok rapuh itu tajam diikuti dengan langkah kakinya yang perlahan mendekat. "Jangan macam-macam pada kami! Suamiku dan bodyguard ada didepan sana, aku bisa teriak dan membuatmu tamat detik itu juga!" "Jangan harap mereka dengar suara anda Nyonya." tangan besar itu bergerak dengan cepat, memukul tengkuk Luna hingga tubuh paruh baya itu tak sadarkan diri dan menghantam lantai dengan keras. "Tua-tua menyusahkan." Manic itu menatap Luna dengan tatapan kosong sebelum akhirnya mendekat kearah brankar dimana Mika masih setia memejamkan matanya dengan damai. "Hai anak pungut. Saya lihat hidupmu nyaman sekali sejak dibawa ke keluarga Bayu." wajah pria itu menunduk, menatap Mika dengan tatapan tak suka, "Mereka terlalu baik pada anak pungut tak tahu diri sepertimu. Dan sekarang sudah saatnya kau pergi dari dunia ini." Tangan pria itu mencabut infus yang menancap di pergelangan tangan Mika hingga membuat darahnya secara perlahan mengalir lewat luka itu. Pria itu lantas merogoh saku jas dokternya, mengambil pisau lipat disana, "Sepertinya kau butuh luka yang lebih lebar supaya darahmu keluar lebih banyak." pria itu mengelus pisau tajam yang ada di tangannya dengan tatapan kagum pada benda tajam itu. "Crash!" satu kali goresan tepat di nasi dan setelahnya darah Mika mulai mengalir. "Saya harus pergi sekarang anak sialan. Semoga setelah ini kau langsung mati." bisik pria itu di telinga Mika. Sebelum pergi, pria itu mengangkat tubuh Luna dan mendudukkan wanita paruh baya itu disamping brankar. Pria itu mengelus surai Luna dengan lembut sembari berbisik lirih di telinganya, "Selamat tinggal Luna, semoga saat kau bangun nanti, anak sialan yang kau sangka anakmu itu sudah mati karena kehabisan darah." pria itu memajukan wajahnya, mengecup pelipis Luna sebagai bentuk perpisahan. "Ceklek!" Pria itu membuka pintu ruang rawat dan menyapa sang bodyguard dengan senyum ramahnya, "Terima kasih sudah mengijinkan saya masuk untuk mengecek kondisi pasien saya." "Sama-sama, dokter." sang bodyguard tersenyum tipis dengan kepala mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, saya harus pergi karena masih banyak pasien yang harus saya cek kondisinya. Permisi." pamitnya ramah sembari berlalu dari hadapan sang bodyguard. Pria itu tersenyum lebar dibalik maskernya, "Semoga kau suka dengan kejutan yang kuberikan Alex. Semoga kau dan istrimu semakin hancur saat melihat pengganti putri kandungmu itu mati."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD