Pintu kamar ditutup dan tubuh itu luruh diatas lantai sembari menyembunyikan wajahnya yang penuh tangis diantara kaki dan tangannya.
'Kenapa aku baru tahu hal seperti ini sekarang?'
'Kenapa tidak ada satupun yang memberitahu akan hal ini?'
'Apakah Bunda membenciku karena aku bukan anak kandungnya?' Mika mengangkat kepalanya, 'Bunda benci padaku karena aku bukan anaknya terlebih lagi Bunda juga tahu bagaimana kelakuanku selama ini. Beliau pasti berpikir kalau aku anak pungut tak tahu diri. Aku sudah dibesarkan dengan baik tapi kelakuanku membuat malu keluarga ini.'
Mika lantas mengangkat kepalanya, menatap keseluruhan kamar bernuansa putih manis yang menjadi tempat pribadinya selama 20 tahun terakhir.
Hidup Mika sangat berkecukupan, apapun yang dia inginkan selalu terpenuhi namun sayang semua telah berakhir karena semua ini nyatanya bukan miliknya tapi milik putri kandung dari keluarga Bayu yang bahkan namanyapun diambil paksa oleh Mika.
'Apakah aku masih pantas berada di rumah ini?' Gadis itu termenung cukup lama hingga akhirnya dia mengambil satu keputusan.
Mika akan pergi dari rumah ini, meninggalkan semuanya yang bukan haknya karena pada dasarnya dia bukanlah siapa-siapa.
Mika membuka lebar pintu wall in closed-nya, mengambil sebuah tas ukuran sedang kemudian mengambil beberapa baju untuk dimasukkan ke dalamnya.
Sebelum pergi Mikaila melepaskan seluruh perhiasan yang melekat di tubuhnya dan meletakkannya di kotak perhiasan.
"Memang seperti inilah kamu sebenarnya, tidak punya apapun." Mika hendak keluar dari kamar saat matanya tertumbuk pada dompet serta ponsel diatas meja rias.
"Bodoh banget! Lo butuh KTP buat identitas diri!" Mika membuka dompet namun tangannya terhentinya saat lembaran berwarna merah menyapa.
"It's Ok! Ambil secukupnya saja." putusnya dan setelahnya gadis itu mencatat beberapa nomor penting dari ponselnya karena Mika juga memutuskan untuk tidak membawa ponsel.
'Aku akan beli ponsel lain yang lebih murah setelah aku dapat pekerjaan.' pikirnya praktis.
Mika pergi dari rumah besar itu di jam 2 dini hari dimana seluruh anggota keluarga terlelap dalam tidur.
"Nona mau kemana?" Tapi tidak dengan security yang bertugas.
"Saya pergi." ucap Mika, "Saya mohon jangan beritahu siapapun mengenai hal ini. Jika ada yang bertanya, tolong jawab tidak tahu."
"Tapi Nona..."
"Saya mohon, Pak." gadis yang biasanya culas dan suka seenaknya sendiri pada pelayan di rumah itu menatap pria besar itu dengan wajah penuh permohonan.
Yah meskipun Mika sendiri ragu ada yang mencarinya setelah identitasnya terbongkar.
Mika berhasil keluar dari rumah dan tujuannya adalah pergi ke kost Marco atau rumah Thea sebelum dia dapat tempat tinggal sendiri. Mika keluar area kompleks perumahan dengan berjalan kaki, gadis itu lantas berdiri tegak di pinggir jalan raya sembari berharap ada angkot ataupun ojek yang lewat di jam.
Mika tertawa sendiri akan kebodohannya, gadis itu akhirnya memutuskan untuk menggunakan kedua kakinya, berjalan menekuri jalanan seorang diri meskipun rasa takut itu mendominasi.
Dan nafas Mika hampir putus saat sampai di depan kost Marco meskipun berulangkali dia singgah di Minimarket 24 jam untuk mengistirahatkan kaki serta untuk beli minum.
Mika naik ke lantai dua dimana kamar kost sang kekasih berada, berharap pemuda itu sudah bangun di jam 7 pagi ini karena setahu Mika, pemuda itu ada kuliah di jam 8 nanti.
Tangan Mika terangkat, mengetuk pintu kamar Marco dan si pemilik langsung membuka pintunya.
"Ngapain kesini pagi-pagi?" itu adalah pertanyaan yang keluar dari bibir Marco begitu melihat Mika berdiri didepan kamarnya.
"Boleh masuk nggak? Aku capek." ucap Mika yang tentunya langsung dipersilahkan masuk oleh Marco dan gadis itu langsung ambruk diatas ranjang.
"Kamu mau kemana bawa-bawa tas begitu?" Marco mengangkat tas punggung yang Mika meletakkan diatas lantai.
"Kesini." ucap Mika dengan mata terpejam, mengantuk.
"Kamu kelihatan capek banget. Kayak habis naik gunung." ucap Marco sembari membuka kulkas, mengambil air dingin untuk dia minum.
"Aku kesini jalan kaki." ucap Mika dengan mata tertutupnya hingga membuat Marco yang sedang minum langsung tersedak, kaget.
"Dari rumahmu kesini jalan kaki?!" ulang Marco dengan mata melotot, "Kalau mau kesini harusnya kamu telepon aku biar aku jemput, Mika."
"Aku nggak bawa ponsel. Aku nggak bawa apapun, Marco."
"Maksudnya?" alis pria itu terangkat, menatap Mika bingung, "Kamu kabur dari rumah?" Marco duduk disamping ranjang dekat tubuh Mika yang terbaring.
"Marco." Mika langsung bangkit, menatap mata sang kekasih tajam, "Kamu cinta aku, kan?"
"CINTALAH!" suara Marco mengalun keras tanpa kontrol, ekspresi gugup sempat terlihat di wajah pemuda itu namun bodohnya Mika tidak melihatnya.
"Kalau begitu, bagaimana menurutmu kalau aku meninggalkan semua kemewahan dan semua fasilitas yang kupakai selama ini."
"Semua orang ingin hidup nyaman dan tenang seperti kamu, Mika! Jangan aneh-aneh!"
"Masalahnya...Aku tidak berhak mendapatkan itu semua, Marco." Mika menatap Marco dengan manic berkaca, "Aku bukan anak kandung mereka. Aku hanya anak pungut."
"Jangan bercanda, Mika." Marco tertawa, "Kamu pikir aku bakalan percaya?" Tawa Marco perlahan luntur saat tak ada ekspresi keluar dari wajah Mika, "Kamu hanya anak pungut?" Marco menelan ludahnya serat.
"Ya. Dan semua sudah berakhir sekarang. Aku sudah sadar posisiku dan aku tidak mau membuat mereka semakin susah dengan kelakuanku."
"Mereka yang mengusirmu atau kau pergi sendiri dari sana?"
"Aku pergi." jawab Mika dengan senyum tipis penuh sedih.
'Bego banget sih! Kalau belum diusir ya jangan pergi Mika! Lo mau jadi gelandangan, hah?!' Marco menelan makian itu dalam hati.
"Mereka pasti mencarimu saat ini. Ayo kuantar pulang!" Marco hendak bangkit namun tangan Mika dengan cepat menahannya.
"Aku tidak akan kembali kesana." geleng Mika pelan.
"Mika?"
"Marco." Mika menelan ludahnya serat, "Maukah kamu membantuku. Ijinkan aku tinggal disini sebentar saja. Sampai aku dapat pekerjaan."
'Anjing! Ogah gua!' teriak hatinya tertahan.
"Mika, bukannya aku nggak mau bantu kamu, tapi kamu tahukan kalau disini satu kamar satu orang. Apalagi Cowok dan cewek tidak boleh satu kamar."
'Lo mau numpang disini? Gila! Males banget gue terus-menerus sama Lo!' batin Marco enek.
"Lalu aku harus bagaimana?" Mika menundukkan kepalanya, berpikir, "Thea!"
"Sudah beberapa hari Thea tidak bisa dihubungi, sejak kita pergi ke club'." desah Marco pelan, "Thea menghilang begitu saja dan kamu juga saat itu tiba-tiba menghilang dari club', ninggalin aku sendirian."
'Setelah beberapa hari menghilang, Lo tiba-tiba datang mau ngerepotin gue!'
"Aku dibawa pulang oleh Kak Damian, setelah itu aku kecelakaan dan sempat koma." ucap Mika dengan wajah sedih dan Marco baru menyadari kalau ada sedikit luka di pipi kiri gadis itu.
"Mika sebenarnya aku harus ke kampus sekarang, aku ada jadwal pagi."
"Aku boleh disini sebentar, kan?"
"Ehm bagaimana ya?" Marco mengerutkan alisnya, berpikir, "Sebenarnya, penjaga kost melarang siapapun untuk masuk ada berada dikawasan kost selain penghuni kost itu sendiri."
"Tapi..."
"Kemarin ada yang kemalingan. Ponsel, laptop, tablet, uang juga jadi penjaga kost memperketat sistem keamanan dan pengunjung." ucap Marco dengan ringisan tipis.
"Oh." Mika menundukkan kepalanya, sedih.
"Mika ayo kita keluar sekarang." Marco meraih kunci motornya diatas meja, kemudian mengambil tas ransel Mika sembari meraih tangan gadis itu untuk keluar dari kamarnya.
'Ayo pergi dari hadapan gue, Mika! Males banget gue ladenin Lo!
"Eh tunggu! Kamu ada jadwal kuliah juga pagi ini..."
"Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahku." ucap Mika dengan nada sedih.
'Anjing! banget nih cewek! Bego!
"Ok kalau begitu, aku pergi sekarang." Marco mengunci pintu kamarnya, "Aku pergi sekarang, aku tidak mau telat." Dan pergi begitu saja meninggalkan Mika.
Sementara itu kekacauan datang ke rumah besar keluarga Bayu dan sang kepala rumah tangga memijat pelipisnya pusing.
"Mika pergi dari rumah tanpa membawa apapun bahkan ponselnya ditinggal begitu saja. Kita tidak bisa melacaknya jika seperti ini!" Alex menatap sang istri yang diam termenung di taman samping, menatap indahnya bunga-bunga yang bermekaran, "Apa mungkin dia mendengar pembicaraan kita semalam?"
"Bukankah bagus jika dia pergi dari rumah." jawab Luna tanpa hati, "Aku senang karena dia tahu diri dan tahu posisinya." Luna lantas bangkit, pergi begitu saja dari hadapan sang suami.
"Bagaimanapun dia anak kita juga Luna."
"Maaf mas, dia bukan Mikailaku."