17.

1129 Words
Luna menarik nafas panjang demi menahan sesak di di hatinya yang kini terluka sangat lebar akibat pernyataan sang suami tentang kebenaran menyakitkan yang telah pria itu tutupi selama 20 tahun. "Lalu, sampai detik ini kau belum menemukan Mikailaku?" "Belum." geleng Alex lemah dengan wajah penuh putus asa, "Saya sudah mencari kesemua tempat, memerintah Dewa untuk terjun langsung mencari putri kita..." "Anda memerintah orang lain untuk mencari putri anda sedangkan anda disini berakting seolah semuanya baik-baik saja?! Dimana hati nurani anda?!" "Luna..." "Anda tahu bagaimana kacaunya saya saat saya tahu semua ini dari mulut anda, TUAN ALEX?!" nada suara Luna naik, air mata yang mati-matian dia tahan pada akhirnya luruh membasahi pipi keriputnya diikuti dengan Isak tangis memilukan, "Bagaimana perasaan saya saat tahu bayi mungil yang saya besarkan dengan penuh kasih sayang ternyata bukan putri kandung saya?! Kenapa anda lakukan hal mengerikan itu pada saya?!" "Luna..." Alex turun dari sofa, bersimpuh dihadapan sang istri, berniat menggenggam tangan rapuhnya namun ditepis kasar oleh wanita itu. "Luna, maafkan saya." Alex menarik nafas panjang, "Saya melakukan hal itu karena terpaksa. Saya tidak mau melihatmu semakin drop saat tahu keadaan yang sebenarnya tentang anak kita." "Seperti apa putriku? Seperti apa Mikailaku?" Luna tidak peduli dengan pembelaan Alex karena yang paling dia ingin ketahui saat ini adalah putri kecilnya yang hilang, putri kecilnya yang selama 9 bulan berbagi kasih sayang dalam tubuhnya sekaligus bayi mungil malang yang belum pernah dia lihat bagaimana parasnya. "Dia cantik dan kecil. Dia mirip seperti dirimu." ucapan Alex membuat luka Luna semakin menganga, perih. Alex lantas mengambil dompetnya, mengambil satu-satunya potret Mikaila mungil mereka dan memberikannya pada sang istri. "Apakah ini, Mikailaku?" tangan rapuh itu bergetar saat menerima foto yang diberikan sang suami. Manicnya yang bersimbah air menatap Alex rapuh. "Iya." anggukan pelan itu membuat isak itu semakin pilu, jemarinya yang rapuh terulur, mengelus potret putri kecilnya, "Mikailaku..." "Bagaimana keadaanmu sekarang, Nak? Apakah kamu masih hidup? Apakah kamu tidak merindukan bunda? Apakah kamu juga mencari-cari keberadaan Bunda? Putriku..." Alex langsung memeluk kekasih hatinya itu, mengelus punggungnya yang rapuh untuk menenangkannya, mengecup dahinya berulang kali sembari menghapus air mata rapuhnya. Tangis Luna semakin lama semakin lirih dan Alex mendapati tubuh sang istri melemah dalam dekapannya. Alex mengangkat tubuh rapuh sang istri, membawanya ke kamar mereka dan membaringkan tubuh Luna diatas ranjang, menarik selimut untuk sang istri kemudian mengecup puncak kepalanya dalam, "Maaf, Luna. Maafkan kebodohan dan juga ketidak becusan saya dalam menjaga keluarga kita. Saya berjanji akan mencari putri kita meskipun nyawa saya sendiri taruhannya." Alex hendak menemani Luna namun sayang niatnya gagal karena ponselnya berdering nyaring dan terpampang nama Bodyguard yang menjaga Mikaila di rumah sakit. "Maaf menganggu anda, Tuan Alex. Saya ingin memberikan kabar bahwa Nona Mikaila sudah siuman." "Ya. Terima kasih." Alex harus segera pergi ke rumah sakit, mengurus Mikaila karena bagaimanapun juga gadis itu adalah tanggung jawabnya. "Ayah..." suara gadis itu begitu lemah dan tipis saat Alex datang, wajahnya pucat dan sayu. "Hai sayang." Alex duduk disamping ranjang. "Bunda?" Alex hampir tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Mikaila namun insting pria itu mengatakan bahwa Mika mencari Bundanya. "Bunda istirahat di rumah, beliau tidak enak badan karena semalaman menunggu Mikaila sadar." Alex mengelus puncak kepala Mika sayang, "Setelah Bunda sehat, Bunda akan datang menjengukmu." Namun pada kenyataannya Luna sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya sampai Luna dinyatakan bisa keluar dari rumah sakit. Mikaila kembali bertanya pada sang ayah dan lagi-lagi Mika mendapatkan jawaban yang sama. "Bunda..." Mikaila melangkah ke dalam rumah dan mendapati sang ibu duduk termenung sembari menatap layar televisi menyala. Wanita itu menolehkan kepalanya sebentar kearah Mika, menatapnya dengan tatapan kosong sebelum akhirnya bangkit dari atas sofa dan pergi begitu saja tanpa bicara apapun. "Ayah, Bunda kenapa?" Mikaila menatap sang ayah bingung akan sikap sang ibu padanya karena jika disituasi normal sang ibu pasti akan menghampirinya dan memeluknya erat. "Bunda masih kurang sehat." senyum Alex tipis, "Ayo ke kamarmu. Kamu masih butuh banyak istirahat." Mikaila menganggukkan kepalanya mengerti namun kejadian Luna mengacuhkan Mikaila semakin hari semakin kentara bahkan paruh baya itu langsung pergi begitu melihat bayang Mika mendekat kearahnya. "Bunda." Senyum Mikaila lebar saat mendapati sang bunda berada di meja makan, Mikaila langsung menghampiri wanita paruh baya itu, berniat duduk disampingnya namun Sang ibu langsung menipiskan bibirnya yang semula tersenyum kearah di sulung, meraih sapu tangan diatas meja untuk mengelap bibirnya yang bersih sebelum akhirnya bangkit dari atas kursinya, berniat untuk pergi. Mika terdiam diujung meja makan, menatap sang Bunda yang sama sekali tak mau menatapnya, 'Jika Bunda marah pada Mika, tolong beritahu salah Mika dimana?' Wajah cantik itu menunduk, menyembunyikan air matanya yang menumpuk di pelupuk mata. "Mikaila?" suara berat dan lembut sang ayah mengalun hingga membuat Mikaila wajahnya, "Ayo sini, sarapan." pria itu menepuk sisi kirinya dan tanpa diminta dua kali, gadis itu langsung duduk disana. "Jangan diambil hati sikap Bundamu tadi, dia sedang tidak mood. Tahu sendirikan bagaimana mood wanita?" "Ya." angguk Mika pelan, gadis itu lantas mengalihkan pandangannya dan bertemu mata dengan sang kakak dan seperti biasanya pria itu menatap Mikaila dingin, tanpa ekspresi. Setelah makan malam usai, mereka kembali ke kamar masing-masing termasuk sang kepala keluarga, pria itu membuka pintu kamar dan mendapati sang istri berbaring diatas ranjang sembari menatap kosong potret bayi mungil mereka yang hilang. "Luna, bisa bicara sebentar?" manic wanita paruh baya itu bergerak, menatap sang suami. "Bisakah kamu bersikap biasa saja pada Mika?" suara itu begitu lembut, tak ada niat untuk menyakiti, "Bagaimanapun dia adalah anak yang telah kita besarkan, dia seperti anak bagi kita." "Dia anakku!" jawab Luna cepat dengan emosi yang tiba-tiba naik, "Jika kau menganggapnya sebagai anakmu, lakukan saja tapi aku tidak Sudi punya anak seperti dia." Luna menggigit bibirnya keras dengan air mata menumpuk di pelupuk mata. "Harusnya sejak awal aku tahu dia bukan anakku! Harusnya sejak awal aku tahu anakku akan jadi anak yang manis dan baik bukan gadis liar dan menjijikkan seperti dia!" Selama ini Luna tahu segala perbuatan yang dilakukan Mika dibelakangnya namun paruh baya itu tutup mata karena dia begitu sayang pada si bungsu. "Luna..." "Apa? Mas Alex mau membelanya?" mata itu secara perlahan kembali mengeluarkan air mata. "Luna, Mas mengerti bagaimana perasaanmu saat ini." "Jika mas mengerti, tolong keluar! Tinggalkan Luna dan jangan pernah kembali sebelum membawa putri kandungku kembali padaku!" Luna menutup matanya erat dengan suara Isak tangis memilukan, "Yang kumau sekarang adalah putriku! Putri kandungku. Bukan orang lain, Mas." Tanpa mereka berdua sadari, sosok yang sedang mereka bicarakan berdiri di depan pintu kamar utama yang sedikit terbuka. Dia mendengar dengan jelas setiap kalimat yang keluar dari bibir dua orang paruh baya yang selama ini dia anggap sebagai ayah dan Bundanya itu. Apa yang dia dengar sudah cukup baginya hingga membuatnya menarik langkah mundur dan menutup pintu kamar utama perlahan. "Jadi selama ini aku..." manic kelam itu berkaca dengan sesak menghantam d**a, "Aku bukan anak kandung mereka..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD