"Bugh!" pukulan besar itu menghantam wajah pria bersetelan rapi yang ada didepannya, membuat wajah tampan itu terluka dengan darah mengalir di hidung.
"Apa katamu?!" Alex yang semula dikuasai rasa sesak karena putri kecilnya menghilang kini meledakkan emosinya saat pria yang menjabat sebagai direktur rumah sakit itu berkata bahwa CCTV disekitar ruangan bayi mati.
"Apa kerja kalian, hah?! Apa rumah sakit sebesar ini tidak bisa memberikan keamanan untuk pasiennya?!" Alex mengeram marah, tangan pria itu mencengkram leher direktur rumah sakit dan mendorongnya sampai membentur dinding.
"Putriku hilang dan kalian hanya berkata bahwa CCTV dibeberapa sudut mati?!" Alex berteriak marah dengan emosi yang mulai tak terkontrol.
"Kami harap anda tetap tenang, Tuan." beberapa petugas berusaha menenangkannya.
"Anakku hilang dan kalian memintaku untuk tenang?!" Cengkraman tangan Alex dileher pria itu semakin keras hingga menutup jalan pernafasannya. Pemberontakannya pun sia-sia karena Alex mengunci gerak tangan dan kakinya.
"Dagh!" Benturan keras diberikan Alex pada kepala direktur itu, tidak hanya sekali namun berulang kali hingga pria itu tak sadarkan diri.
"Kalian harus tanggung jawab dengan apa yang terjadi pada anak saya!"
"Cukup, Alex!" Joshua datang dan langsung menghentikan pria sedang kalap itu dibantu beberapa petugas keamanan, mereka cukup kewalahan menangani singa yang sedang mengamuk itu.
"Marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah!" Joshua membentak Alex yang kini menatapnya tajam dengan wajah penuh emosi, "Kita cari anakmu dengan cara kita."
"Ajukan tuntutan pada rumah sakit ini. Pastikan mereka semua menyesal telah main-main dengan saya!" Alex mengeram marah sebelum akhirnya pergi sembari membanting pintu ruang CCTV itu keras.
Namun nyatanya pencarian bungsu yang baru lahir itu tidak semudah itu. Bahkan ini sudah 2 hari sejak Mikaila menghilang dan tidak ada bukti apapun yang bisa membantu mereka.
Semuanya nihil, tidak ada satupun yang bisa dituduh sebagai tersangka dan tidak ada jejak untuk ditelusuri.
Bella serta Wijaya nihil dari daftar tersangka karena kedua orang tuanya itu sudah lama menetap di Singapura dan tak mau tahu urusan apapun mengenai Angkasa Jaya maupun Alex, selain mereka berdua tidak ada lagi yang patut dicurigai.
Tiadanya tersangka, bukti maupun saksi membuat masalah semakin rumit.
Kepala Alex hampir meledak karena itu.
Tuntutan terhadap rumah sakit sudah berjalan namun Alex tidak bisa begitu saja memindahkan Luna ke rumah sakit yang lain karena istrinya itu bisa curiga.
"Mana anak kita, Alex?" Itu adalah pertanyaan Luna yang kesekian kalinya saat Alex masuk kedalam ruang rawat sang istri, "Dia pasti haus sekarang." ucap Luna sembari menatap sendu pada ASI-nya yang terus menetes.
"Dia baik-baik saja, Luna. Dokter melarang untuk dibawa ke sini karena kondisimu yang tidak stabil." Itu adalah kebohongan Alex untuk kesekian kalinya.
"Aku hanya ingin melihat putriku, tidak lebih. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."Luna menggigit bibirnya, menahan isak tangis.
"Mas akan coba bicara dengan dokter sebentar." Alex lantas menghapus air mata Luna dengan jemarinya yang bergetar, mengecup puncak kepala sang istri sebelum keluar ruangan.
Alex keluar dari ruangan Luna dengan wajah linglung. Pria itu meremas surainya keras sembari berteriak tertahan. Perasaannya kacau, stress dan khawatir.
Alex tidak mungkin menutupi hal ini terus menerus dari Luna karena lambat laun istrinya itu akan tahu apa yang sedang terjadi.
"Apa yang harus saya lakukan, Tuhan?" Manic kelam yang biasa bersorot tegas dan galak itu kini satu dan lemah.
"Huft!" pria yang kini memiliki kantung mata karena kurang tidur itu melangkahkan kakinya keluar dari area rumah sakit, dia ingin pergi mencari spot bebas rokok. Menghisap zat nikotin itu untuk melepas stress.
Namun Alex justru melangkahkan kakinya menuju arah ruangan bayi, berdiri di depan jendela besar yang membentang di sepanjang lorong ruangan itu sembari berharap putrinya kembali terlelap di ranjangnya.
"Putriku." Tangannya menggambar di kaca, tepat dibayang ranjang kosong sang putri dengan senyum lebarnya namun senyum lebar Alex dengan cepat menghilang saat bayi mungil yang berada di sebelah ranjang Mikaila bergerak tak nyaman, secara perlahan bibir kecil itu bergetar sebelum akhirnya tangisan mengalun.
Dan melihatnya menangis membuat kesedihan Alex semakin menjadi.
Pria itu lantas masuk, meminta izin pada dokter jaga untuk diijinkan masuk ke dalam ruangan bayi.
Tubuh mungil yang menangis keras tanpa air mata itu perlahan tenang setelah berada dalam pelukan Alex. Manic kelamnya menatap Alex dengan tatapan dalam diikuti dengan bibir kecilnya yang terbuka, seolah mengajak Alex bicara
Alex yang melihat tingkah bayi tak bernama itu tersenyum perih, "Apakah kamu senang bersama saya?" Alex tersenyum tipis, sedih, "Melihatmu seperti ini membuat saya semakin kacau." Sudut mata Alex mengembun, "Bagaimana keadaan Mikaila saat ini. Dia bersama siapa? Apakah dia baik-baik saja diluar sana?"
Dan bayi mungil dalam gendongan Alex itu kembali membuka bibirnya hingga membuat Alex secara perlahan tertawa lirih.
"Nak." Alex menundukkan kepalanya, menyatukan dahinya dengan bayi mungil itu, "Bagaimana rasanya hidup di dunia ini sendirian? Apakah kamu takut?"
Bibir itu kembali terbuka dengan tatapan matanya yang semakin redup seolah bicara pada Alex tentang ketakutannya pada dunia hingga membuat Alex terdiam selama beberapa saat.
"Sayang, maukah kamu menjadi putri saya?" Dan ucapan itu mengalun dari bibir Alex diikuti dengan senyum tipis dibibir.
"Mulai sekarang kamu adalah putri saya dan namamu adalah Mikaila Az-Zahra." Alex menarik nafas sesak, "Maaf membuatmu sebagai pengganti putri saya tapi saya berjanji, saya akan menjagamu seperti putri saya sendiri."
Alex menatap bayi mungil yang kini juga menatap mata pria itu sendu, seolah berterima kasih pada Alex karena telah menerimanya yang tak berpapa.
"Mulai sekarang panggil saya AYAH." Tangan Alex terulur, mengelus wajah mungil nan cantik itu dengan seulas senyum sedih di bibir. Bayi itu begitu cantik seperti Mikaila-nya, hari kelahirannya hanya beda sehari dengan Mikaila putri kandungnya.
Tidak ada yang sulit jika seseorang punya uang seperti Alex contohnya karena saat ini Alex langsung menemui direktur rumah sakit, menyampaikan niatnya untuk mengadopsi si kecil tanpa nama itu sebagai putrinya dan Alex meminta pihak rumah sakit segera mengurus semuanya.
"Anda ingin status bayi mungil itu sebagai anak kandung anda."
"Kenapa? Tidak bisa?" Alex menatap pria itu tajam dengan aura mengancam.
"Saya akan mengurus semuanya, Tuan." jawab sang direktur dengan gugup.
Setelah urusan selesai, Alex segera menuju ruang jenazah guna menemui ibu kandung si kecil yang masih berada di ruang jenazah.
Alex menatap sosok rapuh nan pucat tanpa nyawa itu begitu kain panjang menutup tubuhnya dibuka oleh tenaga medis.
Alex menatap sosok rapuh itu singkat sembari menganggukkan kepalanya.
"Saya akan urus pemakaman beliau sesuai dengan alamat yang tertera dalam kartu identitasnya." Alex tidak hanya memberikan perintah tapi pria itu juga turut datang dalam prosesi pemakaman wanita bernama Wulandari Ningsih itu.
Begitu tubuh lemah itu selesai dikebumikan, Alex menaburkan bunga diatas makam itu dan berkata dengan tegas, "Nama Saya Alexander Januar Bayu, Saya mengambil putri anda untuk keluarga saya, menjadikan bayi mungil anda sebagai anak kandung saya. Dan saya berjanji akan menjaga dan menyayangi putri anda seperti putri saya sendiri, Nyonya Wulandari Ningsih. Saya harap anda merestui ketulusan hati saya." Alex lantas bangkit, meninggalkan area pemakaman dengan tangan terkepal erat.
'Mikaila putri ayah. Tunggu ayah, Ayah akan menemukanmu segera Nak. Maaf untuk saat ini, posisimu digantikan oleh orang lain tapi percayalah, Ayah sangat sayang padamu dan tak akan berhenti mencarimu.'