"Bagaimana keadaan putri kita Mas?" manic itu terbuka dengan redup sembari bicara dengan bibirnya yang bergetar karena kedinginan yang merupakan efek obat bius setelah operasi Caesar.
"Mika sehat, dia terlahir sempurna tanpa kurang satupun dan pastinya, dia teramat cantik... seperti kamu." Alex tersenyum tipis sembari mengecup puncak kepala Luna, "Dia sekarang berada di ruangan bayi." sedangkan tangan Alex terus memijat jempol kaki Luna, memastikan sang istri mulai menerima rangsangan sesuai dengan perintah dokter.
"Bagaimana, masih mati rasa?"
"Aku sudah bisa merasakan tanganmu yang mencubit jempolku." Luna menatap Alex tajam dan sang suami tertawa, "Maaf. Itu artinya tubuhmu sudah mulai membaik."
"Tapi tubuhku masih dingin. Dingin sekali." suara Luna masih bergetar bahkan giginya kembali bergemeletuk keras hingga membuat Alex menekan tombol disamping ranjang, meminta selimut tambahan pada perawat jaga dan meminta mereka memeriksa Luna untuk memastikan kondisinya.
Setelah sang perawat keluar ruang rawat, Alex naik keatas keatas brankar, memeluk tubuh mungil berbalut selimut itu supaya lebih hangat.
"Lebih baik?"
"Hm." angguk Luna diikuti Manicnya yang mulai terpejam.
"Alex..." suara Luna mengalun semakin lirih, manic yang sebelumnya terpejam itu terbuka secara tiba-tiba, "Perasaanku tidak enak?" manicnya bergerak tak fokus, seolah kebingungan, "Dimana anak kita, Alex?!" Luna menatap wajah sang suami dengan air mata mulai mengalir di pipi.
"Dia masih berada di ruang bayi. Jangan khawatir. Dia tidak apa-apa." Alex menghapus lelehan air mata Luna dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang.
"Aku mau anak kita! Perasaanku tidak enak, Alex!"
"Luna, tenang dulu." Alex mengecup puncak kepala Luna, "Pagi Mika akan dibawa kesini. Jangan khawatir, Ok."
"Pagi nanti?"
"Ya. Sekarang tidurlah." Alex tersenyum tipis dan kembali mendekap tubuh Luna hingga ibu dua anak itu akhirnya terlelap namun tidak dengan Alex, pria itu melepaskan pelukannya dari Luna, keluar dari ruang rawat dan melangkahkan kakinya menuju ruang bayi.
"Bruk!"
Bahunya tanpa sengaja bertabrakan dengan bahu orang asing saat Alex mulai memasuki bangsal khusus anak itu.
"Maaf." pria berwajah tampan itu menatap Alex singkat sembari tersenyum manis.
"Hm." Alex tak mau ambil perkara, toh hanya tabrakan ringan dan tak membuatnya cedera.
Dan langkah Alex pada akhirnya terhenti di tujuan. Ruangan itu memang sudah ditutup oleh petugas medis namun Alex masih bisa melihat sang bayi lewat jendela besar yang membentang sepanjang ruangan bayi.
Sudut bibirnya tersenyum lebar, menatap bayi mungilnya tampak tidur dengan lelapnya.
"Kenapa anakku bisa cantik seperti itu?"Alex bergumam lirih, "Tentu saja anakku cantik karena ibunya juga cantik." tangan Alex terulur, melukis wajah sang putri yang tertangkap matanya dengan menggunakan jari diatas jendela bening itu.
"Bayiku, bayi mungilku." senyum senang Alex akhirnya mengerut dalam saat sosok bayi mungil yang berada disamping putrinya itu mulai bergerak tak tenang, dan Alex bisa melihat bahwa bayi itu menangis keras dan selang beberapa detik, seorang dokter jaga masuk, berusaha menenangkan bayi mungil itu. Segala cara sudah dilakukan, mulai dari memberikannya minuman khusus sampai menimangnya dalam buaian.
Wajah bermasker itu tampak lelah karena bayi mungil itu tidak kunjung tenang, untuk sesaat wajah itu terangkat dan tatapan matanya bertemu dengan Alex.
Alex secara sadar menunjuk dirinya sendiri seolah minta ijin pada dokter jaga untuk menenangkan bayi mungil itu.
Satu anggukan menjadi tanda persetujuan dan Alex masuk ruangan bayi dengan seragam khusus, pria itu menerima si bayi mungil dalam pelukannya.
Begitu dua kulit asing itu bersinggungan, tangis memilukan tanpa air mata itu secara ajaib berhenti.
"Terima kasih atas bantuan anda, Tuan." sang dokter bernafas lega begitu mereka keluar dari ruangan bayi.
"Sepertinya dia tahu kalau anda orang yang baik makanya dia bisa langsung tenang dan lelap." dokter itu melepas masker yang membalut wajahnya sembari menatap Alex dengan senyum tipis.
"Bayi mungil tadi siapa namanya?"
"Dia belum diberi nama." jawab sang dokter jaga dengan wajah sedih hingga membuat Alex mengerutkan alisnya.
"Dia putri dari seorang ibu tunggal yang menjalani operasi darurat karena pendarahan hebat. Beliau meninggal setelah bayinya berhasil lahir." ekspresinya sedih sembari melihat bayi mungil itu lewat jendela, "Beliau bahkan belum sempat melihat rupa putrinya yang cantik itu."
"Lalu bagaimana nasib bayi itu nanti?"
"Kemungkinan besar akan kami urus kasus ini ke dinas sosial yang tentunya dia akan dibawa ke panti asuhan jika tidak ada satupun keluarganya yang bisa kami hubungi."
'Kasihan sekali dia. Dia masih bayi namun dia harus memikul beban seberat itu. Sendirian.'
Sebelum keluar tadi, Alex sempat melihat tanggal kelahiran sang jabang bayi yang rupanya selang sehari dari kelahiran putrinya.
"Lalu bagaimana dengan ibunya, apakah beliau sudah dimakamkan?" jika pihak rumah sakit masih berusaha mencari keluarga wanita malang itu, kemungkinan jenazah ibu dari bayi malang itu masih berada di ruang jenazah.
"Belum." gelegnya pelan dengan nada sedih. Dokter itu tahu, kode etik rumah sakit melarangnya untuk memberi tahu orang yang tak ada hubungan sama sekali dengan pasien namun kondisi bayi malang itu membuat sang dokter bercerita pada Alex.
Pembicaraan keduanya terputus karena Alex tiba-tiba mendapatkan panggilan darurat dari Bodyguard yang menjaga ruang rawat Luna.
Pria tinggi besar itu mengatakan bahwa sang nyonya sempat terdengar berteriak parau dari balik kamarnya sebelum akhirnya tekanan darahnya menurun secara drastis.
"Kami akan membawa Nyonya ke ruang observasi untuk memantau kondisi Nyonya." itu adalah jawaban sang dokter pada Alex.
Pria itu ingin menemani sang istri namun sang dokter melarangnya.
Tidak ada yang bisa Alex lakukan saat ini selain menunggu. Pria itu hampir memejamkan matanya saat suara si sulung mengalun keras di telinga.
Gigi ompongnya tersenyum lebar menyapa sang ayah begitu pria itu membuka matanya yang lelah.
"Bunda dimana? Adik dimana? Damian mau lihat adik, Ayah!" suara bocah 7 tahun itu lantang.
"Datang diantar siapa?" Alex menegakkan tubuhnya sembari memijat kepalanya yang pening.
"Uncle Joshua. Tapi Uncle ada urusan jadi dia pergi setelah mengantarkan Damian." pria mungil itu lantas menggoyangkan tangan sang ayah, "Ayah mau ketemu Bunda. Mau ketemu adik Damian juga!"
"Bunda masih sakit dan tidak bisa dijenguk tapi Damian bisa lihat Mikaila"
"Mikaila?"
"Nama adik Damian." jawab Alex dengan senyum di wajahnya dan Damian menyambut ucapan sang ayah dengan teriakan senang.
"Ayo. Ayo. Damian mau ketemu adik!" bocah itu menyeret sang ayah dengan tidak sabar.
Dan tak lama kemudian bayi mungil bernama Mikaila Az-Zahra Bayu itu dalam dekapan Alex dan Damian tersenyum lembut pada adik mungilnya itu, merangkum setiap detail wajahnya yang cantik dalam ingatan di kepala. Mulai dari bibirnya yang kecil berbentuk hati, alisnya yang tebal namun rapi sampai hidungnya yang kecil mirip sang ibu.
"Mika cantik, seperti boneka." kikiknya senang.
"Damian sayang adik Mikaila?" Alex menatap Damian penuh tanya.
"Sayang sekali. Damian senang sekali punya adik!"
"Damian mau menjaga Mikaila sampai Mikaila besar nanti?"
"Iya." angguknya semangat, "Damian akan jaga Mikaila seperti Ayah menjaga Bunda!"
"Pintar sekali anak ayah." Alex tersenyum bangga sembari menepuk puncak kepala sulungnya itu.
Mereka tidak lama bermain bersama Mikaila karena sang dokter memberikan kabar bahwa kondisi Luna sudah mulai membaik.
Pria itu lantas pergi keruang rawat Luna bersama si sulung. Damian berlari semangat, hendak naik keatas brankar dan memeluk tubuh sang ibu beruntungnya Alex dengan cepat meraih tubuh putranya itu dalam gendongannya.
"Bunda masih sakit, Damian." ex memperingatkan si sulung kemudian membawa tubuh kecil itu untuk duduk di sofa.
"Mas, aku mau lihat anak kita."
"Besok saja ya." Alex mengelus surai Luna lembut, "Kondisimu sedang tidak stabil. Setelah kamu sehat, Mas akan baya Mikaila ke sini."
"Janji, ya?"
"Iya." Alex tersenyum lembut pada wanitanya itu. Mereka berdua menghabiskan waktu sembari melihat Damian yang bermain bersama bodyguard Alex. Dan tepat pukul 7 malam, Alex meminta supirnya menjemput si sulung karena dia terlihat kelelahan dan besok juga harus sekolah.
Dan tepat tengah malam itu, Alex yang hendak memejamkan mata langsung tersentak kaget saat mendengar suara tangisan dari arah brankar.
Pria itu menghampiri Luna, menghapus lelehan air mata Luna dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang.
"Ada apa, sayang?"
"Dimana anak kita, Alex?!" Luna menatap wajah sang suami penuh mohon.
"Dia masih berada di ruang bayi. Jangan khawatir. Dia tidak apa-apa."
"Aku mau anak kita! Perasaanku tidak enak, Alex! Aku mau anakku sekarang, Alex! Aku mohon, bawa anakku padaku."
"Luna, tenang dulu."
Alex mendekap Luna, berniat membuat istrinya itu tenang namun Luna justru memberontak hingga infus yang menancap di pergelangan tangan wanita itu terlepas dan darah mengalir dari pembuluh darahnya yang menganga.
"Luna!" Alex panik akibat banyaknya darah sang istri yang keluar, pria itu berusaha menenangkan Luna yang histeris sembari menekan tombol emergency disamping ranjang.
"Anakku, tolong. Aku mau anakku!" wajah penuh air mata itu menatap Alex penuh permohonan dan putus asa, "Anakku... Alex." Manic penuh air mata itu menatap Alex penuh permohonan sebelum akhirnya tubuhnya melemah.
Alex meletakkan kepalanya diatas brankar, menemani sang istri hingga wanita itu kembali lelap dalam tidurnya.
Manic Alex hendak terpejam saat sebuah bisikan tipis itu hinggap di telinganya, memanggil namanya dengan Ayah diikuti dengan suaranya yang merdu.
"Mikaila?" Jantung Alex berdetak cepat namun dengan ritme yang sangat menyesakkan dan mengganggu.
Tanpa pikir panjang pria itu keluar dari ruang rawat Luna dan melangkahkan kakinya menuju ruang bayi seolah ada sosok yang menggiringnya ke sana.
Namun semakin kaki itu melangkah dia mulai merasakan ada yang aneh, terlebih lagi saat mendapati jendela besar yang menampilkan bayi-bayi mungil itu gelap tanpa penerangan dan ruangan khusus dokter jaga terbuka lebar.
Alex buru-buru masuk ke ruangan itu dan mendapati para petugas medis yang seharusnya berjaga kini terkulai lemah, tak sadarkan diri.
"Mikaila?!" rasa takut itu datang menyergap karena pikiran buruk akan putri kecilnya.
Alex menerobos masuk kedalam ruangan bayi, melangkahkan kakinya begitu cepat, menelusuri baris demi baris bayi mungil yang ada demi menuju box Mikaila.
Langkah Alex terhenti tepat di box bayi milik Luna, istrinya. Namun, ranjang yang seharusnya berisi Mikaila Az- Zahra itu kosong dan dingin.
Tak ada bayi mungilnya disana.