"Wajah kamu kenapa, Dy?" tanya Utari langsung berdiri dan menghampiri menantunya.
Dia tadi belum melihat itu, sebab tak terlalu memperhatikan, meskipun cukup menyaksikan hubungan anak dan menantunya itu.
"Ak--u, aku ...."
"Jangan bilang Zein yang melakukan ini?" tebak Utari.
Membuat Maudy dan Zein reflek saling berpandangan. Namun, Zein langsung menatap Maudy tajam, seolah mengancam istrinya itu supaya tak berkata macam-macam.
"Ti--dak, Ma ...." Maudy kembali menatap ibu mertuanya, tersenyum dan menggenggam tangannya. "Ini cuman kecelakaan kecil akibat kucing garong," jawab Maudy tak menyampaikan langsung.
Sama seperti Zein yang gagal paham, dan berpikir maksud Maudy kucing sungguhan, Utari pun demikian.
"Gimana mungkin Dy, ini jelas-jelas seperti dicakar kuku manusia, bukan binat*ng. Pasti Zein yang melakukannya?!" tebak Utari seraya beralih dan siap memberi perhitungan pada putranya itu.
Maudy panik, dan tiba-tiba salah bicara. "Iya, maksudku memang Kak Zein yang melakukannya ...."
Zein langsung melotot, dan Utari terlihat naik pitam. Dia sudah menahan diri sejak tadi, dan pura-pura tidak tahu, karena berpikir Zein belum terlalu jauh.
"ZEIN!!" bentak Utari langsung berkacak pinggang.
Dadanya sedikit sesak, sesama perempuan dia tak terima perempuan lain diperlakukan sekejam itu, termasuk menantunya sendiri.
"BERANI-BERANINYA KAMU KDRT, APA KAU SUDAH LUPA APA YANG SUDAH PEREMPUAN INI LAKUKAN PADA KELUARGA KITA?!! GINJAL AYAHNYA ADA DI TUBUH PAPAMU, DAN KEHIDUPANNYA DIA SERAHKAN BUAT MENUTUPI MALU KELUARGA KITA!!!" amuk Utari dengan nada suara yang langsung naik beberapa oktaf.
"Ma, bukan ak--"
"DIAM!!" bentak Utari dengan tatapan yang hampir berkaca-kaca. "KAMU MEMANG MAU MAMA MATI IYA?! KAU INGIN UMURKU HABIS KARENA KELAKUANMU, HAH?!!"
Maudy segera memperlihatkan wajah tak mengenakkannya. Sembari berpikir apa yang harus dia lakukan.
"Mama jangan salahkan, Kak Zein," jawab Maudy langsung berjalan ke antara ibu mertua dan suaminya.
"Menyingkir Maudy, Mama mau memberikan perhitungan pada laki-laki tidak punya perasaan itu!" Nada suara Utari sedikit menurun saat bicara dengan Maudy meski masih terasa membentak.
Mendengar itu Maudy geleng-geleng kepala. Pikiran tidak bisa berpikir dengan baik, dan seolah buntu.
Bugh ...
Maudy berbalik tiba-tiba, tapi sedikit tersandung dan menyebabkan tubuhnya oleng. Dia reflek bertumpu pada tubuh Zein, supaya tidak jatuh, tapi kejadian itu justru membuatnya terlihat seperti memeluk Zein di hadapan Utari.
"Ak--u menyukai Maudy, Ma!" reflek Zein memanfaatkan situasi.
Dia sebenarnya tidak peduli soal amukan ibunya, tapi Zein khawatir soal kesehatannya. Sementara itu, Maudy tak berdaya dan mencoba tersenyum meyakinkan ibu mertuanya.
"Iya, betul. Kak Zein tidak seperti yang Mama bayangkan. Kami tidak bermusuhan," jelas Maudy meyakinkan.
"Tapi wajahmu itu, Dy. Bukankah Zein yang melakukannya?" tanya Utari memastikan.
"Iya itu memang salahku, Ma, tapi tidak seperti yang Mama pikirkan. Ini karena aku memelihara hewan peliharaan kucing kemarin, tapi siapa sangka kucingnya liar, dan membuat istriku seperti ini," jelas Zein cepat dan berbohong.
Namun, bagi Maudy, Zein seperti mengakui kelakuan buruknya. Hanya saja sedikit perbedaan, dimana peliharaan Zein bukan hewan melainkan orang.
"Apa itu benar, Dy?" tanya Utari, dan Maudy langsung mengangguk-anggukan kepalanya yakin.
Utari tak langsung lega, tapi terlebih dahulu mengawasi sepasang dihadapannya. Dia ragu, dan masih sangat khawatir.
"Baiklah, anggap saja Mama percaya, tapi malam ini Mama akan tinggal di sini. Sampai kemudian Mama temukan seseorang yang cocok untuk mengawasi kalian berdua!" tegas wanita paruh baya itu membuat kaget.
"Apa?!" spontan Zein dan Maudy kompak.
"Sekarang siapkan kamar tamu buat Mama, Zein, dan Maudy sayang ikutlah dengan Mama ... dan biarkan Mama mengobati luka cakaran di wajahmu," ucap Utari sambil menatap lembut pada menantunya itu.
Dia menarik Maudy sedikit paksa dari pelukan putranya. Ternyata Zein dan Maudy kompak sama-sama tak sadar dengan kondisi mereka sendiri. Mereka seperti sudah lupa kalau sedang berpelukan.
"Ma, bagaimana dengan papa, bukankah itu artinya dia sendirian di rumah?" ucap Zein mencoba peruntungan terakhirnya, sebab ibunya menginap artinya adalah kekacauan.
Bagaimana jika dia tahu kalau Maudy tinggal digudang, makan di lesehan, dan bagaimana juga caranya dia memberi perhitungan pada istrinya itu.
"Sendiri apanya, di rumah besar kediaman Abhimayu banyak asisten rumah tangga, sopir, chef, dan lainnya. Lagipula papamu sudah terlalu tua untuk takut pada setan, dan dia juga bisa kemari jika dia mau!"
Habis sudah, Zein tidak bisa mengusir ibunya. Idenya mentok dan kepalanya pusing.
"Apalagi yang kamu tunggu, sana siapkan kamar buat Mama!" Tuntut Utari.
"Baiklah, Ma," pasrah Zein.
*****
Maudy sudah selesai diobati oleh ibu mertuanya, dan sekarang hendak ke kamar utama kamar suaminya Zein, namun dia sama sekali tidak tahu di mana letaknya.
'Sial aku harus ke arah mana, huft ... gimana kalau Mama curiga?" batin Maudy menyebabkan raut wajahnya sedikit panik.
Dia tak mungkin kembali ke gudang atau ibu mertuanya akan kembali mengamuk marah, dan Zein akan menghabisinya setelah itu.
"Ada apa sayang, apa anak jahat itu sungguhan berbuat kejam dan menyakiti kamu. Luka di wajahmu sebenarnya beneran ulahnya, tapi kamu takut?" tebak Utari serius.
Maudy langsung menggelengkan kepala dan mencoba tersenyum.
"Nggak kok, Ma. Tadi aku kan sudah jelasin, ini ulah kucing garong peliharaannya Kak Zein," jelas Maudy.
Tepat saat itu Zein ke sana, dan untuk pertama kalinya Maudy lega melihat pria itu.
"Kamar buat Mama sudah siap. Beristirahatlah, Ma," jelas Zein sambil kemudian melirik istrinya Maudy.
Dia menatap seolah mengajak Maudy berkomunikasi.
'Ngapain bajing*n ini melihatku seperti itu. Bikin merinding aja!' gerutu Maudy membatin.
Sementara itu Zein segera gemas kesal pada istrinya itu yang sepertinya tak mengerti dengan kodenya.
"Ayo, kamu pasti udah capek, Dy. Maaf ya, soal kucing peliharaanku. Aku tak tahu kalau cukup liar," jelas Zein sambil kemudian dengan terpaksa meraih pergelangan tangan istrinya.
Utari mengamati itu dan menghela nafasnya kasar setelah melihat keduanya akrab. Namun, kemudian dia tak mengikuti dan malah ke kamar tamu yang telah disiapkan. Diantar oleh salah satu asisten rumah tangga yang ada di sana.
"Pergilah dan siapkan makan malam secepatnya, anak-anak itu sepertinya juga belum makan malam," ucap Utari pada asisten rumah tangga tersebut.
Dia masuk kamar, dan segera menghubungi suaminya Hendra.
"Kamu benar Mas, sepertinya anak kita yang jahat itu beneran kejam pada menantu kita. Aku tidak tahu pasti soal luka bekas cakaran di pipi Maudy, entah itu karena Zein atau memang beneran ulah kucing. Akan tetapi sepertinya aku harus di sini selama beberapa hari untuk memastikan semua," ungkap Utari serius.
"Aku paham, Mah. Anak kita satu itu memang susah diatur, dan sepertinya kamu juga harus lebih lama pura-pura sakit, sebab anak kita Zein hanya mengkhawatirkan kesehatanmu, dan cuma itu yang bisa mengontrolnya," jelas Hendra di telepon.
Utari segera menganggukkan kepala, meski suaminya tidak melihat.
"Baik, Pah, Mamah mengerti sepertinya memang cuma begitu cara satu-satunya. Mamah harap anak kita segera sadar, melupakan obsesinya pada Mila, lalu jatuh cinta pada istrinya sendiri dan bahagia," jelas Utari serius.
"Papah juga berpikir seperti itu, Mah," jawab Hendra.
*****