"Nggak usah pegang-pegang! Lepaskan! Lagian Mama Utari juga sudah tak di sini," ucap Maudy menyentak pergelangan tangannya sendiri supaya terlepas dari genggaman suaminya.
Saat ini mereka sudah di kamar utama, dan Maudy segera tercengang kagum melihat interiornya. Selera Zein sangat bagus dan sepertinya hampir sama dengan dirinya sendiri.
"Siapa juga yang mau menggenggam tanganmu?!" balas Zein sama ketusnya.
Pria itu sengaja mendorong Maudy supaya menjauh darinya, namun yang tidak terduga Maudy justru tak seimbang dan terpeleset oleh kakinya sendiri.
Dia jatuh ke arah Zein, dan menyebabkan dorongan pada tubuh suaminya. Zein yang tak siap pun menjadi ambruk di timpah tubuh istrinya.
Brugh!!
"Dasar wanita ceroboh!!" umpat Zein dengan kesal.
Maudy tak menjawab dan buru-buru bangkit dari tubuh itu, namun ketika Zein melakukan hal yang sama, tangannya tak sengaja meraih tempat yang salah.
Sementara itu Maudy reflek meneguk ludahnya kasar, menurun tatapannya untuk memeriksa dan memastikannya sendiri.
"Aaarrrggh! Kenapa kamu memegang ituku? Lepaskan!!" jerit Maudy langsung syok.
Zein dalam sekejap ikut memeriksa, tapi suara teriakan Maudy yang keras berhasil memecah konsentrasinya. Alih-alih melepas, dia malah meraba payud*ra istrinya dan Membuat Maudy semakin histeris.
"m***m! Lepaskan tanganmu dari sana! Lepaskan!!" bentuk Maudy langsung memberontak.
Suasana semakin kacau dan berantakan. Mana kala gerakan Maudy yang memberontak membuatnya kembali menjatuhkan tubuhnya di atas Zein, dan kali itu dia membangkitkan sesuatu di sana.
"Diamlah!!" balas Zein membentak, dengan wajah yang tiba-tiba memerah seperti tengah menahan sesuatu.
"Kalau begitu lepaskan aku, brengs*k!!" umpat Maudy terus-menerus mengatai suaminya sendiri.
"Aku tidak menahanmu bod*h, kau lihat tanganku di mana?!" bentak Zein membuat Maudy melirik.
Tangan suaminya masih terjepit diantara dad*nya sendiri dan dad* bidang suaminya.
"Aaarrrggh! m***m, kenapa kamu masih memegangnya?!" balas Maudy kembali bangkit.
Menyebabkan Zein sedikit melenguh dan mendesis merasakan ngilu.
"Jangan bangun dengan cara seperti itu, kau bisa semakin membangunkannya," jelas Zein yang tak Maudy mengerti.
"Membangunkan apa?" tanya Maudy polos.
"Punyaku!!" tegas Zein sambil mengeram.
"Punyamu apa?!" tanya Maudy membuat Zein dipuncak kekesalannya.
Pria itu tanpa pikir panjang dengan gerakan kilat membalikkan keadaan, kini justru Maudy yang di bawah. Namun itu belum selesai, Zein yang masih tak bisa berpikir jernih dan sama-sama kacau dengan Maudy, tiba-tiba meraih telapak tangan Maudy dan membawanya ke arah bagian tubuh masa depannya.
"Aaarrrggh! Kenapa besar sekali?!"
Maudy reflek kaku, dan Zein segera memanfaatkan keadaan itu untuk segera bangkit. Dia berdiri dan menyaksikan Maudy yang juga ikut bangkit, tapi dalam keadaan wajah yang terlihat syok.
"Huft-huft ...." Maudy meraup udara sebanyak-banyaknya.
"Dasar mes*m!" umpatnya menatap nyalang pada suaminya sendiri.
"Tutup mulutmu! Kau sendiri yang membangunkannya!" ketus Zein sepertinya biasa saja.
Dia sepertinya tidak merasa malu, akibat kejadian itu dan bahkan tidak mengunkitnya lagi.
"Malam ini kau bisa tinggal di kamar ini, tapi ingat jangan menyentuh apapun, apalagi sampai merusaknya!" tambah Zein sebelum memperingatkan.
Dia keluar setelah bicara seperti itu, tapi balik lagi saat teringat sesuatu.
"Mandilah. Gunakan kamar mandi di sini. Ganti pakaianmu dan kamu boleh memakai salah satu pakaian di lemari sebelah sana!" ucap Zein memberitahu.
Maudy mengangguk saja, meski dia masih syok dengan yang barusan terjadi. Sementara itu Zein langsung keluar dari sana.
"Tidak Maudy! Tidak ...." Wanita itu geleng-geleng kepala.
Tak bisa menerima kejadian barusan dan seperti kaset rusak, kejadian itu justru semakin berputar-putar mengulang kejadian di dalam kepalanya.
"Kalian sudah melakukannya, kamu bahkan sampai hamil malah. Lupakan itu dan anggap tidak pernah terjadi. Ingat bajing*n itu, dia bisa biasa saja, lalu kenapa kamu tidak?!" ucapnya pada diri sendiri.
Namun, dia malah berakhir dengan mengusap kasar wajahnya sendiri. Gelisah berkepanjangan dan mengingat semakin detail kejadiannya.
"Aaarrrggh ..., tapi malam itu tidak terlalu jelas, aku tidak terlalu mengingatnya. Berbeda dengan tadi .... Kenapa ini, ada apa dengan diriku, kenapa jadi seperti ini," ringis Maudy yang jadi pusing sendiri.
*****
Zein segera menemui Laura setelah makan malam itu, di pamit pada ibunya dan berbohong. Mengatakan menemui klien untuk urusan pekerjaan, tapi pada kenyataannya dia pergi untuk menuntaskan sesuatu.
"Sial, kenapa malah seperti ini?!" geram Zein langsung berhenti di tengah kegiatannya dan Laura.
Tiba-tiba dia kehilangan selera dan bahkan sudah tak menginginkannya lagi. Berpikir mungkin itu akibat terlalu lama menahan diri, sebab dia sempat menunggu dan menyelesaikan makan malam yang memakan waktu yang cukup lama.
"Ada apa, Baby. Apa yang terjadi, kenapa kamu berhenti?" tanya Laura dengan kebingungan.
"Bangkit dari tubuhku, dan pergilah. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi!!" tegas Zein.
Dia tak menunggu Laura memahami kalimatnya, dan langsung mendorongnya menjauh. Bukan cuma tidak mau, tapi sepertinya Zein tiba-tiba muak sendiri dengan Laura.
Terbayang kejadian ibunya marah dan mengamuk beberapa jam lalu, Zein pun tampak marah.
"Sebenarnya kamu kenapa, Baby? Jelaskan padaku, aku akan selalu mendengarkan keluhanmu," rayu Laura sambil masih mencoba peruntungan.
Zein menoleh, dia yang tengah mengancingkan pakaiannya kembali, langsung menatap tajam Laura.
"Apa kau hari ini bertemu istriku, kau menjambak rambut dan mencakar wajahnya?" tanya Zein dingin.
Membuat Laura segera meneguk ludahnya kasar.
"Jadi wanita gembel itu beneran istrimu?" balas Laura membuat Zein langsung meraih lehernya dan berdesis kasar.
"Lain kali jangan ulangi kesalahan itu, jangan coba-coba menyentuh atau melukai Maudy!" tegas Zein memperingatkan.
"Tap--i dia bukan wanita yang sama dengan yang kau sukai itu, Baby," jelas Laura mengingatkan.
Bukannya langsung memberi penjelasan, Zein dengan kejam meraih rambut Laura dan menariknya kuat.
"Aaarrrggh! Sakit, tolong lepaskan, Zein," mohon Laura yang seketika merubah panggilannya pada Zein.
Sungguh dia benar-benar takut sekarang dan tak berani main-main.
"Zein, aku mohon ... tolong hentikan," ucap Laura lagi dengan wajah memelas.
Untuk sesaat Laura langsung tenang begitu Zein menurut dan melepaskan rambutnya, tapi kemudian dia kembali menjadi tegang, saat pria itu kembali bicara.
"Berikan tanganmu!" perintah Zein dengan bossy.
"Apa?!" kaget Laura langsung waspada.
"Ulurkan!!" bentak Zein cukup keras.
Kemudian pria itu meraihnya sendiri dengan kasar, dan memaksa jari-jari Laura yang berkuku panjang itu, menggores wajah Laura sendiri.
"Lain kali berhati-hatilah bertindak, dan jangan pernah menyentuh orangku! Kau cuma jalan* dan tidak pantas ikut campur!!" peringat Zein dengan kejam.
Namun, alih-alih menurut dan takut dengan peringatan itu. Laura dengan kepala yang mengangguk membatin menegaskan hal sebaliknya.
'Aku tidak akan melakukan itu, Zein. Lihat saja nanti, tidak wanita yang kau sukai ataupun wanita baru yang menjadi istrimu. Siapapun akan kusingkirkan. Kamu cuma milikku!' batin Laura tegas.
*****