Bab 10. Bermain Air

925 Words
"Apa kau sudah gila? Memerintah istrimu sendiri mengirimkan bunga pada perempuan lain?!" ungkap Raga dengan nada suara tak habis pikir. "Kau bahkan habis tidur dengan jal*ng itu lagi?!" Raga geleng-geleng kepala tak habis pikir. Namun, Zein tak perduli dan bahkan seperti tak mendengarkan ucapan sahabatnya itu. Dia terus menyesap rok*knya dan menghembuskan asap yang dihasilkan ke udara dengan santai. Meski sebenarnya dia tak sesantai itu. Dia tak perduli soal perasaan Maudy, tapi sekarang dia tiba-tiba perduli soal tubuhnya. Itu semua karena ingatan soal telapak tangannya yang menyentuh gundukannya. "Ck, kau bahkan tidak mendengarkanku!" jengkel Raga karena tak kunjung mendapatkan tanggapan. Tapi akhirnya hal itu membuat Zein meliriknya. "Aku sudah pernah menjelaskan ini padamu. Aku suka Mila dan hanya dia yang akan menjadi wanitaku! Tidak Laura, atau wanita rese Maudy!" "Kau menid*ri Laura, dan istrimu Maudy, apa yang kau pikiran bod*h. Mila itu milik adikmu sendiri! Mau sampai kapan kamu begini terus Zein?!" tegur Raga dengan tak lupa mengatai Zein. Sebenarnya dia sudah muak melakukan ini, menasehati pria yang tak kunjung mendengar ucapannya tapi, Raga tetap saja melakukannya. Setiap bersama dia tak pernah lelah menasehati Zein. "Sudahlah, mau sampai kapan kau seperti ini Raga. Sampai mulutmu berbusa pun, aku tidak akan berhenti," jelas Zein santai, sambil kemudian meniup asap rokoknya kembali membuat Raga bertambah dongkol. Beberapa jam kemudian Zein kembali ke rumah dalam keadaan setengah sadar, dan kepala berat sedikit pusing. Namun, dia masih sangat sadar untuk berhati-hati masuk ke dalam. Jangan sampai ibunya tahu dia pulang dalam keadaan mabuk. Cklek! Sial. Lampu menyala dengan terang, dan begitu berbalik ibunya Utari sudah berdiri beberapa langkah dari tempatnya. Sedang melipat kedua tangannya di depan dad*. "Jadi, ini pekerjaan yang kamu maksud Zein?!" tanya ibunya Utari dingin dan mengintimidasi putranya. "Mabuk-mabukan!" Prok-prok! Wanita tua itu datar dan bertepuk tangan, tapi dia tak diam saja. Dia segera bergerak dan menghampiri putranya. Zein meringis dan sedikit mundur, tapi sayang telinganya tak bisa lolos, sebab ibunya Utari segera menjewernya. "Ssttt ... Ma-maa, ini sakit!" ringis Zein kesakitan. Namun, tak hanya itu. Utari juga menyeretnya dengan terus menarik telinganya ke suatu tempat. Dia sama sekali tak memperdulikan kesakitan yang di keluhkan putranya itu. "Tolong lepaskan, Ma. Aku minum juga demi menghormati klien dan terpaksa," jelas Zein berusaha meyakinkan ibunya Utari. Namun, bukannya mengerti, Utari ibunya tiba-tiba mendorongnya dan byur .... Zein jatuh ke dalam kolam renang, sebab ternyata mereka sudah sampai di arena itu. Hosh-hosh!! Zein langsung sadar sepenuhnya, dan berenang ketepian sambil melihat ibunya yang masih saja menatapnya dengan galak. "Ma, aku sudah jelaskan pada Mama, aku benar-benar habis bekerja dan bertemu klien penting!" tegas Zein sambil mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. Ibunya Utari segera tersenyum miring dan menganggukkan kepala. "Mama paham sayang, kamu pasti sudah bekerja dengan keras di luar sana, Zein. Kamu juga pasti kelelahan dan sangat capek. Itulah kenapa Mama mendorongmu ke kolam renang. Supaya lelahmu hilang dengan berenang dan tidurmu nyenyak!" jelas Ibunya Utari dengan seringai puas. "Alasan klasik! Ckckck, kamu pikir Mama bod*h? Asal kamu tahu saja, sebelum menghadapi kenakalanmu, Mama sudah terbiasa menghadapi ulah papamu sebelum tobat!" lanjut Ibunya Utari membuat Zein memukul air dengan kuat. Melihat kelakuan putranya itu, Ibunya Utari geleng kepala dan menghela nafasnya kasar. "Awas, jangan sampai lantainya basah!" peringat Utari saat Zein hendak naik kepermukaan. Pria itu langsung mundur dan masuk ke kolam. "Ma, ini dingin," jelas Zein merengek. Ibunya Utari hanya mengangkat bahunya acuh, kemudian pergi dari sana begitu saja. Membuat Zein lebih kesal dan memukul air lebih keras lagi. Sebenarnya dia bisa saja memberontak, tapi Pria itu segera tak berada dengan gambaran ibunya yang marah dan mengamuk. Namun, beruntunglah Maudy tiba-tiba sudah di sana dan membawakan handuk untuknya. "Mengganggu tidur orang saja!" omel Maudy tampak menguap dan jengkel. Tampaknya Ibunya Utari tidak benar-benar tega, dan membangunkan Maudy untuk membawakan handuk untuk Zein. "Berikan kemari!" tuntut Zein bossy. Maudy berpikir sebentar dan menyipitkan matanya melirik suaminya dengan sengit. 'b*****h ini tidak tahu terima kasih sama sekali. Liat saja akan aku kerjai kamu!' batin Maudy sambil tersenyum aneh. "Jangan macam-macam, cepat berikan handuknya. Aku sudah kedinginan!" tuntut Zein sedikit berteriak. Maudy mengangguk dan menghampiri suaminya ke tepi kolam. "Ambillah," jelasnya sambil menyeringai. Zein menurut dan hampir berhasil meraihnya, tapi Maudy tiba-tiba dengan cepat menyentaknya. "Maudy!!" peringat Zein kesal. Maudy malah tersenyum dan menatapnya tanpa dosa. "Ayo, kenapa diam saja. Ambil bukankah kamu kedinginan Kak Zein?!" Zein mendengus kasar dan menurut, tapi kemudian dia malah mendapatkan hal yang sama. Maudy mendekatkan handuk, kemudian menyentaknya menjauh darinya. Begitu terus sampai Zein tak tahan, dan akhirnya alih-alih meraih handuk dia malah menargetkan tubuh Maudy. Byur!! Hosh-hosh! "Huft ... ini udah tengah malam dan airnya sangat dingin!!" omel Maudy sambil melotot. Namun, sekarang giliran Zein yang tersenyum tanpa dosa. Dia bahkan dengan kekanakan, mencipratkan air ke wajah istrinya. "Aku tahu itu, bod*h! Siapa suruh kau berani main-main padaku? Sekarang nikmati malam ini dengan berenang," ucap Zein sambil mengejek puas istrinya. "Dasar rese! Rasakan ini!" balas Maudy menarik kepala Zein dan berusaha menenggelamkannya. Keduanya pun lanjut bertarung air, dan saling menyerang. Tanpa sadar bersikap kekanak-kanakan. "Kau pikir bisa melawanku, hahh?!" Zein membalas dan tak segan menyerang Maudy dengan air. Mereka bahkan bergantian mengejar satu sama lain dengan berenang. Sudah seperti bocah, dan membuat Utari yang ternyata diam-diam masih mengawasi, langsung geleng-geleng kepala. "Sudahlah, aku sudah pusing menghadapi anakmu, Pah. Sekarang sudah dewasa, sudah menikah, tapi masih saja seperti bocah!" ucap Utari sambil membuang nafasnya kasar. Ternyata dia juga sudah merekam, kelakuan Zein dan Maudy yang masih di dalam kolam renang, kemudian mengirimkan pesan video tersebut pada suaminya. Kemudian, barulah benar-benar berlalu dari sana. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD