Bab 11. Ceroboh

1073 Words
"Sebelah sana, biarkan aku menyelesaikan yang sebelah sini," ujar Zein mengarahkan Maudy. Mereka sudah selesai main airnya, sudah mandi dan berganti pakaian, dan sekarang beres-beres lantai basah yang dilewati keduanya. Sebenarnya ada asisten rumah tangga, namun waktu sudah melewati tengah malam, sehingga keduanya enggan mengganggu. "Beneran, memangnya kamu bisa mengepel lantai?" Maudy tampak tidak percaya. Zein ini anak orang kaya, suka semena-mena serta egois, mungkinkah dia bisa melakukannya dengan baik. Padahal sebelumnya Maudy pikir pria itu cuma akan menemaninya, bukan seperti sekarang ikut menyelesaikannya. "Jadi kamu pikir aku memeng kain pel seperti ini mau apa? Ckckck! Cepatlah, aku sudah ngantuk, dan jangan berisik. Jika, Mama tahu dia bisa mengomel habis-habisan, dan telingaku bisa panas mendengarnya," ungkap Zein membuat Maudy mengangguk. Wanita itu kemudian bergerak dan menghampiri sisi lain lantai lainnya yang masih basah. Namun, Maudy bukannya melakukan pekerjaannya, dia malah memperhatikan Zein. 'Ternyata dia beneran bisa melakukannya,' batin Maudy terkejut pada Zein. "Ck, kenapa masih diam terus, kau pikir kain pel itu bisa bergerak kalau kau diam terus?!" omel Zein saat menyadari Maudy justru tengah menatapnya. "Iya-iya, aku kerjain nih! Lagian kamu juga kok jadi bajing*n aneh. Laki-laki, brengs*k, banyak wanita, tapi bisa-bisanya bisa ngepel lantai," ceplos Maudy sembarang. Zein langsung melotot dan menatap tajam. "Apa, ngomong apa barusan? Ulangi!" Maudy sontak geleng kepala dan tersadar. "Kamu keren, iya. Jarang-jarang laki-laki zaman sekarang bisa melakukan pekerjaan beres-beres rumah seperti ini ...." Zein mendengus, tapi kemudian pria melanjutkan pekerjaannya dan membuat Maudy segera menghela nafasnya lega. 'Fiuh, beruntung saja bajing*n itu percaya dia salah dengar,' batin Maudy. Selanjutnya keduanya pun kompak mengepel lantai yang basah hingga selesai. Maudy kembali ke kamar utama dan langsung berbaring di tempat tidurnya, sementara Zein pergi membereskan perlengkapan alat pel yang barusan mereka gunakan. Namun, saat ke kamar Zein mengerutkan dahi dan menatap Maudy dengan tidak suka. "Siapa yang mengizinkanmu tidur di sana, bangkit dan pindah!" tegur Zein dengan galak. Maudy yang sudah sempat terpejam, langsung membuka matanya. 'Mau apa lagi pria ini? Dasar rese!' omel Maudy membatin. Namun, dia tak mengeluarkan isi hatinya, dan justru mengatakan hal lainnya. "Terus kalau bukan di sini aku mau di mana lagi? Ke gudang? Gimana kalau mama memergokiku dan menyebabkan kamu kena semprot habis-habisan ...." "Aku tidak memintamu ke gudang. Kemarilah! Dasar bod*h! Ada tempat tidur malah berbaring di lantai, kau mau sakit, hah?! Atau jangan-jangan sengaja, supaya membuat mama marah dan mengomeli aku?!" gertak Zein sambil masih memelototi Maudy. "Bukannya kamu bilang jangan menyentuh barang apapun di kamar ini, terkecuali lemari di ujung sana," balas Maudy mengingatkan. Zein masih tak mau kalah. "Tempat tidur bukan barang, tapi ya memang tempat tidur," jelas Zein seenaknya. "Terus kamu mau tidur di mana, kalau aku di sana?" tanya Maudy lagi. "Banyak nanya!" omel Zein geram. "Tentu saja di sini juga, kau pikir aku akan tidur di lantai? Tidak mungkin, aku juga tidak mau sakit, banyak yang harus aku urus dan membutuhkan aku saat sehat! Termasuk kau!" "Dan simpananmu," timpal Maudy berani. Zein sampai mengepalkan tangan mendengar kalimat itu, lalu berjalan dan menghampiri Maudy dan segera membawanya mendekat ke tempat tidur. "Aku tidak mau, tidak nanti kamu ngapa-ngapain aku lagi!" ujar Maudy memberontak. "Apa? Jangan terlalu percaya diri!" cibir Zein langsung memperhatikan Maudy dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dia hendak mencari kekurangan bentuk tubuh istrinya itu, tapi bentuk dad* Maudy sangat menggoda buatnya. Sial, kenapa juga dia jadi menginginkan wanita dihadapannya. "Yasudah, tapi awas ya kalau sampai kamu macam-macam!" peringat Maudy akhirnya pasrah sendiri dan langsung naik ke atas tempat tidur. Ternyata dia sudah sangat mengantuk hingga malas berdebat, dan mengalah saja. Jika dipikirkan, Zein sudah banyak melakukan aktivitas seharian, dan dua jam lalu tiba di rumah. Siang-malam, Maudy berpikir pria itu juga sangat kelelahan. Jadi, dia pasti tidak akan sanggup macam-macam, dan Maudy bisa tertidur dengan tenang. Namun, yang tidak Maudy duga. Zein masih terjaga setelah dia pulas. Kedua bola mata pria itu memerah, tapi sulit sekali tertidur. "Arrrggghhh ... kenapa wanita rese ini sangat menarik?!" geram Zein tampak gelisah. ***** Maudy baru bangun pagi menjelang siang, dan menguap sambil kemudian bangkit dengan panik. "Astaga, udah siang. Aku terlambat bangun!" Maudy buru-buru masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Sialnya Maudy lupa membawa pakaian ke kamar mandi. "Tidak masalah. Sepertinya bajing*n itu masih tidur. Dia pasti masih lelap sekarang, dan aku hanya perlu menyelinap jangan sampai bersuara. Ya, cara itu pasti berhasil!" ucap Maudy langsung melilitkan handuk ke tubuhnya. Dari dad* sampai pahanya. Dengan nekat Maudy pun keluar kamar mandi, dan menghampiri ke sebuah lemari yang isinya hanya pakaian wanita. "Fiuh, ternyata si brengs*k ini batu juga kalau udah tidur. Baguslah, untung semalam aku tidak diapa-apakan--" Maudy hampir saja melupakan kejadian lalu, dan mendadak menurunkan nada suaranya. "Hahhh ... tapi aku udah diapa-apain beberapa minggu lalu, sampai hamil, sayangnya dia tidak mengakuinya." Wanita itu sedikit meringis, menatap wajah suaminya dan mengusap perut ratanya. Dengan mendadak lemas dia mendekati lemari dan cemberut saat menyadari sesuatu. "Semalam aku juga pakai pakaian di dalam sini, entah siapa pemilik sesungguhnya. Mana ukurannya pas sama aku, tapi sudahlah pake aja!" ucap Maudy agak kurang semangat. Dia bermaksud memakai pakaiannya di kamar mandi, dan membawa pakaiannya ke sana, tapi handuk yang melilit tubuhnya sedikit melorot, dan Maudy pun reflek membenarkannya. Meletakkan pakaian di atas tempat tidur, tanpa sadar menghadap ke arah Zein yang masih tidur. Membuka ikatannya, kemudian melilitnya kembali dengan lebih kencang. "Mau--dy!" panggil Zein dengan suara serak. Namun, berhasil membuat bulu kuduk Maudy berdiri. "Kamu liat aku dari tadi?" tanya Maudy horor sambil melirik tubuhnya sendiri yang sudah dibalut handuk. Belum juga Zein menjawab wanita itu langsung berteriak syok. "Aaarrrggh! Mes*m, dasar bajing*n mes*m!!" Sementara itu ternyata Zein sedang mengalami sakit di kepalanya, dan panas pada tubuhnya. Laki-laki itu mengalami demam. "Dy--" "Diam! Pria mes*m sepertimu memang sengaja melakukan itu. Sudah puas melihat semuanya?" Maudy melotot, lantas mengambil pakaiannya di atas tempat tidur, dan berlari ke kamar mandi untuk mengenakannya. Sementara itu, Zein langsung mengumpat dalam sakitnya, berusaha duduk ditengah rasa ngilu yang menyerang tubuhnya. "Wani--ta si--alan! Gara-gara kamu, aku harus mengalami demam. Penggoda!!" cibir Zein dengan terbata, dan tampak sangat geram. Terbayang kejadian semalam, dia ternyata mandi lagi untuk meredam sesuatu dalam tubuhnya. Bahkan berendam, dan itulah kenapa tak mengherankan Zein bisa sakit sekarang. Namun, beberapa saat lalu Maudy kembali membuat masalah untuknya. Sial, apa yang dilakukannya semalam jadi sia-sia, sebab sekarang Zein malah kembali menginginkan istrinya. Semua itu karena Maudy memamerkan sesuatu yang tak seharusnya dilihat, tepat saat dia membuka mata. "Ma--udy!! Aku akan membunuhmu!!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD