"Dasar bod*h, apa yang kau lakukan semalam sampai demam tinggi begini?!" omel Raga setelah memeriksa Zein.
Sahabatnya itu adalah seorang dokter, dan pagi-pagi dia harus direpotkan Zein karena kondisinya itu.
"Sssttt ... aku lagi sakit, kamu masih mengataiku. Berisik! Pulanglah, aku mau tidur sekarang!" Zein menarik selimut dan berbalik sambil membelakangi Raga.
Dia seperti merajuk, dan membuat Utari yang juga di sana langsung menghela nafasnya kasar.
"Udah, Ga. Nggak usah meladeni anak nakal itu. Sebenarnya ini salah Tante juga, semalam dia pulang mabuk, jadi Tante hukum berenang di kolam renang, ungkap Utari memberitahu.
Raga paham, dia tahu bagaimana selektif-nya ibunya Raga, Utari. Anehnya, walaupun begitu Zein masih saja lolos dan menjadi bajing*n.
"Tapi kalau dipikir-pikir aneh juga. Maudy semalam juga ikut berenang, tapi anak itu tidak sakit. Kamu lihat sendiri tadi, Ga ...."
"Iya juga, Tan, tapi bisa aja itu karena Zein saja yang kelewat lemah jadi pria," timpal Raga, dengan tak sungkan meledek sahabatnya itu di depan ibunya sendiri.
Dalam seketika, Zein yang tak terima pun berbalik. "Tutup mulutmu, siapa yang lemah?!"
Raga tidak tersinggung dan malah acuh dengan mengangkat bahunya sendiri. Sementara itu Utari langsung geleng-geleng kepala, lantas keluar dari kamar anaknya itu.
"Ini semua gara-gara perempuan rese itu, semalam aku sampai berendam air dingin akibat ulahnya!" gumam Zein memberitahu.
"Jadi sekarang kau mengakui tertarik pada istrimu sendiri?!" sarkas Raga cukup serius.
Zein terdiam sesaat, seperti tengah berpikir keras. "Kucing kalau diberi ikan mana mungkin menolak!" balas Zein dengan ketus.
Dia berbalik dan kembali membelakangi Raga. Melihat itu, Raga segera berbalik keluar dan menyusul Utari untuk membicarakan kondisinya atau mungkin memberi resep obat yang perlu ditebus.
Zein tidak menyadari kepergiannya. Terlalu menikmati rasa ngilu di hampir seluruh bagian tubuhnya. Pusing dan kedinginan.
Sampai beberapa menit berlalu, Maudy tiba di sana sambil membawa nampan. Berisi bubur serta obat penurun panas untuknya.
"Kamu sudah tidur?" tanya Maudy sambil mencoba menyentuh bahu Zein.
Posisinya laki-laki itu berbaring menyamping sambil membelakangi Maudy. Zein yang tidak bisa tidur segera berbalik, tapi sebelum itu kesehatannya yang jauh dari kata baik membuatnya tak menyadari jika Maudy-lah yang berada di belakangnya.
"Aaarrrggh! Kenapa kamu?!" kaget Zein.
Pria itu tersentak dan reflek bergeser ke bagian tempat tidur.
"Kamu kenapa sih? Kok kaget kayak gitu, memangnya aku hantu?" tanya Maudy sedikit mengomel ditengah kebingungannya.
Dia segera meletakkan nampan di atas nakas, kemudian kembali menghadap sang suami. Maudy berdiri dan menatap ke arah Zein. Suaminya itu tengah mengusap dad* untuk meredakan rasa syoknya, sambil kemudian menarik selimutnya lagi.
"Aku ke sini cuma mau mengantar bubur dan juga obat. Mama bilang kamu harus segera memakannya, tapi kalau tidak bisa sendiri aku akan membantumu," jelas Maudy.
Wanita itu ternyata kasihan pada Zein dan bermaksud tulus melakukannya. Walaupun agak sebal, akibat kejadian habis mandi beberapa jam lalu.
"Yaudah, aku masih sedikit lemas, bisa tolong kamu bantu suapin aku," ucap Zein pasrah.
Maudy menganggukkan kepala. Kemudian menyusun bantal, supaya Zein bisa bersandar ke sana. Dengan begitu Zein bisa duduk dan memudahkannya makan.
"Sudah selesai, duduklah di sini," ucap Maudy, tapi diapun membantu Zein.
"Kamu seperti orang mau mati saja, lemas bangat, pura-pura atau beneran?" ceplos Maudy sembarang.
"Memang mau mati, apa kau tidak pernah demam?!" jawab Zein cukup sarkas.
"Pernah, tapi nggak pernah kayak kamu. Udah mirip pasien sakit serius!" jawab Maudy ketus.
Zein cuma bisa mengangguk manja, dia membenarkan ucapan Maudy, sebab begitulah adanya. Tiap kali mengalami demam, dia lemas, kehilangan tenaga, dan memang mirip pasien sakit keras.
Selanjutnya pria itu pun menikmati buburnya sambil disuapin istrinya. Namun, sudut mata liarnya tak sengaja menangkap kehadiran sesuatu yang sedikit mengintip. Itu berasal dan balik pakaian leher pendek yang Maudy kenakan.
Zein mencoba mengalihkan perhatian, tapi semakin dicoba semakin dia merasa tak sanggup.
"Sial!" umpat Zein dengan lemas.
"Ckckck, sudah sakit, tapi masih saja mengumpat. Udah, deh ... lebih baik cepat habiskan buburnya!" omel Maudy.
"Yaudah, kamu tutupin dulu itumu!" jelas Zein sedikit ketus.
"Apa?" bingung Maudy sambil meletakkan mangkuknya, dan menatap suaminya menuntut.
Membuat Zein jadi gemas sendiri, dan sedikit kesal. "Belahan dad*mu keliatan!"
"m***m!" umpat Maudy langsung menarik leher bajunya ke atas, agar tak terlalu rendah.
"Hei, siapa yang mes*m?! Asal kau tahu saja, aku sakit sekarang juga karena menahan diri sama kamu. Aku laki-laki gentle Maudy, kenyataannya aku tidak menyentuh seseorang dengan sembarangan!"
"Bagaimana dengan simpananmu?!" sarkas Maudy terdiam.
Zein terdiam dan kehabisan kata. Kemudian terbayang kejadian dia yang sudah tak berselera pada Laura.
'Jangan-jangan seleraku berpindah pada Maudy. Ah, mungkin saja ... jika diperhatikan Maudy memang jauh lebih menggoda!' batin Zein yang kemudian dilanjutkan dengan geleng-geleng kepala. 'Tidak, jangan sampai perempuan ini tahu, atau dia akan mengejekku!' lanjut Zein membatin.
"Tidak usah membahasnya, lagipula selama ini kami berhubungan aman. Bisnis, apa kau tahu itu? Ah, tidak mungkin. Kau itu cukup polos, karena aku ingat bukankah aku adalah pria pertamamu," jelas Zein.
Maudy menghela nafas, terbayang soal keadaannya yang hamil karena kejadian itu. Namun, bahkan Zein seolah lupa dan tak mengingat fakta itu. Padahal Mereka sudah pernah membicarakannya beberapa hari lalu.
"Tidak usah dibahas, lebih baik habiskan buburnya sekarang. Minum obatnya, nanti siang aku masih harus bekerja," jelas Maudy mengalihkan pembicaraan.
"Ck, istri macam apa kamu. Suaminya sakit malah ditinggal kerja," cibir Zein.
"Aku baru masuk kerja, tidak bisa libur, dan cuma bisa ganti shift," jelas Maudy.
Anehnya Zein merasa tetap tidak suka dan tanpa sadar ingin Maudy menemaninya terus.
"Hm," jawab Zein ketus.
"Kamu ngambek?" bingung Maudy.
"Aku kenyang, mana obatnya. Aku ingin beristirahat secepatnya, dan oh ya, pakai pakaian yang lebih tertutup jika tak mau orang lain berpikiran buruk padamu," jelas Zein menyadarkan Maudy kembali soal pakaiannya.
*****