"Maudy mana, Ma?" tanya Zein saat merasa sedikit baikan.
"Baru aja pamit, katanya mau kerja, tapi bukannya dia sudah bilang sama kamu?" jelas Utari mengingatkan.
Dia melirik putranya dan menemukan wajah kecewa di sana. Kemudian sedikit tersenyum singkat tanpa sepengetahuan Zein.
"Istri macam apa dia, suami sakit malah ditinggal. Pokoknya kalau Maudy pulang, Mama harus omelin Maudy," rengek Zein pada ibunya.
"Ada-ada saja, kamu. Buat apa mengomeli menantu kesayangan Mama sendiri. Lagian dia tidak pergi main, tapi kerja. Kalau mau yah, kamu saja yang ngomong sama istri kamu, tapi ingat jangan sampai menyakiti dia!" jelas Utari Ibunya masih sempat-sempatnya memperingatkan putranya.
"Tidak bisa, Maudy itu orangnya rese, Ma. Dia bisa aja bilang nurut detik itu juga, tapi kemudian dalam sekejap melakukan hal sebaliknya," jelas Zein terbayang kejadian beberapa jam sebelum menikah.
"Sudah-sudah, lagian kamu juga udah baikan. Masalah sepele tidak usah diperpanjang. Sebaiknya kamu tidur lagi, kamu bawel habis sakit begini!" omel Utari Ibunya dengan masih sempat-sempatnya mengatai putranya.
Namun, alih-alih menurut. Seperginya Utari Zein malah memainkan ponselnya. Dia menghubungi Maudy dan mengganggunya.
'Aku lagi kerja, yaampun ... iya-iya aku bawain entar. Tulis aja daftar yang kamu inginkan, tapi jangan lupa transfer!' ucap Maudy di dalam telepon.
"Hm, yaudah. Aku tutup teleponnya," jawab Zein pasrah.
Tuttttt!
Telepon mati, tapi kemudian detik berikutnya berdering kembali.
Maudy sampai membuang nafasnya kasar. 'Apa lagi?!'
"Aku cuma mau bilang jangan sampai lupa. Kalau kamu lupa aku tidak akan mengampuni kamu, Maudy," jelas Zein.
'Iya-iya, bawel!'
Detik berikutnya telepon di matikan sebelah pihak, tapi bukannya tersinggung Zein yang sakit malah merasa terhibur.
"Ternyata menggoda wanita rese ini asik juga!" ucapnya dengan usil sambil kemudian meletakkan ponselnya dan berbaring.
*****
Bugh!
Maudy meletakkan beberapa kantung belanjaan ke atas meja sofa di ruang keluarga, tapi tak hanya itu, melainkan sebuah buket bunga juga di sana.
"Kamu udah gila, tidak ada siapapun di rumah itu. Kosong! Jangan-jangan kamu sengaja untuk mengerjai aku?!" tebak Maudy.
Dia tampak lumayan kesal, menatap suaminya dengan sedikit melotot tajam. Ya, Zein memang di sana. Dia lumayan cepat pulih apalagi sekarang sudah berani main ke ruang keluarga. Zein duduk di sana, setengah berbaring sambil memeluk selimut.
"Lalu kenapa masih di bawa ke sini?! Membuat sampah saja," cibir Zein membuat Maudy meliriknya dengan setengah memiringkan kepalanya.
"Apa ... sampah kamu bilang, terus gimana, kamu mau aku meninggalkannya di sana begitu saja?!" tanya Maudy cukup sarkas dan Zein dengan mudahnya menganggukkan kepala.
'Menyebalkan sekali laki-laki satu ini, ternyata belum kapok sama demamnya. Perlu dirujak ini!' batin Maudy geram.
"Sudahlah, memang begitu tugasmu. Sebagai karyawan toko bunga kamu harus menjual bunga, dan sebagai kurir pribadiku, kamu harus mengantarkan bunga itu. Sampai atau tidaknya pada Mila," jelas Zein cukup terdengar miris bagi Maudy.
'Ch, apa yang dia pikirkan soal ini. Ah sudahlah, dia memang tidak punya hati, jadi aku juga tidak seharusnya menanggapi dia dengan hati juga,' batin Maudy menekankan pada dirinya sendiri.
"Baiklah. Anggap hari ini dan waktu sebelumnya itu aku memaafkanmu, tapi lain kali lakukan itu. Oh, ya mana makanan titipanku?" tuntut Zein.
Maudy segera menyerahkan kantung kresek dan Zein segera menerimanya dengan bersemangat. Ternyata itu adalah buah dalam kemasan kalengan, dan Zein sangat menginginkannya. Namun, begitu dibuka Maudy juga sama. Dia tiba-tiba menginginkan buah dalam kemasan itu juga.
"Kamu mau?" tebak Zein yang akhirnya sadar dengan ekspresi Maudy.
Wanita itu pun menganggukkan kepala pelan dan tampak polos, membuat Zein tersenyum gemas padanya.
"Ya, sudah. Makanlah ...," tawar pria itu membuat Maudy senang, tapi hanya sesaat, sebelum kemudian Zein melanjutkan ucapannya. "Tapi jangan banyak-banyak, makan sedikit. Salah sendiri kenapa beli satu!"
"Jangan coba-coba mengatai aku pelit, kamu sendiri yang bod*h. Jadi, salahkan dirimu sendiri!" lanjut Zein saat melihat mulut Maudy terbuka hendak bicara.
'Lucu juga wanita rese ini!' batin Zein memperhatikan Maudy.
Mengambil jajanan kedua, Zein mengeluarkan sepotong cokelat.
"Huek!!" Zein langsung mual dan menjauhkan cokelat itu darinya.
Lantas menatap Maudy dengan tatapan menuntut. "Kamu yang benar kalau beli cokelat. Belum dimakan baunya udah nggak enak dicium. Bikin mual, jangan-jangan sudah kadaluwarsa!"
Maudy mengerutkan dahi dan segera meraih cokelat itu, tapi kemudian dia mengalami hal serupa.
"Huek ... bau bangat, kok bisa baunya seperti itu. Bikin mual beneran?" jelas Maudy merasakan hal yang sama.
"Itu dia makanya aku tanya kamu, memangnya kamu beli tidak melihat tanggal kadaluarsanya?" tanya Zein.
Maudy tampak berpikir sejenak. "Kadaluwarsa?"
"Iya, sepertinya cokelat itu sudah kadaluwarsa!" tekan Zein mengulang kalimatnya.
"Tapi aku beli ini dan semuanya di minimarket, mana mungkin kadaluwarsa. Setidaknya setiap barang yang masuk ke sana pasti udah dicek dulu dan terjamin," jelas Maudy mengingatkan.
Tepat di saat yang sama, Utari ke sana dan menghampiri keduanya.
"Kalian ini pada kenapa? Muka sedikit memerah dan sepasang bola mata kalian tampak berair." Utari bingung sendiri menyaksikan kondisi anak dan menantunya itu.
"Maudy tuh, Ma. Ceroboh bangat, dia habis beli cokelat kadaluwarsa. Hampir saja aku makan, tapi baunya luar biasa bikin enek sekali," jelas. Zein sambil menunjukkan cokelatnya.
"Iya, Ma. Kayaknya aku beneran ceroboh. Bau cokelatnya nggak tahan banget, Ma. Tolong jauhin dari kami ...," Maudy sambil menutup hidung, dan sedikit bergerak menjauhi cokelat yang sudah diletakkan di atas meja.
"Beneran bisa kayak gitu, ya? Memangnya kamu beli di mana, Dy?" Utari wanita paruh baya itu segera meraih cokelat yang di maksud, dan segera memeriksa bungkusnya.
"Mini market dekat tempat kerja aku, Ma," jelas Maudy.
Utari menganggukkan kepala, tapi kemudian dia segera mengerutkan dahi, sambil mencoba mencium cokelatnya. "Tapi cokelat ini tidak kadaluwarsa, dan--" Utari dengan berani mengendus bahkan mencicipinya. "Tidak bau seperti ucapan kalian. Ini enak!"
Wanita paruh baya itu reflek mendekatkan coklatnya ke arah Maudy dan Zein, tapi kemudian sepasang anak menantunya itu langsung berlari menjauh dan sepertinya ke arah toilet.
"Mereka beneran mual sama cokelat ini. Kompak lagi, kok bisa ya? Padahal enak!" bingung Utari tampak serius.
*****