"Aaarrrggh!" jerit Maudy membuat Zein terbangun paksa.
Dia langsung menoleh dan menemukan Maudy istrinya heboh sendiri.
"Kamu ngapain aku semalam, kamu pasti kesempatan macam-macam sama aku bukan? Dasar omes, laki-laki otak sel*ngkangan!!Kenapa aku cuma pakai ginian, di mana bajuku?!" tuntut Maudy berteriak.
Dia menatap tajam suaminya, dan mengerutkan dahi. Membuat alisnya hampir menyatu, dilanjutkan dengan nafasnya yang tidak teratur. Kedua bola matanya bahkan sampai sedikit memerah.
Maudy tak terima dan langsung menyerang Zein dengan bantal. Memukul-mukul suaminya itu, tanpa mendapatkan pembalasan. Karena Zein cuma diam dan membiarkannya puas sendiri.
"Santai Maudy! Santai ... Kamu ini bertingkah sudah seperti gadis perawan saja ...."
"Tapi aku memang perawa--"
"Perawan?!" Zein tersenyum geli, memotong kalimat istrinya yang belum selesai. Kemudian lanjut menatap Maudy dengan tatapan mengejek. "Apa otakmu konslet, atau jangan-jangan kamu mendadak amnesia lupa pada kejadian bulan lalu?"
Maudy terdiam, terbayang kembali kejadian yang dimaksud. Mengigit bibirnya ringan dan segera merasa malu. Melihat itu, Zein tersenyum miring.
"Padahal kejadian itu sampai kau jadikan alasan untuk pernikahan kita. Rela jadi pengantin pengganti akibat tidak peraw*n dan hamil duluan!" cibir Zein menambahkan.
"Dan itu fakta, dan bajing*n itu kamu! Kamu yang seenak jidat merenggut keperaw*nanku!" dongkol Maudy sambil menyentak selimut.
Sayang sekali dia segera menyesali aksinya itu, sebab Zein cuma mengenakan celana dalam. Reflek Maudy pun memalingkan tatapannya, tapi Zein dengan usil justru menahan wajah Maudy.
"Kamu pasti suka melihatku begini, ayo jangan malu-malu. Nikmati pemandangan indah ini selagi bisa!" jelas Zein percaya diri.
Tapi Maudy juga tak diam saja. Dia segera melawan dan mencubit perut suaminya. Membuat Zein segera mengeluh sakit.
"Auch!! Sstttt ...."
Sementara itu Maudy langsung bangkit dan menghindar. Dia segera mencari pakaiannya, tapi yang ditemukannya di sana hanyalah beberapa paper bag. Tanpa sungkan Maudy membuka dan menemukan hal yang membuatnya syok.
"Apa ini?!" tanya wanita itu, berbalik dan menunjukkan pada suaminya.
"Bod*h itu punyaku!" Zein bangkit dari tempat tidur, dan membuat jantung Maudy tak aman.
'Sial! Kenapa pria ini tidak ada tahu malunya?' batin Maudy mendadak merasa sesak.
"Berikan padaku!" tegur Zein, tapi sebelum di Maudy menyerahkannya, pria itu lebih dahulu merebutnya.
'Mengerikan, apa yang sudah kulakukan. Mengapa aku sampai memegang dalaman pria!' ringis Maudy membatin.
Dia ngeri sendiri dengan apa yang dia rasakan, dan Zein sepertinya bisa membaca apa yang terjadi.
"Tidak usah kaget begitu, lama-lama kau juga akan terbiasa. Lagipula ini adalah bagian dari kemauanmu. Siap menjadi istri seharusnya kau siap dengan semua ini, dan juga memberikan hakku, jika sewaktu-waktu aku sudah tak bisa menahan diri!? " tegas Zein tidak ada salahnya.
Maudy tidak membalas dan hanya tersenyum sinis menatap suaminya itu.
"Ambil pakaianmu, mandilah dan berganti. Habis ini kita pulang. Sejak semalam mama sudah mengkhawatirkan dan menunggumu," jelas Zein menunjuk paper bag lainnya.
Dia mengambil salah satu dan memberikannya pada Maudy, tapi wanita itu tampaknya trauma. Alih-alih menerima dia langsung reflek menjauh.
"Ini punyamu, bukan dalamanku lagi!" cibir Zein yang bisa membaca isi kepala istrinya itu.
Maudy pun membuka serta mengeluarkan isinya. Ada pakaian ganti yang komplit untuknya. Hanya saja itu terusan, tali spaghetti dan lehernya sangatlah rendah. Sontak saja hal itu membuatnya menatap protes pada suaminya.
"Apalagi Maudy?! Lama-lama kamu ini menjadi istri tidak tahu diri. Ngelunjak terus kerjaannya!" omel Zein sedikit geram.
"Tapi ini tidak cocok untukku. Ini terlihat seperti milik jala*gmu!" balas Maudy sengit.
"Lalu kenapa, ada yang salah dengan selera Laura? Sudah baik dia menyiapkan punyamu juga!" jelas Zein membongkar siapa pengirim paper bag tersebut.
Ternyata Zein memerintahkan Laura yang melakukannya. Menyiapkan dan mengirim pakaian ganti untuk mereka.
"Lihat sendiri!" ucap Maudy ketus sambil melemparkan pakaiannya.
Zein pun memeriksa dan segera merutuki pilihan Laura. Bukan cuma terlalu terbuka, tapi ukurannya tidak sesuai buat Maudy. Itu terlalu ngepas dan membentuk tubuh, terlebih lagi bagian dad*. Bukan apa-apa, Maudy bagian tubuh Maudy yang satu itu memang lebih besar dari ukuran normal.
Akan tetapi, mau tak mau, sehabis mandi Maudy mengenakannya, sebab pakaiannya semalam hilang entah kemana.
"Pakai ini!" Zein tanpa persetujuan Maudy, tiba-tiba saja memakaikan jasnya pada tubuh Maudy.
Selain karena perasaan aneh, tak mau istrinya dilihat seperti itu oleh laki-laki lain. Diapun tak sanggup menatap Maudy seperti itu dalam waktu yang lama.
*****
"Akhirnya kalian pulang juga, Nak!" Utari Ibu mertuanya langsung memeluk Maudy dan merangkulnya.
"Maafkan Mama, ya Dy. Mama pikir semalam dengan meminta Zein menjemputmu, akan akan cepat sampai ke rumah, tapi siapa tahu dia justru membuat masalah," jelas Utari sedikit bersalah.
Namun, dalam lubuk hati terdalamnya dia ingin kejadian tersebut bisa membuat Zein dan Maudy lebih dekat.
"Tidak apa-apa, Ma .... Lagian aku tidak terluka semalam, dan Kak Zein mengurusku dengan baik," jelas Maudy sambil melirik suaminya ketika mengatakan kalimat, 'dengan baik.'
"Mama sudah dengar sendiri bukan, aku bisa diandalkan. Lihatlah Maudy, semalam dia hampir sakit, tapi berkatku dia tidak jadi sakit," jelas Zein membanggakan dirinya sendiri.
Utari geleng kepala tak habis pikir. "Tapi kamu melakukan skin to skin itu berkat Mama. Mama sendiri yang mengajari kamu gimana menangani orang demam," jelas Utari ibu mertuanya, membuat Maudy sekarang mengerti bagaimana dia bisa bangun dengan kondisi tubuh hampir tak mengenakan pakaian, begitu juga Zein.
Ternyata Maudy salah paham. Semalam Zein tidak bermaksud mes*m, tapi membantu sedang bermaksud baik untuk menurunkan demamnya, dan terbukti efektif.
Sekarang Maudy tidak sakit, tapi dia segera menyesal sudah meneriaki suaminya tadi pagi.
"Ngomong-omong kalian sudah sarapan?" ucap Utari sengaja untuk memecah keadaan yang tiba-tiba hening.
Maudy dan Zein kompak geleng kepala. Karena mereka memang langsung check out dari penginapan itu pagi tadi.
"Yaudah, Maudy sayang kamu gantilah pakaianmu. Mama tahu pakaian kurang bahan itu tak nyaman kamu pakai, dan yakin itu pasti karena Zein anak nakal ini yang sudah memaksamu memakainya," ucap Utari sambil tersenyum.
Zein sedikit berdecak mendengar itu. "Lama-lama aku merasa Maudy yang jadi anak kandung Mama dan bukan aku!"
"Ckckck, Zein menantu perempuan itu juga sama dengan anak perempuan dalam keluarga. Tidak usah cemburuan begitu, kamu akan tetap menjadi anak manja kesayangannya Mama," jelas Utari membuat Maudy menahan tawa.
'Jadi, suami brengs*k ini ternyata anak mami?' batin Maudy, sebelum kemudian dia menoleh pada suaminya dan menatapnya dengan tatapan mengejek.
'Dasar anak manja!' cibir Maudy lewat tatapannya, tapi sepertinya Zein paham, karena dia segera membalas tatapan Maudy dengan tajam.
*****