Bab 18. Bawang Goreng

1112 Words
"Apa kalian suka dengan taburan ekstra bawang goreng?" tanya Utari pada anak dan menantunya. Maudy agak ragu untuk mengangguk, sebab dia tahu ekstra taburan bawang goreng pada nasi goreng bukanlah hal yang baik. Rasa makanan yang terlalu banyak ditaburi atau bercampur dengan bawang merah goreng bisa menjadi pahit. Menyadari penolakan menantunya, Utari tersenyum hangat dan mengangguk paham. "Tidak masalah jika kalian tidak menyukainnya, Mama juga tidak sengaja menggoreng bawang ini. Karena sebenarnya ini ulah kecerobohannya Mama. Waktu memasak Mama kepikiran Maudy terus, dan tanpa sadar mengupas bawang merah terlalu banyak, tapi sayang Mama juga sudah terlanjur mengirisnya juga. Jadi Mama jadikan saja bawang goreng seperti sekarang," jelas Utari tanpa memaksakan kehendaknya. Mendengar itu, Zein meski tahu ibunya tidak akan marah, dia segera berpikir untuk tak membuatnya kecewa. Sehingga diapun mencoba menggunakan tambahan bawang goreng itu di atas nasi gorengnya. Melihat hal itu, Maudy pun melakukan hal yang sama. Menaburkan bawang goreng ke atas piringnya. Mereka awalnya mengambil cukup sedikit, tapi perlahan mulai menikmati, dan akhirnya menyukai. Setiap suapan kini bercampur dengan sensasi adanya ekstra bawang goreng tersebut. Namun, seiring waktu, tak hanya nasi goreng yang di taburi ekstra bawang goreng. Jadwal waktu makan berikutnya Maudy dan Zein kompak masih menaburkan tambahan bawang goreng pada makanan mereka. Siang, malam, dan saat kembali pagi. Semuanya mengandung bawang goreng tambahan. Makanan berat, ringan. Dari yang cocok menggunakan bawang goreng sampai kurang cocok. Keduanya tidak pernah lupa selalu menggunakan tambahan bawang goreng sebagai pelengkap makanan mereka. Utari menyadari keanehan itu lalu bercerita pada suaminya. "Beneran, Pah. Maudy dan Zein itu kompak soal selera makanan dan parfum. Contohnya saja kebiasaan baru mereka sekarang. Bisa-bisanya makan harus pake bawang goreng. Kalau tidak, mereka langsung sama-sama mogok makan. Aneh nggak sih?" "Kayaknya wajar, Mah. Mereka itu jodoh, dan definisi orang berjodoh, ya seperti mereka itu," jelas Hendra ternyata tak ambil pusing. "Ckckck, udah capek-capek ke sini dan bercerita sama kamu Pah, tapi cuma gini doang reaksinya. Dasar orang tua kaku dan tidak asik!" gerutu Utari kecewa. "Padahal itu tuh udah aneh bangat tahu, logikanya walaupun sesama itu, masa iya sampai sedetail itu. Rasanya ada yang ganjil tahu, Pah, tapi yasudahlah. Sulit memberikan pengertian pada laki-laki yang tak bisa peka!" Utari mendengus kasar, langsung berpindah tempat duduk dan memalingkan tatapannya. "Dasar tidak punya perasaan!" rajuk wanita paruh baya itu menatap suaminya dengan serba salah. Hendra langsung menghela nafas, dan buru-buru memikirkan sesuatu untuk membujuk istrinya itu, sebelum perang dunia terjadi. "Iya, Mah. Papa salah. Sepertinya Mama benar kok, Papa yang kurang berpikir tadi. Sekarang Papa pikir itu aneh sih! Masa iya Zein dan Maudy samaan, kan mereka bukan kembar?" pasrah Hendra berbalik menjadi setuju soal pendapat istrinya. ***** "Makanan tanpa bawang goreng nggak ada artinya. Nggak enak ... gini baru yummy!" ungkap Maudy sambil menaburkan bawang goreng ke atas makanannya. Jihan sampai geleng-geleng kepala menyaksikan sahabatnya itu, meski kemudian dia tampak memakluminya saja. "Dasar bumil ngidam! Dulu aja nggak sampe segitunya, sekarang jadi maniak bawang goreng," ucap Jihan tak habis pikir, tapi Maudy malah tertawa dan membuat Jihan waswas. "Kamu ngomong gitu, aku jadi teringat suamiku si brengs*k itu. Dia itu juga mengalami hal yang sama denganku. Ngidam anti cokelat dan juga suka banget sama ekstra bawang goreng seperti ini, tapi dia nggak tahu apa-apa, hahaha!" jelas Maudy yang entah dimana lucunya, tapi wanita itu memang tertawa setelah berkata demikian. Jihan sampai mengernyitkan dahinya heran dan cengegesan. "Lucu banget, hahaha!" ungkap Jihan memaksakan tawanya. "Hahaha, betul sekali. Calon anakku ini benar-benar pintar sekali, tidak membiarkan ibunya menderita sendirian," timpal Maudy, membuat perasan Jihan tersentuh mendengarnya. 'Dasar wanita kuat, masalah ginian saja kok kamu bisa tegar sih, Dy?' batin Jihan. "Bapaknya memang bod*h, aku pikir dia nggak percaya dalam rahimku anaknya, dan berpikir itu punya orang lain, tapi makin kesini, ternyata dia tidak percaya aku hamil. Dia pikir aku hamil palsu dan bohongan! Dasar blo'on memang si brengs*k itu!" jelas Maudy dengan santainya mengatai sang suami. Namun, begitulah adanya. Zein belakang ini semakin memperlihatkan keyakinannya soal kehamilan Maudy. Dia jarang membahas, dan sekali membahas dia justru menuduh Maudy pura-pura hamil, supaya punya alasan buat menerima status pengantin pengganti. ***** "Gimana Pah, soal rencanaku? Papa setuju bukan soal aku yang mulai mengambil alih perusahaan?" tanya Zein sedikit menekan Hendra ayahnya. "Gimana, ya, Zein ... Papa bukannya tidak setuju, hanya saja kamu bukan lulusan bisnis, Zein. Gimana caranya kamu mengelola perusahaan kita, Nak? Kamu itu pengacara!" tegas Hendra, takut ucapannya salah bagi Zein, dan berakhir bertengkar dengan putra sulungnya itu. Zein itu soal sikap pemaksa agak mirip-mirip dengan istrinya, tapi sepertinya sikap itu berevolusi dan berlipat ganda. Zein berkali lipat lebih pemaksa dari Utari, dan bagian buruknya pria itu suka mengamuk jika keinginannya tidak terpenuhi. "Papa itu belum terlalu tua, dan Papa bisa membimbingku. Lagipula aku juga punya saham di restoran berbintang milik temanku Arlan. Harusnya dari sana Papa tahu, kalau jiwa bisnis Papa itu sudah menurun padaku," jelas Zein menekan ayahnya. Hendra tidak bisa mengumpat atas sikap putranya itu, sebab di masa lalu, dia sendirilah yang terlalu memanjakan Zein. "Baiklah, tapi sebelum itu kamu juga harus sadar sepenuhnya. Anak Papa itu bukan cuma kamu, jadi dalam perusahaan ada kepemilikan yang sama antara kamu dan juga Gio," jelas Hendra serius, dan masih tetap waswas takut Zein tak terima. Namun, pria itu segera tersenyum dan tak terduga justru meyakinkan ayahnya. "Aku paham soal begituan, Pah. Kamu tahu sendiri siapa aku, aku seorang pengacara!" Hendra sedikit kaget, tapi kemudian menganggukkan kepalanya seraya membuang nafasnya dengan lega. "Akhirnya kamu dewasa juga, Son. Bisa berpikir matang seperti ini, Nak. Papa bangga padamu," ungkap Hendra sambil menepuk-nepuk bahu Zein ringan. 'Tapi maaf sekali Pah, aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Bukan karena serakah, tapi aku tidak akan pernah membiarkan Gio setara denganku. Dia harus tetap di bawah supaya aku bisa menekannya, dan juga supaya aku bisa memiliki Mila!' batin Zein licik. Setelah berbicara serius dengan ayahnya, siang itu Zein didatangi oleh Laura lagi. Wanita penghangat ranjangnya itu, datang dengan membawa puding cokelat. "Apa yang kau lakukan soal pakaian Maudy tiga hari lalu, apa kau sengaja?!" Zein langsung menunjukkan aura permusuhannya. Dia paling tidak suka inisiatif yang berlawanan dengan perintahnya. "Aku bilang siapkan pakaian yang nyaman untuknya dan tertutup, kenapa justru menyiapkan pakaian pelac*r seperti milikmu!" Laura tersinggung tentu saja, tapi dia tak berani menunjukkan keberatannya. Dia harus menguatkan perasaannya dan berpikir itulah harga yang harus dia bayar untuk memiliki Zein. "Maafkan aku, Zein. Aku tidak berpikir panjang sebelumnya ...." Blam!! Zein tetap menepis, bahkan mendorong Laura menjauh, dan membuat puding cokelat yang dibawanya sampai tumpah. "Sialan! Kau berani membawa benda menjijikkan itu ke sini. Huek!! Singkirkan itu dari hadapanku!" geram Zein langsung mundur dan menjauh. Laura bingung, tapi sebelum mengerti, Zein kembali meneriakinya. "Singkirkan cepat!!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD