"Jangan bilang kamu trauma dengan kejadian tiga hari lalu?" tebak Zein bisa membaca pikiran Maudy.
Tidak sulit, sebab gesture tubuh wanita itu keliatan enggan masuk mobil, cukup menjelaskan semuanya.
Hari ini Zein memang kembali menjemput Maudy pulang, dan itu bagian dari perintah Utari ibunya lagi.
Wanita paruh baya itu masih beta tinggal bersama dengan anak dan menantunya, tapi sebenarnya itu semua dia lakukan untuk memastikan Zein tidak akan menyakiti Maudy, dan juga membantu mendekatkan keduanya.
"Siapa yang tidak trauma, sekalinya dijemput malah mengalami musibah. Mobil tiba-tiba matilah, dan ditambah turun hujan. Untung nggak ada begal!" balas Maudy yang masih ogah-ogahan.
"Gitu aja jadi mau dibuat trauma, dasar cewek mental lemah. Masuk sekarang, cepat!" perintah Zein yang tak lupa mengatai Maudy.
Blam!
Maudy masuk, tapi dengan cukup kasar dengan sedikit membanting pintu mobil. Zein kesal, tapi dia tak menuntutnya. Melainkan menegaskan sesuatu yang menyebabkan Maudy geram.
"Tapi sebenarnya bukan salahku atau mobilku. Ini kesalahan penumpangnya, karena dia terlalu pembawa sial!" cibir Zein cukup kejam, tapi Maudy malah meliriknya dengan tersenyum jengkel.
"Baguslah, itu artinya selama kita masih bersama kamu bisa tertular kesialanku, dan semoga saja itu terus terjadi," jawab Maudy tak mau kalah, membuat Zein berdecak sebelum kemudian mengemudikan mobilnya.
"Jangan terlalu cepat. Ini mobil tua, walaupun mahal. Entar mogok lagi!" cibir Maudy tak lupa memperingatkan Zein.
"Sok tahu kamu, ini bukan mobil kemarin, bod*h. Ini mobil baru!" tegas Zein tak lupa mengatai Maudy, dan menyombongkan diri.
"Siapa tahu saja, kondisi mesinnya sama saja, atau aku yang pembawa sial ini bisa membuat kita sial kembali!" jawab Maudy tak kehilangan kata.
Mereka terus berdebat tanpa kenal bosan. Mereka persis Tom and Jerry. Tidak ada hari tanpa bertengkar, dan tidak ada bosannya.
Namun, yang tidak mereka sadari. Beberapa meter dari mobil mereka yang masih terparkir. Hilda ada di sana dan memperhatikan keduanya sejak awal.
Dia cukup penasaran karena tidak bisa mendengar, tapi kemudian menebak-nebak kemungkinan yang bisa terjadi.
"Ternyata wanita itu, punya hubungan spesial dengan pria waktu itu. Hm, tapi aku yakin dia pasti cuma simpanan. Kalau tidak bagaimana mungkin pria kaya dan punya saham di restoran mau pada wanita miskin sepertinya!" ucap Hilda sambil mengepalkan telapak tangannya.
'Maudy seorang simpanan pria kaya', tapi tetap saja pikiran itu tak membuat Hilda tenang. Jadi simpanan mungkin terdengar buruk, tapi bagi Hilda, itu masih cukup beruntung. Sehingga dia cukup kesal, karena tidak suka Maudy mempunyai sisa keberuntungan.
Hilda mau Maudy menderita, terlunta-lunta jika bisa. Semenderita mungkin, supaya dia bisa tertawa lebih keras lagi, dan bahagia.
"Tapi aku juga tidak akan diam, aku akan merusak hubungan itu dan membongkar citra Maudy. Dia harus membayar semuanya, membayar atas penderitaan yang aku alami. Aku akan membuatmu makan kecoa sepertiku, Maudy!"
Keesokan harinya Hilda langsung beraksi. Kembali ke lokasi itu, dan bahkan memasuki toko bunga tempat kerjanya Maudy.
"Mbak saya boleh minta rekomendasi bunga yang cocok buat dikasih sama pasangan?" tanya Hilda ramah pada salah satu karyawan toko tersebut saat hendak membeli bunga.
Dia melirik Maudy yang sedang di kasir dan belum menyadari kehadirannya.
"Sebenarnya bunga mawar merah yang paling umum dan paling cocok, tapi kalau Mbak mau yang spesial sebaiknya memberi bunga favorit pasangan," jelas karyawan toko tersebut.
"Sepertinya itu ide yang paling bagus, akan tetapi kekasihku tidak terlalu pemilih soal bunga. Hanya saja aku ingin memberinya bunga yang memiliki makna yang indah," jelas Hilda tampak serius.
"Kalau begitu, Mbak bisa memilih bunga Lily putih sebagai lambang cinta suci, atau bunga Tulip merah sebagai lambang cinta sejati," saran karyawan toko tersebut.
"Kalau begitu aku mau bunga Lily-nya saja, Mbak. Sebanyak lima belas tangkai," jelas Hilda.
"Baiklah, Mbak. Silahkan ke kasir untuk melakukan pembayaran," jelas karyawan tersebut mengarahkan Hilda.
Namun, tiba-tiba saja wanita itu memasang wajah syok, saat sudah berhadapan dengan mantan rekan kerjanya itu.
"Oh, ternyata setelah dipecat dari restoran kamu di sini, Dy?" ucap Hilda dengan sengaja mengencangkan nada suaranya.
"Bukan urusanmu, lebih baik bayar dan pergi dari sini secepatnya," jelas Maudy ketus.
Setelah dijual, dan di fitnah sampai dipecat, tentu saja, Maudy tak bisa ramah pada Hilda.
"Astaga kamu lagi marah ya, sama aku? Padahal jelas-jelas kamu yang sudah berbuat buruk padaku. Menjualku selayaknya barang, dan membuatku dipecat dari restoran, tapi sekarang lihatlah dirimu. Kamu masih senang di sini dan masih mempunyai pekerjaan!" teriak Hilda lebih keras lagi.
Membuat orang di sana, pelanggan dan karyawan toko segera menatap ke arah mereka.
"Teriak lebih keras lagi!" tantang Maudy sambil menatap penuh kebencian.
"Apa?! Dasar wanita munaf--"
Plak!!
Maudy segera memotong dan membuat Hilda langsung terdiam, dengan melayangkan tamparan tanpa ragu.
"Aku sudah melakukan ini sejak dipecat dari restoran, tapi kamu baru kali ini memberikan kesempatan. Rasakan itu, kau pantas mendapatkan tamparan!" kecam Maudy penuh dendam.
"Sialan kamu simpanan! Sok suci, tapi simpanan pria kaya!" balas Hilda yang tak mau kalah, diapun langsung menarik rambut Maudy setelah mendapatkan tamparan itu.
"Tau apa kau soal hidupku! Mucikari seperti kamu tidak pantas bicara seperti itu padaku!" balas Maudy juga membalas dengan menjambak rambut Hilda.
Sebenarnya walaupun dia perempuan yang lumayan ceria, dia sedikit mudah terpancing dan lumayan bar-bar. Itulah mengapa Maudy sulit menghindari kejadian demikian.
Sampai akhirnya sekarang mereka terlibat aksi jambak-jambakan, dan barulah berakhir setelah dilerai. Sayang sekali akibat kejadian itu, beberapa properti ada yang rusak. Maudy dipecat dan harus ganti rugi, selain itu perutnya sedikit kram dan membuatnya harus periksa.
Mau tidak mau Maudy ke rumah sakit ditemani Jihan, untuk memastikan kondisi janinnya.
"Maafkan aku, Han. Lagi-lagi aku ngerepotin kamu buat hal beginian," ucap Maudy setelah dia sendiri selesai periksa ke dokter kandungan.
"Aku tidak masalah soal menemani kamu, Dy, tapi kamu harus jaga tempramen-mu. Jangan mudah terpancing ataupun marah lagi, apalagi meladeni cewek omongan kosong seperti Hilda!" jelas Jihan khawatir.
"Kasihan bayimu. Hari ini mungkin masih beruntung, tapi bagaimana lain kali. Ini sudah kedua kalinya loh kamu bertengkar sampai jambak-jambakan seperti itu," tegur Jihan perduli.
Maudy paham maksud sahabatnya itu, dan dia sebenarnya agak menyesal karena meladeni Hilda.
"Kamu benar, Han. Andai saja, tadi aku diam dan tak kepancing. Mungkin saja aku masih bekerja dan tidak ganti rugi sebanyak itu," jawab Maudy menyesal.
"Tidak apa-apa, Dy, selagi kamu bertekad untuk menghindari kejadian seperti tadi," jawab Jihan sambil mengusap pelan bahu sahabatnya itu.
Maudy tak tahu saja, bagaimana Jihan panik saat dia menceritakan soal perut kramnya.
*****