"Ada apa dengan wajahmu?" Zein menangkup pipi Maudy dan memeriksa.
Ada bekas cakaran, dan sedikit memar yang sudah membiru di sana. "Kamu bertengkar dengan Laura lagi?"
Maudy menggelengkan kepala. "Bukan dia, tapi mantan teman kerjaku di restoran. Dia orang yang memfitnah aku menaruh kecoa dimakanan pelanggan. Makananmu," jelas Maudy serius.
"Kalian bermusuhan?" tanya Zein sedikit kepo.
"Aku tidak tahu, tapi hubungan kami tidak baik sejak dia mencoba menjual-ku. Aku tidak bisa terima itu, karena walaupun dia gagal, aku tetap kehilangan keperaw*nku bersamamu," jelas Maudy.
"Jadi, dia dalang alasanmu memperkos*ku malam itu?"
Maudy langsung membulatkan matanya, dan menatap tajam ke arah Zein. "Kamu bilang apa barusan? Tidak salah kamu bilang aku yang memperkos*mu?! Aku dalam pengaruh obat malam itu, dan kamu memanfaatkan aku!"
*****
"Yaampun, Dy. Kamu kenapa, Nak. Kok wajah kamu jadi seperti ini?" cemas Utari Ibu mertuanya begitu melihat Maudy.
"Jangan cemas, Ma. Aku baik-baik saja. Ini hanya luka ringan, dan besok juga sembuh," jelas Maudy mencoba tersenyum.
"Kamu serius, Nak? Tapi bagaimana kamu bisa seperti ini sayang ...." Utari beralih menatap putranya Zein. "Apa yang terjadi pada Maudy, Zein. Kenapa kamu tidak becus menjaga istrimu sendiri?"
"Saat aku jemput Maudy, dia sudah begitu, Ma," jelas Zein sedikit mengelak.
"Ini bukan salah, Kak Zein, Ma. Aku yang salah kok, aku meladeni mantan rekan kerjaku yang gila. Kami bertengkar di tempat kerja, dan sekarang aku dipecat," jelas Maudy tampak lesu.
Mendengar itu, Utari ibu mertuanya langsung merangkul, dan membawa Maudy ke sofa. Mereka duduk di sana, bersama. Sementara itu, Zein langsung masuk kamar, dan membersihkan diri.
"Jadi hari kamu buruk, Dy?" tanya Utari memastikan, dan Maudy jujur serta mengangguk.
"Tidak apa-apa sayang. Kamu pasti baik-baik saja, tapi sekarang kamu bisa cerita sama Mama?" pinta Utari penasaran.
Maudy pun mulai bercerita dan mengatakan hampir semuanya, bagaimana rekan kerjanya menjebaknya, tapi kemudian Maudy berhasil kabur. Namun, dia tak memberitahu, dibalik keberhasilan itu, Maudy tetap saja kehilangan peraw*nnya, dan itu di tangan Zein.
"Mantan teman kerjamu itu benar-benar kelewatan, mau Mama bantu buat menuntutnya?" tawar Utari perhatian.
Maudy terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu yang serius. Kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku juga ingin dia kapok dan tidak ada korban lagi, tapi aku kepikiran anaknya. Siapa yang akan menjamin anak itu, jika bukan Hilda," jelas Maudy.
"Oh, jadi perempuan keji itu sudah punya anak?" tanya Utari tampaknya sangat tertarik dengan cerita Maudy.
"Iya, Ma. Hilda mempunyai dua putri, tapi salah satunya sering dia jadikan alat untuk mendapatkan simpati. Dia selalu beralasan putrinya sakit keras, tapi ternyata kedua anak-anaknya baik-baik saja."
"Benar-benar keterlaluan dia, kita harus tetap melaporkan wanita itu. Tidak bisa dibiarkan, dia bisa saja semakin berulah setelah ini, dan menyakiti kamu!" terang Utari serius.
"Soal anak-anaknya, kamu tidak usah khawatir. Anak-anak itu tidak akan Mama biarkan terlantar," jelas Utari melanjutkan, dan akhirnya Maudy mengangguk setuju.
"Yasudah, kamu pasti capek, Dy. Mandilah sayang, dan bersihkan dirimu. Mama akan menyiapkan makan malam dengan ekstra bawang goreng kesukaanmu dan Zein," jelas Utari langsung membuat Maudy bersemangat.
"Yaudah, Maudy ke kamar ya, Ma," kata Maudy ceria kembali.
Wanita itu tampaknya tak sabar mencicipi makanan dengan bawang goreng kesukaannya. Seolah hal itu adalah solusi dari masalahnya.
Utari geleng-geleng kepala, menatap keanehan yang semakin jelas di depan matanya. "Maudy dan Zein pasti menyimpan rahasia!"
Bughh!
Tiba-tiba saat akan beranjak ke dapur juga, Utari tak sengaja menyenggol tas Maudy yang terletak di atas meja. Ternyata Maudy melupakan tasnya.
Utari hendak membereskannya, tapi kemudian dia menemukan selembar surat penting di sana.
"Laporan pemeriksaan dari rumah sakit?" ucap Utari bingung, dan lanjut memperhatikannya. "Ini pemeriksaan kehamilan, Maudy hamil?!"
Tiba-tiba wanita paruh baya itu sedikit gemetar, antara bahagia, tapi dia sangat terkejut. Namun, dia segera menghubungkan hal itu pada kejadian aneh pada akhir-akhir belakangan.
"Jadi, ini adalah alasan Maudy dan Zein kompak membenci coklat serta jadi mual meski cuma mencium baunya. Kemudian bawang goreng, mereka berdua sama-sama ngidam?"
Akan tetapi, alih-alih segera menuntut hal tersebut pada anak dan menantunya. Utari justru membereskan tas tersebut, dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Namun, dia sempat memotret laporan tersebut dan mengirimkan pada suaminya.
Malam itu juga, Hendra segera datang ke sana, dan menemui istrinya. Mereka bahkan makan malam bersama.
"Apa Papa juga ingin tinggal sementara waktu di sini?" tanya Zein tak percaya, dan Hendra langsung menganggukkan kepala.
"Apakah itu salah?" balas Hendra sambil memasang wajah tak berdosanya.
"Bukan begitu, Pah, tapi kalau begini kapan kami berdua mandiri, dan selain itu kami juga butuh privasi!" protes Zein tak setuju.
"Rumah ini tidak sempit, Zein. Ini luas, bahkan lebih luas dari rumah utama kediaman keluarga besar Abhimayu. Banyak ruangan di sini, misalnya kamar kalian atau ruang kerjamu," balas Hendra membuat Zein frustasi.
Sementara itu, Utari dan Hendra sudah saling menatap dan tersenyum tanpa sepengetahuan putra mereka. Bahkan mereka juga sepertinya berkomunikasi lewat tatapannya.
"Terserah, Mama dan Papa saja. Aku pusing!" pasrah Zein sebelum dia kemudian teringat sesuatu.
"Oh, iya. Begini saja, aku tidak akan melarang Mama-Papa tinggal di rumah kami, tapi Papa harus segera mengangkat aku menjadi CEO perusahaan Abhimayu minggu depan! Bagaimana?" tantang Zein, seakan tak mau rugi.
Hendra menatap istrinya, meminta persetujuan.
"Oke! Kamu boleh menjadi CEO, tapi Mama ingat hari ini Maudy baru dipecat. Mulai minggu depan dia juga akan menjadi asisten pribadimu!" tegas Utari yakin.
"Apa?" kaget Zein tak percaya. "Dia nggak mungkin bisa, Ma. Maudy itu cuma lulusan sarjana pendidikan, artinya cuma bisa jadi seorang guru bukan asisten CEO," jelas Zein membuat Maudy sedikit murung.
"Benar, Ma. Aku tidak pantas jadi asisten CEO," timpal Maudy kehilangan kepercayaan diri.
"Siapa bilang? Kalau begitu cara berpikir kamu Zein, artinya kamu juga tidak bisa jadi CEO. Kamu bukan anak bisnis dan bahkan pengacara!" sarkas Hendra terlihat puas.
"Aku bisa belajar, Pah!" jelas Zein dengan yakin.
"Dan menantunya Mama juga bisa melakukan hal yang sama. Maudy bisa belajar dan kalian bisa belajar bersama," jelas Utari tegas.
Mendengar itu, Zein langsung menumpahkan banyak bawang goreng ke atas piringnya sendiri. Makan dengan kesal, tapi juga lahap. Melampiaskan emosinya ke sana. Tak berbeda jauh, Maudy yang merasa tidak pantas dan merendah, juga melakukan hal yang sama.
"Lihatlah, Pah. Apa aku bilang, Zein aneh. Bawang goreng sebanyak itu, harusnya bikin makanan pait, tapi dia malah sangat menyukainya, begitu juga Maudy," terang Utari sambil berbisik.
Hendra pun mengamati anak dan menantunya. Kemudian tersenyum, seolah yang dia saksikan adalah yang seharusnya.
Kemudian sepasang orang tua paruh baya itupun terkekeh dengan geli, menyebabkan Maudy dan Zein kompak menatap mereka.
"Kalian makan saja, ngapain masih melihat ke arah kami?" peringat Hendra.
*****