Bab 21. Kegilaan Zein

1007 Words
"Tapi usia kandungan Maudy melebihi usia pernikahan mereka, Mah?" ungkap Hendra sambil mengamati potret yang Utari tunjukkan. Pria paruh baya itu tampak berpikir keras, sedang istrinya juga melakukan hal yang sama. "Ckckck, kamu ini udah seperti orang yang tidak pernah punya anak. Zein dan Gio itu pernah aku kandungan, Papah. Ingatlah waktu itu bagaimana cara dokter menghitung usia kandungan. Itu ditentukan dari tanggal terakhir menstruasi," jelas Utari, dan Hendra segera menganggukinya. Walaupun kemudian pria paruh baya itu sedikit geleng kepala, akibat terbayang sesuatu dalam kepalanya. "Tapi usia kandungan di sini tetap saja menunjukkan Maudy hamil sebelum menikah. Agak tidak mungkin juga mereka langsung sedekat itu, apalagi kita tahu sendiri Zein suka pada Mila," ungkap Hendra merasa ada yang tidak beres. Utari mengerutkan dahinya. "Jadi Papa berpikir kalau anak dalam kandungan Maudy bukan anaknya Zein?" "Nggak mungkinlah! Kalau bukan Zein, kenapa Zein ikut ngidam?" jawab Hendra yakin. "Aku justru berpikir, mereka pasti punya sesuatu sebelum menikah, dan ini mencurigakan, Ma" "Betul juga sih, Pah. Mereka mempunyai hubungan sebelum pernikahan. Namun, Mama yakin itu tak mungkin sejenis transaksi kotor. Maudy ternyata penghangat ranjang anak kita, karena anak itu jelas-jelas wanita baik-baik," jelas Utari mengeluarkan pendapatnya. "Tapi mungkin saja Maudy diancam. Kamu tahu kasus Devin adik Maudy? Jangan-jangan biaya ganti rugi itu didapatkan Maudy melalui Zein," tebak Hendra serius. Bukannya Hendra tak tahu betapa brengs*nya putra sulungnya itu. Dia bahkan waswas jika sewaktu-waktu ada wanita yang menuntut pada keluarganya. "Sudahlah, daripada kita pusing menebak-nebak. Lebih baik kita cari tahu saja!" usul Utari dengan cerdas. "Baiklah. Begini saja, Papa akan menyewa beberapa orang yang ahli untuk mencari tahu, sementara kamu Ma. Cobalah untuk menguping pembicaraan anak-anak. Jangan sampai kita penasaran terus karena masalah ini, " usul Hendra yang segera disetujui oleh istrinya. "Ckckck, tapi anak kamu yang satu itu lain daripada yang lain, Pa. Bukan cuma egois, tapi juga pembuat masalah," ucap Utari sedikit jengkel membayangkan perangai dari putranya itu. ***** Sementara itu, Zein ternyata tak tinggal diam. Dia segera mengatasi masalah Maudy dengan caranya sendiri. "Cari tahu saja dan segera berikan perhitungan pada wanita sialan itu!" tegas Zein terdengar serius. Dia sedang bersama Raga lagi, walaupun sering bertengkar, tapi dengan pria itu dia suka menghabiskan waktu dan minum bersama, dan tampaknya itu sudah menjadi kebiasaan. Zein meletakkan ponselnya, lantas bergerak duduk ke sofa. "Padahal wanita itu sudah pernah aku peringatkan!" "Apa dia wanita yang sama dengan yang kau paksa makan kecoa?" tanya Raga mencoba menebak. "Tepat sekali, dan sekarang aku jadi menemukan titik terang mengapa kejadian waktu itu sampai terjadi. Ternyata dia dan Maudy mempunyai masalah, dan kamu tahu si beg* itulah yang membuatku tidur dengan Maudy sekali sebelum pernikahan. Dia membuatku gagal menikah dengan Mila!" Raga geleng kepala. Dia pikir ada atau tidaknya kejadian itu, Zein tetap tidak akan menikah dengan Mila. Raga tahu semuanya, dan sebenarnya dia sedikit terlibat. 'Bagaimana jika kamu tahu, Zein. Sebenarnya aku juga salah satu orang yang mendukung kegagalan pernikahanmu?' batin Raga. "Jangan melihatku aneh, dan satu lagi biar aku jelaskan. Aku melakukan ini bukan karena memperdulikan istriku wanita rese itu, tapi mama. Aku cuma tidak mau dia stress dan jatuh sakit," jelas Zein merasa perlu memberitahu, karena dia tak mau diledek akibat memperdulikan Maudy. "Perduli juga tidak masalah. Cinta tidak cinta atau bahkan benci. Wanita itu tetap saja istrimu, dan kamu bertanggungjawab atas hidupnya. Aku pikir apa yang kamu lakukan sekarang adalah haknya," jelas Raga di luar dugaan. "Baiklah kita lupakan itu. Malam ini biarkan aku menginap di tempatmu. Aku tidak mau pulang, di rumah ada papa dan kehadiran membuat mood-ku jadi buruk," ungkap Zein tanpa ragu, membuat Raga segera meninju bahunya untuk menyadarkan. "Dasar anak durhaka. Om Hendra itu adalah ayahmu dan dia sangat memanjakan-mu," tegur Raga. "Aku tahu, tapi siapa suruh dia pindah ke rumahku. Itu jelas-jelas kesengajaan, dan membuatku tak bisa bebas. "Baiklah, tapi kau tak boleh mabuk. Istriku sedang hamil, dan dia anti dengan aroma bajing*n," jelas Raga membuat Zein menghela nafasnya kasar. Namun, malam itu dia tidak jadi menginap, dan malah memilih hotel untuk bersantai. Sayangnya Zein kembali memulihkan moodnya dengan cara meniduri Laura, walaupun berakhir tidak jadi. "Sial!" umpat Zein kesal. "Pergilah ...." Zein justru merasa semakin buruk dan bahkan langsung kehilangan nafs*. "Zein kamu sudah dua kali memperlakukan aku seperti ini," rengek Laura kecewa. "Bahkan jika seratus kali, aku juga tidak akan perduli, dan ingatkah hubungan kita. Ini transaksi, bisnis, dan aku selalu membayar kewajibanku. Kamu bisa menikmati uangku, tapi jangan coba-coba mengaturku!" Zein memungut pakaian Laura, kemudian menyeretnya keluar kamar hotelnya begitu saja. Blam! "Sial, kenapa hal seperti ini terus-terusan terjadi. Aku sedang ingin, tapi saat ingin menyelesaikannya aku tidak pernah berhasil!" Zein berjalan ke arah balkon kamar, lantas merokok di sana untuk beberapa waktu, sebelum kemudian dengan aneh dia justru pulang. "Ckckck, wanita rese dan menyebalkan ini ternyata sedang asyik-asyiknya tidur pulas. Enak sekali dia!" gerutu Zein begitu memasuki kamar. Dia segera membuka pakaiannya, menyisakan dalaman, kemudian berbaring di sisi tempat tidur kosong. Lalu dengan aneh justru mengamati wajah Maudy yang terlelap. Entah kenapa dia sedikit rileks melakukan itu, walaupun dia menyadarinya. ***** "Kenapa tidak mengenakan pakaian, sih? Kamu sengaja ya, supaya mengodaku?" tuduh Maudy tampak kesal. Bangun tidur dan disuguhi pemandangan tubuh suaminya yang hampir tidak mengenakan apa-apa tentu saja membuatnya syok. Apalagi Zein bahkan memeluknya waktu itu. "Aku mau telanj*ng sekalipun memangnya kenapa? Ini kamarku dan aku berhak melakukan apa saja yang aku inginkan. Dasar perempuan otak cab*l, aku tidak sudi menggod*mu!" balas Zein tak terima. "Oh, baiklah. Biarkan aku melakukan hal yang sama!" kecam Maudy tampaknya sangat kesal, apalagi setelah dikatai cab*l. Padahal diantara mereka cukup jelas siapa yang otaknya paling mes*m. "Buka saja! Kau pikir tubuhmu cukup menarik. Cuma dad* saja yang lumayan, lainnya pasti mengecewakan!" cibir Zein. Maudy pun terpancing dan menjadi sangat geram. Dia tanpa berpikir panjang segera membuka pakaiannya, dan menyisakan pakaian dalam seperti Zein. "Kita lihat sampai kapan kamu bertahan. Aku yakin otak mes*m seperti setelah ini akan berendam lama di kamar mandi," jelas Maudy percaya diri. Namun, belum beberapa detik, Zein langsung menutup tubuh Maudy dengan selimut. "Kau perempuan tergila yang pernah aku temui!" *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD