"RISTA!!!" teriak bunda menggema membuat gua menutup kuping dengan bantal.
"Bangun woi.. lo gak sekolah apa?" Bunda mengguncangkan badan gua dengan keras, mau gak mau gua buka mata.
"Gak ah. Gua cape bun," ujar gua sambil menguap, bunda pun menatap gua dengan senyum lebarnya.
"Yaudah lo ikut gua aja" ujar bunda membuat gua menatapnya.
"Kemana?" Kayanya sih asik kalo ikut bunda
"Salon" ujar bunda, gua langsung memekik kegirangan.
"Gua mau diwarnain ya" kata gua
"Terserah" jawab bunda keluar kamar gua
"Cepet siap siap!!" Teriak bunda. Gua langsung ngacir ke kamar mandi. 30 menit gua gunain untuk siap siap.
Dan disinilah gua, di salah satu mall jakarta. Gua dan bunda memasuki salon itu sambil tertawa.
"Hai say" ujar pegawai salon
"Hai sis" ujar bunda dan mereka asik cipika cipiki
"Bawa siapa nih say? Cantik bener" gua hanya tersenyum saat dneger itu.
"Ini anak gua" ujar bunda
"Hai mas... gua crystal, panggil aja rista" ujar gua sambil tersenyum lebar.
"Hei hei hei.. lo manggil gua apa tadi? Mas?" Tanya nya, gua ngangguk
"Lo itu manggil gua sis aiko, mbak, say, atau cin terserah deh. Asal jangan mas, atau om" ujarnya. Ya pegawai ini lekong
"Sip sis" kata gua
"Mau diapain say rambutnya?" Tanyanya sambil menyuruh gua duduk didepan cermin
"Warnain, warna pink ya"kata gua. Dia mengangguk dan mulai mewarnain rambut gua. Sedangkan bunda cuman ngerapihin rambut.
"Wow.. keren sis" ujar gua setelah melihat rambut gua berwarna pink (liat mulmed)
"Makasih loh say"ujarnya sambil tertawa.
"Rista, udah belom lo?" Tanya bunda
"Udah dong bun, gimana? Keren gak?" Tanya gua ke bunda
"Wow.. keren kok" kagum bunda, gua hanya tersenyum
"Yaudah deh kita pulang dulu" ujar bunda sambil narik gua
"Makasih ya mas aiko.." ledek gua, aiko pun menatap gua garang dan gua balas dengan memeletkan lidah kearahnya. Gua dan bunda pun makan dulu, selesai makan kita langsung pulang kerumah. Saat sampe dirumah gua menyerngitkan kening, bukannya ini mobil pak bos, intan sama ayah ya?
"Ayah udah pulang kerja bun? Tumben" ujar gua, bunda juga tampak heran. Gua dan bunda memasuki rumah dengan santai. Saat gua dan bunda masuk, kita semua terperangah. Makanan dimana mana, bungkus makanan pada berserakan, bantal di sofa udah di lantai. Pokoknya udah kayak kapal pecah.
"AYAH!!!" teriak gua dan bunda langsung. Kalo bunda teriaknya karena marah, kalo gua kesenengan. Dengan cepat gua melompat kearah ayah dan memeluknya.
Author pov
Robert terkekeh melihat bu ketua memeluknya.
"Lepasin gua ah, gak bisa napas nih gua" ujar robert. Bu ketua cemberut menatapnya.
"Lo bikin rumah kayak kapal pecah tau gak, mana oleh oleh gua?" Todong bunda kepada ayah. Ya, ayah abis dari luar negri.
"Dikamar" ujar ayah santai, bunda pun mencium pipi ayah karena kesenengan.
"Oh iya bu ketua kok gak masuk?" Tanya tiara
"Males" jawab bu ketua santai
"Bu ketua abis dari mana? Wow rambutnya keren" decak intan
"Abis dari salon, diajak bunda" ujar bu ketua santai
"Lo ini bener bener ya. Ngajak anak kesalon, bukannya sekolah" ujar robert kepada rebeca.
"Biarin sih, untung untung kita belom dapet hadiah dari dia. Ini jarang loh, dia bertahan di sekolah baru lebih dari seminggu" ujar bunda santai
"Lo sama dia itu sama aja kelakuannya, gak jauh beda" ujar robert sambil geleng geleng kepala
"Namanya juga ibu sama anak, ya pasti sama lah" kata bu ketua dan rebeca kompak.
"Terserah" robert langsung memasuki kamar diikuti rebeca yang terkikik.
"Keluarga lo asik banget" ujar pak bos kepada bu ketua
"Hahaa.. lebih tepatnya keluarga gua mah gila semua" balas bu ketua sambil tertawa
"Gua denger apa yang lo omongin!" Teriak rebeca dan robet dari kamar.
"Oow"
"Kalian ngapain kerumah gua?" Tanya bu ketua
"Gpp sih. Sangkain gua lo sakit" ujar tiara, bu ketua hanya memutar bola mata kesal.
"Bu ketua, ada line nih dari peter" ujar intan menyerahkan iphone bu ketua.
Peter: woi
CrystalEL: apa woi?
"Peter siapa sih?" Tanya nabila
"Itu loh yang sering chat sama bu ketua" tambah tiara.
"Kalian gak tau peter?" Tanya bu ketua heran
"Enggak" jawa mereka polos
"Astaga. Gua udah sering chat sama dia, sangkain gua kalian udah tau" ujar bu ketua
"Kita gak tau" ujar bu ketua
"Peter itu idola kalian loh. Artis itu" ujar bu ketua membuat nabila membelakan matanya.
"Serius?" Tanya nabila histeris
"Masa?" Ledek intan
"Buktiin coba, video call" ujar tiara. Bu ketua hanya memutar bola matanya malas dan video call dengan peter.
'Video call'
"Tumben video call" ujar peter saat layar ponsel bu ketua menampilkan gambar dia.
"Temen gua gak percaya kalo lo itu peter yang artis" balas bu ketua malas
"Hahaa.. mana temen lo?" Bu ketua langsung mengarahkan ponselnya kepada intan, tiara dan nabila.
"Hai peter.. gua nabila"
"Gua tiara"
"Gua intan" ujar mereka bertiga
"Hai semua" sapa peter
"Gila gila gila. Ternyata bener ya bu ketua. Lo chatan sama peter artis itu. Kenapa gak bilang sama gua? Gua kan fans dia" teriak nabila heboh
"Lo bacot banget sih" kata bu ketua ketus
"Hehe.. maaf bu ketua"
"Haha.. jangan salahin rista. Dia mah orangnya emang kayak gitu. Lagi dirumah ya ris?" Tanya peter
"Yoi" teriak rista karena ponselnya dipegang nabila, intan dan tiara.
"Dirumah kayaknya ada cowoknya deh tadi" ujar peter
"Iya ada, namanya ksatria" ujar intan
"Ksatria?" Ulang peter
"Iya. Ketuanya pak bos namanya brian, terus anggotanya sam, davin sama levin" ujar tiara mengarahkan ponsel bu ketua kepada ksatria.
"Haii" sapa ksatria
"Hai juga" balas peter
"Dirumah cuman kalian aja?" Tanya peter
"Ada tante rebeca dan om robert"
"Oh, salam ya buat mereka"
"Bisanya salam doang lo. Kesini kali.. Kangen guaa!!!" Teriak bu ketua menyambar ponselnya
"Ya mau gimana ris? Gak ada waktu gua" balas peter sedih
"BUNDA AYAH!! ADA SALAM" teriak bu ketua
"SALAM BALIK" teriak rebeca dan robert.
"Hahaa.. masih sama aja kaya dulu, suka teriak teriak. Dan rambut lo makin cetar aja" peter tertawa
"Yoi dong. Lo apa kabar?" Tanya bu ketua
"Baik, lo?"
"Baik juga. Gua kangen banget sama lo" bu ketua memanyunkan bibirnya
"Gua juga kangen sama lo"
"Ke indonesia sih, nanti gua temenin deh lo mau kemana aja" bujuk bu ketua
"I'm sorry darling.." ujar peter dengan muka sedih
"Pekerjaan lo gak bisa ditunda dulu tah?" Rajuk bu ketua
"Gak bisa sayangku.. cintakuu. Gua harus profesional" ujar peter
"Haha.. oke deh kalo gitu. Gua tau kok kerjaan itu lebih penting menurut lo dibanding gua, gua tau" bu ketua memasang senyum paksa nya membuat peter semakin berasa bersalah
"Jangan ngomong gitu lah.. lo itu lebih penting kok. Tapi ya mau gimana lagi? Lo aja yang ke sini" ujar peter membuat bu ketua marah
"LO EGOIS! KENAPA GUA TERUS YANG SELALU KESANA?! KENAPA GAK LO AJA YANG KESINI?!" Teriak bu ketua membuat mereka diam, sementara pak bos memasang muka datar dan dingin.
"Ris.. maaf" ujar peter merasa bersalah. Dan tepat perkataan itu, bahu bu ketua bergetar. Dia menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca kaca.
"Hiks.." satu isakan lolos keluar dari bibir bu ketua.
"Hei.. do'nt cry darling" ujar peter
"LO JAHAT!! GUA BENCI SAMA LO. LO JAHAT!!" Teriak bu ketua membuat rebeca dan robert panik dan turun kebawah
"Astaga rista lo kenapa?" Tanya robert
"LO JAHAT! LO GAK PERNAH NGERTIIN GUA" teriak bu ketua membuat peter merasa bersalah
"Gua juga kangen sama lo, tapi... lo tau kan, gak semudah yang lo kira. Lo harus ngertiin gua dong" ujar peter
"Gua udah ngertiin lo dari dulu. Gua udah ngertiin lo! Sampe kapan gua sabar hah?! Lo gak pernah ngertiin gua. Lo gak ada waktu buat gua. Kapan terakhir kita ketemu? 2tahun lalu kita ketemu. Lo mikirin kita yang di indonesia dong. Kalo lo mau gua ngertiin lo, oke gua bakal ngertiin lo. Gua gak bakal ngubungin lo lagi, dan jangan pernah hubungin gua lagi. LO JAHAT!!" Teriak bu ketua
"Ris., you kidding me? Forgive me please.." ujar peter
"Gua serius. Lo kenal gua banget, lo orang yang paling mengerti gua, dan gua gak mungkin becanda" ujar bu ketua mematikan video callnya. Yang terakhir diliatnya adalah muka peter yang terlihat panik.