Enam puluh lima Jamima hendak membuka pintu tapi suara Bibi lebih dulu terdengar oleh Jamima, gadis itu hanya memegangi knop pintu kamar Gabrian dengan tangan agak gemetar. “Nyonya, kapan datang? Kenapa enggak ngabarin dulu kalau mau datang?” tanya Bibi dengan suara agak keras, mungkin sengaja agar Jamima yang ada di kamar dapat mendengar suaranya. “Oh, Bibi. Saya kesini Cuma mampir karena kangen sama Gabrian.” Jawabnya enteng saja. “Yah, Mas Gabrian semalam tidur di kostan.” “Lho, terus yang di dalam siapa?” “Anu, Mas Gabrian yang kunci pintunya, terus anak kuncinya dibawa.” “Masa sih? Kok tumben banget dia begitu?” selidiknya seakan tak percaya begitu saja. “Ehm, iya memang gitu sekarang dia.” “Yah, enggak bisa ketemu dong!” “Nanti Bibi suruh dia pulang gimana? Ibu tunggu seben

