Nyonya Wijaya Lama

1383 Words

Enam Puluh Empat Jamima mengerjapkan matanya, dia sudah bangun tapi kepalanya agak pusing. Samar-samar dilihatnya Jelita berdiri dengan melipat lengan di depannya. Jamima langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Merasa tambah mual setiap kali melihat kakaknya itu. "Kamu darimana saja?" tegur Jelita. Jamima tak menoleh. "Jamima!" "Bukan urusan Mbak!" tukasnya. "Kamu itu urusan Mbak, kamu lupa kamu adik mbak?" "Ya terus?" "Kamu darimana tadi?" "Cuma main aja!" "Kemana dan sama siapa?" "Dih, kepo banget!" "Kepo katamu? kamu enggak paham ya mbak cemas? Pergaulan di sini itu berbahaya kalau kita enggak pintar pilih teman, Mima." Jelita masih sayang karena itu berusaha mengingatkan adiknya. "Halah, Mbak tahu apa sih soal pergaulan? Mbak aja cupu, ndak punya temen! Jangan baha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD