Tiga puluh delapan Jamima memastikan Gabrian dan Jelita sampai rumah, dan mulai melancarkan aksinya. Dia mendatangi Ferdy yang tengah duduk di ruang makan, menunggu kedatangan Gabrian dan Jelita yang sudah dia hubungi untuk makan malam bersama di rumah, hal yang jarang sekali dilakukan oleh keluarga Wijaya sejak hubungan Mami dan Papi Gabrian mulai merenggang. “Om.” Dia duduk tak jauh dari Ferdy. Di depan mereka, berbagai macam hidangan sudah siap santap. Bibi yang masak semua itu untuk makan malam bersama yang demikian langka. “Iya, kenapa Jamima?” Ferdy mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. “Uhm, aku boleh tanya enggak?” “Boleh, tanya saja.” “Apakah Om mau menjadikan Jamima anak angkat Om?” Ferdy menaikan alisnya. “Kenapa begitu? Jamima kan masih punya orang tua, jadi engg

