Lima puluh empat “Sshuutt.. shutt..” Cherry memeluk Jelita. Jelita merasa beruntung punya sahabat sebaik Cherry. Baginya, dia tak butuh teman banyak. Cukup satu saja namun begitu mengerti dan berempati pada setiap masalahnya. Cherry memeluk Jelita dan sekilas wajahnya seolah berubah. Jelita berusaha menghentikan tangisnya, airmatanya mungkin sudah kering tak bersisa lagi. Sekarang, entah bagaimana dia menghadapi kehidupan kampusnya? Sementara Rere sudah benar-benar menandai namanya sebagai korban selanjutnya. “Sudah ya, Jelita. Jangan nangis terus, aku jadi ikutan sedih.” Jelita mendongak dan mengangguk sambil mengulas senyum kecil. “Nah, gitu dong. Kita makan yuk!” “Boleh, Cherr. Mau makan apa?” Jelita membenarkan letak hijabnya. Cherry melongok ke arah kelas mereka, sepertinya ma

