Kanaya tidak membalas sekata pun pesan dari Ardan. Jiwanya sedikit terguncang. Bukan karena cemburu, bukan karena iri. Dia hanya merasa tersentak, karena di saat hidupnya berjalan mundur, orang lain terus melangkah maju. Ardan sudah melupakan perasaan kepadanya dan masalah yang ditimbulkannya, serta telah menemukan pasangan hidupnya. Sedangkan dirinya, jatuh ke lekaki yang salah dan kini harus berjuang keras menegakkan tumpuan hidupnya. Kanaya sadar, setiap orang punya kisah hidup masing-masing. Dan, dia harus berhenti membandingkan perjalanannya dengan orang lain. Dia menghela nafasnya panjang. Lalu, membaca seluruh pesan Ardan sekali lagi. Kabut putih menyelimuti hatinya. Lembut dan menenangkan. Dibalasnya pesan Ardan singkat. Kanaya : Selamat. Lalu, dia kembali mencoba tidur. H

