Rahagi kembali di Jum’at tengah malam, saat Kanaya dan Alana sudah tertidur. Semula dia ingin memberitahukan kepulangannya. Tapi, setelah mengetahui jadwal pesawat sorenya delayed hampir empat jam, dan mengingat macetnya jalan-jalan di awal akhir pekan, dia mengurungkan niatnya. Dia tidak mau membuat Kanaya dan Alana menungguinya tanpa bisa memberikan kepastian waktu tibanya. Meski begitu, ditelefonnya juga Kanaya saat dia telah di lobi apartemennya. Gadis itu membukakan pintu dengan daster, rambut kusut, mata sepat, dan tangan yang menutup mulutnya menghalangi uapan kantuknya. “Maaf, jadi bangunin kamu.” Rahagi menarik kopernya masuk. Kanaya mengerjapkan matanya sambil mengunci pintu. “Mau kubuatkan minum, Kak?” tanya Kanaya. “Kamu tidur aja lagi.” Rahagi menolak halus. Walaupun

