Panti Asuhan Senandung Kasih terlihat ramai siang hari itu. Beberapa anak tengah asyik bermain sepak bola di halaman. Erro dan Riska tampak duduk di pinggiran sebagai penonton. Sesekali terdengar suara teriakan Erro yang menyemangati anak-anak untuk mencetak gol. Sementara Riska hanya terdiam sambil mencuri pandang ke arah Erro. Riska tidak benar-benar mengamati sepak bola anak-anak. Dia lebih sering menengok ke samping. Atau paling tidak menggerakkan bola matanya untuk sekadar menangkap gerak-gerik Erro yang terus tertawa. Tanpa sadar Riska tersenyum tipis. Kemarin dia sempat menangis ketika melihat Erro datang dengan kaki pincang. Tapi sekarang dia sudah sedikit lega. Setidaknya Erro mulai bisa menerima keadaannya dengan ikhlas. Meski itu terasa menyakitkan. Bahkan bagi Riska sendiri.

