BAB 17

2808 Words

Mobil Rio berhenti tepat di depan rumah keluarga Razakian. Seketika keheningan tercipta di antara Rio dan Erro. Rio masih mencengkeram kuat-kuat setirnya. Dia tahu sejak tadi Erro berusaha menahan rasa sakit di kaki kanannya. Dia menoleh pada Erro yang tengah berusaha membuka pintu. Rio mengambil langkah cepat membuka pintu. Erro tersenyum padanya dan memukul bahunya. Seakan meraka adalah sahabat baik. Dan bukannya rival seperti kenyataannya. “Thanks banget, Ri. Maafin juga sikap gue tadi.” “Udah buruan sana masuk.” Rio balas meninju bahu Erro. Dia melangkah pergi. Tapi kemudian berbalik ketika mengingat masalahnya yang lain. “Dan soal Mariska—lo juga harus nganterin gue minta maaf. Kayaknya perkataan gue terlalu sadis sama dia.” Erro tersenyum miring. “Lo emang sadis.” Rio membalas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD