Masih pukul 5 pagi ketika Erro memberhentikan laju motornya tepat di depan rumah keluarga Razakian. Sudah lama sekali rasanya dia tidak bepergian menggunakan motor hitam kesayangannya. Dia jadi mengingat masa-masa SMA dulu. Saat dia selalu mengantar jemput Echa dengan motor ini. Saat dia dengan sengaja menggas gila-gilaan motornya agar Echa berteriak dan memeluk pinggangnya kuat-kuat. Semua memori itu berputar-putar di benaknya. Erro mematikan mesin motor. Dengan pelan kakinya bergerak turun. Rasa nyeri menjalar begitu saja ketika kaki kanannya menapak tanah. Erro menyambar stang motornya cepat. Berusaha menjaga keseimbangan kakinya agar dia tak jatuh. Shit! Erro mendesis pelan. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan rasa sakit kakinya yang semakin menjadi. Tidak. Hari ini tidak boleh

