Membayar Hutangnya dan Menjadikannya Mata-Mata

2020 Words
“Ah yang benar saja...” Tak kupercaya apa yang sedang kulihat saat ini. “Berandal itu jelas akan senang sekali... dia seperti baru saja mendapat mendapat permen rasa baru...” Kulempar sembarang foto yang tengah menampilkan potret dua orang pria yang tengah bercengkrama dengan akrabnya, dan itu benar-benar membuat kepalaku berdenyut jadinya. “Meskipun kita memiliki bukti kalau anak konglomerat ini benar-benar memiliki hubungan dengan si bandar ini, kita tak akan bisa menyentuhnya dengan latar belakangnya yang begitu kuat itu, bukan begitu?” Tanpa perlu penyidik Vero katakan pun, aku sudah jelas sangat tahu akan hal itu. Leon, dia benar-benar menjaring pada orang-orang elite negeri ini, dia seperti tanaman yang terus saja menumbukan duri-duri tajam di tubuhnya untuk melindungi dirinya agar semakin terlindungi dan bisa bebas melakukan kebejatannya di sini. “Tapi jika kita menggunakan media untuk ini... bagaimana?” Penyidik Vero malah menyarankan untuk menggunakan media, yang memang mudah dan cukup cepat sekali penyebarannya. Mungkin kurang dari satu menit siaran, atau sepenggal paragraph berita online, bahkan sebaris judul artikel, akan langsung seperti sebuah bom yang bisa membuat keonaran untuk satu keluarga konglomerat itu. Tapi... “Yang benar saja... dia ini adalah anak dari pemilik perusahaan media swasta terbesar, semua keluarganya memiliki naman pula di dunia politik... jadi sebelum beritanya bisa beredaran, mungkin mulut si penyiar berita soal si Abraham itu akan langsung robek atau bisa jadi jari-jari si penulis artikel itu akan patah kesepuluhannya lebih dulu sebelum sempat merilis beritanya...” Balasku, Yoan Abraham, dia lah pria yang kudapati tengah bersama Si Leon, buruanku dalam foto yang berhasil diambil dari penyelidikan penyidik Vero. Dia adalah seorang pewaris perusahaan besar yang hobinya selalu berulah namun bisa selalu lolos dari semua hukuman, karena statusnya sebagai keluarga konglomerat terkaya antero raya. Bahkan belum lama ini ia terlibat dengan sebuah club yang secara illegal kedapatan mengerdarkan sebuah narkoba happy balloon, yang dapat membuat pemakainya merasakan sensasi ngefly dengan menghirupnya. Dan tentu saja manusia-manusia penikmat dunia malam, party, clubbing hingga dini hari itu jelas akan sangat senang sekali, karena bisa menambah euphoria dengan narkoba jenis itu ada bukan? Tapi sayangnya Si Gila, Detektif Jo melakukan penyergapan dan membuat keributan dengan membongkar apa yang sudah terjadi club itu. “Dia bisa lolos dari Det. Jo kemarin soal club itu... kalau Si Abraham ini sampai kembali terendus oleh si Gila Jo, dia mungkin akan di gigit dan habis di cabik-cabik olehnya...” Aku terkehkeh saja mendengar ucapan penyidik andalanku itu. “Tapi rasanya jika ia benar-benar akan melakukan transaki kokain itu bersama Si Abraham tentu... ia tak akan dengan mudah menampilkan kedekatan mereka seperti ini bukan?” Tambahnya, dan aku pun memikirkan hal yang sama akan itu. “Leon tak mungkin akan membiarkan transaksinya bisa dengan mudahnya di gagalkan begitu saja dengan menampakan sekutunya” Aku sudah mencari beberapa orang yang mungkin akan melakukan transaksi bersama Leon, tapi rasanya tak ada satu pun yang benar-benar menjadi tangan yang akan ikut mengedarkan barang haramnya itu. “Ini... akan jadi petak umpat yang memusingkan...” “Lebih tepatnya permainan mafia... karena kita juga harus mencari tahu semua orang yang terlibat dalam kasus ini...” Balasku, siapa, dimana dan bagaimana transaksinya itu masih menjadi teka-teki dna tanda tanya besar bagiku. Meski sudah banyak penyelidikan, pengintaian masih saja semua tak tertarik benang merahnya. “Ah, nanti coba lah untuk menghubungi beberapa orang dari pelabuhan, kalau perlu datangi lalu periksa cctv di sana... firasatku mengatakan ada sesuatu yang bisa kita dapatkan, sepertinya seseorang sudah memancing perhatian kita” Kuperintahkan dirinya begitu, aku benar-benar sudah tak boleh melewatkan bahkan untuk hal kecil sekalipun. “Kalau begitu, biar sekarang saja aku langsung pergi memeriksanya...” “Ehm, baiklah kalau begitu, aku pun harus pergi menemui seseorang” . . . Dan di sinilah sekarang aku berada, tengah awas memperhatikan beberapa wajah yang berlalu lalang melemparkan tatap nakalnya padaku. “Mereka ini pintar menggoda tapi tak menawarkan layanan service untuk bermain ranjang... sungguh tanggung sekali” “Tanggung?? Bukankah kata yang lebih tepat untuk itu adalah pintar, mereka mencari uang dari pria-pria kesepian namun tak membiarkan diri mereka ternodai dengan mudahnya...” Balas seorang wanita yang kini tengah dengan santainya menghisap dan mengepulkan asap rokoknya tepat ke depan wajahku, sampai pandanganku mengabut untuk beberapa saat karenanya. “Terakhir... anda lebih sopan pada saya, bahkan anda membungkuk dan memohon maaf atas kesalahan salah satu wanita malammu itu” Balasku padanya, Ia malah menyunggingkan senyumnya, jelas sekali kalau ia sedang meremehkanku saat ini. Tchh, benar-benar... rupanya berurusan dengan barang kotor, membuatku juga harus sampai bertemu dengan orang-orang menyebalkan, dengan mulutnya yang seperti siap melemparkan banyak lumpur dari selokan padaku. “Itu karena anda adalah salah satu tamuku, melakukan check in dan membayar atas layanan di club ini... tapi sekarang, anda hanya terlihat hanya seperti... ehm pria tersasar, putus asa yang sedang mencari sebuah pertolongan” Ucapnya padaku. Tapi sungguh aku tak bisa mengelak kalau kedatanganku ke sini memang karena membutuhkan sebuah bantuan darinya, lebih tepatnya dari salah satu wanita malamnya. “Gadis... aku ingin dia, berikan dia padaku...” Langsung saja kuutarakan inginku itu padanya. “Hahahahah.... Ahahahah” Ia malah tertawa dengan lepasnya mendengar inginku itu, Aku benar-benar merasa seperti sebuah lelucon di hadapannya kini. Bagaimana bisa aku jadi harus bertemu dengan wanita-wanita yang hebat sekali meremehkan dan merendahkan seorang Bryan Dinatakusuma ini. “Dengar, tak ada yang harus di teratawakan di sini, aku serius soal meminta satu wanitamu di club ini... atau bujuk saja dia agar mau bekerja sama denganku, mungkin club ini akan mendapat bagian dari penyelidikanku ini...” Aku sampai harus bernegosiasi dengannya seperti itu. “Tchh... Anda sungguh hebat sekali memainkan peran anda dalam dunia bernamakan ‘keadilan’ itu... anda sebut diri anda seorang jaksa, seorang penegak hukum, bekerja untuk mengadili seorang kriminal... sementara anda bisa dengan seenaknya membuat seorang gadis muda bernasib malang berada dalam bahaya... itukah dunia keadilan tempat anda bekerja???” Aku baru saja seperti mendengar amarah dari seorang ibu yang putrinya telah di permainkan hatinya oleh kekasihnya. “Memangnya apa yang di namakan keadilan itu? Karena aku pun akan memberikan balasan yang setimpal dengan apa yang akan di lakukannya... Gadis, bukankah saat ini ia tersudut bahkan nyawanya terancam karena hutang ibunya itu... aku akan menolongnya-” “Dan membuatnya terjun dalam jurang dengan mulut buaya yang menganga siap menghabisinya...” Dia menggantikan kalimat penutupku dengan berkata seperti itu. “Pergilah... seorang pejabat public seperti anda tak cocok berada di club seperti ini...” Ia bahkan mengusirku seperti itu. Tapi tentu aku tak akan kalah dengan satu tendangan, yang bahkan tak terasa seperti hembusan angin sekalipun untuk membuatku pergi dari club ini. TAPP “Kamar 502... panggilkan Gadis untuk menemaniku malam ini” Ucapku, sambil kuletakan setumpuk uang, yang kutaruh dengan setengah tamparan pada meja tempat mereka biasa menerima tamu-tamu yang akan naik dan memakai kamar club untuk minum-minum sampai mabuk. “Cepat, aku tak suka di buat menunggu” Ingatku, sebelum melangkah pergi langsung saja masuk ke dalam ruangan yang sempat kumasuki sebelumnya. . . . Tok tok tok “Ehm... masuk” Kunaikan kedua alisku, heran bahkan tak suka karena yang saat ini melangkah dan mendekat padaku bukanlah Si Gadis yang begitu kunantikan kehadirannya sejak dua puluh lima menit yang lalu. “Ahh... Gadis, kau juga bernama Gadis?” Tanyaku jelas kukatakan dengan ungkapan yang cukup mengekspresikan ketidaksukaanku akan kehadirannya itu. “Bukankah kau suruh dirinya untuk memata-matainya di ruang sebelah?” Balasnya sambil menjatuhkan diri di kursi tak jauh dariku dengan kaki yang di silangkannya. “Apa??” “Jadi... Gadis- dia... sedang bersama Leon sekarang?” Tanyaku, benar-benar tak kusangka akan sampai mendengar jawaban itu dari wanita malam yang tak kutahu entah siapa dirinya itu. Tapi aku tak peduli, karena kini Gadis sudah bersama ‘ikan’-ku, jadi ini akan jadi momen-momen berharga untuk kutunggu. Telinganya juga mata gadis muda itu mungkin saat ini sedang mewakili diriku untuk mencari tahu apa-apa saja yang sedang Leon rencanakan. . . Setengah jam... Satu jam... Dua jam Dua jam setengah.... Hingga 45 menit berikutnya, kudengar suara banyak langkah di bagian lorong yang menjadi pemisah antara ruanganku dan ruangan Leon yang saling berhadapan. “Sepertinya mereka akan segera pergi...” Benar sekali ucapannya itu, bahkan kini tengah kudengar langkah-langkah itu mulai menjauh hingga tak lagi terdengar. Lantas aku segera berdiri untuk mencari wanita yang sudah menemani Leon sedari tadi. Dengan langkah yang besar kini hampiri dirinya. Brakkk Kubuka pintu ruang 501 itu dengan tak sabaran, hingga membuat suara bantingan yang keras saat kubukanya. “Apa? Apa saja yang sudah mereka bicarakan?” Langsung saja kutanya begitu pada Gadis yang kini tengah duduk dan menikmati sepiring buah bersama satu sloki alkohol sisa-sisa minum-minumnya bersama Leon. “Ehmm... trading” “Trading?” Sedikit aku tak kuduga topik yang mereka perbincangkan itu. Rasanya taka da kaitannya sekali dengan sosoknya itu. ‘Tunggu, apa kini dia sedang mencoba mempermainkanku?’ Kunaikain satu alisku, menatapnya curiga, tak ingin langsung percaya begitu saja dengan perkataannya itu. “Apa?? Kenapa kau menatapiku seperti itu hah??” “Hahhh... karena sudah kulakukan apa yang kau minta, jadi jangan datang lagi kemari dan membuat Madam Jennie khawatir” Ucapnya padaku, Kemudian kulemparkan satu penyadapku padanya, “Pakai itu selagi bersamanya, aku tak bisa mempercayai apa yang kau katakan, kalau tak langsung mendengarnya sendiri dengan kedua telingaku soal pembicaraan mereka itu” “Kau!” Prangggg Ia malah melempar kasar penyedap kecil yang kuberikan padanya itu sampai menimbulkan suara bantingan keras karena mengenai layar besar yang ada di ruangan ini. “Aku ini bukan anjingmu... jadi pergi dan jangan pernah datang lagi kemari!” Ucapnya, ia benar-benar tak ada niatan untuk mendengarkan pintaku. Bahkan dari tatapnya yang tajam kini padaku, cukup untuk menunjukan betapa tak sudinya dirinya untuk mengindahkan apa yang kuinginkan darinya itu. “Yang kau lakukan malam ini senilai 500 juta... cukup untuk membayar hutangmu bukan?” Ia terlihat berdecak dengan wajah yang di palingkannya setelah mendengar tawaranku itu. Sepertinya berbicara saja tak cukup untuk membuatnya percaya dengan yang benar-benar bisa kulakukan untuknya. Hingga kurogoh handphoneku dari saku jasku dan kutekan satu tombol panggil di sana. “Hallo siapkan 500 juta dari akunku sekarang juga, bawa ke club M... ehm cepat” Tegasku, Ujung matanya kini melirikku, memicing, seperti tengah bertanya-tanya soal apa yang baru saja kulakukan. “Setelah memerintahku dengan seenaknya, menggangu club orang lain dengan sesuka hatimu, sekarang kau ingin memamerkan uangmu itu? Begitu? Cihhh...” “Salah, aku tak sekedar ingin memamerkannya... aku sedang menunjukan bagaimana uang itu bermain dan bisa membuatmu mengikuti perintahku...” Dan kurang lima menit orangku datang dengan dua koper besar berisikan uang yang akan dengan cuma-cuma kuberikan padanya. Clik “Ambil semua ini dan jadilah mata-mataku...” Ucapku tanpa basa-basi lagi. “WOWW!!!” Dan tanpa kuundang, pria berjas yang sepertinya memiliki penciuman yang tajam soal uang itu kini sudah masuk saja, tengah membulatkan matanya, terkesima dengan semua uang-uang yang sudah tersaji di hadapannya. “Gadis, ini....” Prakk prakk prakkk “Bravooo....” “Kau harus sering-sering melayani pria beruang sepertinya, agar kau bisa selalu mendapat uang sebanyak ini...” “Ini... ehmmm sepertinya cukup untuk membayar setengah dari hutang-hutangmu” Ucapnya sambil memperhatikan juga sedikit memperhitungkan deretan rapi uang yang sudah pasti akan segera menjadi miliknya itu. Dan mendengar kata-kata menyebalkan itu, kini Gadis jelas tampak sangat frustasi bahkan siap meledakan amarahnya, karena keadaan yang sudah membuatnya terjepit, mau tak mau harus mengambil keputusan yang tepat atas tawaran yang tak mungkin di tolaknya saat ini. “Aku akan membarikan sisanya, katakan saja semua totalnya beserta bunganya...” Ucapku pada si lintah darat dengan wajah bengisnya itu. “Good... dengan senang hati Pak” Dan tiba-tiba saja ia melompat duduk di samping Gadis yang sudah geram, sampai ingin mengamuk atas apa yang sudah kulakukan untuknya itu. “Ehmmm... sepertinya aku harus pensiun mengejar-ngejarmu...” “Kau tahu bukan kalau kau adalah penghutang kesayanganku, kau peminjam tercantik yang pernah kumiliki...” Ucapnya sambil memeluki Gadis yang kini jadi benar-benar menatapku dengan matanya yang seolah siap untuk melahapku bulat-bulat. “Waaahh... apa-apan ini?? ahhh... yang benar saja!!!!” Tangannya kini mulai mengacak-acak rambutnya. “Arrgghhh!!!!” Erangnya terdengar begitu kesal. “Ahh, satu misi selesai...” . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD