Kematian Ketua Gangster Pemilik Kasino

3485 Words
Author pov “Hhh... benar-benar sekali si Bryan itu, bisa-bisanya dia menjebakku dan membuatku terperangkap seperti inii...” Kesalnya dengan kedua tangannya yang kini membuat rambutnya jadi berantakan sekali kelihatannya. “Sudahlah... setidaknya kau tak akan lagi di kejar-kejar oleh si lintah darat itu lagi...” Balas July pada Gadis yang kini sedang di landa frustasi karena dengan sangat terpaksa harus bekerja pada Bryan untuk memata-matai pria yang sedang menjadi buronnya itu. “Apa pria itu seberbahaya itu? Si Bandar itu...” Tanya July, ia benar-benar di buat penasaran dengan sosok yang sedang menjadi incaran jaksa sampai harus menggunakan sahabatnya sebagai mata-matanya. #Flashback Malam bersama Leon “Selamat malam...” Sapa Gadis dengan senyum manisnya ketika memasuki ruangan tempat Leon malam itu tengah menantinya. “Oh...” “Kemarilah... tuangkan aku minuman” Pinta Leon, dan tentu saja Gadis langsung duduk dan melakukan pintanya itu. “Kau... bukankah terlalu muda untuk bekerja di tempat seperti ini?” Tanyanya tiba-tiba pada Gadis. “Benarkah? Tapi aku harus bekerja di tempat ini... karena ada banyak pria yang mau membayarku dengan cukup mahal” Sampai Leon jadi tersenyum mendengar jawaban yang amat jujur dari gadis muda itu. “Ini...” Ucapnya sambil menyerahkan satu sloki pada Leon. “Kau bisa minum?” Tanyanya pada Gadis, entah kenapa Leon menanyakan hal yang menurutnya aneh sekali padanya. “Apa bagimu aku ini masih seorang bocah SMA?” “Hahahahh...” Leon melepaskan tawanya di hadapan Gadis, “Apa yang lucu? Apa sungguh aku tak menggoda sekali bagimu? Padahal aku sudah mengenakan pakaian seperti ini dan berias diri seperti sekarang ini...” “Kau cantik, kau terlihat dewasa... tapi auramu...” “Auraku?” Tanya Gadis ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh pria yang harus di temaninya itu. “Kau mengingatkanku pada seseorang” Ucapnya “Seseorang?” “Benar, seseorang... teruslah temani aku, aku akan bayar dirimu dengan mahal” . . . “Dia... seperti pria biasa-biasa saja, bahkan sedikit ehmmm... sulit untuk menjelaskannya, maksudku tak ada yang aneh dengannya, dia pun tak menghisap narkoba ataupun membawa bubuk haram itu saat bersamaku kemarin” Cerita Gadis setelah mengingat sepenggal momen dirinya dengan Leon. Dan seingatnya bahkan Leon kemarin hanya minum dan terus mengoceh soal dirinya yang sempat ergi berpelesiran jauh mengunjungi banyak negara. “Dia terus membicarakan soal sup dan mie cina yang pernah di buatkan ibunya dulu...” Tambah Gadis soal Leon yang kemarin malam sempat menghabiskan waktu bersamanya. Baginya Leon benar-benar jauh dari gambaran seorang mafia atau pun bandar yang bisa membuat apalagi membawa barang kotor seperti narkoba. “Tampangnya... bukankah... dia itu tampan?” “EHmm tampan... tampan sekali, apa karena dia mengkonsumi narkoba jadi bisa tempan seperti itu ya?” Plakkk “Aahhh sakit!!” Gadis tiba-tiba mendapat sebuah tamparan di dahinya, dan saat ia menoleh ingin marah pada pelaku yang sudah memukulnya itu. “Kenapa aku dipu-...kul” “Kau harus di pukul agar sadar, ingat kau itu mata-mataku... jangan terkecoh karena ketampanannya...” Balas Bryan yang entah bagaimana ia sudah berada di tempat Gadis kini sedang mengobrol bersama temannya itu. “Jangan pernah sentuh bahas apapun mengenai apa yang di lakukannya, ataupun soal narkobanya...” “Apa? tapi-... bukankah kau ingin aku masuk ke dalam ruangan itu untuk mencari tahu semua tentang itu?” Heran Gadis dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Bryan itu. “Kau akan langsung di habisinya... jangan pernah menurunkan topengmu, tetaplah jadi gadis malam yang selalu menemaninya di ruang 501” “Apa dia seberbahaya itu?” Tanya Gadis, ia benar-benar tak bisa mempercayai pria yang kemarin di temuinya bisa melakukan hal yang sangat kejam seperti yang di peringatkan Bryan padanya. “Dia... benar-benar berbahaya” . . . Hari ke-35 kasus Leon “Bagaimana dia bisa berakhir seperti ini?” Tanya Bryan dengan wajahnya yang sungguh sangat kaget sekali, apa yang ada di hapannya saat ini benar-benar di luar kepalanya. Sangat-sangat tak terduga. “Sepertinya Frank telah membuat Leon murka, sampai-sampai ia di habisi dengan cara yang seperti ini” “Bagaimana dengan kerja samanya, bukankah mereka akan bekerja sama?” Semua wajah kini tengah di buat sangat kebingungan dengan kematian seorang ketua gangster, yang sebelumnya menyediakan kasino untuk Leon dan anak buahnya biasa menghabiskan malamnya itu. Ada sebelas tusukan di sekujur tubuh yang di penuhi oleh tato-tato sangar itu, dengan tangan kanan yang sudah kehilangan empat jarinya. Kematian tragis seperti ini memang bukanlah hal aneh lagi dalam dunia keras seperti seorang gangster. Namun yang menjadi pertanyaan Bryan adalah motif dan bagaimana kronologis terjadinya pembunuhan itu. Dan diduga kuat bahwa kematiannya itu adalah ulah tangan kejam si bandar narkoba, buron dari Bryan itu. “Kasino... apa Leon ingin mengambil alih kasino milik Frank?” Angota timku tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan atas motif kematian Frank dengan cara yang mengenaskan itu. “Periksa apa ada sesuatu yang bisa kita temukan soal kasino itu” Setelah mendengar itu, langsung saja tiga orang anak buahnya itu melakukan perintah dari Bryan. “Oh, dokter, bagaimana hasilnya?” Bryan langsung mengambil berkas laopran autposi yang baru saja di keluarkan ketua dokter forensik yang kini sudah berdiri di hadapannya. “Ada jejak LSD, sama seperti yang terakhir kali” *(LSD atau Lysergic Acid Diethylamide adalah narkotika sintesis, bersifat halusinogenik, yang artinya bisa menyebabkan perubahan kesadaran, emosi, dan pola pikr orang yang mengkonsumsinya) “Benarkah? jadi ini benar-benar ulah Leon...” Bryan akhirnya mendapat kesimpulan itu. Lagi-lagi benda yang di produksi dengan berbentuk kertas tipis seperti prangko yang biasanya di letakan di bawah lidah itu harus menjadi penyebab melayangnya nyawa seseorang hari ini. “Sepertinya telah terjadi pertarungan sampai habis-habisan, namun kesebelas luka yang ada pada tubuhnya tak cukup untuk membuhun ketua gangster ini, hingga si pelaku memberikan LSD dalam jumlah tinggi dan terbunuhlah...” Jelas dokter Yoseph yang sepertinya sudah tak asing lagi dengan penyebab kematian yang seperti ini. Terhitung sudah 4 kematian dengan penyebab yang sama semenjak Bryan mengambil kasus si bandar narkoba itu. “Sepertinya akan lebih banyak lagi yang akan tumbang karena kasus ini” “Ah, benar, soal mayat warga negara asing itu...” Bryan kemudian langsung di buat sangat focus mendengarkan. Karena memang saat penyelidikan mayat Frank, di temukan satu warga negara asing yang sudah tak bernyawa dalam kondisi di bekukan. “Dari hasil penyelidikan kepolisian di temukan data kalau dia meruapakan warga negara Manila, perkiraan waktu kematiannya sudah sekitar lima belas hari ia berada dalam freezer itu” Dan sungguh satu misteri lagi benar-benar harus segera di pecahkan oleh seorang Bryan. Kasino itu sepertinya memiliki banyak informasi yang benar-benar sangat erat kaitannya dengan Leon. “Detektif Jo yang menjadi penyidik langsung dari kasus itu” Dan lagi-lagi Bryan harus berurusan dengan rivalnya itu, namun kali ini ia benar-benar harus merasa tenang karena orang yang mengurus kasus penting itu adalah orang yang akan menuntaskan penyelidikan sampai ke akar-akarnya seperti si gila Jo itu, pikir Bryan. “Itu artinya aku tak harus mengkhawatirkan apapun, biarkan detektif Jo melakukan penyelidikannya, dan aku akan menunggu hasilnya saja” “Benar, kau bisa mempercayai detektif Jo soal hal itu” . . @Kesatuan Divisi Narkoba: 1 Jam setelah penemuan mayat ketua gangster, Tap tap tap Suara penggaris yang di ketuk-ketukan keras pada papan penyelidikan di depan ruangan para penyidik kepolisian itu, berusaha meminta perhatian dan focus orang-orang yang memiliki tanggung jawab untuk memecahkan kasus yang harus mereka tuntaskan itu. “Dengar... Lutian, warga negara Manila, 48 tahun, waktu kematian 15 hari yang lalu, penyebab gagal jantung, dia adalah seorang pekerja di laboratorium untuk pembuatan kokain. Ia juga satu dari sebelas orang yang pernah di bekuk oleh kepolisian belanda di kawasan Nijieveen, sekitar 120 kilometer dari Amsterdam dalam penggerebekan laboratorium pembuatan kokain” Jelas salah saeorang anggota detektif dalam briefing itu. “Di duga kuat kalau Frank telah menculik Lutian dari Leon, masih belum di temukan apa penyebabnya namun sepertinya karena hal itulah Leon sampai menghabisi nyawa Frank pukul 2 dini hari tadi dengan menggunakan LSD dengan dosis yang tinggi” Semua orang kini langsung memasanga wajah seriusnya, sadar betapa rumitnya kasus yang harus mereka tangani saat ini. Termasuk detetif Jo yang kini di buat sampai berpikir keras karena hal itu. “Ini sudah jelas telah terjadi penghiatanan, entah siapa yang memulainya lebi dulu namun pada akhirnya Leon kini berhasil menghabisi ketua gangster itu, lalu mengambil alih kasino, dan semakin besarlah kini kekuasaannya...” Kasino milik Frank memiliki lebih dari seribu anggota yang serupa dengan mafia yang bertebaran di penjuru kota. Mereka cukup memiliki pengaruh keberadaannya dalam dunia yang cukup kejam itu. “Ada beberapa akses di mana kita bisa langsung melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk kasus itu, namun-“ “Akan terlalu berbahaya, kita lakukan penyelidikan dengan cara kita seperti biasanya, surat penggeledahan sudah bisa di keluarkan, jadi kita lakukan sesuai prosedur... ingat jangan pernah mengorek atau pun menyentuh apa yang tak boleh kita sentuh” Ingat kepala kepolisian pada para detektifnya itu, meskipun ia tahu ada satu orang yang saat ini tak mungkin bisa mengecamkan peringatannya itu bahkan untuknya lah kalimat itu baru saja di lontarkannya. “Jo, jangan berbuat onar, sekali ini saja... kita harus memasuki dunia kejam para berandal itu, jadi jangan mengusik mereka atau satu kepolisian akan di buat rata oleh mereka” “Ehmmm...” Dengan malas detektif Jo hanya menjawab begitu. ‘Jika kupunya satu titik dan kutemukan titik lainnya tentu aku harus menarik garis untuk hal itu bukan?’ Ucapnya dalam hati, ia benar-benar sudah bertekad akan mengusut semua hal yang bahkan untuk hal kecil sekalipun yang dapat di temukannya dari penyelidikannya itu. “Sampai di sini, kita lakukan penyelidikan untuk hal ini, hubungi kantor imigrasi, dan lainnya cari informasi bagaimana frank bisa mendapatkan Lutian, lalu sejak kapan hubungan buruk Leon dengan Frank di mulai” “Baik Pak” Balas semua orang dengan serentak sebelum kemudian mereka membubarkan diri dan langsung melakukan tugas mereka. Sementara semua orang langsung meninggalkan ruangan penyidik, Detektif Jo nampaknya masih ingin memperhatikan semua data yang berhasil para penyidik dapatkan. Dan sebuah foto lah yang saat ini sedang lekat di tatapnya. “Jika ada seorang koki bersama mereka, berarti dapurnya...” “Benar, kita harus mencari dapurnya...” Sahut Bryan yang sudah tiba saja dan kini tengah melangkah mendekat pada detektif Jo. “Lihat ini...” Ucapnya sambil menyerahkan beberapa foto cctv yang sudah di dapatkannya setelah mencari jejak Leon dalam satu minggu ini. “Itu adalah kawasan milik keluarga Abraham, bukankah gedung terbengkalai sisa-sisa project mereka yang gagal itu bisa bahkan cocok untuk di jadikan dapur yang aman untuk membuat sebuah permen yang manis” Tambahnya, Dari hasil penyelidikan penyidik Vero akhirnya itu mengarah pada informasi penting itu. Dan jelas bukan tanpa alasan Leon belakangan rajin menemui pewaris gila, si Yoan Abraham itu. “Jadi berandalan ini kembali ingin menyentuh barang haram lagi, bahkan membuatkan dapur agar ia bisa bebas menggunakannya, begitu maksudmu?” “Mungkin...” Balas Bryan begitu, karena itu masih hanya sebuah spekulasi baginya, dan jika pun hal benar adanya, membutuhkan banyak proses dan hal-hal yang harus di urus untuk bisa masuk dan memeriksa kawasan yang di duga menjadi tempat pembuatan narkoba itu. Dan tiba-tiba saja Detektif Jo langsung mengambil kunci mobil, kemudian alat-alat pelindung, lalu melengkapi dirinya dengan itu. “Hey... hey... kau tak akan nekat memeriksanya langsung bukan??” “Aku tentu harus memastikannya...” Ucapnya. “Suran perintah, setidaknya kau harus membawa itu saat memasuki gerbang kawasan milik keluarga Abraham” Ingat Bryan pada detektif Jo, namun seperinya ia hanya menganggap perkataannya itu sebagai angina lalu saja. Karena kini kakinya sudah di bawanya melangkah pergi meninggalkan Bryan sendiri di ruang penyidik yang sudah kosong karena penghuninya yang tengah sibuk melakukan penyelidikan mereka. “Ah, terserah periksalah saja ke sana...” “Meskipun sia-sia karena Leon saat ini sedang bersama Gadis...” Gumamnya, Memang benar saat ini, Gadis dan Leon sedang bersama. Semalam Leon mabuk berat hingga Gadis harus menemaninya hingga pukul 9 pagi saat ini di saat Bryan sudah harus mengurus semua kasus yang di buatnya. . . Pukul 9. 03 Hotel A Mata bulat nan indah itu terlihat begitu betah memandangi pria yang masih belum sadarkan dari lelap tidurnya. Sesekali ia mendekat untuk mendengarkan napasnya yang terdengar begitu lembut. ‘Benarkah dia ini membuat sesuatu yang sampai membuat ibuku kecanduan, terilit hutang, hingga meninggalkan dunia ini hingga aku jadi hidup dalam kemalangan?’ Batinnya, karena sungguh menurutnya parasnya itu sama sekali tak menunjukan kalau manusia di hadapannya itu mampu melakukan hal keji seperti itu. “Ehhmmm...” Pemilik bibir tipis itu kini mulai mengeluarkan lenguhannya, wajahnyapun kini terlihat di kerutkannya, sepertinya Leon akan mulai bangun dari tidurnya, begitu pikir Gadis. Dan perlahan mata dalam yang terlihat berat itu mulai di bukanya, hingga bertemulah keduanya dalam pandang. “Kau... kenapa ada di sini?” Tanya Leon dengan suara seraknya. “Tak ingat? Kau semalam terus mengelus-elus rambutku, memelukiku, memanggilku, Oliver...” Balas Gadis pada Leon, menceritakan apa yang sudah terjadi semalam hingga dirinya masih menemaninya hingga saat ini. “Oliver?” “Benar, dia kekasihmu?” Tanya Gadis, ia benar-benar tak terima dirinya di panggil dengan nama wanita lain di saat Leon mabuk semalam. “Bukan... dia adalah anak anjingku” “APA?? KAU-“ ‘Jadi aku ini di anggapnya anak anjing, pantas saja dari pada ia ingin menjamah tubuhku, ia malah terus saja mengelusi rambutku dan memainkan jariku.... ternyata aku dianggapnya anak anjing’ Batin Gadis tak terima. Ia langsung bangun dari duduknya dan berdiri ingin pergi saja dari pada mengamuk dan menghabisi orang yang sedang di buru oleh Bryan yang sudah membayarnya mahal itu. “Hey... kau marah?” Tanya Leon pada Gadis yang sedang bersiap akan meninggalkannya. “.....” Ia tak menjawab hanya memberikan tatapan mata yang memicing, seperti seekor kucing yang sedang sensitive dengan cakar-cakarnya yang siap menggoreskan banyak luka pada kulitnya itu. “Setidaknya kau belikan aku semangkuk bubur dan sup... rasanya perutku tak enak sekali” “Wahh... kau ini menyebalkan juga rupanya” “Anak buahku berulah... jadi mereka tak bisa memberikanku makan” “Berulah?” “Benar, mereka sedikit menggores dan memberikan racun tikus untuk seokor singa di kota...” Ucapnya pada Gadis. “Jadi, singa itu mati?” “Mati... dan sepertinya aku membiarkannya mencoba sedikit bagaimana rasa racun tikus itu padanya, sebagai sebuah hukuman” . . . Pukul 19:35 Club M “O-oh itu singa...” Gadis langsung jadi memusatkan perhatiannya pada beberapa foto yang sedang di periksa oleh Bryan, yang di dapatnya dari badan forensic hasil otopsi yang di lakukan pada Frank, si ketua Gangster yang tadi pagi di temukannya. Namun bukan pada wajahnya, tapi pada tato singa yang tergambar besar pada sekujur tubuh Frank yang sudah jadi mendiang itu kini. “Kau ingin mendapat tato seperti itu juga?” “Bukan, tadi Leon mengatakan kalau ada singa mati karena racun tikus di kota” Balas Putri, menurutnya suatu kebetulan sekali bisa melihat gambar singa yang tersayat tepat di bagian leher pada tubuh mayat di foto yang di miliki Bryan. “Jadi dia menceritkan ulahnya padamu? Lucu sekali dia itu... ahh jadi menurutnya LSD itu adalah racun tikus” Gadis memiringkan kepalanya, ia tak begitu sepenuhnya setuju dengan perkataan Bryan itu. “Tapi dia berkata kalau anak buahnya lah yang berulah bukan dirinya...” Bryan jadi terkehkeh karenanya, menurutnya Gadis terlalu mudah percaya pada seorang b******n seperti seorang Leon. “Jangan percaya perkataannya, mana ada seorang maling mau mengakui perbuatannya” “Tapi dia bukan maling, dan lagi... jika aku tak boleh mempercayai perkataannya, lalu untuk apa aku di suruh medengarkan semua perkataannya dan memata-matainya” Ucap Gadis pada Bryan, “Dengar kalau kau mengira Leon adalah pelakukanya, rasanya tak mungkin... karena Leon akan berkata akan membuat anak buahnya itu mencoba rasa racun tikus itu sebagai hukuman...” Ucap Gadis mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. “Itu...” Dan seketika Bryan mulai mengeluarkan handphonenya dan berusaha menghubungi salah seorang penyidiknya. “Hallo... dengar, pelakunya bukan Leon, tapi anak buahnya... dan mungkin orang itu sedang berada bahaya sekarang...” Ucapnya, “Cari dan temukan keberadaan Leon sekarang, cepat!” Bryan pikir kalau ia bisa menyelamatkan anak buahnya yang sudah sampai membuat pemilik kasino tempat bosnya itu mejalin kerja sama, mungkin ia akan mendapat tangkapan besar. “Ada yang Leon katakan lagi?” Tanya Bryan dengan nada serisunya pada Gadis. “Ehmm tidak ada...” Masih jadi sebuah misteri baginya, ia masih tak dapat menemukan hubungan antara WNA yang mati, lalu alasan mengapa ada keributan antara Bos gangster sampai terjadi kematian, dan sekarang di tambah lagi ternyata bukan Leon pembubuhnya melainkan anak buahnya. “Kalau begitu aku pergi, jangan lupa pasang apa penyadapnya...” Ucap Bryan lantas langsung pergi saja dengan sangat terburu-buru meninggalkan Gadis di ruangannya, tempat biasa ia menemani Leon. Dan setelah membaca kembali rentetan kejadian hingga berkas penyelidikan, Bryan akhirnya sedikit menemukan titik terang. “Sepertinya telah terjadi penghianatan yang melibatkan anak buah Leon dengan Frank, warga negara asing itu adalah seorang pegawai lab yang memproduksi kokain, dan sudah pasti entah itu Frank ataupun si anak buah Leon itu yang sudah membunuhnya” “Tapi kenapa di bunuh? Bukankah seharusnya ia di pekerjakan saja untuk membuat kokain sebanyak-banyaknya?” “Sepertinya ia mempunyai sesuatu yang sangat berharga sampai itu terendus oleh dua manusia serakah yaitu Frank dan anak buahnya yang tak tahu bagaimana nasibnya saat ini” . . Sementara itu di tempat lainnya kini beberapa pria kekar berjaskan hitam tengah melingkari satu orang pria yang tengah berlutut seolah tengah meminta pengampunan. “Kau sungguh inginkan lebih dari apa yang telah kuberikan padamu?” Tanya seorang pria dengan mata yang kini tengah begitu anteng memeriksa kondisi pisau mengkilap yang sampai menampilkan pantulan bayang dirinya dari benda tajam itu. “Maaf Bos... maaf... ampuni aku...aku tahu aku sudah bodoh kemarin...” Dengan tangannya yang di gosok-gosokannya pria yang terlihat sudah di lumuri banyak darah dan cukup babak belur itu kini ia memohonkan maafnya pada seseorang yang di panggilnya Bos itu. “Kemarin? Hanya kemarin? Bagaimana dengan rencanamu yang ingin mencoba merebut varian kokain baruku? Kudengar kau juga tahu bahkan ikut meneliti soal varian kokain baru tanpa bisa terdeketksi dalam darah oleh tes nerkoba apapun yang di buat oleh Lutian?” Tanya Leon pada Alex yang saat ini hanya bisa menelan ludahnya kasar, sudah tak mampu berkata-kata lagi, semua yang di lakukannya tak ada lagi yang bisa di sangkal olehnya. “Dan kau dengan sangat bodohnya membekukan otak juga tangan peracik terbaik yang ku miliki...” Tambah Leon dengan nadanya yang sungguh tajam bahkan mengalahkan ketajaman pisau yang sedang erat di genggamnya kini. Krakkk krakkk krakk Kebiasan Leon yang sungguh menjadi tanda-tanda kalau ia sedang berada dalam emosinya yang tinggi ada membuat suara dangan rahangnya yang sedikit di mainkannya. “Kau telah menyentuh sesuatu yang salah... tanganmu itu terlalu usil dengan sesuatu yang cukup berharga bagi orang lain, padahal tanganmu itu terlalu hina bahkan kotor untuk bisa menyentuhnya” “Aaaaa... ahh ampun Bos, ampun... itu- itu ide Frank, dia- ingin bisa membuat dan mengedarkan sendiri narkoba di kasinonya...” “Sungguh? Begitu? Lalu kenapa ... KAU MEMBUNUHNYAAA???!!!” Sretttt Leon bertanya dengan ujung kalimatnya yang di naikan bersamaan dengan satu sayatan yang kini sudah tercipta melintang pada wajah anak buahnya yang sudah berani berulah itu. “Aaaaahhh...” Tenggorokan Alex sampai tercekat, tak mampu ia bertiak saat merasakan pedih wajahnya yang terobek dan tengah memuncratkan banyak darahnya kini. “Ah... Bos... ampuni akuuu... aku- aku berjanji tak akan mengulanginya lagi...” Ucapnya dengan bersimpuh memohon-mohon dengan air matanya yang sudah jadi bercampur dengan darahnya, tepat di kaki Leon yang sedang sangat ingin menghabisinya itu. “Aku akan membuatmu sama seperti Lutian...” “Bekukan dia!” Ucap Leon sambil menendangkan kakinya yang mejadi tempat Alex bersimpuh memohonkan ampunannya. “Bos!!!” “Boss!!!” Telinga Leon sudah terlalu enggan untuk mau mendengar apa yang di teriakan salah seorang anak buahnya yang sudah berhianat itu. Ia kemudian memasuki mobilnya dan duduk dengan perasaan jengah, kesal, atas apa yang terjadi pada internal organisasinya itu. “Bereskan semua...” “Baik Bos, entah itu Alex atau frank ... salah satu dari mereka sudah menyembunyikan kokain yang sudah lolos uji” “Alex... buat dia mengatakan di mana letaknya, jika masih tak mau potong lidahnya, buat tangannya menunjukan di mana dia menyembunyikannya, jika masih tak ingin... potong tangannya buat kakinya melangkah untuk menunjukan di mana keberadaan kokainku yang sudah berani di curinya” Ted langsung menganguk dan jelas ia harus menuruti perintah dari Bosnya itu. “Kita tak boleh membiarkan kokain jenis baru itu sampai ke tangan orang lain...” Tegas Leon sekali lagi. “Akan kuperiksa kembali semua, mulai dari rumah, keluarga, tempat yang sering di kunjunginya, teman, hingga kenalan Alex... ia mungkin saja tak menyembunyikannya sendiri” Balas Ted, seorang sisten juga pengawal setia Leon, yang selalu ada untuk melakukan semua titahnya. “Lakukan...” “Baik Bos” “Antar aku ke Club M, rasanya aku ingin pergi minum dan menemui Gadis...” *** .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD