Kokain Jenis Baru

3658 Words
“Ada apa?” Detektif Jo dengan terengah-engah bertanya setelah berlarian dengan kencangnya, ingin segera sampai di laboratorium forensic yang mangatakan kalau mereka telah menemukan sesuatu yang mungkin akan mengejutkannya. “Lihat ini...” Dengan membawa tray yang berisikan sesuatu yang putih seperti sebuah pasta usus di dalamnya. “Ahh... apa ini? Kenapa dokter menyimpan sisa makanan mayat dan memperlihatkannya padaku” Dalam kepala Detektif Jo apa yang ada di hadapannya saat ini hanya sebuah usus sapi yang mungkin gagal di cerna dan tertinggal di dalam saluran pencernaan mayat Frank itu. “Kau harus berterimakasih padaku karena aku tak membuang ini” Balas Dokter Joe yang sudah selalu memeriksa semua mayat-mayat yang selalu membutuhkan autopsinya itu. “Lihat ini...” Dokter Joe lantas membawa sebuah pisau kecil dan memuat sayatan kecil pada benda yang berntuk seperti usus babi yang biasa di jual di pasaran itu. “Oh... itu...” Terlihat serbuk-serbuk putih keluar dari sana. Rupanya itu bukanlah usus atau sejenis pasta yang yang gagal cerna melainkan gulungan panjang yang berisikan bubuk putih di dalamnya. “Semula aku di buat sangat bingung kemudian juga takjub, bagaimana benda seperti ini di telan oleh Frank? Maksudku... dia menelan bulat-bulat semua ini, membuat ususnya yang berukuran tak jauh bebeda bahkan mungkin tak begitu muat untuk menyimpannya sebagai tempat menyembunyikan bahan baku kokain ini” “Ini kokain? Dokter sudah memastikan itu?” Tanya Detektif Jo yang nampaknya kini ia sudah kedapatan jackpot, bisa menemukan sebuah kokain di dalam usus seorang gangster yang sudah di bunuh oleh tersangkanya yang masih saja mengacu pada Leon. “Wahh... tetap rahasiakan ini...” Ucap detektif Jo sambil akan merebuh tray itu, namun dengan cekatan dokter Joe menahan itu agar sampai di bawa pergi oleh detektif yang memiliki emosi yang sangat buruk itu. “Apa? Kenapa?” “Aku masih harus memeriksa kokain ini... ini bukan kokain biasa, ini... varian baru, dan mungki akan sangat meledak di pasaran jika sampai benar-benar beredar...” Detektif Jo langsung di buat terdiam dengan matanya yang begitu menyala, tak ingin membayangkan harus seburuk apa lagi kondisi yang di timbulkan oleh barang terlarang itu. “Apa... kejadian terburuk yang mungkin akan di timbulkan barang itu?” “Selain lebih bayak orang gila yang terkena efek adiksi (Ketergantungan obat), overdosis, dan membuat mereka menjadi zombie jika lepas obat... kau tak akan bisa mendapatkan apapun, karena... mungkin jenis ini tak bisa terdeteksi sebagai zat psikotropika dalam darah menggunanya...” Dengan mulut yang menganga ia kini benar-benar sudah harus segera menuntaskan kasus narkoba itu kalau tak ingin ada kejadian yang leih parah dan lebih sulit lagi untuk di selesaikannya. “Hubungi aku jika dokter sudah selesai memeriksanya” Ucap detektif Jo sambil berjalan menuju pintu keluar laboratorium untuk kembali ke dalam mobilnya. Brakkk Kasar tangannya membanting pintu mobilnya, ia langsung mengambil beberapa berkas di sana. Dahinya terkerut, ia benar-benar di buat sangat terkejut atas apa yang baru saja di ketahuinya itu. “Leon...” “Hhhh... yang benar saja, dia membawa narkoba yang tak bisa di deteksi uji narkoba hingga ia ataupun para penggunanya bisa bebas menggunakannya tanpa harus terancam hukuman pidana?” Tinnnn tiinnnn Tinnnn Tangannya dengan kesalnya di pukulkannya pada stir sampai mendekan tombol klakson mobilnya itu. Ia tak pernah tahu bahwa racun transparan kini siap berterbangan, beredar dan membahayakan banyak nyawa sudah di ciptakan oleh Leon. Tok tok tok Tangan seseorang kini terdengar mengertuk-ngetuk kaca jendela mobil detektif Jo yang seperti bisa meledak di dalamnya itu. Dan seseorang yang terlihat tak asing itu kini melambai-lambaikan tangannya, memberikan senyum pada wajah yang di penuhi amarahnya yang sedang memuncak itu. “Ada apa?” Tanya detektif Jo sambil menurunkan kaca jendela mobilnya, “Ahh... kelihatannya kau sudah dengar apa yang di temukan dokter Joe...” Mendengar itu, detektif Jo langsung sadar kalau ia lagi-lagi kecolongan, jaksa di hadapannya itu malah mengetahui apa yang baru saja di ketahunya itu lebih dulu dari pada dirinya yang masih shok saat ini. “Jadi... apa yang kau mau?” “Kau tahu kampung China tempat anak buah Frank bertebaran bukan?” Tanya Bryan pada detektif Jo, dan tentu ia jelas tahu sarangnya pada gangster yang saat ini masih berkabung itu. “Kudengar di sana sedang kosong, tak berpenghuni...” Detektif Jo mengerutkan wajahnya mendengar informasi yang membuatnya bingung itu, bertanya-tanya kemana perginya para preman itu? Kenapa sarang buaya itu sampai di tinggalkan? Apa yang sedang terjadi di kampung China itu? “Jangan berpikir kalau Leon mengusir mereka semua, dan jangan berpikir kalau mereka sedang bersama-sama menyerang bandar narkoba yang menurut penyelidikan pihak kepolosian sudah membunuh ketua mereka...” Tambah Bryan, Ia memang selalu bisa mendapatkan informasi lebih cepat dan lebih akurat dari pada yang di temukan para detektif di kepolisian, tapi ia selalu saja kecolongan dalam hal melakukan penangkapan. Berbeda dengan detektif Jo yang tak selalu memiliki informasi lengkap, tak masuk akal dan hanya mengandalkan insting berburunya saja selama ini. “Leon sudah mengambil alih dan menjinakan para gangster yang baru saja kehilangan kepala mereka itu” Bryan terus membocorkan informasi yang di milikinya saat ini pada detektif Jo. “Jadi...” “Apa tujuanmu mengungkapkan semua informasimu itu padaku?” Detektif Jo tahu seberapa liciknya otak jaksa yang selalu terobsesi mendapatkan semua inginnya itu. Ia tahu kalau Bryan tak mungkin mengungkapkan informasi itu dengan cuma-cuma padanya, pasti ada sesuatu di baliknya. “Carilah apa yang sedang mereka cari, sepertinya mereka kehilangan sesuatu saat ini...” “Dan satu lagi kutegaskan bukan Leon penyebab kematian Frank, sepertinya si pembunuh itulah yang sudah membuat semua bagian internal orang-orang Leon sibuk karenanya...” Ungkap Leon, “Kau ingin memanfaatkanku untuk mencari apa yang sedang mereka cari? Waahh... Kau-“ “Gunakan kemampuanmu, hidungmu yang lebih hebat dari anjing pelacak itu... karena aku tak memilikinya dan hanya memiliki wajah tampan juga otak cerdasku ini...” Dengan sangat menyebalkan Bryan berkata seperti itu pada detektif Jo yang kini mulai menampakan taringnya. “Kau!” “Ahh... tenang, tenang... aku akan pergi, tak perlu menggonggong, apa lagi menggigit... tapi pastikan cari itu okey?” Bryan hobi sekali memancing amarah detektif Jo, sampai detektif yang sebelumnya sudah di bakar emosinya itu kini seperti baru saja di tambahi penyulut yang membuat kobaran apinya jadi lebih besar. “Arrrgghhh!!! Dasar jaksa keparatttt!!” Umpatnya, . . . Bryan Pov Aku tak bisa bekerja sendiri, aku benar-benar harus bekerja pintar saat ini. Aku pikir dengan menggunakan informasi langsung dari Gadis yang berhubungan langsung dengan Leon, kemudian membuat Jonathan alias Si Gila Jo melakukan pencariannya, mengendusi jejak-jejak yang di tinggalkan Leon, akan lebih mudah untukku bisa menangkap si Leon itu. “Permisi, bisa beri aku obat luar dan obat yang bisa di minum untuk menyembuhkan memar?” Tanyaku pada penjaga apotik. “Memar, seperti apa?” “Adikku kemarin terjatuh sampai perutnya menabrak besi pegangan tangga...” Jelasku padanya, “Ah sebentar...” Sejujurnya bukan adikku, yang membutuhkan itu, karena aku juga sudah tak memiliki seorang adik tapi... Gadis. Kemarin ia terjatuh saat mencoba menahan berat tubuh Leon yang sedang mabuk berat. Dan kulihat ia sampai memiliki memar di bagian perut dekat rusuk kanannya. Sepertinya Leon benar-benar di buat frustasi atas ulah yang sudah di lakukan oleh anak buahnya itu. Gadis berkata, Leon tak seperti malam sebelumnya, ia menghabiskan lebih dari 4 botol minuman dengan kadar alcohol yang sangat tinggi kemarin malam. Dan saat akan kuobati ia malah terus menolak, berkata bisa sembuh hanya dengan beristirahat saja. “Dasar anak bendel, susah sekali di atur...” Gumamku, sedikit kesal pada Gadis yang malah membandal dan terus menolak untuk di obati semalam itu. Padahal kemarin kulihat memarnya itu bukan hal yang bisa di biarkan lantas bisa sembuh begitu saja. “Kenapa tak langsung keseret dan kubawa saja dirinya ke rumah sakit saja kemarin malam ya...” “Ah, dia ini menambah masalahku saja, kalau begini aku juga yang jadi repot...” Dan tak lama kemudian apoteker itu menghampiriku dengan beberapa obat di tangannya. “Ini antibiotic, Pereda nyeri, salep yang bisa di oles... coba kompres juga, agar memarnya bisa lebih cepat membaik” Ucapnya, “Terimkasih” Akhirnya setelah kudapat obat untuk mengobati memar Gadis itu, akupun kembali ke dalam mobil untuk memberikan obat itu padanya. “Hhh...” Dan tiba-tiba saja terpikir olehku untuk memberikannya makanan juga, rasanya menjenguknya tanpa membawa makanan akan sangat memalukan sekali. Terlebih ia juga harus meminum obatnya. “Kubelikan bubur saja untuknya” Setelah kuputuskan untuk membelikannya bubur, kukemudikan mobilku ini untuk mampir di salah satu kedai yang menjual bubur yang terkenal karena kelezatannya. Dan... “Apa ini tak berlebihan?” Tanyaku pada diriku sendiri, sambil kutatapi hal yang sudah menumpuk di kursi samping kemudi tempat kududuk saat ini. Akhirnya tak hanya membeli bubur, aku juga membawakannya sup, cemilan, juga buah untuknya. “Aku tahu... saat sakit seperti itu, ia pasti menginginkan banyak hal, tapi pasti enggan untuk melakukannya sendirian” Ucapku, dan entah bagaimana aku jadi teringat pada adikku yang sudah wafat tiga tahun yang lalu. Ia pun sempat terjatuh dan mendapat luka seperti Gadis, dan mendadak ia jadi bertingkah sangat manja padaku karena jadi tak bisa apa-apa. Keras kepalanya, keberaniannya, bahkan teguhnya penderiannya benar-benar mengingatkanku pada adikku yang harus pergi lebih dulu, bahkan mendahului kakaknya ini. “Bella... dulu juga ingin di belikan semua ini olehku, aku harap Gadis akan menyukai semua ini” Akhirnya setelah semuanya, aku melaju langsung saja menuju ke rumahnya. . . Tok tok tok Langsung kuketuk pintunya begitu sampai di depan rumahnya. “Kemana dia?” Heranku, tak di sahuti oleh sang pemilik rumah yang akan kukunjungi ini. Tok tok tok Kuketuk pintu rumah Gadis sekali lagi, dan tak lama kemudian kudengar langkah kaki mendekat dari dalam rumah, hingga pintupun terbuka. “Kau- kau... kenapa pucat sekali?” Tanyaku langsung kaget begitu kulihat Gadis yang nampaknya tak baik-baik saja itu. “Ehhmm, aku tak bisa tidur semalam, ini nyeri sekali...” Ucapnya setengah meringis sambil menahan area yang mengalami memar kemarin dengan kedua lengannya. “Kubilang juga apa... seharusnya kau mendengarkanku, kemari biar kuobati” Ucapku setengah memarahinya, langsung menariknya masuk ke dalam lalu kududukan dirinya di sofa yang ada di ruang tengah rumahnya itu. Tanganku mulai meraih ujung kaus putih yang di kenakannya, namun baru saja terangkat sedikit tangan Gadis sudah membuang tanganku untuk menjauh darinya. “Aku ini akan mengobatimu...” Ucapku sambil kucungkan sekantong tas kecil yang berisikan obat yang secar khusus telah kuberikan untuknya sebelum sampai dir rumahnya sekarang ini. Kucoba sekali lagi untuk menganggkatnya, tapi ia malah menahan kausnya itu untuk sampai tak terngkat dan memeperlihatkan luka memarnya itu padaku. “Shhh... kau-“ “Aku tak bisa membiarkan tubuhku di sentuh oleh seorang pria....” Kunaikan sedikit alisku jadinya, mendengar kata pria itu terucap dari mulunya. “Kau anggap aku ini pria? Hhh... tapi bagiku kau itu bukan seorang wanita, kau itu hanya seoarang anak TK yang mudah tersinggung lalu tantrum...” Balasku, dan lihat saja apa yang sedang di lakukannya sekarang. Bibirnya di kerutkannya, berikut juga dengan keningnya di tambah pipi yang di kembungkannya. “Kau dasar jaksa menyebalkan...” Umpatnya padaku, ku abaikan saja malah aku terkehkeh saja mendengarnya. Ia benar-benar terlihat seperti bocah sekali saat ini. “Aku tak memiliki nafsu untuk menyentuhmu, masih banyak wanita dewasa yang lebih menggoda dari pada remaja sepertimu...” “Apa?? Remaja??? Waahh yang benar saja, aku ini sudah lulus SMA!” Ia balas sambil menaikan nada bicaranya kini padaku. “Terserah” Ucapku, dan langsung saja kini ku naikan kausnya dan kuperiksa memarnya. ‘Bagaimana ia bisa menahan ini semalaman, memarnya sudah parah, hijau keungungan, di tambah juga ada lecet di tengahnya. “Lain kali menurut padaku, jangan pernah lagi mengabaikan hal seperti ini...” Ucapku, lalu aku berdiri dan berjalan untuk mengambil beberapa es juga kain untuk mengompres memar di tubuhnya itu. Aku sudah bersikap seperti pemilik rumah saja sekarang, mengobarak abrik kulkas juga perabotan dapur milik Gadis. Hingga kudapatkan apa yang kubutuhkan seperti es dan handuk untuk mengurangi memar yang terlihat begitu menyakitkan pada tubuh mata-mataku itu. “Biar kukomres dulu” Ucapku lantas langsug saja kuletakan perlahan dan hati-hati lukanya itu. Gadis terlihat meringis kini, ia pasti merasakan perih karena luka memarnya itu. “Hiks... ahhh....” Kunaikan pandanganku, dan bingungku saat kutemukan dirinya yang malah mengluarkan air matanya, dalam tangis pelannya kini, sampai kutarik tanganku berserta kompresan yang kupakai untuk mengobatinya. “Apa aku terlalu keras? itu... sakit?” “Ehmm... sakit... aahahhaaaa...” Ia malah memecah tangisnya kini smapai aku jadi tak tahu harus bagaimana menghadapinya. “Ahh... yang benar saja, kenapa kau malah menagis seperti ini... maaf kan aku, aku hanya ingin mengobatimu” Ucapku, “Ahhh... ahahahahaaa....” Tapi Gadis terus saja menangis dengan kerasnya kini, aku jadi kebingungan dengannya yang jadi menangis kencang seperti itu. “Ah, gimana ini...” “O-oh kubelikan makanan untukmu, sebentar...” Aku teringat pada apa yang sebelumnya telah kusiapkan untuknya, hingga langsung saja aku berlari menuju mobilku untuk mebawa semua hal yang sebelumnya sempat kubelikan untuk Gadis. “Ini, kau suka ini? Cemilan caramel? Coklat? Ice cream? atau makanan pedas?” Tanyaku sambil mengeluarkan semua yang dalam tas belanjaku. “Atau ini, buah, aku juga membelikan bubur untukmu, kau harus makan ini sebelum minum obatmu nanti...” Ucapku padanya, dan ia perlahan akhirnya mau menghentikan tangisnya yang hampir saja membuatku frustasi dengan tingkahnya yang seperti bayi minta asi itu. “Aku... aku ingin...” “Apa? Kau ingin apa? Kalau ada yang lain, aku- aku akan belikan untukmu” Ucapku rasanya tak apa aku berepot sedikit untuknya, dari pada harus mendengar tangisnya yang ternyata lebih buruk dari suara bising mesin yang amat tak kusukai. “Aku ingin berterimakasih... aku- aku... tak pernah di obati dan di berikan banyak makanan seperti ini...” “Apa??” Sungguh tak kusangka, bagaimana dia bisa bertingkah tak tertebak seperti ini sih... . . . Pukul 7 malam di Club M ~ Sambil kupandangi dirinya yang kini tengah mengemuti ice cream coklat dalam balutan dress malamnya, aku jadi di buat bertanya-tanya, bagaimana Gadis hidup selama ini? “Ada apa? Kenapa kau memandanginya begitu?” “Tidak ada... hanya saja aku sedang bertanya-tanya, apa ayahku berencana ingin mengadopsi anak saat ini?” Balasku pada Madam Jennie yang kini tengah menghampiriku sambil mengepulkan asap rokoknya seperti biasanya. “Apa?? Kau ini benar-benar... pria lain di luar sana ingin menjadikannya sebagai wanitanya, tapi kau malah ingin ayahmu mengadopsinya, ckckk...” “Entahlah... aku rasa dari pada membuthkan seorang kekasih atau pria, Gadis lebih membutuhkan sebuah keluarga...” Balasku, Aku jujur soal yang satu itu, sepertinya Gadis melewati hidup yang sepi dalam sendirinya selama ini. Ia bahkan sampai menangis setelah mendapat sebuah perhatian kecil dariku. Dan kini kulihat dirinya yang terus memeluki kantung tas belanjaku yang berisikan semua camilannya, ia sepertinya begitu menyukainya. “Ehmm... tapi kalau kulihat kalian berdua ini memang mirip, tidakkah kalian ini kakak beradik yang terpisah, kemudian di pertemukan kembali, atau dia adalah adikmu yang tertukar, atau ayahmu memiliki anak yang lain dari perempuan selain ibumu seperti sebuah cerita drama...” Kalau benar seperti itu kejadiannya, aku akan menghabisi ayaku yang sudah membuat anak malang itu sampai jadi harus menghadapi hidup yang tragis seperti itu. “Ah... Leon, kenapa hari ini dia belum datang?” “Benar... padahal aku ingin sekali memina bayaran lebih karena sudah mabuk dan menghabiskan alkoholku” Balasnya, mungkin ia masih sedang kelimpungan mencari barang di hilangkan oleh anggotanya itu. Drrttt Drrttt Drttt “Hallo...” “Ehmm...” “Apa?” “Pantau terus, dan diam-diam cari tahu siapa yang mereka sedang cari itu, juga beberapa orang yang di temui oleh mereka itu, kita mungkin akan menemukan sesuatu...” “Baiklah, kabari aku terus perkembangannya...” Bip Kututup panggilan dari penyedik Vero itu. Ia memberikan laporan tambahan seoal pergerakan orang-orang Leon, dan menurut penyelidikannya saat ini semua anak buah Leon tengah berpencar di sebuah kota dan mengunjungi beberapa rumah di sana. Aku bisa langsung menebak kalau Leon benar-benar sedang terdesak dan uring-uringan mencari sesuatu yang telah hilang. “Ahh... detektif Jo, dia ini bekerja atau tidak sih... kenapa dia belum melakukan pergerakan apapun?” Gumamku, kudengar dari seorang detektif yang mau bekerja sama denganku untuk mengamati apa-apa saja yang di lakukan oleh detektif Jo, dan katanya ia hanya terus memandangi papan penyelidikan sedari empat jam lalu. Padahal sudah kuberitahu kalau Leon tengah gencar mencari barangnya yang hilang, kalau ia bisa cepat bergerak, bukankah ada kesempatan untuk mendapatkannya lebih dulu. “Hey! Heyyy!!! Gadis!” Sontak aku langsung memanggilnya, bahkan aku berdiri dan berjalan cepat menghampirinya. Plakkk “Aaahh!! Sakit, kenapa aku di pukul??” Tanyanya saat kudaratkan telapak tanganku pada keningnya itu. “Kau ini sedang sakit, memarmu tak akan sembuh, nyerinya nanti akan kambuh lagi kalau kau sudah menegak alcohol!” Ingatku padanya, “Ah, sedikit saja...” Ia malah mencoba untuk bernegosiasi kini denganku, tapi sungguh kalau kubiarkan dirinya meminum alcohol Pereda nyerinya tentu tak akan bisa bekerja bukan. “Ini saja...” Kuambilkan satu kotak s**u lalu kutuskan sedotannya hingga ia bisa langsung meminumnya. “Hhh... masa s**u sih...” “Itu lebih baik dari pada alcohol, lagi pula kau ini belum cukup umur untuk minum” “APAA??? KAU TAK TAHU UMURKU INI-“ Dengan nada yang di tinggikannya, ia mulai akan protes padaku, namun itu bisa di hentikannya dengan aku yang segera memasukan lollipop ke dalam mulutnya, untuk menyumpal mulutnya yang mendadak bawel itu. “Ehmm....” “Hari ini libur dulu minum, Leon tak akan datang, jadi beristirahatlah...” Ucapku padanya, “Apa? Tapi-....” “Istirahat dan tidurlah...” “Ahh... tahu begini aku tak akan mandi atau memakai make up tadi...” Ucapnya, dengan nadanya yang terdengar kesal sekali. “Ayo aku antar kau pulang...” Ucapku, rasanya aku tak bisa tenang membiarkan anak ini tetap berada di club ini, aku takut ia malah akan menegak berbotol-botol wiski sampai mabuk. “Belikan aku ice cream yang tadi...” Pintanya, “Yang mana?” “Yang pisang... isinya rasanya vanilla” “Ahh, kau ini benar-benar...” Tapi aku harus mengiyakannya, agar ia bisa segera pulang. “Ayo...” “Yuhuuu...” Ia terlihat kegirangan senang sekali tahu akan kubelikan ice cream itu. “Kalau orang lain lihat... sepertinya mereka akan mengangap kalau kalian ini kakak beradik...” Madam Jennie mengomentari aku dengan Gadis seperti itu, sampai kutatap Gadis yang kini sedang berdiri di sampingku dengan alis yang di naikannya. “Ahh, jika aku memiliki adik sepertimu aku akan frustasi” “Ishh... siapa juga yang ingin memiliki kakak sepertimu, lagi pula mana ada kakak yang mau mengorbankan adiknya sebagai umpan untuk buronnya” Balasnya, dan sungguh entah bagaimana aku merasa tersinggung dengan itu, seolah-olah aku ini telah melakukan hal yang tega sekali. “Kau hanya harus melakukan ini sebentar saja” “Sungguh? Sampai berapa lama?” Tanyanya dengan wajahnya yang terlihat begitu meragukan perkataanku yang baru saja itu. “Sampai dia tertangkap...” Balasku “Waahh... bagaimana jika dia sampai tak-“ “Dia pasti tertangkap, jadi ayo beli ice cream dan pulang” Ucapku, harus kusudahi perdebatan ini dengannya sambil kutarik tangannya, cepat kubawa berjalan keluar dari Club. “Tunggu di sini, aku akan belikan ice cream itu di supermarket di sana...” Ucapku padanya, “Jangan kemana-mana” “Iyaaa...” Setelah memperingatinya untuk tetap diam di depan gedung club, aku lantas cepat-cepat berjalan untuk membelikan cemilan dingin dan manis itu untuknya. Berkat langkah yang besar, akhirnya aku sampai juga dan kini sedang kubukan lemari pendingin tempat tumpukan ice cream banana yang sedang di inginkan oleh Gadis itu. “Ahh... aku benar-benar bertingkah seperti sedang mengurusi anak kecil karenanya...” Meski mulutku bergerutu seperti itu, tanganku kini sudah mengambil banyak ice cream untuknya, bahkan mataku melirik hal lainnya yang mungki akan di butuhkan Gadis. “Sereal, s**u, vitamin, jus...” “Tunggu, kenapa aku melakukan ini untuknya...” Ini terlalu berlebihan. Bagaimana jika ia malah melunjak nantinya, pikirku. Sampai kubalikan kembali beberapa makanan yang semula sudah masuk ke dalam keranjang belanjaku. “Kakak...” Aku langsung menoleh mendengar pangilan itu, entah itu nyata atau hanya bayang delusiku saja, tapi kulihat sosoknya yang lama tak muncul di depan mataku. “Bella....” Ia tersenyum lalu menghilang begitu saja, “Hhhh... Kau sudah mulai gila Bryan!” “Ah, masa bodo... aku akan membelikan semua ini untuknya saja” Aku tahu, mungkin apa yang kulakukan saat ini karena rasa rinduku pada adikku yang sudah pergi, aku melakukan semua ini karena teringat pada Bella. ‘Mungkin... aku bisa menebus rasa bersalahaku, dengan berbuat baik padanya... mungkin Gadis hadir dalam hidupku, sebagai pengganti Bella dan menjadi seseorang yang bisa menggantikan Bella yang pergi karena hal yang sudah kusebabkan...’ Akhirnya tak peduli lagi soal berapa banyak yang kubelikan untuknya, kuraih saja semua yang terlihat untuk kuberikan pada Gadis. Setelah kubayar, dan kini kudapati dua tas belanja besar yang penuh dengan semua hal yang akan kuberikan untuk Gadis, aku lantas bergegas kembali untuk menghampirinya. “O-oh... apa itu? Kau- tak memborong seisi supermarket bukan?” Tanyanya padaku saat melihat aku yang saat ini tengah berjalan menghampirinya. Dengan raut kagetnya, mata yang di lebarkannya sempurna, ia menghampiriku, berniat ingin membantuku membawa satu tas belanjaku. “Ini- kau belanja bulanan atau bagaimana?” “Ini semua untukmu... jadi jangan minum alcohol dulu, mengerti?” “Apa? Untukku? Ini semua???” “Iya, jadi ayo cepat masukan semua ke dalam mobil” “O-okey...” Masih setengah belum percaya kelihatannya, tingkahnya bahkan ucapnnya sampai terdengar jadi tergagap-gagap begitu sekarang. “Ah, aku lupa, handphoneku ketinggalan di dalam” “Kau ini ceroboh sekali! Bagaimana jika ada yang mencurinya??!!” “Tak akan ruangan wanita di dalam itu aman...” Bisa-bisanya ia teledor seperti itu, padahal mungkin saja di handphonenya itu tersimpan banyak informasi penting, ckckkk... Dan tak lama kemudian kulihat dirinya sudah kembali, ia kini berlari-lari kecil keluar pintu masuk utama dan akan menghampiriku. “Gadis...” Sontak aku langsung membalikan tubuhku takut akan sampai terlihat oleh orang yang baru saja memanggilnya itu. “Leon... dia- dia kenapa bisa di sini...” ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD