“He’d give me anything I still want to run away. If this is all I’m dreaming of, then why am I so afraid of your love?”
–Aviva-
Aku masih tetap meringkuk di kamar Andre walau pria itu sudah pergi meninggalkanku mungkin hampir dua jam lamanya. Air mataku masih tidak mau berhenti mengetahui bahwa pria itu telah mengambil apa yang seharusnya tak diambil. Menangisi diriku sendiri bahwa aku akan jatuh dalam lubang yang sama. Kenapa harus aku? Apa yang membuat mereka menginginkan tubuh ini? Tidak cukupkah bahwa dulu aku sudah mendapatkan trauma seksual dan sekarang ... dia melakukannya di saat aku tidak sadarkan diri. Kujambak rambutku sendiri, ingin rasanya bunuh diri jika seperti ini. Aku tak pantas hidup dengan semua yang telah mereka lakukan padaku. Aku gadis paling kotor dan hina! Aku jalang!
Tok ! tok! Tok !
Aku menoleh pada suara ketukan pintu dan semakin memeluk erat kedua lututku sendiri dan merapatkan selimut yang menutupi tubuh.
“Nona?” suara lembut terdengar dari luar pintu kamar.”Apa Anda baik-baik saja?”
Aku menggeleng tidak menjawab pertanyaan dan tetap pada posisiku. Kemudian pintu itu terbuka memperlihatkan seorang wanita berusia sekitar 55 tahun dengan pakaian abu-abunya yang terlihat seperti nanny . Dia tersenyum melihatku sambil melangkahkan kedua kakinya.
“Jangan mendekat!” seruku.”Aku kotor. Aku hina, Nyonya!”
Wanita itu terkejut mendengar perkataanku namun dia tetap melangkah mendekatiku lalu berjongkok di samping kananku dengan wajah ibanya.
“Saya pengurus rumah tuan Andre, Nona,” katanya.”Anda sebaiknya membersihkan diri. Saya sudah membuatkan masakan untuk Anda.”
Aku menggeleng. ”Aku hina, Nyonya. Aku ini kotor. Aku tak pantas dengan semua ini. Dia telah merusak hidupku…” racauku dengan tersedu-sedu,”aku ... arghh!!!!”
Aku berteriak kencang sambil menjambak rambut lagi tak peduli jika pita suara putus atau rambutku rontok sekalipun. Wanita itu berusaha menghentikan kegilaanku namun tak sengaja aku mendorongnya hingga jatuh. Aku menatapnya nanar dengan kedua mata yang sudah bengkak karena menangis lalu berdiri seraya melangkah menuju kamar mandi.
“Nona! Nona!” teriak wanita itu berusaha menggedor pintu kamar mandi dengan panic.
Aku tak mempedulikan dirinya sambil kembali meringkuk di bath up milik Andre dan menyalakan shower untuk menyirami tubuh dengan air dingin. Hingga kelima kalinya aku tetap tidak mempedulikan suara wanita itu hingga pada akhirnya tidak ada ketukan dan suara lagi. Kupikir mungkin dia telah pergi. Aku menelungkupkan kepala di atas kedua lutut dengan perasaan yang teramat kecewa.
“Mommy…” lirihku,”I hate him…”
####
Author POV
Andre duduk di ruang kerjanya sambil menatap kota New York dari balik dinding kaca dengan pikiran yang bercabang. Dia mendengkus kesal karena masih tak menyangka telah bertemu dengan pria yang sudah lama tak ditemuinya selama hampir 23 tahun. Pria bermata biru itu menghela napas kasar sambil memijit keningnya yang begitu penat. Bagaimana bisa dia yang begitu mudah menyusup di penthouse Ibunya? Padahal kemarin sudah ada sekitar dua puluh penjaga yang ditugaskan untuk mengamankan acara ulang tahun pernikahan Ibunya bahkan tak luput memeriksa setiap waitress yang melayani tamu-tamu yang datang.
Sial! gerutu Andre sambil mengepalkan kedua tangan jika mengingat kejadian tadi malam. Ingin rasanya dia membunuh pria yang dengan seenaknya mengaku sebagai ayah Sam di tempat itu juga kalau polisi tak datang cepat dan langsung membawa pria gila itu pergi.
Andre mengedarkan pandangannya mencari sosok Elizabeth yang pergi meninggalkan dirinya setelah dia diskusi dengan rekan kerja tentang masalah bisnis di Washington DC. Dia pun menanyakan keberadaan gadisnya itu pada Jessica, Sam, Ibu, dan Ayahnya. Namun, mereka tidak bersama gadis itu.
“Mr.Jhonson,” panggil Emy dengan raut wajah cemas,”tolong….”
Seketika ada perasaan tak enak yang menggelayuti benak Andre melihat wajah Emy. "Di mana Elizabeth?
"Andre, Eliza … dia … ada laki-laki yang mencumbunya. Aku mendengarnya dari toilet dia memanggil nama Eliza," kata gadis berambut blonde itu dengan tubuh gemetar.
"Apa!!" pekik Andre sambil membelalakkan matanya. "Where is She now?" geramnya sambil mengepalkan kedua tangan.
"Toilet!"
Segera Andre melangkahkan kakinya cepat menuju toilet. Sial! Pria macam apa yang beraninya menyentuh gadisku! Akan kubunuh dia! Batin Andre menggeram.
Samar-samar terdengar suara desahan seorang laki-laki dari dalam toilet membuat amarah Andre semakin memuncak hingga ke ubun-ubun.
"Apa kau tidak merindukanku, Eliza?"
Andre membelalakkan kedua matanya saat dia memergoki laki-laki berseragam waiters memunggunginya sambil memeluk dan mencium leher Eliza dengan begitu menjijikkan seperti sedang menikmati hidangan utama. Dilihatnya wajah Eliza pucat dengan tubuh yang tak sanggup ditopang dengan kedua kakinya.
Fuck!!! umpat Andre kesal.
Dengan kedua mata yang memerah karena menahan marah, Andre menarik bahu kanan lelaki itu dan menghantam rahangnya dengan keras hingga pria asing itu terjatuh di lantai. Seketika Eliza ikut ambruk di lantai tak sadarkan diri.
Lelaki asing itu menoleh ke arahnya. Andre tercengang melihat wajah lelaki yang sudah lama tak dilihatnya sejak 23 tahun lalu. Lelaki b*****t itu masih hidup!
"Tak kusangka kau masih hidup, Billy!" sungut Andre sambil menyipitkan kedua matanya tajam.
Laki-laki itu menyeringai tajam sambil mengusap darah yang keluar dari sudut mulut dengan punggung tangan kanan.
"Aku memang hidup dan selamanya begitu, Alexandre," katanya enteng sambil bangkit dari lantai.
BUKKK!!!
Mendengar namanya disebut, refleks Andre menghantam rahang kanan Billy membuat dirinya jatuh terduduk dengan kepala membentur lantai.
"Jangan memanggil namaku dengan mulut kotormu itu!" pekik Andre dengan mata melotot.
BUKKK!!!
Melihat pria di masa lalunya itu membuat diri Andre membabi buta meninju perut atau rahang Billy hingga mengerang kesakitan. Billy berusaha bangkit untuk membalas pukulan yang cukup menyakitkan sambil memegangi perut dengan tangan kiri. Dia menendang kaki Andre membuat pria itu jatuh tersungkur ke belakang. Billy membalas pukulan Andre dengan tangan kanannya tapi Andre bisa menahan serangan itu dengan tangan kiri. Dia bangkit dan mencengkeram Billy kemudian membalikkan tubuh pria itu sehingga kedua tangannya berada di punggung lalu memojokkan kurusnya ke dinding keramik toilet.
Billy tertawa dengan napas terengah-engah sambil melirik Andre seolah-olah darah yang menetes di sudut bibirnya tak dirasakan. Meski posisinya kalah namun dia merasa senang bisa memancing emosi Andre. Dia tak menyangka jika bertemu kembali dengan Andre. Sejenak dirinya berpikir, apakah adik Andre masih hidup? Jika ya, ini bisa menjadi permainan yang menyenangkan, kan?
"Well done, good boy, hahahaha," kata pria berambut klimis itu seperti orang gila. "Harusnya kita berpelukan sebagai keluarga, bukan? Jangan malah memukuliku anak muda.”
Andre mencekik tengkuk Billy dengan tangan kanannya sedanngkan tangan kirinya menahan kedua tangan Billy membuatnya terbatuk karena kesulitan bernapas.
"Kau bukan Ayahku, persetan!" sungut Andre namun Billy hanya tertawa semakin keras.
"Oh, sombong sekali dirimu, Alexandre,” ejek Billy,”dan asal kau tahu aku hanya mencicipi tubuh manis Eliza. Dia … gadis manis, kan?”
Andre semakin mencekiknya, Billy terbatuk lagi.
" Hahahaha … kenapa kau? Bodoh sekali jika kau membela gadis jalang seperti dirinya, Andre! Dia p*****r kecilku.“
" Dia bukan gadis jalang, b*****t!"
"Hahaha … dia memang jalang. Tidakkah kau lihat tanda itu, huh? Bekas gigitanku di lehernya. Dia milikku."
Sial! Geram Andre.
Andre membalik tubuh Billy lalu mendaratkan pukulannya di rahang Billy bertubi- tubi. Andre tak peduli jika dia dipenjara nanti asalkan Billy mati ditangannya. Elizabeth bukan milik Billy! Takkan pernah menjadi milik pria gila itu!
"Hahaha ..." Billy hanya tertawa menerima pukulan Andre tanpa membalasnya. Dia menjilat darah yang menetes dari lubang hidungnya dengan punggung tangan kiri sambil menatapku. "Oh … di mana anakku? Apa dia sudah mati?" tanya Billy dengan santai sambil tertawa. “Kau menamai dia Sam, bukan?”
Bangsat! batin Andre.
Andre memukul Billy lagi membuatnya jatuh dan kepalanya membentur wastafel hingga darah segar mengalir dari sela rambutnya.
"Kenapa? Kau menjauhkanku dari anakku, Andre. Oh, teganya dirimu." Ekspresi muka Billy berubah. Dia mengeluarkan air mata di sudut kedua matanya lalu beberapa detik kemudian dia tertawa."Sungguh malang. Harusnya kau membiarkan aku membunuhnya. Hahaha..."
Saat Andre akan mendaratkan pukulannya tuk kesekian kalinya beberapa pengawalnya datang bersama empat polisi, orang tuanya, Emy dan Sam. Jo menarik lengan kanan Andre agar tidak memukul Billy lagi, sedangkan kedua tangan Billy langsung diborgol oleh dua orang petugas polisi. Billy tidak memberontak seperti pada umumnya kriminal, dia hanya tertawa keras hingga urat nadi lehernya terlihat begitu jelas.
"Ya Tuhan, Lizzie!" pekik Emy sambil menghampiri tubuh Lisa yang masih tak sadarkan diri.
"Lepaskan aku Jo! Biarkan aku membunuh b******n itu!" teriak Andre sambil melotot memandangi wajah Billy yang tertawa melihatnya.
"Sampai jumpa lagi Andre! Ingat! Dia milikku! Bekas gigitan itu milikku!" teriak Billy dengan gila yang diseret dengan polisi. "Samuel!!! Oh anakku ..." teriaknya semakin menggila membuat para tamu minggir ketakutan. Sam memandangi wajah Billy itu dengan bingung. “Aku mencarimu sudah lama, My boy.”
"Sam, tolong bawa tubuh Eliza," pinta Emy dengan derai air mata.
"Tidak! Biar aku saja!" sahut Andre sambil melepaskan diri dari Jo lalu menghampiri Eliza yang masih tak sadarkan diri. Andre mendekatkan telinga kirinya di dua lubang hidung gadis itu. Dia masih hidup! Batin Andre lega. Dia pun segera membopong tubuh gadisnya.
"Bawa dia ke kamar," sahut Ayah Andre―Mr. Abraham Jhonson―dengan rasa khawatir.
"Aku membawanya langsung ke apartemenku. Sam telepon Albert!" perintah Andre lalu menerobos Ayah dan ibunya diikuti Sam dan Emy.
####
Andre merebahkan tubuh Eliza yang begitu pucat di atas ranjang king sizenya. Gadis itu menggumamkan sesuatu namun dia tak bisa mendengarkannya dengan jelas. Kemudian pria itu duduk di tepi ranjang kanan sambil mengelus rambut gadis itu dengan perasaan yang sangat kalut dengan berbagai macam pertanyaan tentang siapa gadis di depannya ini. Kenapa Billy bisa mengenali Elizabeth? Dan apakah dia memang ada hubungannya dengan sikap gadis itu yang begitu dingin terhadap dirinya juga bekas luka yang tidak ingin semua orang tahu. Kenapa?
"Ini salahku Andre," sahut Emy sambil menangis lalu dia duduk di tepi kiri ranjang. "Aku tahu dia memang tidak toleran dengan alcohol. Aku yang memaksanya. Oh, Tuhan ... ampuni aku membuat sahabatku seperti ini…"
Andre memandangnya sambil menghela napas berat. "Sudahlah," katanya lirih.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar Andre terbuka dengan Sam dan Dokter Albert yang datang mendekati tubuh Elizabeth yang tak berdaya.
"Selamat malam, Andre," sapa pria itu dengan setelan kemeja putih dan kacamata serta tas hitam di tangan kirinya sambil menjabat tangan Andre.
"Selamat malam," jawab Andre singkat.
"Bisakah kalian menunggu diluar? Aku akan memeriksanya," pinta Dokter Albert.
"Aku akan di sampingnya, Albert. Aku yang bertanggung jawab, please," pinta Andre.
Pria berkacamata itu berpikir sejenak lalu dia mengangguk. Sam dan Emy pun melangkah pergi meninggalkan kamar Andre.
Kemudian dokter itu melakukan pemeriksaan fisik pada tubuh Elizabeth. Andre hanya melihat dokter pribadi keluarganya bekerja secara profesional, mulai mendengarkan detak jantung, memeriksa pupil, menghitung nadi, mengukur suhu, dan pemeriksaan lainnya.
"Apa dia minum alkohol?" tanya dokter itu sambil memandang Andre. "Vodka?" tebaknya sambil melengkungkan alis kanannya.
Andre mengangguk lemah. Dokter Albert melepas kacamatanya sambil melingkarkan stetoskopnya di lehernya.
"Dia tidak toleran, kau mestinya tahu itu Andre. Bahkan detak jantungnya begitu lemah. Aku akan mengambil sampel darah untuk diperiksa di rumah sakit sekaligus memberinya cairan infuse untuk menstabilkan kondisinya dengan cepat dan resep obat,” kata dokter itu sambil menuliskan nama obat di atas kertas resep.”Pastikan dia meminum obatnya setelah dia sadar, jangan makan yang terlalu berat dan suruh untuk memperbanyak istirahat, Andre," jelas dr. Albert sambil menyerahkan kertas resep itu kepada Andre.
"Baiklah," kata Andre sambil menerima resep obat itu. "Tapi ... aku curiga dengan gelas minumannya. Tidak toleran pada vodka tak semestinya terjadi seperti ini, kan? Maksudku, dia meracau tidak jelas, Albert, seperti orang yang ingin … bercinta bahkan di mobil dia menggeliat membuat ... ya kau tahu ... pria b*******h," kata Andre dengan canggung.
Dokter Albert melengkungkan kedua alisnya lalu dia berpikir. "Mungkinkah itu obat perangsang seks?"
Andre membelalakkan matanya tak percaya lalu dia mengepalkan kedua tangan.
Pasti b******n itu, batin Andre.
“Aku tak menyangka jika kau luput dari pengawasanmu,” ejek dokter itu sambil mengambil spuitt berukuran 3 cc dan alkohol swab dari dalam tasnya.
Dia pun mengambil sampel darah vena lengan kanan Lisa lalu dimasukkan ke dalam tabung steril. Setelah selesai, dia pun memasang infuse di punggung tangan kiri Lisa lalu menyuntikkan obat melalui selang infusnya. Lisa mengerang sambil terpejam. Andre menggigit bibir bawahnya. Dia berjanji bahwa dia akan memastikan Billy takkan menyentuh gadisnya lagi.
"Aku memberinya obat untuk menghilangkan efek obat perangsangnya," kata Dokter Albert
"Terima kasih, Albert," kata Andre.
"Aku akan memanggil perawat di rumah sakitku untuk melepas infusnya dan mengecek kondisinya sekitar tiga jam lagi. Aku mempercepat tetes infusnya, dia benar-benar lemah," kata dokter itu.
"Baiklah," jawab Andre.
“Hasil darahnya akan aku kirimkan ke emailmu besok pagi,” kata dokter berkacamata itu lalu tersenyum sambil membereskan alat-alatnya lalu menjabat tangan Andre dan melangkah keluar kamar. Sam dan Emy masuk ke dalam kamar dan mengucapkan terima kasih ketika mereka berpapasan dengan dokter itu.
"Bagaimana keadaannya, Andre?" tanya Emy sambil menghampiri tubuh Eliza dengan langkah cepatnya. Dia mencium kening sahabatnya dengan sayang.
"Dia baik- baik saja," jawab Andre singkat.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sam sambil mendaratkan pantatnya di kursi di samping ranjang.
Andre meliriknya sekilas dengan wajah frustrasi.
"Bukan apa- apa, Sammy, dia hanya mabuk dan seorang waiters bodoh mencumbunya," kata Andre sambil menahan emosinya.
Lalu dia merogoh ponselnya dari saku celananya dan mencari nomor kontak Danny―salah satu pengawalnya. "Dan, selidiki semua gelas dan periksa semua waiters. Jika ada penyusup lagi , bereskan dia!" perintahnya lalu memutus sambungan telepon.
"Lalu, siapa pria yang dibawa polisi itu? Mengapa dia tahu namaku? Kenapa ak―"
"Bukan waktunya untuk menanyakan hal itu, Sam,” potong Andre sambil mengacak rambutnya membuat ekspresi Sam terlihat kecewa.” Tidurlah, begitu juga kau, Emy," perintah Andre.
"Tapi aku―"
"Pergilah, Sammy!" teriak Andre frustrasi memotong kalimat Sam.
Sammy memandang wajah kakaknya dengan kesal lalu dia menarik lengan Emy pergi keluar dari kamar.
Bukan saatnya kau mengetahui siapa dirimu, Sam, batin Andre.
Andre pun kembali menelepon Danny.”Jangan sampai Sam mencari informasi tentang Billy. Tutup akses yang memungkinkan bocornya data b******n itu.”
“Siap tuan!”
Klik! Dia memutus sambungan teleponnya lalu memandang wajah ELizabeth dengan khawatir sambil mengelus lembut pipinya yang dingin. Dia masih belum menemukan sebuah jawaban tentang rahasia gadis itu meski dirinya sudah mencari semua informasi tentang gadis di depannya ini sejak hari pertamanya kerja. Namun tak satupun informasi yang dia dapat yang berkaitan dengan b******n itu sekalipun.
Dia akan mencari kembali semua data untuk mengetahui siapa Elizabeth Granger dan Billy sebenarnya. Dia juga akan melakukan apa pun asal bisa melindungi Elizabeth dan membuatnya jadi miliknya, walau akan mendapat penolakan berulang kali bahkan jika harus membayar dengan nyawanya sekalipun. Dia rela! Andre takkan pernah membiarkan pria itu menyentuh gadisnya lagi.
Tiba-tiba Elizabeth menggeliat sambil meracau, God! Apakah dia akan sadar? Batin Andre.
"Eliza ... Lizzie ... bangun, Sayang," kata Andre sambil mengguncang tubuh Elizabeth.
"Tubuhku ... aku ... panas ... panas ... kenapa di sini panas sekali?” racau Eliza sambil berusaha melepaskan gaunnya membuat Andre terkejut sekaligus bingung.”Panas … bisakah … kau sentuh aku ... kumohon, sentuh aku..." Eliza meracau sambil menggeliat tak karuan dengan mata tetap terpejam.
"Eliza, ada apa denganmu? Bangunlah, Sayang."
"Sentuh aku ... panas, Andre ... Andre..."
Andre berpikir jika efek obat perangsang itu masih memberikan efek pada Eliza meskipun dia telah diberi obat oleh Dokter Albert. Kemudian dengan terpaksa dia mencium bibir gadis itu dengan lembut dan seketika dia tidak meracau lagi. Andre melepas ciumannya lalu menatapnya, dia masih terpejam, apa yang sedang dimimpikannya?
"Jangan berhenti," desah Eliza sambil membuka kedua matanya sayu lalu dia menarik dasi Andre lalu melingkarkan tangannya di leher Andre.
Entah setan mana yang sedang merasuki tubuh gadis itu. Dilumatnya bibir Andre dengan liar membuat pusat tubuhnya bereaksi. Andre melepas dasinya kemudian membuka satu-persatu kancing kemejanya dan membuangnya sembarangan. Pandangannya yang berkabut penuh gairah memandangi Eliza yang begitu menggoda dirinya.
"Ya Tuhan, Lizzie, kau akan menyesal jika kau bercinta denganku," desis Andre di bibir Eliza.
"Kumohon ..." lirih gadis itu sambil menggigit bibir bawahnya.
Pria mana yang tidak ingin melakukan itu jika ada gadis yang kini sedang memohon padanya seolah ingin menyerahkan seluruh jiwa raganya dengan begitu mudah? Apalagi tatapan gadis itu membuat diri Andre menelan ludahnya berulang kali. Tanpa pikir panjang lagi dia merobek gaun Eliza membuat untaian mutiaranya jatuh bertebaran di ranjang. Pria itu melumat bibir gadis itu dengan lidahnya yang bergerilya menjelajahi mulut Lisa dengan liar.
Tak sampai disitu, bibirnya menuruni leher jenjang gadis itu sambil menjilatinya lalu menggigit daun telinganya membuat dia mengerang. Tak berhenti di sana, dia kembali melumat bibir gadis itu lagi hingga gadis itu bisa merasakan bibirnya bengkak.
“Kau b******n,” desis Eliza sambil mendongakkan kepalanya ketika Andre memberi tanda di lehernya.
Sedangkan Andre tidak membalas perkataan Eliza yang diluar kesadarannya itu. Dia frustrasi jika teringat wajah Billy yang mengklaim Eliza dengan bekas lukanya itu. Dia bersumpah takkan membiarkan b******n itu merebut gadisnya. Andre menggigit bekas gigitan Billy di leher Eliza hingga membuatnya kemerahan.
Sial! umpat Andre
Gadis itu berhasil membuatnya menggila dengan tubuh indahnya. Dia pun bermain di area d**a gadis itu lalu turun hingga ke perut Lisa menggoda pusarnya hingga gadis itu melengkungkan punggungnya. Tangan kiri Andre membuka celana dalam Lisa yang berenda hitam, tangan kanannya menggoda puncak d**a gadis itu meremasnya dengan gemas.
Dengan nafsu yang sudah berada di puncak kepala, jemari Andre bermain di pusat tubuh Eliza. Sambil tersenyum smirk melihat gadis itu begitu siap untuk mempersembahkan dirinya. Dia menunduk untuk mencicipi pusat tubuh gadis itu, damn! Lisa sungguh terasa nikmat. Dia sudah benar-benar siap jika pusat tubuh Andre bersatu.
Sedetik kemudian lelaki itu pun mengambil gunting di dalam nakas di samping ranjangnya dengan cepat lalu menyayat lengan kirinya sambil menahan perih. Darahnya merembes dengan deras lalu dia meneteskannya di antara kedua paha Eliza dan seprei di bawah pusat tubuh gadis itu.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tak ingin bercinta selama kau di bawah pengaruh obat itu," kata Andre dengan lirih sambil tersenyum kecut.
Andre memasukkan jari kanannya ke dalam pusat tubuh Eliza hingga gadis itu memanggil namanya. Dia memandang wajah gadisnya dengan takjub sambil berpikir bahwa hanya dengan jari gadis itu sudah mencapai puncak kenikmatannya. Dia mengumpat sambil membayangkan bagaimana jika dirinya yang masuk ke dalam pusat tubuh indah gadisnya itu? Fantasi dalam otaknya sungguh liar apalagi mendapati Lisa masih belum terjamah oleh siapa pun.
Dia mencium bibir gadis itu lagi dengan pelan dan lembut, sepertinya Eliza sudah tak meracau lagi. Dia tertidur dengan lebih pulas. Andre tersenyum lalu mencium bekas gigitannya dan memberikan kiss mark lagi.
"You're mine, and always be mine," bisik Andre di telinga kanan gadis itu.
####
Sebuah panggilan di ponsel Andre membuyarkan lamunan panjangnya. Dilihatnya nama Danny di layar ponsel Andre. Dengan cepat jempol kanannya menekan tombol jawab.
"Bagaimana?" tanya Andre tanpa basa-basi.
"Salah satu gelas mengandung obat perangsang seks, Sir. Saya telah mengambil sampel DNA air liur pemilik gelas itu. Hasilnya cocok dengan DNA Ms.Granger," jawab Danny dari seberang.
Andre mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih. Jadi benar, b******n itu meracuni gadisku dengan obat perangsang itu, batinnya marah.
"Baiklah, cari semua informasi tentang Elizabeth dan Billy. Aku butuh cepat!" perintah Andre lalu memutuskan sambungan telepon.
Billy, laki-laki b******n itu sungguh biadab.
Andre tak sabar melihat Billy membusuk di penjara.