“Nobody’s gonna love you like I love you.”
–The Moffatts-
*****
Ya Tuhan, seberapa banyak sebenarnya uang mereka? Batinku saat kami memasuki lobi penthouse keluarga Jhonson di Madison Avenue. Tanpa sadar, aku menatap sekeliling sambil mengaga lebar seperti seorang udik yang tidak pernah melihat kemewahan ini. Kedua mataku tak bisa menyembunyikan rasa kagum saat melihat arsitekur yang begitu terlihat mewah. Lihat saja, di lobi sudah ada beberapa patung, ornamen, lampu-lampu yang bergelantungan manis hingga deretan lukisan abstrak yang begitu indah. Lantainya dari bahan marmer hingga berkilau jika terpantul cahaya begitu juga dindingnya yang terbuat dari marmer, kaca, serta kayu berkualitas terbaik di dunia. Aku suka dengan konsep minimalis modernnya. Sungguh sepertinya aku ingin memiliki rumah seperti ini di masa depan nanti.
“Awas ada lalat masuk, jika mulutmu terus seperti itu,” bisik Andre yang membuatku refleks menutup mulut sambil menatap tajam padanya.
Kulepas genggaman tangannya yang sudah melewati satu jam. Tunggu! Satu jam? Dan aku tidak pingsan? Aku tersenyum riang, oh astaga ini sebuah awal yang baik bukan? Aku harus memberitahukan psikiaterku nanti.
“Selain aneh, kau suka senyum sendiri,” kata Andre sambil menggenggam tanganku lagi.”Jangan lepas genggamanku atau kau akan pingsan nanti.”
“Jangan sok tahu,” dengkusku berusaha melepas genggamannya kembali namun tak berhasil.
Kemudian, kulihat seorang laki-laki berpotongan cepak dengan tubuh tinggi besarnya yang memakai jas berwarna navy tersenyum hormat saat kami menghampirinya.
"Selamat sore, Tuan Andre," sapa laki-laki itu. Andre hanya mengangguk.
"Semua aman?" tanya Andre.
"Aman, Sir," jawab laki-laki itu.
Andre mengangguk dengan angkuh dan kini tangannya berpindah di pinggangku memeluknya dengan begitu posesif. Aku sedikit risih dan mencoba melepaskan tangan besarnya dari pinggangku namun dia malah mencengkeramnya sambil menatap kedua mataku dengan tajam seraya melangkah menuju lift yang tak jauh dari kami.
"Sudah kukatakan bukan? Aku sudah mem―”
“Oke kau membaca buku di mana memeluk pinggang wanita ehm … ralat mencengkeram pinggang bisa menurunkan depresi seorang wanita. Bukankah begitu, Tuan m***m?” sindirku sambil menyipitkan kedua mata menatapnya kesal. ”Aku bukan wanita depresi seperti yang kau pikirkan, Tuan.”
Pria itu tertawa lalu ekspresinya berubah datar. ”Oh benarkah? Atau alasan lesbian lagi yang kau gunakan untuk menghindari diriku?”
“Aku memang seperti itu, kau salah jika menyukai seorang lesbian,” kataku dan akhirnya berhasil melepaskan tangan pria m***m itu dari pinggangku lalu melangkah mendahului dirinya memasuki lift.
Pria itu melangkah cepat masuk ke dalam lift diikuti beberapa orang yang membuat lift penuh. Aku menggeser posisiku agar terpisah dengan Andre dan beruntung seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahunan berdiri di antara kami berdua. Namun, jika dilihat-lihat rasanya kepalaku mulai berputar melihat sekitar lima pria bertubuh tinggi besar berdiri di depanku ditambah dua pria yang berdiri di samping kiri. Meski berdiri di sudut lift, entah kenapa dadaku terasa sesak dan diriku mulai panik ketika lengan seorang pria di sisi kiri bersentuhan dengan bahuku yang tidak tertutup apa-apa.
Aku ingin pingsan….
Beberapa detik kurasakan tubuh Andre sudah berada di depanku dengan menghimpit tubuhku di antara dua lengan kokohnya. Merasa salah tingkah sendiri sambil menundukkan kepala antara malu dan rasa pusing yang semakin menjadi-jadi. Tanpa kupandang dirinya pun aku tahu jika kedua manik mata birunya itu sedang menatapku dengan pikiran mesumnya.
“Aku pusing,” bisikku sambil memijit kening.
“Kau phobia ruang sempit?” tanyanya sambil menunduk mencoba melihat ekspresi wajahku.”Sudah kubilang, kan, terus pegang tanganku agar tidak jauh dariku dan bersentuhan dengan lelaki lain. Kenapa kau tidak bilang jika phobia ruang sempit?” bisik Andre di telingaku yang terdengar seperti omelan.
“Aku tidak phobia ruang sempit,” ketusku menatap dirinya.”Aku hanya….”
“Apa?”
Aku menggeleng lalu teringat saran Dokter Margaretha. Meski keringat dingin sudah membasahi kening, kuberanikan diri untuk menyentuhnya sebagai salah satu terapi facing fears. Tangan kananku dengan gemetaran dan ragu memegang bahu kirinya membuat pria itu pun tersenyum bahkan aku bisa mendengar suara tawanya yang mengejekku. Setelah itu dia menaruh kepalanya di ceruk leher membuat kedua mataku melebar, belum siap untuk dekat dengan dirinya hingga sejauh ini.
“Jangan pingsan dulu, jika takut peluk saja aku,” bisiknya.
Kemudian kurasakan Andre mendekatkan wajahnya ke pipiku lalu menciumnya cepat. Dia melirikku dari sudut matanya yang tajam sambil tersenyum sinis. Aku menelan ludah, jika aku bisa leluasa bergerak, inginku mendorong tubuh besarnya jauh-jauh.
"Kau akan terbiasa, Nona," bisik Andre.
DING!!!!
Pintu lift terbuka, orang-orang langsung berhamburan keluar. Andre menarik lenganku lalu lengannya berpindah di pinggangku lagi seraya melangkah menuju sebuah pintu yang sudah dijaga oleh empat orang lelaki.
"Hey, Bro!" sapa seorang pria yang berdiri di depan pintu itu sambil melambaikan tangan kanannya. Jika dilihat dia terlihat seumuran dengan Andre, tapi aku tidak peduli. Saat kami berdua berdiri di hadapannya, pria itu menjabat tangan Andre. "Wow, Bro, who is She?"
"Gadisku, Elizabeth Granger," jawab Andre dengan bangga.
What the hell, dia menyebut diriku gadisnya! Bisakah kusumpal mulutnya dengan heels-ku? Menyipitkan kedua mata menatap dirinya kesal namun pria m***m itu hanya tersenyum sinis.
"Ini teman kuliahku, Joseph Wilton," kata Andre lagi lalu aku menyalami tangan Joseph cepat. "Aku harus menemui ibuku, bye," pamitnya lalu membawaku pergi.
Memasuki ruangan yang berukuran cukup besar terdapat ratusan orang-orang terkenal di penthouse ini. Interior penthouse ini pun juga tak kalah dengan lobi tadi. Di d******i cat putih dengan beberapa bagian berwarna hitam, terdapat sebuah foto berukuran besar di tengah-tengah ruangan yang memajang foto keluarga Jhonson. Bisa kulihat mereka terdiri dari ayah, ibu, dua anak laki-laki, dan satu anak perempuan. Tentu saja itu Andre dan adiknya―Sam―bukan? aku baru tahu wajah ayah Andre yang bertubuh tinggi kurus dengan tatapan yang khas di balik mata birunya.
Kemudian, pandanganku beralih pada sisi kiri ruangan ini di mana ada sebuah bar yang cukup mewah dan menyajikan banyak minuman. Belum lagi dinding kaca di sisi kanan yang berhadapan langsung dengan pemandangan kota Manhattan yang sangat indah di malam hari.Ya ampun, dia benar-benar kaya bukan? Bahkan beberapa pejabat New York City pun datang.
"Mr.Jhonson, Emy ke mana? Kau bilang dia bersama adikmu, tapi aku tak melihatnya, kau tidak membawanya ke suatu tempat, kan?" selidikku membuat Andre tertawa.
"Untuk apa aku membawa pasangan lesbianmu itu?” katanya terdengar mengejek. ”Jika boleh lebih baik aku membawamu ke suatu tempat yang sepi daripada di sini.”
Kulepas tangannya di pinggangku dengan mulut mengerucut membuat Andre semakin tertawa.
“Astaga, betapa lucunya kau ini,” katanya ingin mencubit kedua pipiku tapi aku berhasil menampiknya.” Ms.Watson bersama Sam di sana," tunjuk Andre pada Emy dan seorang pria yang sedikit lebih muda dari Andre dengan dagunya. Emy dan pria itu saling bersulang dengan gelas berisi cocktail.
Saat aku akan mengeluarkan kalimat, Andre mengecup bibirku dengan cepat membuatku terkejut. Dia menatapku dengan kerlingan nakalnya.
"Kuingatkan lagi, Nona,” katanya lalu menangkup wajahku dengan kedua tangannya. ”Jangan pingsan selama aku menyentuh pipimu, lenganmu, pinggangmu, dan lehermu. Aku suka menyentuhmu, oke?”
Lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku membuatku merinding seketika. “Dan sekali lagi kau memanggilku Mr.Jhonson, aku akan menciummu bertubi-tubi," bisiknya membuatku memerah. "Ayo, kukenalkan pada orang tuaku."
Astaga, aku rasa aku salah membuatnya menjadi orang untuk terapiku.
Pria itu melingkarkan tangannya lagi ke pinggangku sebelum aku bertanya tentang acara apa ini. Dia tersenyum ketika matanya menangkap sosok wanita paruh baya yang sungguh cantik di balik gaunnya yang berwarna peach sedang berbicara dengan seorang gadis mungil dengan gaun baby pink-nya.
"Ibu," panggil Andre lalu memeluk wanita yang dipanggilnya ibu. "Ini Elizabeth Granger, Elizabeth ini Ibuku Maria Jhonson."
Aku menyalami tangan Mrs.Jhonson dengan canggung seperti aku menemui ibu kekasihku.
"Selamat sore Mrs.Jhonson, senang bertemu dengan Anda," kataku dengan nada formal.
"Panggil saja Marry, Ms. Granger. Dan aku sungguh senang anakku bisa membawa kekasihnya malam ini," kata Maria sambil menepuk bahu kanan Andre. Dia hanya tersenyum sambil memutar bola matanya.
"Dan ini, Jessica Ariana Jhonson, putriku yang paling kecil," Marry memperkenalkan anak perempuannya.
"Aku sudah tujuhbelas tahun Ibu, dan jangan memanggilku yang paling kecil," sahut Jessica dengan kesal membuatku tertawa. "Dan hai nona cantik, kau orang pertama yang diajak kakak playboy-ku ke rumah ini , kau cantik dan aku menyukainya," katanya lagi dengan centil.
“Oh terima kasih,” kataku dengan malu.”Aku punya adik seumuran denganmu.”
“Oh benarkah? Kuharap kalian cepat menikah biar aku bisa memiliki saudara perempuan,” kata Jessica berbinar.
Sontak Andre mencubit pipi Jessica dengan gemas membuat gadis itu meraung kesakitan membuat Marry menepuk tangan Andre untuk melepas cubitannya.
"Di mana Ayah?" tanya Andre sambil celingukan mencari sosok ayahnya.
"Dia sedang menemui beberapa rekan bisnisnya di sana. Ya Tuhan, Ayahmu memang tidak kenal waktu, ini hari pernikahan kami bahkan dia masih membincangkan pekerjaannya," kata Marry kesal sambil meneguk cocktail-nya.
Aku melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berkacamata dengan mengenakan tuxedo hitam. Dia sedikit berbeda dengan foto yang dipajang di sana, tapi lumayan tampan di usianya yang kupikir mungkin limapuluh tahunan bahkan bisa jadi lebih. Meskipun begitu laki-laki itu nampak jauh lebih sehat daripada usianya.
"Dia mirip denganmu," kataku lirih.
"Apa?"
“Tidak apa-apa,” kataku.”Ayahmu tampan.”
Dia tidak menjawab hanya menyunggingkan seulas senyuman bangga. Lalu dia membawaku lagi ke beberapa teman kerjanya dari perusahaan besar di Amerika dan beberapa pejabat kota. Dan seperti yang kuduga, berulang kali dia memanggilku dengan sebutan 'gadisku' membuatku lama-lama ingin muntah.
Aku bukan gadisnya! Bahkan aku benci dengan sikap bossy-nya itu!
Aku menghela napas, tapi aku bisa apa? Bahkan hingga detik ini aku tidak merasakan mual sejak pertama kali dia memegang tanganku di salonnya seperti sebelum-sebelumnya. Apa aku harus berterima kasih dan membiarkan dirinya mengakui diriku sebagai gadisnya? Toh, itu pasti hanya omongan di mulut saja kan? Belum lagi, jika aku memberontak, aku bisa mempermalukan diriku sendiri dengan gaun yang merupakan pinjaman darinya.
####
Alunan musik jazz mengalun lembut, beberapa orang berdansa di lantai dansa di tengah-tengah ruangan ini dengan lampu yang dibuat sedikit remang. Kulihat Emy sedang berdansa dengan Sam sambil sesekali berciuman lalu tertawa malu-malu. Gila! Dia baru kenal pria itu empat jam lalu! Sedangkan aku lebih memilih berdiri di samping Andre yang sibuk mengutak-atik ponselnya. Kulirik isi percakapannya dengan seseorang dari sudut mata membuatku hampir menganga, dia masih membahas meeting yang akan diadakan lusa.
Kuedarkan pandangan dengan rasa bosan, semua minuman di sini beralkohol dan aku salah satu manusia yang tidak toleran terhadap alkohol walau kadarnya rendah sekalipun. Pandanganku terhenti pada seorang lelaki yang sedang berdiri menatapku dengan senyum seringaiannya. Aku menyipitkan kedua mata merasakan bahwa dia mirip sekali dengan Uncle Bill. Aku mengedip-kedipkan kedua mata untuk memastikan pria itu nyatanya tidak ada. Dia menghilang!
Aku menoleh pada Andre, dia sekarang sedang berbicara pada beberapa laki-laki membahas masalah bisnis. Kuputuskan untuk meninggalkannya dan mencoba mencari orang itu memastikan bahwa aku salah lihat. Tuhan, aku tidak ingin bertemu Billy, kumohon, batinku takut.
"Lizzie!" panggil Emy menepuk bahuku dari belakang. "Mau ke mana kau?"
"Aku ... ehm ... tidak, bukan apa-apa, Emy," jawabku namun pandanganku masih mencari-cari sosok laki - laki pucat itu.
"Mau minum?"
Aku menggeleng lemah.
"Oh ayolah, sedikit saja, kau harus mencobanya, Eliza." Emy menarik-narik lenganku merajuk seperti anak kecil.
Aku menghela napas kasar sambil menahan diri untuk tidak mencubit Emy karena gemas. Oke, aku turuti sahabatku untuk meneguk minuman itu. Kuambil satu gelas cocktail dari seorang waiters yang melewati kami dengan cepat. Lalu meneguknya dalam satu tegukan.
God!!!! Betapa masamnya minuman itu, aku seperti memakan lemon mentah-mentah. Emy tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Terima kasih telah membuatku mencicipi sesuatu yang kata orang minuman terenak di dunia," kataku jengkel. "Hei, aku liat kau begitu akrab dengan Sam, jadi kau mulai tertarik dengan Sam dan melupakan Gilbert, huh? "
"Sam? Kau takkan percaya dengan yang kukatakan, Eliza,” katanya.”Dia teman lamaku waktu high school dan rasanya aku ingin menamparnya jika mengingat dirinya merubah namanya hanya untuk menyembunyikan identitasnya sebagai keluarga Jhonson.”
“Wow, benarkah?”
Emilia hanya mengangguk. “Kurasa aku menyukai Sam seperti kau menyukai si milyader itu.”
"You must be kidding me, Emilia Watson! Aku takkan pernah jatuh cinta pada pria mana pun," kataku semakin kesal.”Bahkan jika Andre yang tersisa di dunia ini.”
“Benarkah? Coba kau ulangi, aku ingin merekamnya,” kata Emy sambil mengeluarkan ponselnya. ”Jika kau benar-benar jatuh cinta padanya kau harus membayar sewa apartemen selama setahun penuh.”
Aku tertawa terbahak-bahak, jika bersama Emy pasti dia akan menimpali kalimatku dengan suatu tantangan yang tak terduga. Aku terdiam ketika tiba-tiba aku merasa tubuhku panas dan ingin muntah. Perutku terasa melilit, makanan yang kucerna sepertinya merangkak naik ke kerongkonganku. Sial! Ini pasti efek minuman sialan itu.
"Aku harus ke toilet," kataku pada Emy lalu melangkah cepat menuju toilet yang ada di ujung lorong di sisi kanan penthouse.
####
Hueeekkk!!!
Sial!
Aku memuntahkan isi perut di dalam toilet. Ya Tuhan! Apa ini efek minum cocktail hingga membuatku mual seperti ini. Badanku terasa panas, kepalaku terasa pening, dan pandanganku kabur. Perutku melilit, bahkan ini sudah kelima kalinya aku memuntahkan makanan hingga tubuhku lemas.
Setelah tidak ada yang bisa kumuntahkan lagi, aku keluar dari toilet lalu mencuci tangan sambil berkumur karena mulutku terasa aneh setelah muntah tadi. Memandang diriku dari cermin. Badanku semakin terasa panas. Kali ini tiba-tiba aku merasa jika … libidoku naik dan butuh pelepasan sekarang, di sini juga. Aku meraba tubuhku, sial! Kenapa dengan diriku? Tubuhku semakin berkeringat, mataku berkunang-kunang, aku hampir kehilangan kendali ketika ada seseorang yang datang menghampiri dari belakang.
"Halo, Sayang," bisiknya di telingaku membuat hasratku semakin naik. Orang itu memelukku sambil menjilat leherku membuatku bergidik ngeri. "Apa kau merindukanku?"
Aku mengerutkan kening sambil menyipitkan kedua mata memandangi dirinya dari cermin besar di depanku. Menggeleng keras karena pandanganku sedikit buram. Dia laki-laki dengan rambut basah sebahunya, kurus, dan pucat dengan seringai senyumnya. Aku merasa mengenalinya tapi kepalaku terasa berat.
"Kau...." lirihku sambil berusaha menyadarkan pikiranku.
"Ini aku, Sayang, your lovely Uncle Bill," bisiknya lirih lalu menggigit telinga kananku. Tangan kirinya meraba punggungku.
BUKKK!!!
Aku mendengar sebuah pukulan mendarat di rahang laki-laki itu.Tubuhku ambruk, kepalaku berputar samar-samar pandanganku gelap. Aku hanya menangkap bayangan dua bayangan laki-laki entah siapa.
####
Kubuka kedua mata yang terasa berat sambil sekali mengerjap-ngerjapkan mata untuk beradaptasi dengan cahaya sinar matahari yang masuk di kamar. Rasanya tubuhku sangat lelah ditambah kasur ini begitu nyaman dengan aroma musk yang sangat khas. Terlebih rasanya kemarin aku mengalami mimpi buruk karena bertemu dengan Uncle Bill dan seseorang bak pangeran datang menyelamatkanku. Kupejamkan kedua mataku lagi sambil menarik selimut. Entah mengapa rasanya kamar ini lebih luas dan lebih terang daripada kamarku di apartemen.
Wait!!!
Sontak aku bangun dari tidurku lalu mengedarkan pandangan sambil mengumpulkan segenap nyawa. Kudapatkan diriku berada di atas ranjang king size di sebuah kamar bercat hitam bernuansa maskulin dan aroma musk yang jelas-jelas bukan seperti kamar perempuan. Dan benar saja, kamar ini luasnya mungkin lima kali lebih besar dari kamarku. Nuansa ruangan ini sepertinya aku pernah melihatnya tapi di mana? Sejenak tubuhku menggigil kedinginan, sepertinya udara kamar ini terasa dingin lalu kututup kembali tubuhku dengan selimut.
Oh My God! Damn!
Entah setan mana yang melakukan semua ini. Tubuhku tidak tertutupi satu helai benang pun terutama area yang seharusnya tertutup apalagi di kamar asing seperti ini. Kepalaku rasanya ingin meledak karena marah yang sudah di ubun-ubun. Apakah aku telah melakukan hal yang tidak senonoh? Kucoba mengingat kejadian kemarin, tapi kepalaku semakin pusing karena tidak ada yang bisa kuingat satu pun. Mengumpat kesal sambil menahan tangis. Siapa yang tega melakukan ini? Dan, wait! Ada bercak darah di seprei di bawah kedua pahaku.
"What the hell going on here?" pekikku.
"Good morning, Ms.Granger." Sebuah suara khas memaksaku menoleh ke kiri.
Andre!!
Segera kututupi dadaku dengan selimut.
Sial!
Andre duduk di kursi sebelah kiri ranjangnya sambil memasang dasi abu-abunya sambil memandangku intens.
"Bisa kau jelaskan padaku, apa yang telah terjadi, Mr.Jhonson?" tanyaku sambil menahan amarah.
"Menurutmu?" Dia melengkungkan alisnya sambil menggosok dagu dengan sok keren.
Aku bangkit dari kasur besarnya sambil melilitkan tubuhku dengan selimut. Aku menampar pipi kanannya namun sebelum tanganku mendarat dia menahannya dengan kuat.
"How dare you!" sungutku marah. "Kau pria tak tahu diri, sialan!"
"Kau yang memaksaku untuk bercinta denganmu," kata Andre sambil melepaskan cengkeraman tangannya kasar.
"You must be kidding me! God!" teriakku frustrasi menahan air mata. Kujambak rambutku sendiri dengan tangan kiri lalu menangis histeris. ”Aku takut … aku takut … Ya Tuhan, kau jahat Andre! Kau jahat! Persetan denganmu!”
“Aku terpaksa melakukannya karena kau yang memohon padaku, Eliza!” sungutnya marah. ”Silakan kau mengataiku seperti itu, tapi kau harus tahu bahwa minumanmu dicampur obat perangsang seksual, Ms.Granger!"
Apa! Aku menganga. Bagaimana bisa? Dia pasti bohong! Itu alibinya untuk membuatku percaya, kan?
“Bohong! Itu hanya alasanmu untuk memperkosaku, kan!” teriakku.”Kau jahat! Aku.…” tubuhku meringkuk dengan gemetaran seraya memeluk diriku sendiri. Entah kenapa tiba-tiba bayangan masa laluku dengan Uncle Bill kembali menghantui. ”Aku takut … Mommy … Mommy … aku takut … aku jahat, aku bukan gadis baik, Mommy.…”
“Hei ... hei…” Andre ikut berjongkok sambil menyentuh bahuku namun aku menghindarinya dengan ekspresi takut. ”Eliza … kau kenapa?”
Aku menggeleng tanpa memandang dirinya.”Aku ingin pulang ... please, aku takut.”
“Elizabeth?”
“Stop!” teriakku ketika Andre membelai rambutku. “Jangan sentuh aku!”
Dia mengusap wajahnya gusar. ”Aku tak tahu jika seperti ini jadinya. Kau tahu? ada penyusup di penthouse Ibuku, Elizabeth. Tidak sadarkah kau hampir diperkosa?" kata Andre sambil menyipitkan kedua matanya.
"Kau bohong,” lirihku.
”Aku tidak bohong padamu,” katanya kesal. ”Apa kau sudah gila? Kau tahu tubuhmu tidak toleran terhadap minuman beralkohol, kenapa? Kenapa kau masih meminumnya?"
Aku mengacak rambutku yang berantakan menjadi semakin berantakan lalu menjerit histeris. Kejadian ini seolah mengembalikan diriku pada kejadian 14 tahun lalu saat Uncle Bill melakukan pelecehan seksual padaku. Aku memukul dadaku sendiri yang terasa begitu sesak.
“Tenanglah, Eliza,” kata Andre meraih kedua tanganku. ”Kau aman denganku, oke.”
Aku mendorongnya hingga jatuh lalu menelungkupkan kepalaku di atas kedua lutut.
“Aku takut …”
“Elisa …” suara Andre mendekat.
“Jangan sentuh aku, Sialan!” pekikku menatap dirinya dengan derai air mata. “Aku ingin pulang!”
“Kau tak boleh pulang sebelum kupanggil psikiater, Eliza!” seru Andre dengan tegas. ”Kau begitu kacau.”
Aku terdiam menahan isak tangisku menatap kedua mata Andre yang begitu gelisah. Aku yakin setelah dia memanggil psikiater, dia akan tahu bahwa aku gadis aneh dengan PTSD. Aku juga yakin setelah ini dia akan memecatku lalu mengolok diriku di depan semua orang. Aku memang begitu menyedihkan, bukan?
”Setelah kau tahu diriku yang sebenarnya, apakah perasaanmu masih sama?” tanyaku padanya.