“I wish there were a way to show you my love is real.”
–The Moffatts--
Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Dengan langkah malas, kuseret kedua kakiku menuju pintu apartemen sambil menguap ketika seseorang mengetuk beberapa kali. Sedikit terkejut mendapati seorang kurir memakai seragam warna hijau membawa sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas berwarna cokelat. Aku menandatangani surat penerimaan barang lalu mengucapkan terima kasih pada kurir itu.
"Paket lagi?" sahut Emy saat aku menutup pintu lalu melangkah menuju sofa di ruang tamu sambil membolak-balikkan paket itu.
"Iya," jawabku sambil mendaratkan p****t di sofa.
"Tanpa nama lagi?" tanya Emy lagi sambil membawa semangkuk salad di tangan kirinya lalu duduk di sampingku.
Aku hanya mengangguk tanpa menoleh kepadanya.
"Buka saja, paket tempo hari kau tidak membukanya padahal aku penasaran dengan isinya," kata Emy lalu melahap saladnya.
Aku memutar bola mata lalu mulai membuka bungkusan paket itu dengan cepat. Sebuah kotak sepatu berwarna hitam dengan brand Christian Louboutin. Kubuka lagi kotak itu dan mendapati sebuah heels yang benar-benar membuatku terpesona. Heels itu berwarna hitam terlihat simple namun elegan dengan aksen ilussion lace-nya.
"God! What a beautiful it is! Kau sedang berkencan dengan pria mana, huh? Kukira kau su―"
"Aku tidak berkencan dengan pria mana pun, Em,” kataku memotong kalimatnya,” dan ini benar-benar mahal." Kuletakkan heels itu di atas meja.
Pasti dia lagi, batinku.
Emy meletakkan mangkuk saladnya di samping kanannya lalu mengambil heels itu. Dia mencoba heels itu namun ukuran kakinya terlalu besar.
"Jika aku yang mendapat kiriman seperti ini, aku tentu mau berkencan dengannya," ucap Emy meracau sambil tersenyum nakal lalu meletakkan heels itu ke kotak semula.
Aku berpikir sejenak lalu teringat paket tempo hari yang kuterima. Bergegas mengambil paket itu dalam kamar kemudian kembali melangkah cepat ke sofa sambil membawa paket besar itu.
"Kau beruntung, Lizzie. Heels ini sesuai dengan ukuran kakimu tapi,"kata Emy,”sungguh aku penasaran pria mana yang mampu membuatmu bertekuk lutut?”
Refleks aku memandang gadis itu tajam membuat dirinya menutup mulut dengan tangan kananya lalu pandanganku beralih pada paket yang kuterima beberapa hari lalu. Kurobek bungkus paket besar itu. Di baliknya terdapat kotak berwarna merah yang lagi-lagi terdapat brand terkenal dan mahal. Aku menelan ludah ragu untuk membukanya.
"Bukalah!" pinta Emy membuka suara dengan tak sabar.
Kumohon jangan barang mahal lagi.
Kubuka kotak itu, seketika kami berdua melebarkan pupil. Sebuah gaun mewah berwarna hitam dengan hiasan mutiara. Aku mengangkat gaun itu. Astaga! Dress mewah dengan hiasan mutiara yang mengelilingi punggung berbentuk oval hingga tulang ekor. Di bagian d**a yang dibuat aksen V-neck dengan mutiara yang berjejer manis melingkarinya. Aku yakin jika memakai ini di siang hari akan mengundang banyak mata dan di malam hari akan mengundang banyak perampok.
"God! Aku yakin ada pria yang menyukaimu, Elizabeth," goda Emy membuat pipiku merona.”Kau harus menraktirku makan selama sebulan penuh. Sungguh aku senang kau mau menyukai pria, setidaknya sebutan lesbian itu sudah hilang ,kan?”
“Harus berapa kali kubilang jika aku tidak suka dengan pria dan tidak sedang dekat dengan pria, Emilia. Demi Tuhan, astaga …” keluhku frustrasi. "Hanya satu orang yang mampu membeli semua ini." Kukembalikan dress mewah itu ke kotak semula.
“Dan bagaimana bisa kau mendapat semua paket mewah itu jika tidak ada pria yang sedang dekat dan menyukai dirimu, temanku,” dengkus Emy sambil melipat d**a kesal.
“Jangan gunakan ilmu jurnalistikmu di sini, Emilia,” kataku sinis.
Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Andre. Aku membungkam mulut menahan teriakanku dengan tangan kiri. Ya Tuhan, kenapa sekarang membaca pesannya saja membuatku bisa histeris seperti ini? Dan dugaanku benar, kan, bahwa dia yang mengirimi semua ini. Ini membuatku dilemma, aku tahu bahwa tak pantas menerima paket itu atau memang dia sengaja menggodaku lagi dan seolah akan terlena karena semua pemberiannya. Padahal dia sudah kubohongi ,bukan, bahwa aku adalah seorang lesbian?
Sender:Mr.Jhonson
Kuharap kau senang menerima hadiah dariku. Aku akan menjemputmu pukul 8 untuk ke pesta Ibuku.
Shit!!
Apa yang ada dipikiran pria itu? Mengajakku ke pesta ibunya? Bukankah sama saja kami menjadi teman kencan? Bukankah sama saja Andre mengenalkan diriku pada keluarganya?
Sender:Elizabeth
Terima kasih untuk hadiahnya tapi aku tak minat dengan apa yang kau berikan, tuan. Aku juga takkan datang ke pesta apa pun itu. Aku akan memberikannya pada pasangan lesbianku, Emy.
"Apa pria seksi itu yang memberikannya, Sayang?" celetuk Emy sambil senyum jahil membuatku salah tingkah. "Dan maaf saja, aku tak mau memakai barang teman sekamarku," katanya lagi sambil mengangkat kedua tangannya seolah dia bisa membaca pikiranku.
"Dia akan mengajakku ke pesta ibunya, Emy. Astaga … bukankah ini keterlaluan?" kataku dengan kesal sambil melipat kedua tangan. Emy hanya tertawa.”Bukankah ada gadis yang lebih menarik daripada diriku?”
“Jika big boss sudah tertarik padamu, apakah fisik akan menjadi prioritas, huh?”
Aku mengangkat kedua bahu malas menanggapi perkataan Emy. Lalu kupandang ponselku, tak ada jawaban dari Andre. Jika aku berdiam diri di sini, aku takut dia akan menjemputku secara tiba-tiba. Aku harus kabur dari apartemen agar tidak dipaksa pergi ke pesta itu.
Bangkit dari sofa lalu melangkah cepat ke kamar untuk mengambil tas ransel serta mengambil beberapa baju secara acak di lemari. Aku harus kabur sekalipun itu harus ke Florida. Bagaimanapun juga aku tak mau memakai barang itu dan tak mau ke pesta bersama si pria m***m.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Lalu pintu kamarku terbuka menampakkan dua orang laki-laki tinggi besar dengan pakaian serba hitam masuk ke kamarku dengan wajah yang cukup menakutkan.
"Hey! Siapa kalian!" teriakku terkejut sambil meraih bantalku bersiap-siap memukul kedua laki-laki itu.
"Kami diperintah Tuan Andre untuk menjemput Anda, Nona," kata laki-laki dengan kulit putih dan kumis cokelat yang tumbuh di bawah hidungnya.
Rahangku merosot ke lantai. Oh, Sial! Mengapa si pria m***m itu bisa menebak apa yang kupikirkan? Dia gila! Sungguh gila!
"Mana Emy!" sungutku sambil melotot tajam. Aku tak mau ada hal lain terjadi pada Emy.
"Dia di luar. Tuan Andre juga mengajak Ms.Watson untuk menemani Anda. Mari, Nona, ikut kami," kata laki-laki bertubuh besar satunya dengan kepala botak.
Aku melempar bantal dan gulingku ke arah mereka mencoba menerobos keluar kamar. Namun usahaku tak berhasil karena gerakan si laki-laki botak yang sigap menangkap bantal dan gulingku dengan mudah.
"What the hell!!! Aku tidak mau pergi dengan pria m***m itu, sekalipun aku dipecat! Sialan kalian! Lepaskan aku!!" sungutku berontak saat mereka mencengkeram kedua tanganku lalu menyeretku keluar apartemen.
Mereka tak menggubrisnya bahkan tubuhku dipanggul di bahunya oleh si kepala botak. Kupukul punggungnya dengan sekuat tenaga sambil mengeluarkan bermacam-macam umpatan.
Pria gila, aku membencimu!
####
Aku dan Emy berendam dalam sebuah kolam kecil yang berisi campuran air s**u dan ekstrak mawar serta aroma lavender yang menyeruak dengan lilin-lilin kecil yang mengelilinginya. Di depan kami terdapat dinding kaca yang bisa menembus pemandangan luar New York yang begitu padat namun indah di sore hari. Lihat saja, di luar langit jingganya dengan beberapa semburat awan putih seperti telur kocok serta sesekali siluet pesawat terbang menambah daya tarik bak lukisan terindah yang diciptakan Tuhan. Mobil-mobil nampak merangkak perlahan memadati setiap sudut jalanan. Tak lupa alunan musik jazz yang mellow membuatku terhanyut dengan semua ini. Sungguh ini sempurna. Kami berdua telah menjalani rangkaian perawatan mewah di Exclusive Salon and Spa New York. Dan semua ini benar-benar mahal bagiku, maksudku aku belum pernah spa di tempat seperti ini. Belum lagi, aku mendengar info bahwa pemilik tempat mewah ini adalah Andre. Ya Tuhan, sebenarnya sekaya apa sih dia itu?
Aku menghela napas berat sambil menenggelamkan sebagian wajahku hingga sebatas hidung. Sebenarnya, untuk apa Andre melakukan semua ini? Apakah sebelumnya dia memanjakan perempuan lain seperti ini? Apakah Andre memang benar-benar menyukaiku seperti yang dikatakannya beberapa hari lalu? Aku sungguh bingung. Dia yang membuatku kesal tapi dia juga memberiku pelayanan bak seperti seorang ratu.
"Kau terlihat muram. Apa kau tidak menyukainya?" tanya Emy sambil membasuh tubuhnya dengan air.
Menaikkan wajahku sambil menghirup napas panjang. "Aku tidak tahu. Aku bingung dan,”jawabku dengan nada sedih,”aku merasa jika diriku ini tidak pantas mendapatkannya, Emy. Kau tahu, dia benar-benar gila. Gaun , heels, dan sekarang kita berdua di tempat paling mewah dan mahal di New York. Untuk apa dia melakukan ini? Aku hanya pegawai baru yang mengaku sebagai lesbian, bukankah itu sudah membuatku cukup dihindari seorang pria?"
"Aku lelah jika mengatakan ini Eliza, tapi pria itu menunjukkan jika dia tertarik padamu,” kata Emy menatap kedua mataku lekat.”Semua yang dilakukan ini ya tentu saja untuk membuatmu bahagia. Dia pun rela menghabiskan beribu-ribu dollar hanya untukmu. Dan bisakah kau menghentikan kebohonganmu tentang status lesbianmu itu?”
Aku menggeleng lemah."Aku tak bisa dan kau takkan mengerti, Emy," kataku sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
"Aku takkan mengerti karena kau tidak mengatakan apa yang kau rasakan bahkan masa lalu yang tak pernah kau ceritakan padaku. Harus sampai kapan Elisa?" tanya Emy. "Kita sudah berteman sejak awal kuliah, dirimu sudah kuanggap sebagai saudaraku meski sangat sulit untuk mendekati gadis introvert sepertimu. Jika masa lalumu terlalu berat bagimu, kau bisa menceritakannya padaku. Oh ayolah, Lizzie, you don't believe me!"
Aku menggigit bibir bawah merasa ragu. Aku percaya Emy dan sudah menganggapnya seperti saudara namun jika kuceritakan yang sebenarnya tentang masa laluku, entah mengapa aku merasa takut dia bakal jijik dan menyesal menjadi temanku. Kemudian dengan berat hati kutunjukkan bekas luka di leher kananku pada Emy.
"Apa kau bisa melihat bekas luka ini?” tanyaku membuat gadis itu menyipitkan kedua matanya untuk melihat dengan jelas bekas lukaku.
Dia mengangguk.”Apa kau digigit ular?”
Aku tersenyum tipis lalu menggeleng.”Ini bagian masa laluku, Emy. Bukannya aku tidak mau jujur hanya saja aku takut kehilangan dirimu. Aku takut kau akan merasa jijik setelah mengetahuinya," kataku jujur.
"Then tell me, please!" pinta Emy penuh harap.
Aku tersenyum simpul lalu menggeleng lemah. "Aku akan ceritakan padamu nanti karena waktu berendam sudah habis Ms.Watson," kataku sambil bangkit dari kolam lalu mengenakan handuk putih yang kulilitkan di tubuh. Emy mencibir kesal karena seorang wanita memakai seragam merah maroon menuntunku keluar dari ruangan.
####
"Aku sungguh tidak mau memakai ini, Clara!" kataku kesal pada pegawai salon yang bernama Clara. "Andre gila! Aku mau sweater-ku!"
"Ms.Granger, gaun ini dipesankan khusus untukmu, Nona. Tuan Andre akan datang satu jam lagi, kumohon pakailah gaun indah ini," pinta Clara.
"Hey! Apa kau mau mengecewakan bos-mu, hah? Kau hanya perlu memakainya semalam saja," sahut Emy kesal saat dia sedang dipoles wajahnya oleh make up stylist. Emy mengenakan dress selutut berwarna putih dengan manik-manik yang mengelilingi dadanya serta lace yang menutupi leher hingga d**a.
"Ayolah Ms.Granger, kita harus cepat. Tuan Andre pasti marah jika Anda tidak memakai gaun ini," pinta Clara lagi.
Aku mendecih dengan perasaan marah lalu dengan pasrah aku pun mengangguk lemah mengiyakan untuk memakai gaun itu. Clara pun tersenyum riang lalu menuntunku menuju ruang ganti.
Beberapa menit kemudian Aku keluar dari ruang ganti dan bercermin. Aku menelan ludah, lalu berbalik. God! punggungku begitu terekspose hingga batas tulang ekor. Mutiara itu begitu indah mengelilingi punggungku. Aku berbalik lagi, dadaku terlihat hampir terbuka meski mutiara-mutiara itu menutupi bagian d**a.
"Sungguh menakjubkan, kau sungguh cantik, Ms.Granger," puji Clara dengan mata berbinar.
“Oh, Tuhan, bukankah ini sangat terbuka? Aku tak nyaman Clara,” rengekku.”Apa tidak ada gaun lain yang lebih sopan?”
“Maafkan aku, Nona, tapi ini perintah Tuan Andre,” kata Clara dengan ekspresi sedih.”Jika saya tidak melaksanakan perintahnya, tuan akan memecat saya.”
Kuhela napas pasrah sambil kembali memandangi tubuhku dari cermin itu.”Kulakukan ini untukmu Clara, aku tidak mau Andre marah-marah di tempat ini apalagi sampai memecat pegawainya," kataku.
Clara hanya tersenyum tipis lalu ia mulai memoles wajahku.
####
Samar-samar aku mendengar suara Andre sedang berbincang dengan Emy di luar. Clara sedang menyanggul rambutku setelah selesai dia merapikan sisa-sisa rambut yang terurai di dekat kedua telinga. Lalu dia memasangkan anting berbentuk mutiara senada dengan gaun hitamku.
Kupandangi diriku dari cermin sambil tersenyum tipis. Entah karena gaun berhias mutiara ini atau wajahku yang disulap Clara sehingga diriku terlihat begitu cantik. Clara memandangku dari cermin sambil memegang bahuku bangga.
"Kau sungguh cantik, Nona. Tuan Andre tak salah membawa gadis seperti dirimu, kau yang pertama di sini," kata Clara dengan senyum merekah.
“Bukankah dia berhubungan dengan.…”
“Oh, dia sudah lama putus,“ kata Clara dengan mantap memotong kalimatku.“Aku yakin kau akan menjadi yang terakhir untuk Tuan Andre.”
"Aku bukan teman kencannya, aku hanya pegawai barunya Clara," kataku sambil memandangnya dari cermin. "Bisakah kau membantuku?"
Clara mengangguk. "Iya, apa pun untukmu."
"Tolong tutupi bagian ini," pintaku sambil menunjukkan bekas lukaku.
Ekspresi gadis itu sedikit terkejut. "Itu tak terlihat dari kejauhan, tapi … baiklah, apa pun untukmu."
Beberapa menit kemudian Clara keluar dengan wajah bangga sambil menuntunku melangkah perlahan. Aku melihat pria yang memunggungiku dengan setelan jas hitamnya berbicara dengan seorang wanita yang berpakaian sama dengan Clara. Wanita di depannya melirikku memberi kode pada pria di depannya lalu pria itu membalikkan badan.
Pria m***m itu menatapku tanpa berkedip saat aku telah berada di hadapannya. Dia tersenyum tipis dengan iris mata biru samudranya itu. Aku sendiri juga sedikit terpesona dengan gaya Andre yang maskulin dan lebih segar. Menundukkan kepala merasa malu dengan kedua pipi yang terasa panas, belum lagi dia masih menatapku tanpa berkedip. Aku rasa pendingin di ruangan ini tidak berfungsi, sungguh saat di dekatnya rasanya tubuhku panas sekali.
"Aku tahu gaun ini memang cocok untukmu, Nona pemberontak," ucap Andre.”Dan kata pengawalku, kau memanggilku pria m***m? Bisakah kau hilangkan stigma itu di kepalamu?”
Aku memberanikan diri menatap manik matanya."Kau yang memaksaku memakai gaun terbuka ini, tentu saja sebutan pria m***m cocok untukmu," kataku tak mau kalah.
“Tapi kau cantik.”
"Dia luar biasa, Tuan," sahut Clara lalu ia melangkah masuk ke dalam ruang make up meninggalkan kami.
"Ini semua terlalu mahal, Mr.Jhonson. Kau menghabiskan dollarmu hanya untuk pesta yang bahkan tak co―"
Pria m***m itu berhasil membungkam mulutku dengan mulutnya. Mengecupku cepat membuatku terkejut bahkan tak sempat menutup kedua mata secara spontan.
"Aku mengajakmu bukan karena kau gadis kaya atau bukan Ms.Granger. Tapi aku menginginkamu datang menemaniku," kata Andre sambil mencium bahu kananku. "Bahkan kau pintar menyembunyikan bekas lukamu. "
“Jangan cium aku seenaknya, Andre,” dengusku sambil menghindarinya.
"Oh, ayolah, aku suka menciummu, Elizabeth,” katanya dengan nada manja.”Apa kau meminta Clara untuk menutupnya?" tanya Andre menatap kedua mataku.
"Tentu, aku tidak ingin orang lain tahu akan hal ini, Sir," kataku sambil mengalihkan pandanganku. “Cukup dirimu saja yang membuat hidupku repot.”
Andre tersenyum sinis lalu dia menarik tubuhku dan mencium leherku lagi membuatku mencengkeram lengannya karena terkejut untuk kedua kalinya.
"Aku baca di buku jika ciuman bisa dijadikan terapi pada wanita yang depresi,” katanya bermonolog. “Jadi mulai detik ini kubuat kau terbiasa dengan sentuhanku," bisiknya di telinga kananku sambil membelai lekuk punggungku dengan jemarinya membuat wajahku semerah tomat.
"Sebaiknya jauhkan tangan dan bibirmu dari tubuhku,” kataku tak nyaman.”Ngomong-ngomong aku tidak melihat Emy, ke mana dia?"
"Dia bersama adikku, Sam. Mereka telah berangkat. Ayo, Ms.Granger, kita berangkat, aku tak mau membuat Ibuku lama menunggu untuk bertemu denganmu."
Dia pun melingkarkan tangan kanannya di pinggangku membuatku berjingkat. Dia hanya tersenyum miring lalu melangkah membawaku ke sebuah limosin berwarna putih. Di dalam limosin itu dia menggenggam erat tanganku sambil sesekali mencium bahuku dengan tatapan tajamnya.
Tenanglah Lisa… anggap saja ini bagian dari terapi facing fears. Jika kau panik tinggalkan Andre dan panggil Emilia sebagai wonder woman-mu.