Bab 4

3478 Words
“I pray for this heart to be unbroken.” –Backstreetboys- ***** “Daddy?” panggilku saat mendapati diriku berada di sebuah ruangan serba putih.”Mom?” Hening. Tidak ada siapun selain diriku sendiri. Kupeluk tubuhku dengan perasaan takut. “Daddy? Aku takut … jangan sembunyi … Mommy?” “Jangan takut my little girl. I’ll always in your heart.” Terdengar suara Ayah membuatku menoleh ke belakang. Aku tersenyum ingin menghampiri pria kesayangaku itu. Tapi, tiba-tiba seseorang menusuk Ayah dari belakang membuat dirinya jatuh dengan darah segar yang merembes dari perutnya. Aku berteriak histeris melihat tubuhnya tergeletak tak berdaya. Kuhampiri tubuh Ayah lalu kupeluk sambil menekan luka di perutnya. “Dad ... Daddy… please … jangan pergi, Dad!” teriakku lalu mendongak dan terkejut melihat siapa yang membunuh Ayah. “You’re mine my little b***h girl.” Kemudian ruangan itu gelap lalu kembali terang. Kini aku berada di rumah lama di Dallas saat aku berusia tujuh tahun tepatnya ketika kenangan itu dimulai. Kulihat ada tiga orang duduk di ruang makan layaknya keluarga kecil yang begitu bahagia. Dengan penasaran, kulangkahkan kaki perlahan mengitari mereka untuk melihat flashback diriku yang masih kecil duduk di samping ayah tiriku―Uncle Bill―dan di depan gadis kecil itu adalah ibuku. Kubungkam mulutku saat kulihat diriku yang masih kecil yang tidak tahu apa-apa disentuh oleh tangan pria itu bahkan saat kami sedang makan malam dengan wajah tanpa dosanya. Bukankah, aku mirip jalang kecil? Batinku sambil menangis. Air mataku mengalir deras melihat laki-laki kurus dan pucat ketika tangan kanannya dengan lihai menyingkirkan dress pink favoritku yang menutupi paha. Lalu dia mengelus paha kecilku itu sambil menatap tajam pada diriku yang mulai tak nyaman dengan apa yang dilakukan olehnya. Pria itu memberi isyarat untuk bersikap biasa saja di depan Ibu lalu mendekatkan mulutnya tuk mencium puncak kepalaku seraya membisiki di telinga kiriku. “Diamlah atau kusayat tanganmu lagi,” bisiknya sambil tersenyum begitu lebar membuat diriku yang masih kecil hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah ketakutan.”You don’t wanna your Mom die, right?” Aku ingin melemparinya dengan vas bunga di dekatku namun seolah aku ini hanyalah sebuah bayangan yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya melihat kejadian demi kejadian itu. Tak kuat melihat semuanya, Aku meringkuk sambil memeluk kedua lutut merasa jijik pada diriku sendiri. Itu bukan laki- aki yang kuinginkan untuk menjadi pengganti Ayah meski awalnya dia begitu baik padaku. Dulu, ingin sekali kuberitahu Ibu bahwa laki-laki yang dinikahinya tak pantas jadi suaminya. Namun, dulu aku tak berani karena laki-laki itu selalu mengancam bahwa dia bisa saja membunuh Ibu kapan pun dia mau. Bahkan dia sempat menyayat lengan kiriku dengan pisau dan mengatakan pada Ibu bahwa aku mulai gila karena melukai diriku sendiri tanpa sebab. Lalu diriku terhempas kembali ke tempat berbeda. Mendongak mencoba bangkit dengan rasa sesak di d**a. Kuhapus air mata dan melihat kembali kejadian lain di mana laki-laki itu mencuri-curi kesempatan untuk menyentuh tubuhku di saat Ibu tidak ada di rumah. Membelai paha, meremas d**a, bahkan bermain di area kewanitaanku meski aku belum pubertas saat itu. Dia hanya menggunakan tangannya untuh menjamah tubuhku. Aku sungguh ingin berontak pada iblis itu. Bagaimana Ibuku bisa menikah dengannya?. Aku terbangun dari tidur dengan keringat dingin yang bercucuran dan napas terengah-engah dengan d**a begitu sesak seolah ditindih sebuah batu besar. Mimpi buruk lagi, batinku. Kuusap wajah dengan gelisah sambil berpikir kenapa memori itu kembali lagi setelah dengan susah payah aku berhasil melupakannya. Kuacak rambut penuh frutasi dan merasa takut jika mimpi ini akan membuatku seperti orang gila seperti dulu. Aku benar-benar harus menemui psikiaterku secepatnya. Meraih Iphone yang kuletakkan di atas nakas di sisi kanan yang ternyata masih menunjukkan pukul dua pagi. Mencoba kembali tidur namun kedua mataku sulit terpejam setelah mimpi buruk itu. Sial! kurasa, aku insomnia lagi. Sejenak pikiranku terlintas bayangan Andre sambil meraba bekas luka di leher. Bekas luka itu … bagaimana Andre bisa tahu? Selama ini tidak ada seorang pun yang tahu tentang bekas luka itu kecuali Dokter Margaretha dan Ibu. Bahkan William pun tak tahu meski Ibu telah membuka masa laluku padanya. Emy juga tak tahu meski kami kenal dekat layaknya saudara. Tapi, kenapa Andre yang baru kukenal dalam seminggu bisa mengetahuinya? Kenapa? Aku melirik kotak berisi sepatu merah yang diberikan oleh Andre yang tergeletak di atas meja dekat jendela di sisi kanan kamar. Pada akhirnya Ketty tak mau menerima sepatu itu walau kupaksa bahkan aku rela menraktirnya makan siang selama seminggu. Kuhela napas panjang, sebenarnya dia pria yang cukup peduli hanya saja kadang aku tak bisa menerima perlakuannya yang begitu bossy dan aku juga merasa tak pantas jika menerima perlakuan seperti itu dari seorang pria. Namun, jika dipikirkan kembali, apa sebaiknya aku memakai sepatu itu saja? Kapan lagi, kan, aku memakai sepatu dengan harga ribuan dollar apalagi itu pemberian dari seorang big boss? Tak lama kemudian ponselku bergetar. Kuambil ponselku lagi dan melihat sebuah pesan masuk dan itu dari Andre. Lagi? Sender:Mr.Jhonson Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, Ms.Granger. Aku juga masih penasaran dengan bekas lukamu itu. Bahkan aku tak sabar untuk menidurimu sekalipun kau lesbian. Aku tarik ucapanku tentang perminta maafan itu. Sender : Mr.Jhonson Aku juga tak percaya kau lesbian. Astaga! Aku terkejut membaca pesan dari Andre yang menurutku diluar batas komunikasi antara karyawan dengan bos. Dengan kesal kuletakkan ponselku kembali lalu menarik selimut hingga menutupi kepala. Aku pikir dia akan berbeda setelah mengatakan maaf, tapi yang namanya pria m***m tetap saja m***m sampai kapan pun. #### "Lizzie!!!" teriak Emy di depan pintu kamar mandi saat aku sedang membersihkan tubuhku. "Ada paket untukmu!!!" Aku mengerutkan kening. Paket? Untukku? Dari siapa? Ibu tak mengabariku jika dia mengirimi sesuatu, pikirku sambil menggosok tubuh dengan sabun lalu segera membilasnya dengan air. Cepat-cepat kukeringkan tubuh dengan handuk. "Dari siapa?" tanyaku saat keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuh. Aku melangkah mendekati sebuah paket yang dibungkus kertas berwarna merah muda yang diletakkan Emy di meja ruang tamu. Membolak-balikkan paket yang cukup besar itu, tidak ada nama, tidak ada surat. Aneh, pikirku. Dengan malas kuletakkan paket itu lagi. "Aku tidak tahu. Bahkan kurir yang mengantarkannya juga tidak ingin memberitahuku," kata Emy sambil membawa dua mangkuk sereal. Emy meletakkan salah satu mangkuk itu di atas meja lalu mendaratkan pantatnya di sofa. "Hei, aku baru sadar kalau kau tidak pernah cerita padaku tentang dia," ucapnya lagi dengan menekankan kata 'dia' sambil tersenyum penuh arti. Aku memutar bola mata lalu berkata,”Aku pakai baju dulu.” Di kamar, aku memilih mengenakan midi skirt putih dengan atasan kemeja berwarna kuning polos. Setelah memakai make up tipis, aku keluar kamar dan bergabung dengan Emy seraya mengambil mangkuk sereal dan mulai melahapnya. “Jadi bagaimana tentang dia?” tanya gadis itu sekali lagi. Aku menelan serealku dan menatap gadis di depanku ini. ”Em, apa kau marah padaku karena aku tidak berbagi denganmu?” Emy terdiam lalu dia tersenyum tipis lalu berkata, “Awalnya ya, tapi … aku berpikir kembali bahwa itulah dirimu. Kau tidak membagi rahasiamu sampai kau memantapkan hati untuk membaginya, kan?” Aku mengangguk sambil tersenyum tipis.”Maafkan aku, Em. Mungkin aku memang bukan teman yang baik untukmu.” Gadis itu menepuk pundakku. ”Jangan dipikirkan, Elizabeth,  I always with you. Now tell me about him!” Ini ketiga kalinya gadis itu menanyakan ‘dia’ yang kutahu maksud dari perkataan sahabatku itu. Siapa lagi kalau bukan Alexandre Jhonson. Big boss m***m dan sombong itu. "Bagaimana dia ? He's hot, isn't he?" "Ya, lumayan untuk pria m***m dan sombong seperti dia," kataku datar sambil melahap sereal tanpa memandang wajah Emy. ”Aku baru tahu jika dia big boss.” Emy hampir saja memuntahkan serealnya sambil melotot tajam mendengar kalimatku. "Kau ke mana saja selama seminggu Eliza!” dengkusnya.”Dan apa katamu tadi? Lumayan? m***m? Sombong? Oh God, He is the most handsome and sexsiest man ever, You know! Kaya, seksi, tampan, lulusan Oxford, aktif di kegiatan anak-anak panti asuhan, umurnya masih muda. Apalagi yang kau inginkan? Tapi dia playboy kelas kakap meski sebenarnya sebutan itu tidak cocok untuknya," jelasnya dengan berapi-api sambil meraih ponsel di atas meja di depannya. Gadis itu mengutak-atik benda persegi panjang itu lalu menyodorkannya kepadaku. Emy memperlihatkan deretan berita tentang Andre dari internet yang cukup banyak. Aku membaca judul-judul berita itu dengan tak minat lalu mengembalikan ponselnya. Semuanya selalu berkaitan dengan perempuan. "Aku telah menelusuri fotonya di internet. Astaga, lihat deretan wanita di sana," kata Emy sambil mengklik gambar di ponselnya lalu muncul deretan gambar Andre menggandeng wanita yang berbeda lalu menunjukkannya padaku lagi. "Mereka semua model seksi Amerika tapi tak ada satu pun yang bertahan lama dengan pria itu. Jika aku hitung sih hanya sekitar seminggu atau dua minggu setelah itu putus dan dia mendapatkan kekasih baru. Skandalnya dengan model majalah―Angelina Smith―pun sekarang tak dibahas lagi, kan, di televisi? Padahal kupikir mereka akan langgeng dan sempat kupikir mereka itu saling mencintai,” lanjutnya panjang lebar dengan menggebu-gebu seperti gadis remaja yang sedang bertemu Ryan Gosling. "Oh, Ms.Watson, apa bisa kusebut kau seroang stalker handal?”, dengkusku. “Kau sungguh peduli dengannya, bisakah kita akhiri pembicaraan tentang dia?" Aku mulai merasa jengkel sambil bangkit untuk meletakkan mangkuk ke tempat cuci piring. “Bukan stalker, hanya penasaran saja,” jawab Emy sambil tertawa. "Kau tak membuka paket itu?" teriaknya dari ruang tamu. "Tidak. Biarkan saja Emy, nanti kubuka!" teriakku tak kalah nyaring. "Mumpung hari minggu, aku akan pergi sebentar." "Where will you go? Apa perlu kuantar?" tanya Emy yang datang dari belakangku. Dia meletakkan mangkuknya untuk kucuci. "Tidak, terima kasih. Aku ada urusan. Kau bisa kencan dengan Gilbert di sini," godaku sambil tersenyum. "Setidaknya aku tidak diabaikan saat kalian b******u. " "Oh, sial kau!" umpat Emy dengan muka merah merona. ”Kami hanya teman!” #### Untung saja penerbangan dari New York ke Florida sudah kuatur jauh-jauh hari. Setidaknya, dalam satu hari ini aku harus kembali ke New York sebelum Emy curiga padaku. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, berarti aku masih memiliki sekitar tiga belas jam lagi untuk kembali ke apartemen. Ah, semoga pesawatku nanti tidak tertunda. Kulangkahkan kaki di sebuah praktek klinik milik Dokter Margaretha yang letaknya 10 km dari kampusku, University of Florida. Bau aroma pohon pinus kesukaan wanita bermata cokelat hazel itu menyeruak di seluruh klinik. Masih sama dengan terakhir aku datang enam bulan lalu sebagai kunjungan rutin jika ada masalah yang tidak bisa kuungkapkan pada orang lain. Aku tersenyum simpul ketika seorang perawat berambut ikal menyambutku dari meja resepsionis. "Selamat siang, Ms. Granger, lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?" tanya perawat itu. "Ya, aku baik Christina, terima kasih. Apakah Dokter Margareth sibuk? Aku lupa tidak mengiriminya pesan." "Tidak, beliau sekarang tidak sibuk. Tapi nanti jam dua siang, beliau harus mengunjungi pasiennya di rumah sakit," kata Christina. Aku mengangguk paham. "Ayo kuantar,Lisa." Christina mengantarku sambil membawa map rekam medisku. "Terima kasih," jawabku sambil melangkah mengikutinya dari belakang. Tok! Tok! Tok! Christina membuka knop pintu dan mendapati Dokter Margaretha sedang menulis sesuatu di bukunya. Ia mendongak menatap Christina lalu pandangannya beralih padaku yang berdiri di ujung pintu. “Selamat siang, Dokter,” sapa perawat itu.”Ada Ms. Granger yang ingin konsultasi.” "Selamat siang, Oh, Lizzie! Masuklah, Sayang," sambut Dokter Margaretha menyilakanku duduk di sofa berbahan suede warna biru di samping meja kerjanya. Christina menyerahkan rekam medisku pada Dokter itu lalu dia meinggalkan ruangan. "Bagaimana kabarmu, Sayang? Kau terlihat sedikit pucat," kata Dokter Margaretha membuka rekam medis sambil melangkah ke arahku. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi hampir tiga hari ini aku tidak bisa tidur," jawabku saat dia mendaratkan pantatnya di sofa. "Dan ada sesuatu yang membuatku teringat lagi akan hal itu," kataku lirih sambil menunduk. Oh, aku benci jika harus menceritakan mimpi burukku lagi. "Oh, Sayang, ceritakan padaku," pinta wanita itu.”Kau tahu sendiri 'kan bahwa apapun masalahnya kita bisa menyelesaikan bersama?” "Ada seseorang yang tahu bekas luka itu. Dia berusaha ingin tahu kenapa aku memilikinya dan … dia suka menyentuhku. Anda tahu kan, Mam, aku tidak pernah dekat dengan lelaki sejak saat itu karena selalu takut. Dan ... sejak aku bertemu dengan pria ini, aku mendapat mimpi buruk itu lagi. Maksudku seperti ada seseorang yang ingin membuka memori itu lagi seperti seseorang ingin menghancurkan dinding yang sudah kubuat selama empat belas tahun ini." Sial! suaraku terdengar gemetaran. Aku benar-benar terlihat lemah. "Sejak kapan hal itu terjadi?" tanya Dokter Margaretha menatapku lekat. "Hampir dua minggu, Mam. Tapi setelah bertemu orang itu, dia ... dia seolah membuka kembali apa yang seharusnya kulupakan. Aku ... aku takut ... aku takut dan merasa setiap kali dia menyentuhku seperti dia menyeretku ke masa lalu, Mam. Apalagi, dia..." Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas lalu menunjukkan pesan Andre pada dokter itu. Aku tidak bisa membaca perubahan ekspresi psikiaterku itu. Namun aku bisa menyimpulkan bahwa dia sedikit terkejut. "Boleh kutahu siapa Mr.Jhonson? Dan apa hubungannya denganmu, Sayang?" tanya Dokter Margaretha sambil mengembalikan ponselku. "Ehm ... dia ... dia atasanku, Mam. Aku diterima di perusahan Jhonson's Corp di New York. Tapi,  aku tidak menjalin hubungan apapun dengannya. Hanya saja dia sering menggodaku," kataku dengan sedikit kesal jika mengingat wajah Andre. "Apa dia sedang menjalin hubungan dengan perempuan lain?" "Untuk saat ini aku tidak tahu, tapi aku melihatnya berfoto bersama wanita yang berbeda di internet," kataku sambil menatapnya. "Apa yang harus kulakukan,Mam? Bahkan dia memberiku sepatu ini." Aku membuka kotak sepatu yang kubawa lalu membukanya dan menunjukkannya pada wanita paruh baya itu. "Anda tahu, dia mengeluarkan tiga ribu dollar hanya untukku pegawai yang belum sebulan di sana," kataku dengan frustrasi. "Dia bersikap sok peduli pada wanita seperti diriku tapi aku tidak bisa menerimanya, ini berlebihan, Mam. Aku merasa tak pantas menerimanya, apakah aku harus mengundurkan diri? Aku bingung dan takut." "Oh, My Dear, bukankah dia memang mempedulikanmu? Maksudku, jarang ada bos seperti itu, 'kan?" kata Dokter Margaretha sambil tersenyum tipis. "Dan menurutku lebih baik kau hadapi rasa traumamu seperti yang sudah kuajarkan. Kau tahu kadang pria mendekati wanita cantik sepertimu dengan berbagai cara. Lebih baik pula kau bertahan di sana, bukankah itu impianmu? Aku lupa bahwa ibumu pernah memberitahuku tentang impianmu untuk bekerja di perusahaan besar itu. Jangan sia-sia kan pekerjaanmu hanya karena dia, Eliza. Siapa tahu dialah orang yang mampu menghilangkan rasa traumamu,"lanjutnya. Aku mengangguk sambil menarik garis mulutku tipis. Dokter itu benar, seharusnya aku menghadapi trauma itu seperti yang diajarkannya sejak empat belas tahun lalu. Memikirkan hal positif bahwa aku adalah gadis yang unik. Perusahaan tempatku bekerja sekarang pun juga perusahaan impianku sejak kecil yang suka dengan dunia penerbitan. “Tapi bagaiman jika metode pengalihan yang kau ajarkan itu tidak mempan?” Dokter itu berpikir sejenak lalu berkata,”Bagaimana jika kita coba metode facing fears?” “Apa itu?” “Facing fears. Tehnik ini melibatkan dirimu yang harus melawan traumamu dengan menyentuh pria, Elisa,” kata wanita itu membuatku terkejut. ”Aku tahu jika kau akan terkejut. Tapi ... jika dilihat dari hasil penelitian para pakar, ini bisa mengurangi kecemasanmu sebagai seorang dengan PTSD.” “Haruskah?” Dokter itu mengangguk. ”Tidak perlu terburu-buru. Yang pertama kau bisa melihat salah satu foto pria atau bos-mu saja sebagai contohnya. Setelah kau tidak merasa panik dan takut, kau lanjut ke tahap dimana kau berdiri atau berada satu ruangan bersama pria tapi pastikan kau bawa teman yang kau percaya untuk berjaga-jaga jika kau tidak bisa mengendalikan rasa panikmu, dan jika sudah terbiasa … kau coba berbincang dengannya dan semakin kau bisa melewati tahap ini kau bisa menyentuh orang itu dengan sekedar menjabat tangan bukan secara terpaksa, menepuk pundak, atau jika kau bisa kau bisa memeluk pria yang kau anggap kau percaya dengannya.” Aku mendengar penjelasan Dokter Margaretha meski sebenarnya secara tidak langsung aku sudah bisa beradaptasi dengan pria dalam satu ruangan meski harus dalam jarak yang tidak dekat dan harus ada pendamping. Jika disuruh berjabat tangan , wanita paruh baya itu benar, aku sering melakukannya dengan terpaksa. Dan terakhir ... memeluk? bahkan menyentuh pundak pria pun tak pernah. "Apa kau paham, Nak?” tanyanya membuatku menggeleng.”Ada yang ingin kau utarakan lagi, Lisa?" Tiba-tiba aku teringat ada seseorang yang menguntitku semenjak di berangkat ke Florida. Tapi, setiap aku menoleh mencari seseorang yang mencurigakan, tidak kudapati apa pun. "Mam, apa Anda pernah diikuti orang lain? Maksudku, aku merasa ada yang mengikutiku saat perjalanan kesini. Entahlah, itu ilusiku atau bagaimana. Aku tidak tahu," kataku. "Kau yakin kalau kau melihat penguntit itu?" tanya Dokter Margaretha dengan wajah penasaran lalu menggeser tempat duduknya untuk lebih dekat denganku. "Tidak, hanya saja instingku berkata ada orang lain yang mengawasiku. Dan aku baru menerima paket aneh pagi ini." "Paket? Apa itu?" "Aku belum membukanya, tapi sepertinya itu sesuatu yang besar, entahlah." "Sayang, kau harus lebih hati-hati. Kau bisa meminta seseorang untuk menjagamu juga. Apa aku perlu memberitahu Ibumu dan William?" "Tidak! Jangan! Apalagi Will. Aku sudah cukup menyusahkan Mom dengan masa laluku. Saat ini aku memiliki Emy yang lebih dekat denganku." "Bagus, pastikan kau aman. Dan ini kuberikan kau resep obat, ini obat yang bisa menenangkan saat kau mendapat mimpi buruk. Kuharap kau bisa tidur nyenyak hari ini, lihat lingkaran mata kamu semakin jelas." Aku menerima secarik kertas yang berisi dua nama obat. "Terima kasih telah mendengarkanku," kataku sambil bangkit dari dudukku lalu menjabat tangan wanita paruh baya itu. "Sama-sama, Dear. Jika ada waktu datanglah ke rumah." #### Perjalanan yang cukup jauh dari Florida ke New York meski menggunakan pesawat bisa memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Setelah sampai di bandara Jhon F. Kennedy, aku langsung menaiki taksi takut jika pulangku terlalu malam mengingat sekarang sudah pukul sepuluh malam. Setelah sampai di depan gedung apartemen yang terletak di pemukiman Kips Bay, kulangkahkan kedua kaki dengan cepat karena merasa ada seseorang yang mengikutiku sejak berangkat ke Florida . Menyusuri lorong apartemen sambil  berdoa dalam hati mengucapkan doa-doa kecil yang bisa menenangkan hati dan pikiran buruk yang mulai menjalari kepalaku. Sialnya, lorong apartemenku begitu terlihat sepi dan terlihat mencekam dengan udara yang terasa begitu dingin di kulit padahal ini masih musim panas. Kupercepat lagi langkah kaki tak berani menoleh ke belakang menuju lift di depanku. "Ms.Granger!" suara yang khas memanggil namaku dari belakang, membuatku otomatis menghentikan langkah tanpa menoleh ke arah si pemanggil suara itu."Ms.Granger," panggil orang itu lagi sambil membalikkan badanku menghadap dirinya. "Mr.Jhonson!” seruku. “Apa yang kau lakukan di sini?” Kuintip lorong di belakang Andre dari balik badan besarnya membuat pria itu mengikuti apa yang kulakukan. "Apa yang kau lihat?" tanya Andre heran.”Apa kau takut?” "Bukan urusanmu, Sir!" ucapku ketus lalu meninggalkan Andre menuju lift dan menekan tombol naik sembari menunggu pintu lift terbuka. "Itu menjadi urusanku juga, Nona. Kau bawahanku dan a―" "Dan kau adalah atasanku, I know it well, Sir. Dan kumohon jangan mengikutiku!" dengkusku saat pintu lift terbuka lalu masuk ke dalamnya. Sebelum pintu lift menutup, tangan kanan Andre meghentikanya lalu dia pun masuk ke dalam lift dengan cepat lalu menekan tombol angka 25. Aku menyipitkan mata, jelas-jelas itu bukan lantai apartemen yang kutuju. "Kau ... kau sung―" Belum sempat aku meneruskan kalimat, pria sombong itu mendorong tubuhku hingga terhimpit di sudut lift. Bibirnya mencium bibirku dengan kasar. Aku berusaha berontak dengan sekuat tenaga. Kupalingkan wajahku menghindari ciumannya sambil mengumpat kasar. Dia merasa frustrasi lalu ditariknya daguku dengan tangan kirinya. Digigitnya bibir bawahku membuat diriku mengerang kesakitan. Lidahnya menjelajahi mulutku dengan liar. Andre menang, dia meminta lebih, lidahnya tak hentinya melilit lidahku. Aku tak berdaya dengan ciuman bertubi-tubi darinya. Aku sungguh butuh udara namun Andre seolah tak mengijinkannya. Bibirnya masih betah melumat bibirku yang hampir bengkak. DING!!! Dia menghentikan aksinya ketika pintu lift terbuka. Napasnya cepat dan tak beraturan begitu juga denganku. Kami berdua saling menatap tanpa ada yang membuka suara. Dia terlihat puas mencium bibirku dengan seringainya dan tatapannya yang dingin. DING!!!! Pintu lift menutup kembali. Aku pun memencet tombol lantai 12. "Jangan membantahku jika kau tak ingin kucium seperti tadi," kata Andre membuka suara. "Kau membuatku emosi, Elizabeth Granger. Belum pernah ada wanita yang menolakku tapi mulut pintarmu itu membuatku ingin melumatnya." "Kenapa? Kenapa kau melakukannya?" tanyaku dengan bibir bergetar. Kupikir Dokter Margaretha salah jika dia berkata bahwa Andre bisa menjadi salah satu pria yang kujadikan objek terapi facing fears. "Karena aku menyukaimu," jawab Andre tegas dengan kedua manik matanya yang menatap lekat padaku. Aku mengerutkan kening lalu tertawa kecut. "Kau bahkan tak mengenalku, Sir!" ejekku sambil melipat kedua tangan di d**a. "Berapa banyak wanita yang telah terbuai dengan bualanmu itu, huh? Berapa banyak wanita bodoh yang mau tidur dengan pria m***m dan sombong seperti dirimu? Berapa kali kubilang, Tuan Jhonson, aku lesbian." "Sudah kukatakan juga, kan, aku tidak peduli walau kau lesbian, Elizabeth Granger,” kata Andre.“Aku menyukaimu dan bantu aku untuk bisa mengenalmu, Ms.Granger.” DING!!!! Pintu lift terbuka yang menunjukkan lantai 12. Aku melangkah dengan cepat keluar dari lift lalu memencet tombol agar Andre tidak mengejarku lagi. "Kau tak perlu mengenalku lebih jauh, Andre!" desisku sebelum pintu lift tertutup sempurna.”Aku tidak pantas untukmu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD