“My first mistake was loving you.”
–Brian McFadden-
“Eliza?” panggil seseorang dengan suara lembutnya ketika aku berdiri di ladang rumput belakang rumah. Aku menoleh dan terkejut mendapati sosok pria bertubuh tinggi dengan baju kemeja coklat kesayangannya sambil tersenyum lebar ke arahku.”Don’t you wanna hug me, my little girl?”
Mengerjapkan kedua mata memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Pria itu mengangguk sambil tersenyum sekali lagi. Refleks kedua kaki kecilku berlari sekuat tenaga berusaha menggapai tubuh pria itu―ayah kandungku―yang telah lama hilang. Dia menangkap tubuhku lalu berputar sambil mengayunkan ke udara seolah kami sedang mencoba menggapai langit. Kupeluk erat tubuh ayah sambil menangis sesenggukan.
“Where have you been, Dad? I miss you so much, and….”
“I’m with you my little girl,” kata ayah memotong kalimatku lalu melepas pelukannya dan menatapku sambil menghapus jejak air mataku,”don’t cry.”
“You lied to me,” kataku. "Don’t leave me alone, Dad.”
Kudekap tubuh ayah seolah tak ingin kehilangan tuk kedua kalinya. Lalu perlahan kudengar suara tawa ayah yang membuatku terkejut. Inginku melepaskan diri namun dia malah mempererat pelukannya membuatku sesak napas.
“Eliza….” Suara ayah tiba-tiba berubah menjadi sura pria itu. Aku panik dan ingin segera melepaskan diri darinya. “I wanna hug you my little b***h girl.”
Dia melepaskan pelukannya sambil tertawa membuatku kembali kepada memori empat belas tahun lalu. Aku berteriak sambil menutup kedua telinga tak mau mendengar suara pria itu. Beberapa detik kemudian, seperti ada angin kencang yang membawa tubuhku terhempas jauh dan terlempar di suatu tempat. Aku melihat sekeliling dan kusadari kini berada di kamarku.
Pandanganku terhenti pada seorang gadis kecil berambut coklat yang tidak bisa bergerak walau seberapa kuat dia berusaha. Kedua tangannya terikat di atas kepala. Kaos dan celananya telah dilucuti, hanya tinggal celana dalam bergambar barbie-nya yang masih menutupi k*********a. Kedua kakinya juga terikat di tiang pada kedua sisi tempat tidur.
Gadis kecil itu memohon kepada seorang laki-laki kurus dan pucat yang menatapnya dengan tatapan penuh nafsu. Berulang kali gadis itu memohon untuk berjanji menjadi anak baik namun hanya tawa yang didapatkannya dari mulut laki-laki itu.
Tubuh kurus lelaki itu menindihnya lalu mencium dengan bringas tanpa ampun membuat gadis itu berteriak merasa jijik sambil berulang kali memohon pada laki-laki itu.
"Ayah ... jangan ... jangan ... kumohon, Ayah," rengek gadis itu sesenggukan namun perkataannya tak dihiraukan oleh laki-laki di depannya.
Tubuhku merosot ke lantai seolah tidak sanggup lagi melihat adegan itu sambil menangis dan menutup kedua telinga dengan kedua tangan. Tubuhku bergetar hebat ikut merasakan apa yang dirasakan gadis kecil itu dan tiba-tiba kedua tangan besar lelaki itu mencengkeram kedua bahuku dengan seringaiannya yang menakutkan sambil mendekatkan wajahnya untuk menicumku membuatku berteriak histeris.
"Eliza, hey, Eliza, bangun!!" teriak Emy mengguncang tubuhku.
Kubuka kedua mata yang begitu terasa berat dengan napas tersengal-sengal serta keringat dingin yang membasahi tubuh. Kucoba mengumpulkan seluruh nyawa sambil menerawang langit-langit kamar. Beberapa kali mengerjapkan mata tuk meyakinkan diri bahwa aku masih berada di New York, entah kenapa rasanya aku sedang pergi ke dimensi kehidupan lain. Kupandang Emy lalu bangkit dan memeluk tubuhnya dengan erat sambil menangis.
"Oh Tuhan, aku takut Emy, aku sungguh takut," kataku dengan suara gemetar jika mengingat mimpi buruk itu.
"Kau membuatku lebih takut Lizzie, what's wrong with you? Bad dream?."
Emy menatap kedua mataku sambil menghapus jejak kristal bening yang masih mengalir di pipi dengan kedua jempolnya. "Tell me, please."
Aku menggeleng lemah. "Aku tidak apa-apa, hanya mimpi buruk biasa, Emy." Berusaha untuk tersenyum namun rasanya sungguh kaku tuk menarik garis senyum di bibirku. Kucoba rebahkan kembali tubuhku di ranjang sambil menarik selimut hingga menutupi hidung.
"Jangan bohong Eliza, aku mendengar teriakanmu dari kamarku. Jika kau perlu teman tidur, aku bisa pindah," pinta Emy dengan wajah cemas, "sungguh apa yang terjadi? "
Aku menggeleng lemah. ”I’m really fine, Emilia. Tidurlah kembali, selamat malam.”
"I know you’re not,” katanya dengan sedih. "Tidurlah yang nyenyak, selamat malam." Lalu dia beranjak keluar dari kamarku.
Aku memandang punggung gadis itu hingga dia menutup pintu kamarku. Kutarik selimut hingga benar-benar menutupi seluruh tubuhku kemudian kembali menangis. Sungguh sekarang aku sangat takut jika menutup kedua mata lalu mimpi itu akan kembali.
Kenapa mimpi itu kembali muncul? Apa yang terjadi padaku?
####
Hingga sinar matahari datang menyinari sela-sela jendela kamar, aku belum bisa memejamkan kedua mata. Alarm dari Iphone milikku berbunyi nyaring membuatku terpaksa bangun dari kasur. Kuhela napas sambil mengusap jejak air mata dan melangkah keluar kamar menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
“Lizzie?” panggil Emy yang keluar dari kamar mandi dengan handuk pink yang melilit tubuh putihnya. ”Matamu bengkak sekali. Apa benar kau bisa tidur semalam?”
Aku menggeleng lemah.”Aku berusaha namun pada akhirnya aku tidak bisa tidur lagi, Em.”
Emy memberiku jalan untuk masuk ke kamar mandi lalu aku segera bercermin dan mendapati kedua mataku sudah seperti panda dan begitu bengkak. Kurasa aku butuh es untuk mengempeskannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi?Aku belum pernah melihatmu hingga seperti ini,” tanya Emy berdiri di belakangku,”dan sebaiknya kau tidak masuk kerja saja, Eliza. Kau nampak begitu buruk.”
Aku menggeleng lalu menoleh ke arahnya. “Aku baik-baik saja, lagipula aku pernah mengalami hal ini saat masih kecil.”
Emy menaikkan sebelah alisnya lalu berkata,”Really? Then why don’t you tell me about it, huh?”
Aku membalikkan badanku menghadap gadis itu dengan tatapan ragu.”Aku hanya belum bisa mengatakannya , Emilia, maafkan aku.”
Kulihat raut wajah Emy menunjukkan ekspresi sedikit kecewa. Dia diam lalu melangkah menuju kamarnya tanpa menoleh sedikit pun. Kugigit bibir bawahku sungguh merasa bersalah. Empat tahun bersama Emy menurutku belum cukup untuk membuka masa laluku yang sungguh menyakitkan itu. Aku masih butuh waktu entah sampai kapan.
####
Sesampainya di kantor dengan rasa pusing yang mulai menjalari kepala akibat kurang tidur. Kudapati sebuah kotak yang terbungkus kertas warna coklat di atas meja kerja. Aku melihat sekeliling ruangan ini yang masih sepi lalu melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 7.15 pagi. Siapa yang mengirimnya?
Kubuka bungkusan itu dengan cepat dan menapati sebuah kotak yang berwarna putih lalu kubuka lagi kotak itu. Sontak aku menganga, God! Sebuah pumps merah dari bahan kulit dengan ujung berbentuk pita terbuat dari suede, tinggi pumps ini hanya tigas senti dengan brand nama terkenal. Aku yakin ini sangatlah mahal. Siapa yang rela membuang uangnya demi sepatu cantik ini?
Tunggu dulu!
Aku memutar bola mataku tahu siapa yang mengirimi barang branded ini. Si pria aneh itu pasti memberikannya untukku gara-gara heels sialanku beberapa hari lalu. Aku mendecih kesal, setelah dia tak muncul beberapa hari di hadapanku kini dia memberi kejutan ini. Oh, betapa baiknya dia, batinku merengut kesal.
"Hey,sepatu yang bagus dan ... mahal," celetuk Ketty melewati mejaku sambil meletakkan tas Channel-nya di atas meja kerjanya yang terletak berseberangan denganku. "Dari siapa?"
"Mr.Jhonson," jawabku malas.
"Seriously!" seru Ketty dengan membelalakkan kedua matanya seolah baru saja mendapatkan lotre. Dia melangkah cepat mendekatiku dengan stiletto silvernya yang cukup tinggi tanpa takut jatuh lalu mengambil salah satu pumps. Kedua matanya berbinar ketika melihat pumps cantik itu.
Mengerucutkan mulutku dengan perasaan kesal sambil melipat kedua tangan di d**a melihat tingkah Ketty seperti benar-benar memenangkan undian besar. Ya Tuhan, apakah di dunia ini hanya aku yang tidak menyukai pria sombong itu? Jika ya, bisakah aku meminta untuk tidak bertemu dengan dirinya lagi?
"Kau karyawan beruntung, Eliza," goda Ketty sambil mengedipkan matanya cepat. "Kau karyawan baru, ini sepatu mahal, dan dia pria kaya yang…." Ketty bersiul seolah sedang menggoda lelaki sambil mengedipkan sebelah matanya,”so damn hot.”
"Haruskah aku mengulanginya lagi, Ketty? Aku seorang lesbian dan semahal apapun barang yang dia berikan, aku takkan tertarik dengan pria,” kataku lalu meletakkan pumps itu kembali ke kotaknya. ”Kau mau sepatu ini?” tawarku sambil menyerahkan kotak sepatu itu.
“Oh, benarkah?” Ketty melipat kedua tangannya sambil menaikkan sebelah alisnya. ”Aku tak yakin jika kau seorang lesbian, Elizabeth.”
Aku mengangkat kedua bahuku sambil memutar bola mata. ”Terserah jika kau tak percaya. Aku akan kembalikan barang ini nanti.”
For God sake! Dia meremehkanku tentang heels milikku kemarin. Dia kira aku tak bisa membeli sepatu dengan harga ribuan dollar ini meski aku baru bisa membeli beberapa tahun lagi.
"Let see, Ms.Granger, aku yakin dia menolak apa yang telah dia berikan pada wanita," kata Ketty sambil tertawa,”pegang kalimatku ini, jika … suatu hari nanti dia akan membuatmu bertekuk lutut padanya.”
“Terserah.”
####
Aku sibuk menyiapkan file Mr.Lawren yang akan dirapatkan jam satu siang nanti. Beberapa file lain sudah kucetak dan kuletakkan di dalam map hijau. Menghela napas berat berusaha menahan rasa pusingku semakin menjadi. Oh sial! ini semua karena aku hanya tidur tiga jam setelah terbangun dari mimpi buruk itu. Aku takut jika terus seperti ini, insomniaku bisa kambuh lagi seperti dulu. Padahal kata Dokter Margaretha, diriku sudah lebih baik daripada saat aku pertama kali dirawat oleh psikaterku itu.
Lalu aku berpikir sejenak, kenapa mimpi itu datang lagi? Jika di flashback kembali, sejak aku bekerja disini ehm … tidak! Sejak aku menemui Andre di ruangannya hari itu, mimpi dan serpihan kejadian empat belas tahun lalu kembali menghantui pikiranku. Aku menggeleng kepala berusaha mengusir pikiran buruk yang mulai datang, bukannya aku men-judge pria aneh itu dibalik munculnya mimpi burukku tapi kenangan itu kembali lagi saat aku bekerja di sini. Kupikir memang sebaiknya aku harus membuat jadwal pertemuan dengan psikiaterku lagi.
Saat aku akan melanjutkan pekerjaan, kedua mataku menangkap sosok Andre yang sedang berbincang dengan beberapa orang termasuk Mr.Lawren melalui dinding kaca bening di belakang meja Ketty. Pandangan mata kami bertemu, pria itu tersenyum smirk sambil terus menatapku tanpa berkedip di balik iris mata biru samudranya itu.
Aku salah tingkah lalu mengalihkan pandanganku pada berkas-berkas Mr.Lawren berpura-pura membaca. Selang beberapa detik, kulirik Andre dari balik bulu mataku. Sosok bertubuh tinggi besar itu sudah pergi dari tempat dia berdiri tadi. Aku bernapas lega sambil mengelus dadaku.
Kenapa dengan diriku ini? Dia hanya seorang pria m***m kan? Abaikan dia, Lizzie.
"Elizabeth," panggil Ketty sambil melangkah menghampiri mejaku dengan membawa map merah. "Bisakah kau antarkan ini ke CEO kita?" pintanya sambil menyerahkan map itu padaku.
"CEO??” kataku mengulangi kata terakhir yang diucapkan Ketty sambil mengerutkan kedua alis. ”Hmm ... Ketty, aku ... aku..." Aku salah tingkah karena aku tidak tahu siapa CEO-ku sendiri walau aku sudah bekerja di sini selama hampir seminggu. Aku hanya menatap wanita di depanku ini sambil meringis.
"Ya Tuhan, kau tak tahu! Ke mana saja kau, Elizabeth!" dengkus Ketty dengan nada jengkel. "His our big boss!”
"Maafkan aku, aku mungkin masih sulit mengingat nama-nama orang penting di sini, Ketty," kataku berbohong dengan wajah memelas. Ketty memutar bola matanya. "Beritahu aku. Aku bersedia mengantarkan file-mu."
Sontak Ketty tersenyum lalu mendekatkan mulut seksinya di dekat telinga kananku dan membisikkan sebuah nama yang membuatku terperanjat kaget.
"Mr.Jhonson?? CEO?? Big boss? Seriously?"
"Oh, come on, Dear! Dia Alexandre Jhonson, tentu Mr.Jhonson yang memberimu sepatu mahal itu. Baiklah, Aku telah memberitahumu, sekarang cepat angkat pantatmu dan pergilah ke sana!" perintah Ketty.
"Oke, aku akan pergi. Sekalian aku mengembalikan sepatu ini," kataku sambil bangkit dari kursi seraya mengambil kotak sepatu lalu bergegas keluar menuju ruangan Andre di lantai tiga puluh.
“Jangan mengajakku! Aku sibuk!” dengkus Ketty sebelum aku membuka suara untuk mengajaknya kembali ke ruangan Mr. Jhonson.
Aku mengerucutkan mulut. Dengan terpaksa, kulangkahkan kedua kaki menuju ruangan pria itu.
Ternyata dia, kenapa aku tidak menyadarinya? Ya Tuhan, aku enggan bertemu dengan pria itu lagi.
####
Mengetuk pintu bercat hitam metalik lalu membuka knop pintu ruangan yang baru kusadari bertuliskan CEO’s Room Jhonson Corp. Entah mengapa ruangan ini terasa lebih dingin dibanding dengan saat terakhir aku datang ke tempat ini. Kudapati Andre berdiri membelakangiku karena sepertinya dia sedang menerima telepon dari seseorang melalui ponselnya. Aku melangkah masuk perlahan-lahan dengan rasa canggung. Jika aku kembali, pasti Ketty akan marah.
"Ya ya aku tahu. Suruh Taylor mengurusnya karena aku butuh data itu, ya ya, aku tunggu sore ini. Apa!!" bentak Andre lalu dia membalikkan badannya dan wajahnya terkejut mendapatiku sedang berdiri di depan meja kerjanya sambil membawa map merah.
"Aku tidak mau tahu. Aku telah membayarmu untuk menyelidikinya. Jika tidak kau dapatkan hari ini, aku bisa memecatmu!"
Aku menelan liur tak nyaman karena pria itu masih berbicara dengan orang di telepon sambil menatapku tanpa berkedip sama sekali. Kualihkan pandangan mencari objek lain yang bisa dilihat berharap segera keluar dari ruangan ini.
"Baiklah, aku tunggu!" Akhirnya pria berambut coklat tembaga itu memutuskan sambungan teleponya membuat diriku sedikit lega karena tak harus mendengarkan sesuatu yang bukan urusanku.
"Apakah itu file dari Ketty?" tanyanya sambil melangkah mendekatiku dengan nada sedikit ketus.
Aku salah tingkah sambil menyodorkan map kepada pria menyebalkan itu.
"Terima kasih," katanya singkat lalu keningnya berkerut saat dia melihatku masih memakai heels-ku sendiri. "Kau masih betah dengan sepatu murahanmu itu Ms.Granger?" sindirnya dengan tatapan mengejek.
Kedua telingaku memanas mendengar dirinya mengejek sepatuku seolah ini adalah sesuatu yang bisa mencelakai siapa saja. Tanpa banyak basa-basi kuserahkan tas coklat berisi kotak sepatu berwarna putih kepadanya. "Maaf atas kelancanganku, Mr.Jhonson. Tapi aku masih mampu membeli heels walau itu membuat tumitku lecet sekalipun," ucapku dengan sombong tak mau kalah sambil menekankan kata ‘mampu’ pada pria itu.
Dia membalas kalimatku hanya dengan seulas smirk tanpa menerima kotak sepatu itu sambil melipat kedua tangan di d**a bersandar pada bibir meja kerjanya.
"Aku hanya memberikan apa yang kau butuhkan, Ms.Granger. Kau tahu aku kaya. Tidak masalah bagiku untuk membuang dollar hanya untuk gadis keras kepala seperti dirimu," katanya dengan angkuh.
Mengatupkan bibirku rapat-rapat menahan umpatan yang sangat ingin kelempar padanya. Jika dia bukan seorang big boss, tentu kotak sepatu ini sudah mendarat di wajah sombongnya itu dan tak peduli jika harus membuat wajah tampannya terluka.
"Baiklah, jika itu keinginan Anda, Mr. Jhonson. Aku akan memberikannya pada Ketty,” kataku menatap sinis wajah sombong Andre tepat di kedua manik mata birunya itu. "Dia lebih menginginkan sepatu mahal ini daripada diriku yang lebih suka sepatu murahan.”
Pria itu hanya terdiam seolah kehilangan kata untuk melawanku lagi. Tanpa membuang waktu lagi, kutinggalkan pria sombong itu dengan cepat sambil membawa kembali kotak sepatu yang akan kuberikan kepada Ketty. Dia benar-benar membuatku marah. Astaga, kenapa aku harus bekerja pada orang yang begitu sombong dan menjengkelkan? Bahkan kenapa harus ada pria seperti itu di dunia ini?.
"Tunggu!" seru Andre saat aku sampai di ujung ruangannya.
Saat membalikkan badan, ternyata Andre mengekori di belakang. Dengan gerakan cepat dia menghimpitku di antara kedua lengannya yang kokoh. Pria itu mendekatkan wajahnya membuatku refleks memejamkan mata. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang begitu hangat menyentuh kulit bahkan tanpa membuka mata pun aku juga bisa merasakan tatapan mengintimidasi seolah ingin memakanku hidup – hidup.
Oh, astaga! Ada apa dengan pria ini? Batinku.
Kini kurasakan tubuhku bergetar ketakutan dengan perasaan mual yang mulai datang jika terlalu dekat dengan pria. Kurapalkan doa dan berusaha memikirkan hal positif dalam otakku. Namun rasanya begitu sia-sia jika keringat dingin mulai membasahi tubuh dengan sesak yang menghimpit paru-paru. Jika seperti ini, aku takut jika nanti akan pingsan seperti dulu lagi.
"Sepatu itu takkan muat di kaki Ms. Thompson, Nona. Aku membuatnya hanya muat untukmu," bisik pria itu di telinga kananku dengan suaranya yang dibuat terdengar seksi.
Masih tak berani membuka kedua mata, namun kurasakan hidung lancipnya yang menempel di telingaku kini turun ke leher seperti mengirimi sinyal listrik berjuta volt untuk menghirup aroma tubuh membuatku semakin panik. Terlintas wajah laki-laki dalam mimpiku. Sebisa mungkin kucoba untuk menahan napas berusaha menghilangkan bayangan pria itu. Tidak, wajahnya semakin lama semakin jelas. Suara dan sentuhannya masih terasa dan semakin lama membuatku ingin berteriak histeris.
"Kau sangat pucat, Ms.Granger. Apa kau sakit?" tanya Andre sambil melirikku dari ekor matanya.
Aku menggeleng tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Kumohon lepaskan aku. Aku tidak tahan dengan semua ini
“Kau kenapa?” tanyanya sambil mengerutkan kedua alis tebalnya.
Kubuka sebelah mata saat dia melihat sesuatu di leherku. Dia ingin menyingkirkan kerah kemejaku untuk melihat lebih jelas. Namun, sebelum berhasil menyentuhnya, aku mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga membuat tubuh besar itu terhuyung hampir jatuh.
"Cukup!!" bentakku membuat Andre terkejut. "Jika tidak ada hal yang bisa saya kerjakan. Saya harus kembali ke ruangan saya. Maaf, atas kelancangan saya, Sir !" Aku segera membuka pintu dan menutupnya dengan cukup keras tak peduli jika besok aku dipecat.
Sudah cukup dengan pria sialan itu!
####
Memasuki akhir bulan Juni, cuaca di New York sedikit berubah karena sudah memasuki musim panas. Jika mengingat sikap Andre kepadaku tadi siang ingin rasanya aku menyirami kepala pria itu dengan air es agar tidak semena-mena terhadap perempuan. Menatap pemandangan kota New York yang sangat indah di sore hari sambil berpikir bahwa tak menyangka dengan diriku sendiri sekarang. Jika biasanya aku adalah gadis pendiam dan cenderung irit bicara bahkan mudah pingsan berdekatan dengan lelaki asing. Kenapa sejak bertemu dengan pria menyebalkan itu rasanya aku ingin mengumpat terus-menerus?
"Kau tak pulang, Elizabeth?" sahut Mr.Lawren melongok di ujung pintu membuatku menoleh ke arahnya.
"Belum, Sir, masih ada beberapa hal yang belum kuselesaikan," jawabku bohong sambil meringis.
"Baiklah, jangan pulang terlalu malam, Nona. Jaga dirimu, sepertinya cuaca akan sangat panas untuk beberapa hari ke depan," kata Mr.Lawren lalu ia melambaikan tangan kirinya kemudian pintu ruangan tertutup kembali.
Suasana kembali hening, hanya menyisakan suara deru mesin kendaraan di luar gedung. Aku melihat kembali ke arah jendela sambil meraba leher dengan tangan kiri lalu memejamkan kedua mata dan menghirup udara di ruangan kerja yang sepi ini dalam-dalam. Bayangan pria menyebalkan itu masih melekat padaku membuat degup jantung tiba-tiba berdetak cepat dengan rona merah di kedua pipi. Kugelengkan kepala cepat untuk mengusir bayangan pria aneh itu. Kenapa sekarang aku yang memikirkan dirinya? Apa aku sudah terkena kutukan yang diucapkan Ketty tadi pagi? Pasti aku sudah gila!
Jangan bermimpi, Eliza. Bahkan apa kau pantas bersama dengan pria itu jika dia tahu siapa dirimu sebenarnya?
Akhirnya kuputuskan untuk pulang dengan taksi saja daripada berpikir yang tidak-tidak tentang big boss , lagi pula Emy akan terlambat pulang. Beberapa detik kemudian, ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak kukenal. Sambil mengerutkan kening, kubuka pesan dari orang misterius itu.
Sender: +1 2989xxx
Jangan pulang dulu, aku tahu kau masih di ruang kerja. Aku ingin mengantarmu pulang.
Andre
Mulutku menganga lebar ketika membaca siapa pengirim pesan itu. Kutolehkan kepala ke arah cctv yang menggantung manis di sudut tembok di sisi kiri. Aku mendecak kesal, sejak kapan dia memiliki keinginan untuk menguntit diriku?
"Dia mendapatkan nomorku pasti dari Mr.Lawren," gumamku sambil membalas pesan Andre. "Kau hanya menggunakan alasan untuk mengantarku pulang agar kau bisa menyentuhku, kan, dasar m***m!" desisku sambil mengetik.
Sender: Elizabeth Granger
Terima kasih atas tawaran dan perhatian Anda, tapi saya sudah ada janji dengan seseorang.
Sender: Mr.Jhonson
Oh, kau ada kencan? Dengan siapa?
“Apakah dia juga suka mencampuri urusan orang lain?" geramku.
Sender: Elizabeth Granger
Itu bukan urusan Anda dengan siapa saya kencan, Sir.
Aku segera beranjak dari kursi untuk melangkah pergi meninggalkan ruang kerja ini sebelum bertemu pria itu atau semuanya akan menjadi semakin rumit. Telunjuk kananku memencet tombol lift untuk turun menuju lobi kantor namun saat pintu lift terbuka, betapa terkejutnya aku mendapati pria yang tidak ingin kutemui telah berada dalam lift itu. Aku mendecih kesal merasa sungguh tak nyaman lalu melangkah masuk ke dalam lift tanpa mempedulikan dirinya atau lebih tepatnya berpura-pura tidak ada dirinya di sampingku.
"Pacarmu sudah datang?" tanya Andre.
Aku hanya meliriknya dari sudut ekor mataku sambil mengangguk. Beberapa detik merutuki diriku kenapa harus menganggukkan kepala.
Diamkan saja, Eliza. Dia bos yang menyebalkan, bukan?
"Aku ingin melihat bagaimana wajah pacarmu, sehingga kau begitu mudahnya menolak atasanmu," katanya lagi dengan sombong. "Apa dia lebih kaya dan tampan dariku?”
Bisakah aku memuntahkan isi lambungku ke wajahnya itu? Mendengar dia melontarkan kalimatnya dengan tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi membuatku tidak betah di dekatnya.
"Apakah Anda mengenal sebuah privasi seseroang?" tanyaku dengan nada sarkastik sambil melipat kedua tangan di d**a dan menyudutkan diri di sisi kanan lift menghindari tubuh pria itu.
"Kurasa tidak,” kata Andre meniru gerakanku seolah ingin menantang. Dalam hitungan detik pria itu mendorong tubuhku di dinding kotak besi lalu jari telunjuk kirinya memencet tombol berhenti tanpa mengalihkan pandangannya padaku.
Ding!!
Secara otomatis mesin lift berhenti. Aku menelan ludah menatap kedua mata Andre yang berkilat liar. Aku tidak bisa bergerak. Kedua tanganku ditahan oleh kedua tangannya dengan erat.
"Aku sungguh tidak suka ada wanita yang menolak kebaikanku, Ms.Granger," ucap Andre dengan penekanan sambil menatap intens kedua mataku. "Menolak pemberianku membuatku sakit hati, melarangku menyentuhmu, dan aku tahu kau sengaja berbohong padaku tentang kekasihmu. Kenapa Ms.Granger? Apa kau phobia dengan pria? Atau kau seorang lesbian yang begitu anti dengan pria sepertiku?"
"A-aku … a-ku ... kumohon jangan menyentuhku," pintaku terdengar seperti cicitan.”Aku … aku … lesbian, Mr.Jhonson.”
Aku takut … aku takut … Mommy … Mommy … tolong aku….
Dia menyipitkan kedua matanya seolah tak pecaya. Kilatan mata liarnya mengingatkanku lagi pada orang dalam mimpi burukku.
"Lesbian? Aku tak percaya pada mulut kecilmu ini, Nona,” geramnya. "Bahkan kau tidak ingin menunjukkan padaku bekas luka ini."
Pria itu menarik kedua tanganku dengan kasar di atas kepala lalu menahannya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menyibak kerah kemeja yang menutupi bekas luka di leher kananku. Sontak aku memejamkan kedua mata menahan luka lama di sana sambil menggigit bibir bawah keras-keras.
"Aku lesbian Andre … please … Please, let me go!" pintaku ketakutan hingga bulir-bulir air mata menetes dari kedua sudut mataku. "Aku takut, aku takut, please, aku takut. Mommy … mommy … tolong aku…"
Tubuhku merosot ke lantai lift yang dingin sambil menangis sesenggukan dan menyilangkan kedua tanganku di d**a saat dia melepaskan cengkeraman tangannya. Aku menangis sambil bergumam lirih, ingatanku pada laki-laki itu membuatku gila. Aku merasakan tangan kanan Andre ingin menyentuh pundakku namun aku menampiknya dengan kasar membuatnya terkejut.
"Aku membencimu, Andre!" bentakku sambil menatap kedua bola mata birunya. "Harus berapa kali ku katakan, don’t touch me!”
"Maafkan aku. Aku tak―"
"Aku ingin pulang!" seruku memotong kalimatnya.
Dia pun memencet tombol lalu lift pun bergerak turun ke lantai dasar. Beberapa detik kemudian pintu lift terbuka. Aku menghapus air mata yang masih mengalir membasahi pipi dengan kedua tangan sambil bangkit dari posisiku lalu segera keluar dari lift tanpa mempedulikan pria itu.
"Eliza, tunggu!" teriak Andre berusaha mengejarku yang akan keluar dari kantor. Aku menghentikan langkahku sambil membalikkan badan menatap wajah Andre."Biarkan aku mengantarmu, kumohon," pintanya sambil berlari kecil ke arahku.
"Stop it !" teriakku diantara sesenggukan tangisanku. "Jangan pernah mendekatiku lagi bahkan menyentuhku, Andre! Aku lesbian, ingat itu!"
Memutar badan lagi lalu melangkah cepat menyeberang jalanan membuat beberapa mobil berhenti mendadak. Teriakan umpatan si pemilik mobil terdengar jelas di telingaku. Aku tidak peduli. Andre meneriakkan namaku berulang kali bahkan aku juga tak peduli jika pria itu memberi stigma buruk padaku dan akan memecatku besok. Aku sungguh tak peduli!.
Sekuat apapun usahamu untuk mengetahui bekas luka itu, aku takkan mengatakannya padamu hingga berpura- pura menjadi seorang lesbian. Tuhan, bantu aku untuk menghadapi pria itu.