D.C | Part 3 - Rencana Buruk

1807 Words
Valerie Gladwin P.O.V “Apa kau gila?!” Bentak Caesar, ia bahkan melepas headband yang sedari tadi bertengger di kepalanya. Membuat rambut yang ia biarkan gondrong itu terurai menutupi keningnya. Harusku akui, Caesar sahabatku sejak dulu itu memang sangat tampan. Tapi aku tidak pernah melihatnya berkencan. Ah, apa itu karena ia selalu bersamaku? “Kenapa kau harus mau? Kau bisa bilang pada ayahmu untuk membatalkan perjodohan konyol itu!” ujarnya lagi, aku hanya bisa menginjak dan menendang batu kecil tak bersalah di hadapanku. Sepatu bootsku terlihat kotor karena aku baru saja usai berbalapan dengan pria yang ada di hadapanku ini di sirkuit khusus yang kurancang bersama teman-temanku. Memang tidak sebesar sirkuit pada umumnya, tapi lumayan luas untuk C’dride dan geng lain yang ingin memacu adrenalin di jalanan. “Tenang saja, kali ini, aku yang lebih dominan. Pria itu yang membutuhkan aku. Jadi, aku tidak akan seperti gadis bodoh di dalam film-film yang memiliki suami otoriter dan semena-mena. Aku justru akan membuatnya bertekuk lutut denganku.” Sial, bayangan Darrel menatapku dengan lapar muncul, meskipun itu sempat membuatku berdebar, aku berhasil melawannya lagi kemarin, mengingat mukanya saat melihat tubuhku membuatku sangat puas. Pria itu begitu mendamba tubuhku. Yah, meskipun itu akan membahayakanku nantinya. Aku akan melawannya mati-matian, lihat saja nanti! “Oh ya? Kau tahu siapa pria itukan? Dia itu bahkan lebih dari predator!” “Iya aku tahu! Aku sangat tahu mengenai pria itu lebih dari apapun!” “Ah, apa kau menerimanya karena masih memiliki perasaan untuknya?” “Ofcourse not Caesar! Yang benar saja! Aku membencinya hingga tak terhingga! Aku bahkan tidak bisa menyebutkan sebanyak apa aku membencinya!” Caesar menghampiriku, ia lalu menangkup kedua pipiku. Aku tahu ia khawatir padaku, tapi aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. Aku yakin Caesar adalah pria yang tepat, dan aku tidak akan menyesal memberikan sesuatu yang berharga dariku untuknya. “Kau akan menikahinya, lalu kenapa kau meminta aku untuk…” “Aku tidak sudi jika ia menjadi yang pertama!” “Jadi, kau memang belum pernah? Sungguh? Seorang Valerie Gladwin?” Caesar tertawa. Sial, aku juga malu mengakuinya. Terlebih Caesar sangat tahu pergaulanku seperti apa. Dan mustahil seorang Valerie Gladwin masih virgin hingga saat ini. Ah. Aku sendiri bingung. Aku terlalu sibuk membuat onar di sana-sini bersama Caesar dan teman-temanku. Cinta? Aku sudah muak dengan itu. Ya, mungkin karena itu aku masih virgin hingga saat ini. “Jangan menertawakanku!” “Lalu, kau mau aku menjadi yang pertama? Kenapa aku?” Caesar menghentikan tawanya, lalu menatapku dengan serius. Raut wajahnya bisa berubah secepat itu, Caesar terkadang bisa menjadi sosok yang menyeramkan dan friendly di saat yang bersamaan.   Ah benar, kenapa Caesar? Apa karena ia pria terlama yang selalu bersamakukah? Atau karena aku sangat percaya padanya? Atau karena, tidak. Aku tidak memiliki perasaan untuknya. Jadi, akan aman jika aku melakukan pertama kali dengannya. Ia bukan? Apalah artinya menjadi yang pertama, apa memang orang yang pertama harus sespesial itu? Ah, pemikiran dari mana itu? Come on Valerie! Dari pada pria b******k itu menjadi yang pertama, dan aku akan berakhir seperti Elena dan Anna. Tidak! Aku tidak akan mau menjadi mainan dari Darrel Laurens. Si b******k tampan itu. Tidak. “Fine, kalau kau tidak mau, aku akan mencari pria lain yang dengan suka rela men-” “Jangan coba-coba!” Caesar menarik tanganku saat aku hendak menaiki motor, aku sudah ingin mengakhiri pembicaraan konyol ini. Namun melihat Caesar menatapku dengan marah saat aku berkata akan mencari pria lain membuatku terdiam. “Oke. Aku akan membantumu,” ujar Caesar dengan berat. Sial, sepertinya Caesar sangat terpaksa membantuku. “Gak usah kalau terpaksa.” “Siapa bilang terpaksa? Aku sudah lama tidak berhubungan dengan gadis perawan, Ouch! Sakit Val! Dasar gila!” Caesar meringis, aku sengaja menendang selangkangannya. Dasar, semua pria memang dasarnya b******k. Ah, apa aku harus melakukan pertama kali dengan alat? Si4l. Pemikiran macam apa ini. Si4l. Aku bahkan tidak bisa membatalkan lagi karena sudah menjawab iya pada dad. Ah, Valerie bodoh! Kenapa pikiranmu sangat dangkal Valerie! Hanya karena ingin membalas dendam pada Darrel, kau rela memberikan hidupmu yang berharga ini? “Val, Val!” Caesar tertatih sambil memanggilku. “Apa sih!” omelku pada Caesar, persetan dengan langkahnya yang tertatih sambil menyentuh adik kecilnya, aku berjalan meninggalkannya, menuju motor harley kesayanganku. Cinta sejatiku. “Kapan?” tanya Caesar lagi. “Kapan apanya?” “itu,” ujar Caesar dengan seringai nakalnya. “Nanti, di malam  pertama pernikahan kami.” “Hah? Apa kau gila? Kau melakukannya di malam pertama pernikahanmu dengan pria lain?!” “Oh come on, kau bukan pria lain Caesar. Hati-hati, jangan sampai kau jatuh cinta padaku. Ingat, aku memintamu melakukan ini karena yakin kita tidak akan terlibat perasaan apapun.” “Baik, siapa takut!” Caesar mengedipkan sebelah matanya padaku, aku mengacungkan jari tengahku lalu melaju dengan cepat. Aku mengendarai harley kesayanganku dengan cepat, sengaja agar Caesar tidak mengejarku. Aku sedang ingin sendiri saat ini. Jika bisa mengingat beberapa tahun sejak aku mendirikan C’dride, aku sangat jarang berkeliaran sendirian seperti ini. Ah, sendiri ternyata damai sekali. Usai puas berkendara tak tentu arah, aku memutuskan untuk singgah ke bar terdekat karena tenggorokanku yang mendadak membutuhkan asupan wine. Crap, harusnya aku ke C’dride Bar saja. Karena begitu memasuki bar ini, semua mata memandangku. Iya aku tahu, penampilanku cukup mencolok dengan sepatu boots tinggi ini dan seluruh outfit yang kukenakan serba hitam ini. Tidak apa, yang penting aku tetap cantik meski seperti preman sekalipun. “Wine please,” ujarku pada bartender yang sedang sibuk membuat cocktail. Tak lama, pesananku tiba. Eh? Kenapa ada cake juga? Baru saja hendak bertanya, bartender itu mengedipkan matanya padaku. “Hidangan spesial untuk wanita secantik ada, sudah menjadi layanan di bar ini untuk memberikan bonus cake manis kepada wanita cantik yang mengunjungi bar ini.” “Oh ya? Aku baru tahu ada hal semacam itu,” bartender itu tersenyum lalu kembali ke balik bar dan sibuk dengan botol-botol di tangannya. Kepalaku yang panas karena memikirkan banyak hal sepertinya membutuhkan cake red velvet ini. Aku mengambil sendok kecil berwarna emas dan memotong cake itu, dan melahapnya. Ah, kapan terakhir aku memakan cake seperti ini? “Well, lihat siapa yang ada di sini?”  suara berat seorang pria membuatku menoleh. Sial, kenapa pria ini bisa ada di sini? Aku segera merogoh ponselku dengan pelan dan menghubungi Caesar. “Sendirian?” tanya pria tinggi itu dan duduk di hadapanku tanpa permisi. “Mana rombongan sirkusmu?” tanya pria itu, sial. Dia mengatakan C’dride apa? Bukannya dia dan teman-temannya yang badut? Badut bertopeng orang kaya yang sering menghabiskan waktu untuk hal tidak berguna? Ah, aku lupa memperkenalkan pria ini. Damian Scott, pria yang tak pernah lelah mendekatiku dan sering kutolak mentah-mentah. Pria narsis yang menganggap bisa menaklukan berbagai wanita. Menjijikan. Sungguh aku sangat benci pria seperti itu. Aku tak menjawab dan memilih menenggak wine-ku hingga habis. Lalu berdiri dan hendak meninggalkannya. Baru saja satu langkah, dengan cepat ia meraih tanganku, menarikku dan mendekap punggungku. Sial, dia semakin berani saja saat melihatku sendirian seperti ini. “Kau masih belum berubah Valerie,” bisiknya tepat di leherku. Ya, leher. Aku tahu ia sengaja melakukan itu. Aku berusaha melepas pelukannya dengan damai, aku tidak ingin membantingnya di sini. Hell, aku sedang tidak ingin membuat keributan di bar ini. “Lepas sebelum adik kecilmu kupatahkan!” “Silahkan, lakukan! Jika itu bisa membuatmu bermain bersama adik kecilku.” “Breng-” Seorang pria tiba-tiba menarikku dengan paksa, lalu menendang Damian hingga terjungkal dan membentur meja bar dengan keras. Si4l, kenapa Darrel bisa ada di tempat ini? “Beraninya kau menyentuh calon istriku!” Darrel meraih kerah baju Damian dan menghajarnya kembali. Si4l, beberapa pelanggan mulai terusik dengan ulah Damian dan Darrel. Tunggu, siapa wanita yang berdiri di dekatku ini? Apa Darrel datang ke bar ini bersama wanita ini? Oh come on Valerie, bukan urusanmu Darrel pergi dengan siapa. Aku harus memisahkan dua pria itu sebelum semuanya semakin berantakan. “Darrel hentikan! Hentikan Darrel!” aku menarik jas pria itu hingga akhirnya Darrel berhenti dan pasrah saat aku menyeretnya menjauh dari Damian. Darah segar menetes dari hidung Damian, pria itu terus menyentuh hidungnya dan berdiri dengan susah payah. “Calon istri katamu?” tanya Damian dengan susah payah, aku menghadang Darrel yang kembali ingin menyerang Damian karena pria itu berusaha mendekat padaku. “Ya! Dia calon istriku!” bentak Darrel pada Damian. Tunggu, kenapa wanita ini juga terkejut mendengar perkataan Darrel tadi? “Calon istri? Apa itu benar Darrel?” tanya wanita itu. “Ya benar, kenapa?” “Lalu kenapa kau masih bermain denganku? b******k!” wanita itu menampar Darrel lalu pergi ke dalam salah satu ruangan di dalam bar ini. Ah, apa wanita itu pemilik bar ini? Ah. Cukup sudah, aku melangkah ke luar. Meninggalkan drama sialan ini. Aku hanya ingin tenang sejenak dari kekacauan yang muncul mendadak dihidupku. Tapi kenapa keributan ini bisa terjadi? “Aku Darrel Laurens, kau tahu aku bukan? Jangan coba-coba mendekati Valerie kalau tidak mau bisnis keluargamu hancur.” Hell, bisa-bisanya Darrel mengancam Damian. Aku menghentikan langkahku dan menoleh, Damian pucat pasi. Baguslah, setidaknya Damian tidak akan mengangguku lagi. Tunggu, apa aku baru saja mensyukuri perbuatan Darrel untukku? Hell no! “Valerie! Valerie tunggu!” Darrel mengejarku, aku tidak peduli dan dengan cepat duduk di atas motorku, meraih helm dan mengenakannya hingga Darrel muncul dan mencabut kunci motorku. Double crap! Apalagi maunya pria ini! “Apa sih? Berikan kuncinya!” “Tidak akan! Kau harus menggunakan supir pribadiku jika hendak berpergian. Jika aku tidak muncul tadi bisa saja pria itu melakukan hal buruk padamu!” “lalu kenapa? Apa urusannya denganmu hah?” Aku turun dari motor, berusaha meraih kunci itu dari tangannya namun Darrel selalu berhasil mengelak. Sialan. “Urusannya denganku? Dengar honey, kau itu akan menjadi istriku. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu sebelum aku mencicipi tubuh indahmu. Paham?” “Dan kenapa aku harus menurut padamu hah?” dengar saja kalimat b******k itu! Jangan terlalu percaya diri Darrel membantuku dengan tulus karena peduli padaku. Dia hanya tidak ingin tubuhku disentuh oleh pria lain. Hanya itu! Dasar otak s**********n! Kita lihat saja nanti! “Berikan kuncinya agar kau bisa menyusul wanitamu itu!” “Wanitaku? Maksudmu dirimu?” Darrel berhasil menghentikan tanganku yang bergerilya menyambar kunci di tangannya dengan menggenggam kedua tanganku dengan satu tangannya. Sial, apa kedua tanganku sekecil itu untuknya? “Jalang di dalam sana! Berikan kuncinya Darrel Laurens!” “Jalang? Tunggu, apa kau cemburu?” Si4l, aku tidak bisa menahan kesabaran lagi. Aku menyilangkan kakiku di antara kakinya dan dengan sekali sentakan Darrel jatuh ke jalanan. Darrel meringis. Persetan, aku tidak peduli. Aku meraih kunci di tangannya sambil berjongkok, kemudian dengan ujung kunci motorku, aku menusukkannya pada d**a Darrel sambil menatapnya tajam. “Cemburu? Bermimpilah untuk itu!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD