D.C | Part 4 - Pengorbanan

2451 Words
Author P.O.V “Cantik!” “Ini juga cantik!” “Wah, semua gaun ini sangat cantik untukmu, calon istriku.” Darrel mendekati Valerie, lalu menyentuh pundak polos Valerie dengan perlahan. Gaun pengantin yang sedang ia coba itu bermodel sabrina sehingga kedua pundak Valerie terekspose. Darrel lalu mencium pundak kanan Valerie dan memeluknya dari belakang. Seolah keduanya adalah mempelai paling bahagia di dunia ini. Jika saja tidak ada desainer ternama dan pelayannya itu di hadapan Valerie saat ini, mungkin Darrel sudah dibanting oleh Valerie. Valerie meringis, memasang senyum palsu namun tetap membuat wajahnya terlihat cantik. “Yang ini saja,” Darrel memilih gaun terakhir yang Valerie kenakan. Gaun itu tidak mengembang seperti gaun pengantin pada umumnya, gaun itu di desain mengikuti bentuk tubuh Valerie, dan belahan yang cukup tinggi di hingga memamerkan kaki mulus Valerie hingga ke paha gadis itu. Tentu saja Valerie memaki di dalam hatinya. Darrel sengaja memilih gaun yang paling seksi untuknya. Lalu untuk apa pria itu melindungi tubuhnya dari bodyguardnya tempo hari? Sedangkan hari ini Darrel malah sengaja memilih gaun yang paling terbuka, yang akan membuat tubuh indahnya terekspose begitu saja di hadapan banyak orang. Saat pelayan itu menuntun Valerie untuk kembali berganti, Darrel memanggil desainer terkenal itu tiba-tiba. “Tidak, tunggu. Pilihkan gaun yang paling tertutup untuk calon istriku. Aku tidak ingin tubuh indahnya terekspose di hadapan banyak orang.” Oh dengar saja itu. Kedua tangan Valerie mengepal. Ia tidak tahan lagi. Ia lalu berjalan dengan cepat ke ruang ganti dan membanting pintu dengan keras. “Anda perlu bantuan, Nona?” “Tidak perlu!” teriak Valerie dengan kuat, desainer itu melirik Darrel yang berdiri tersandar pada etalase kaca dengan santainya. “Biasa, calon istriku itu sangat istimewa. Kau tahu C’dride? Geng motor terkenal itu? Dia adalah pemimpinnya! Di jalanan saja dia liar, apa kau bisa membayangkan bagaimana ia di ranjang?” Tentu saja Valerie mendengar perkataan Darrel, pria itu melecehkan calon istrinya sendiri di hadapan desainer pria! Ya, desainer itu seorang pria. Desainer itu lalu tersenyum malu dan tertunduk. “Akanku hancurkan tulangmu jika kau membayangkan tubuhnya!” bentak Darrel ketika melihat desainer itu seolah sedang memikirkan sesuatu. Ia tidak rela jika Valerie menjadi fantasi bagi pria lain. Ya, Darrel, masih belum menyadari bahwa ia sangat terobsesi pada tubuh Valerie. Benar, Valerie bisa mengerjai Darrel di sini. Tiba-tiba saja niat buruk Valerie muncul, ia akan menggoda Darrel agar pria itu tidak seenaknya saja padanya. “Hey, Pak. Bisa kau kemari membantuku?” teriak Valerie dari dalam. Desainer itu merasa terpanggil, ia lalu berjalan mendekat dan mengetuk pintu ruang ganti dengan perlahan. “Ada apa, Nona?” “Ah, saya rasa saya merobek bagian punggung tanpa sengaja. Bisakah kau menjaitnya lagi ketika aku sedang mengenakannya? Agar ukurannya terlihat pas ditubuhku,” jawab Valerie dari dalam. “Baik, Nona.” Desainer itu hendak masuk namun dengan cepat Darrel menahannya. “Akan kubunuh kau jika berani masuk!” bentak Darrel tepat di hadapan desainer itu. “Baik, Tuan.” Darrel kemudian masuk dan mengunci pintu. Valerie yang tengah berdiri menghadap cermin menoleh, punggungnya terekspose karena sebenarnya ia sendiri kesulitan membuka reksleting gaun itu. “Apa kau sengaja?” tanya Darrel sambil mendekat. Ia kembali menyentuh pundak Valerie. Kali ini dengan kedua tangannya. Darrel lalu menatap pantulan wajah Valerie dari cermin. Wajah gadis ini selalu menatapnya dengan benci dan selalu menantangnya. Dan entah kenapa, Darrel menyukai wajah yang seperti ini. Wajah yang tidak menatapnya dengan penuh cinta, seperti Anna yang selalu menatapnya dengan penuh cinta dan selalu membuatnya merasa kasihan. Ah, mari lupakan Anna. “Sengaja apa?” Valerie pura-pura tidak mengerti. “Memanggil desainer itu. Bukankah kau bisa memanggil pelayan wanita? Atau aku, calon suamimu?” “Pernikahan ini palsu, Darrel. Jangan lupa fakta bahwa kita dijodohkan. Tidak ada cinta dipernikahan ini,” tegas Valerie dengan kedua mata menghujam wajah Darrel pada kaca. “Tidak ada pernikahan yang palsu, Valerie. Yang palsu hanya senyum kita di hadapan banyak orang nanti. Pernikahan ini sakral dan asli. Pernikahan ini tetap akan membuat fakta bahwa aku adalah suamimu, dan kau adalah istriku. Kau milikku. Dan aku bisa melakukan apa saja padamu. Termasuk, bermain denganmu di ranjang.” Valerie lalu berbalik dan memandang s3langkangan Darrel dengan emosi. Rasanya ia ingin menendang s3langkangan itu saat ini juga. “Apa? Kau mau melakukannya di sini?” goda Darrel. Di luar dugaan, Valerie lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Darrel. Valerie tersenyum dengan penuh arti dan membuat perasaan Darrel menjadi tidak enak. “Ah s**t! Ah sakit, ah! Kenapa kau melakukannya di sini, ah ah! AHH! Hentikan, hentikan itu br3ngsek! Ah! KIMOCHI!!” teriak Valerie dengan hebohnya. Darrel langsung membekap mulut Valerie dengan panik. Valerie bisa merusak citranya dan perusahaannya. Akan gawat jika ada yang merekam aksi Valerie tadi. “Apa yang kau lakukan! Aku bahkan tidak menyentuhmu!” teriak Darrel, sementara desainer dan para pelayan di luar terkekeh. Mereka tahu Valerie sengaja mengerjai Darrel, karena tidak mungkin tiba-tiba saja hal itu terjadi. “Itu peringatan untukmu. Tuan muda Darrel yang br3ngsek, iblis saja tidak lebih br3ngsek dari anda. Coba sesekali anda memikirkan hal lain, selain urusan s3langkangan. Pergi dari sini sekarang atau aku akan membantingmu lagi seperti kemarin!” *** Bugh! Bugh! “Cukup Val! Mati anak orang!” teriak Caesar, saat melihat karyawannya di hajar habis-habisan oleh Valerie yang sejak tiba di gelanggang tinju milik Caesar. Ya, sahabat Valerie satu ini selain menggilai motor, ia juga menggilai dunia tinju. Caesar masuk ke ring tinju, memisahkan Valerie dan karyawannya yang sudah terkapar pasrah. Caesar lalu memeluk paksa Valerie agar tubuh gadis itu tidak menindih karyawannya lagi. Beberapa anggota C’dride yang bekerja untuk Caesar juga mendekat, mereka mengkhawatirkan Valerie yang tidak seperti biasanya. Gadis itu selalu melampiaskan amarahnya pada sesuatu. Dan mereka tahu, Valerie tidak sedang baik-baik saja. Valerie menepis Caesar,ia lalu melepas sarung tinju dan melemparkannya pada Caesar lalu menuruni ring tinju dengan gesit. Seorang gadis berpenampilan tak jauh berbeda dari Valerie memberikan botol minum pada Valerie. Valerie menyambar botol minum itu dan duduk di tepi ring. Caesar lalu mengikuti Valerie, semenjak dijodohkan, mood Valerie sering kali berubah. Kadang ia mengumpulkan C’dride dengan tiba-tiba, atau mengadakan balapan tiba-tiba. Meskipun Caesar tahu, Valerie selalu mencari C’dride jika sedang sendiri. Caesar sangat tahu, Valerie membenci kesendirian. “Thanks Jane,” ujar Valerie pada gadis berrambut pendek itu. Caesar lalu duduk di antara keduanya, tapi ia membelakangi Jane. Selalu seperti itu. Jane menarik nafas, lagi-lagi Caesar membelakanginya. Ah, bukannya ia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini? “Ada apa, Val? Kenapa kau sangat kacau hari ini?” tanya Caesar sembari menghapus keringat di kening Valerie dengan handuk kecil miliknya.   “Darrel lagi?” tebak Caesar, dan benar saja. Valerie langsung menghunuskan tatapan tajam ke Caesar dan pria itu memamerkan seluruh giginya yang putih pada Valerie. Valerie lalu mendorong kepala Caesar agar menjauh darinya sambil terkekeh. Wajah konyol di wajah tampan Caesar selalu berhasil membuat mood Valerie membaik. Sudah bukan rahasia lagi di kalangan C’dride, jika Valerie sedang mengamuk, sodorkan saja Caesar dan semua masalah akan selesai dalam sekejab. “Jangan sebut namanya, Kai.” Kai, merupakan panggilan sayang Valerie pada Caesar, dan jika Valerie sudah memanggilnya seperti itu, Caesar akan luluh seketika. Valerie jarang memanggilnya Kai. Entahlah, Caesar sendiri bingung menebak situasi seperti apa yang membuat Valerie memanggilnya Kai. Apa saat gadis itu sedang sedih? Gelisah? Atau marah? Entahlah. Yang jelas, panggilan itu membuatnya sangat sumringah. Dan Jane, semakin membenci itu. “Berhenti tersenyum seperti orang bodoh, Caesar! Lihat wanita di belakangmu yang sedang cemburu itu!” ejek Valerie dengan telak. Jane terkejut, ia segera membuang muka. Astaga, raut wajahnya pasti sudah memerah saat ini. “Ayolah Jane! Kau sudah lama bergabung dengan C’dride dan aku tahu kau mengagumi sibodoh ini. Percayalah Jane, aku sudah pernah diposisimu. Mengagumi diam-diam itu tidak menyenangkan. Jadi, katakan saja pada si bodoh ini.” Jane menggaruk kepalanya, sementara Caesar menoleh dan menatap Jane dengan bingung. Apa maksud perkataan Valerie tadi? Jane Rudolf, gadis pemalu, dan manja ini menyukainya? Caesar sendiri bingung, kenapa Valerie menerima Jane sebagai anggota C’dride yang mayoritasnya adalah pria. Perlu di ingat, Valerie sangat tidak suka berteman dengan wanita. Dan dari sekian banyak wanita yang ingin masuk ke C’dride, Valerie hanya menerima Jane Rudolf sebagai anggota inti C’dride. “Ah, tidak seperti itu, Val.” Kilah Jane, Caesar hanya tertarik padanya sejenak, namun Caesar kembali menatap Valerie yang kembali bermain dengan salah satu samsak tinjunya. Kali ini tanpa sarung tangan. “Di mana Antonio dan Mark?” tanya Valerie di sela tinjunya. “Entahlah, si playboy Antonio itu mungkin sedang asyik pacaran dengan gadis yang ia temui di arena balapan tadi malam. Kalau Mark, ia sedang mengantar neneknya yang sedang sakit.”   “Cih, lagi? Wanita bodoh mana yang tertipu oleh mulut manisnya Dallas itu? Dan Mark benar-benar cucu yang baik,” ujar Valerie sambil terkekeh . Antonio, termasuk anggota inti C’dride karena kelucuan dan loyalitas yang ia berikan pada Valerie dan Caesar. Sedangkan Mark, karena ia paling kuat diantara yang lainnya, Mark adalah tukang pukul andalan dan kesayangan Valerie. Ya, anggota inti C’dride hanya terdiri dari lima orang, yaitu Valerie Gladwin, Caesar Kenneth, Jane Rudolf, Antonio Dallas, dan Mark Dawson.   Bugh! Bugh! Tak tahan lagi, Caesar memeluk samsak tinju yang terus bergerak kembali ke arah Valerie dan Valerie yang tak henti meninju samsak itu dengan tangan kosong, tanpa sarung tinju, membuat jari -jemari Valerie memerah, bahkan sudah ada yang tergores dan berdarah. “Cukup Val. Katakan apa yang harus C’dride lakukan pada pria itu,” ujar Caesar dengan serius. “Minggir Kai, kau mau kuhajar?” “Kali ini aku tidak akan membiarkanmu melakukannya. Lihat tanganmu! Kau mau another Gladwin datang ke sini dan menghancurkan tempat ini lagi? Apa yang akan dadmu lakukan jika melihat kondisi tanganmu seperti ini!” Caesar benar. Waktu itu Valerie pernah pulang dalam keadaan terluka karena kalah sparing dengan salah satu penantang C’dride. Dan tahu apa yang terjadi? Ayah Valerie datang membawa puluhan orang untuk merusak sasana tinju milik Caesar ini. Dan Valerie tidak ingin itu kembali terjadi. Sasana tinju ini adalah hasil tabungannya bersama Caesar, agar Caesar memiliki penghasilan dan tidak bekerja secara serabutan. Andai saja Caesar mengikutinya kuliah dulu, Caesar pasti sudah akan bekerja di perusahaan bonafit. Sayangnya, pria itu tidak suka berkutat dengan buku-buku. “Jika kau tidak ingin mengatakan apa yang harus kami lakukan, aku yang akan memberi perintah pada C’dride. Tenang saja Val, akan kupastikan pria itu bersikap hati-hati kepadamu setelah ini.” *** Darrel tengah sibuk memantau saham milik perusahaannya saat para bodyguardnya masuk dengan terburu-buru bahkan tanpa mengetuk pintu. “What the-” Darrel baru saja hendak memaki, tapi melihat wajah serius Reagan dan keringat di wajah Reagan membuat Darrel menahan makiannya. “Truck pengangkut produk terbaru kita, di sabotase oleh belasan, bahkan puluhan motor hingga truck terguling. Semua produk baru di dalam truck hancur terbakar. Tidak ada yang tersisa,” ujar Reagan. Ia lalu memberikan tablet berisi rekaman CCTV, beberapa motor sport berpakaian serba hitam menghadang truck pengangkut produk terbaru milik L-Tech, karena menghindari tabrakan dengan motor-motor itu, truck mengelak sehingga terguling, lalu percikan api muncul dari arah mesin dan menyambar seluruh truck dengan cepat, seolah truck tersebut sudah dilumuri oleh bensin sebelumnya. “Rem truck juga tidak berfungsi boss,” ujar bodyguard yang berada di belakang Reagan. Darrel mengepalkan tangannya, apa ini ulah dari lawan bisnisnya? Tapi bukannya mereka selalu membalas dengan meluncurkan produk yang tak jauh berbeda dari produknya? Lawannya tidak pernah sebar-bar ini. Tunggu, jangan bilang ini ulah C-dride?  Rahang Darrel mengeras, reflek pria itu meninju meja kerjanya hingga tangannya terluka. Di luar dugaan, Darrel tidak mengamuk, Reagan malah mendapati bossnya berwajah sedikit pucat. Apa bossnya sedang sakit? Biasanya, Darrel akan memakinya atau bahkan memukulnya. Tapi kali ini tidak. “Berapa kerugian kita?” “Lebih dari satu miliar, Boss.” Jelas saja, ponsel, televisi dan beberapa produk keluaran terbaru dengan harga fantastis merk L-Tech hancur begitu saja, Darrel mengusap wajahnya dengan kasar. Dalam kepalanya hanya ada satu orang saat ini. Siapa lagi kalau bukan pria penyuka uang, Qeenan Laurens? Benar saja, tak lama pria tua yang masih tampak sangat sehat itu muncul dan menendang pintu ruang kerja Darrel.  “Ke luar kalian dari sini.” Perintah Qeenan, dan seolah terbius Reagan dan bodyguard lainnya segera ke luar dari ruangan. Menyisakan Darrel dan Qeenan yang dipenuhi amarah. “Kau tahu apa yang kau lakukan? Kita sudah nyaris bangkrut dan kecelakaan ini terjadi, kau ingin Laurens Corp kehilangan semuanya hah?!” Qeenan menarik kerah baju Darrel, Darrel tidak bisa menjawab ayahnya. Selama ini, ia selalu terlihat berani bahkan di hadapan ayahnya. Tidak ada yang tahu bahwa Darrel selalu menjadi korban bulan-bulanan dari emosi Qeenan Laurens. Ya, Darrel menyimpan semuanya sendiri, bahkan adik kandungnya, Zihan Laurens tidak mengetahui hal ini sama sekali. “Kau berjanji akan menebus kesalahan Zihan sehingga aku tidak menyentuhnya sama sekali, pernikahan ini belum terlaksana, kau harus menjamin agar Gladwin tidak membatalkan pertunangan ini!” Bugh! Qeenan meninju perut berotot milik Darrel, Darrel tidak berkutik. Ia tahu ini salahnya. Ia sengaja membiarkan Qeenan menyerangnya. Entah kenapa, rasanya ia membutuhkan rasa sakit ini. “Kalau perjodohan ini batal, kau yang akan kubunuh! Tidak, Zihan yang akan kubunuh!” Qeenan yang sempat merasa hubungannya dengan kedua anaknya tidak baik, kembali menjadi Qeenan yang egois dan tamak saat Laurens Corp nyaris bangkrut. “Jangan sentuh Zihan, ayah. Hajar saja aku semaumu. Aku tidak akan melawan. Dan ayah tenang saja, aku akan bertanggung jawab atas semua ini.” “Tanggung jawab katamu?!” Qeenan ke sudut ruangan, ia lalu mengambil tongkat baseball yang terselip di samping lemari kaca. Tongkat yang selalu ada di ruangan Darrel tanpa sepengetahuan siapa pun. Qeenan, menghajar Darrel tanpa ampun. Darrel hanya bisa terkelungkup, melindungi wajah dengan tangan, dan kakinya. Tanpa ia sadari, pria yang terkenal brengs3k itu menangis. *** --Cuap-Cuap sedikit dari author hihi maaf nyelip di sini yak-- Apa kalian tidak keberatan dengan beberapa POV yang author gunakan? semoga tidak bikin kalian bingung yaa :(  Dan, di My Perfect Bodyguard bahasa yang tokoh gunakan adalah gue, lo, aku, kamu, gado-gado yah bun, maafin author :( karna author sudah terbiasa dengan menggunakan kata 'lo, gue' di aplikasi sebelah, jadi ketika bergabung dengan dreame, author belum bisa nulis dengan si tokoh yang menggunakan aku, kau, kamu. Tapi sekarang sudah mulai bisa, yeay hihi.  Let's grow up dengan author yang masih newbie ini yah hihi, kalau ada kekeliruan dalam pendeskripsian sesuatu, harap maklum karna author juga manusia :(  oke sekian cuap-cuap kali ini, eh bentar. di sini ada yang ngeh, judul bab kali ini siapa yang berkorban? Iyup. Darrel... Untuk adik tercintanya, Zihan :( Uh, author jadi kangen babang Zidane.. eh.. >.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD