“Yup. Benar sekali. Kau mau tahu rasanya? Ah, apa aku harus membiarkanmu menjadi sekretaris plus-plus? Seperti sekretarisku sebelumnya? Yang dengan suka rela melayaniku, dan juga para clientku? Ah sayang sekali. Sekretarisku harus berhenti.”
Valerie mengepalkan tangannya. Rencananya untuk menyerang dan membuat Darrel menderita hari ini dengan penampilannya lagi-lagi gagal dan berbalik padanya. Justru Darrellah yang menyerangnya. Telak hingga harga dirinya tidak tersisa.
“I hate you! Devil! Bastard! M3sum!”
“Ya. And that’s why we’re gonna married really soon, honey, beast.”
“Baik, kita lihat saja nanti, siapa yang akan lebih menderita!” Valerie mengancam, wajahnya serius namun Darrel menatapnya dengan santai dan terkesan meremehkannya.
Jika saja tidak sedang di kantor, jika saja C’dride tidak menyerang hingga merugikan L-Tech, jika saja ia tidak perlu melindungi teman-temannya, ia sudah pasti menyerang s3langkangan Darrel saat ini.
Kesal tidak bisa melampiaskan emosinya pada Darrel, Valerie menendang sofa dan berlenggang pergi sembari membanting pintu dengan keras.
“Good girl, terus saja melawanku seperti itu, beast!” teriak Darrel, membuat Valerie semakin frustasi karena tidak bisa melampiaskan emosinya. Gadis itu akhirnya menyambar tas dan kunci mobilnya. Persetan dengan pekerjaan hari ini. Ia akan pergi dan menghabiskan waktu hari ini untuk bersenang-senang.
Valerie memasuki sirkuit milik C’dride, tampak sepi karena ia sengaja tidak memanggil teman-temannya. Putaran pertama, Valerie mengendari mobil sportnya masih dengan kecepatan standar, putaran kedua, Valerie mulai mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Puas memutari sirkuit, Valerie menghentikan aktivitasnya dengan berhenti di satu titik dan mulai ngedrift dengan lincah, membuat bunyi berdecit yang kuat.
Belum cukup puas, Valerie memukuli stir mobil hingga menghasilkan klakson panjang. Gadis itu berulang kali memukuli stir mobilnya dan berteriak sepuasnya. Puas berteriak, Valerie tertunduk, ia menyandarkan kepalanya di atas stir mobil. Benar-benar terlihat frustasi. Untungnya, tidak ada yang melihatnya seperti ini, bahkan Caesar sekalipun.
Ia bebas saat ini.
Tok tok! Suara ketukan pada jendelanya membuat Valerie menengadahkan kepalanya, cukup lama gadis itu menunduk dan menyandarkan kepalanya pada stir mobil sehingga menghasilkan bunyi klakson yang panjang.
“Kai?” Bagaimana bisa Caesar ada di sini? Bukankah tadi ia sudah memastikan tidak ada siapapun di tempat ini?
“Buka Val!” Caesar tampak panik, ia yang juga sedang melarikan diri dan bersumbunyi di sudut podium menikmati kesendiriannya sebelum mobil Valerie memasuki sirkuit dan beraksi.
Valerie membuka pintu, dengan menahan tangis, Valerie langsung memeluk Caesar. Caesar membalas pelukan Valerie, sambil mengelus punggung gadis itu tanpa bertanya ada apa terlebih dahulu. Ia membiarkan Valerie melampiaskan emosinya terlebih dahulu. Sungguh, ia telah berteman cukup lama dengan Valerie dan jarang melihat Valerie seperti ini.
Valerie selalu tampak kuat, ia selalu berusaha kuat dan berani. Tidak pernah mau menampakkan sosoknya yang rapuh seperti ini. Darrel adalah kelemahan dan alasan Valerie untuk tetap kuat.
“Sudah? Jangan menangis. Pria brengs3k itu tidak pantas ditangisi Val. Tolong berhenti menangis karenanya atau aku akan membunuhnya.”
“Aku tidak mau menikah dengannya, Kai… Tolong aku… Aku membencinya, sangat…”
“Ya ya, kita akan menghentikan pernikahan itu, tenang saja ya…” Caesar memeluk Valerie dengan erat, meski ia menahan emosinya setengah mati.
Ponsel Caesar sedari tadi terus bergetar, sembari mengelus punggung Valerie yang mulai tenang, Caesar meraih ponsel di saku celananya. Panggilan dari Mark.
“Apa?!”
…
“Bagaimana bisa?!”
…
“Kau yakin pelakunya adalah pria itu?”
…
“Ya, kami akan segera ke sana.”
Valerie melepas pelukannya, dan menatap Caesar dengan bingung. Caesar tampak emosi dan panik.
“Ada apa Kai?”
“Antonio. Antonio di serang oleh bodyguard Darrel Laurens.”
“Apa?”
***
Valerie dan Caesar berjalan dengan tergesa, lorong rumah sakit ini terasa begitu panjang hingga keduanya melihat Mark dan Jane berdiri di depan pintu UGD. Tangan Mark masih dipenuhi oleh darah.
Valerie segera menghampiri Mark, gadis itu menarik kerah baju Mark. Sementara wajah Mark dan penampilannya tampak berantakan, sementara Jane duduk tertunduk dan ketakutan. Caesar menghampiri Jane terlebih dahulu, sepertinya Jane juga menjadi saksi mata atas kejadian itu.
“Antonio kenapa? Tolong jelaskan semuanya padaku!”
“Mark! Tolong jawab!”
“Tenang Val, aku tidak bisa menjelaskan padamu kalau kau panik seperti ini!”
“Antonio, Antonio… Dia begini karenaku, hiks…” Jane mulai menangis, Caesar merangkul dan menenangkan gadis itu.
“Seseorang menahanku dan menghubungi Antonio, Antonio tidak bisa melawan karena mereka mengancam akan menembakku…”
“Mereka bersenjata?” tanya Caesar. Jane mengangguk. Tidak salah lagi, pelaku penyerangan Antonio adalah antek-antek Darrel Laurens.
“Apa Antonio tertembak?” tanya Valerie, ia melepaskan cengkramannya pada Mark dan beralih pada Jane. Valerie amat berharap Jane menggelengkan kepalanya. Sayangnya, Jane mengangguk. Antonio tertembak.
“Siapa pelakunya? Kau mengenalnya?” tanya Valerie lagi, membuat Jane merubah ekspresi takutnya menjadi marah dan mendorong Valerie.
“Ini karenamu! Antonio begitu karenamu! Pria sial4n itu yang menyerangku dan Antonio!”
“Hentikan Jane! Jangan menyalahkan Valerie!” ujar Mark sembari menarik Valerie menjauh dari Jane, sedangkan Caesar menarik Jane hingga duduk kembali.
“Apa? Ini semua ulah Darrel?” Valerie terpaku, ia lalu menatap Mark yang terdiam, Valerie kemudian mengalihkan pandangannya ke Caesar, Caesar mengangguk.
“Mereka bahkan merekam Antonio dan juga memberikan pernyataan bahwa mereka adalah bodyguard Darrel Laurens.” Mark menyerahkan ponselnya, layar ponsel pintar itu menunjukkan wajah Antonio yang sudah babak belur, darah sudah mengalir di pelipisnya. Namun mereka belum merasa puas, mereka menembaki Antonio meski Antonio sudah terkulai lemah.
Ponsel itu lepas dari tangan Valerie saat terdengar tembakan. Valerie terhuyung dan dengan sigap Caesar menangkapnya. Valerie berusaha untuk bangun, dan tidak menangis meski matanya sudah memerah. Valerie kemudian pergi begitu saja, percuma ia ada di sini saat ini.
“Val! Val!” Caesar memanggil, namun terlambat. Valerie sudah menghilang dari lorong rumah sakit. Ya, gadis itu berlari secepat mungkin. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu orang.
“Kau susul saja Kai, dia pasti ke tempat di mana Darrel berada. Aku harus berjaga di sini, kerahkan saja seluruh C’dride untuk mengepung tempat itu. Aku sudah menghubungi mereka semua. Mereka menunggumu di markas.”
Caesar mengangguk. Ia berusaha untuk tetap tenang meskipun perasaannya sedang berkecamuk. Melihat Valerie menangis tadi, dan kini Antonio sedang kritis karena ulah bodyguard Darrel Laurens.
***
Bruk!!!
Valerie mendorong pintu ruang meeting dengan keras, membuat Darrel dan pegawai L-Tech yang sedang melaksanakan evaluasi pekerjaan kaget. Untungnya, Darrel tidak sedang meeting penting saat ini.
“Val? Ada ap-”
Bugh! Valerie memberikan bogem mentah tepat di wajah tampan Darrel Laurens. Membuat seluruh karyawan teriak kaget dan segera menangkap tubuh Valerie yang hendak menyerang Darrel kembali.
“What the heck! Apa-apaan ini Val!”
“B4jingan! Kau bilang tidak akan menyentuh teman-temanku jika aku menurutimu! Namun nyatanya apa! Kau menculik Jane dan menembak Antonio hingga sekarat! Brengs3k! Kau mau cari mati denganku hah! Aku tak peduli meski kau Darrel Laurens sekalipun! Lepaskan aku brengs3k!” Valerie berusaha berontak, ia lalu menginjak kaki dua karyawan pria yang menahan kedua lengannya, menarik tangan salah satunya dan membantingnya dengan mudah. Valerie lalu kembali menatap Darrel dan berusaha untuk mendekati Darrel.
“Val, tunggu kau salah paham!” Darrel berusaha menghindar, pukulan Valerie cukup kuat hingga hidungnya mengeluarkan darah.
Darrel yang tidak mengetahui apa-apa tentu saja bingung. Apa maksud perkataan Valerie tadi? Menyerang teman-temannya?
“Jangan pura-pura bodoh bastard!”
Darrel kemudian memberi kode agar seluruh karyawan ke luar dari ruangan, para karyawan itu segera ke luar dan berusaha menghubungi Reagan. Darrel terus berpindah menjauhi Valerie yang tak henti mengejarnya. Valerie benar-benar mengamuk seperti binat4ng liar.
“Val, aku tidak memerintah siapa pun untuk menyakiti teman-temanmu! Tolong dengarkan penjelasanku dulu.”
“Tidak memerintah? Oh ya? Lalu ini apa!” Valerie melempar ponselnya dan dengan sigap Darrel menangkapnya. Terdengar jelas perkataan orang-orang yang memukuli Antonio bahwa mereka adalah orang suruhan Darrel Laurens.
“Mereka bukan orang-orangku. Percayalah Val, aku tidak mungkin menyerang teman-temanmu!”
“Oh ya? Kalau penjahat mengaku dengan mudah maka penjara akan penuh dengan cepat!”
“Kau sudah menuruti permintaanku, untuk apa aku masih menyakiti mereka?”
“Karena tadi aku pergi? Ya kan, pasti karna itu!”
“Val kau lihat sendiri aku sedari tadi sibuk di sini!”
“Kau bisa memerintah anak buahmu kapan saja bastard!”
“Berhenti menghindariku brengs3k! Pengecut!”
Darrel lalu berhenti, membiarkan Valerie menangkapnya, namun Darrel dengan cepat mengamankan kedua tangan Valerie dan mengapitnya ke dinding kaca ruangan itu. Darrel tentu saja lebih kuat dari pada Valerie.
Mendengar kegaduhan yang terjadi di dalam ruangan, asisten yang sempat menjadi sekretaris Darrel segera turun ke loby, akan semakin berbahaya jika membiarkan Darrel berdua saja dengan Valerie yang memiliki ilmu bela diri. Sesampai di loby betapa kagetnya asisten itu saat melihat loby di penuhi dengan sekumpulan pria berjaket kulit dan terulis C’dride di belakangnya. Mereka memaksa untuk naik dan menemui Darrel, namun Reagan dan bodyguard lainnya tengah menahan pasukan C’dride yang dipimpin oleh Caesar itu.
Asisten itu kembali ke atas dan segera memberitahu Darrel.
Sementara di dalam ruang meeting, nafas Valerie terdengar tidak beraturan, keringat di kening gadis itu amat menggoda Darrel, pria itu menikmati pemandangan di hadapannya. Dad4 Valerie yang terlihat naik turun karena Valerie terlalu menghabiskan energinya untuk mengejar Darrel tadi. Ya, Darrel sengaja membuat Valerie kelelahan, dan kini pria itu yang memenangkan pertempuran mendadak ini.
“Sudahku bilang, bukan aku yang menyakiti mereka,” ujar Darrel, kedua mata Valerie menatapnya tajam, jelas tersirat kebencian yang amat dalam dari sorot mata Valerie, dan Darrel menyukai itu. Sangat.
“Akan kubuktikan, bukan aku pelakunya. Sama halnya dengan bukan teman-temanmu yang menyabotase truckku. Kita dijebak Val. Percaya padaku.”
“Oh ya? Anda sangat cocok menjadi pendongeng tuan muda! Aku tidak akan sudi menikahimu! Aku akan membuatmu masuk penjara dan- umhh!”
Darrel membungkam mulut Valerie dengan cium4n, Valerie yang hendak melawan tentu saja tidak bisa karena kedua tangannya yang terangkat dan digenggam erat oleh Darrel Laurens. Darrel memaksa Valerie untuk membuka bib1rnya lebih jauh, mencari lid4h dan melumatnya tanpa ampun.
Seperti tersengat listrik, tubuh Valerie meremang. Lagi-lagi tubuhnya mengkhianatinya. Bajing4n. Darrel benar-benar titisan iblis. Bisa-bisanya pria itu memanfaatkan situasi seperti ini untuk menikmatinya? Sementara Antonio, hampir meregang nyawa karenanya?
Tanpa sadar Valerie memejamkan matanya, satu tetes air mata lolos begitu saja di pipinya. Semua yang terjadi, karena dirinya. Karena perjodohan bodoh yang dilakukan oleh ayahnya. Dosakah jika ia juga membenci ayahnya?
Bruk! Asisten itu membuka pintu dengan kuat, membuat Darrel melepas ciumannya dan menoleh pada asistennya yang tampak panik itu.
“Di bawah! Di bawah sudah dipenuhi oleh C’dride!” ujar asisten itu, meski sempat salah fokus dengan posisi Darrel dan Valerie yang sedang berdempetan di dinding.
“Apa?” Darrel segera melepas cengkramannya pada Valerie, dan…
Plak!
Valerie menampar Darrel dengan kuat lalu menabrak tubuh pria itu dan pergi begitu saja. Menyusul teman-temannya yang ada di bawah. Ia bisa menyelesaikan ini sendiri. Akan berbahaya jika teman-temannya ikut terlibat, sementara para bodyguard Darrel difasilitasi dengan senjata yang lengkap.
“Val!” panggil Caesar yang terus menerus di hadang oleh Reagan. Kemunculan Valerie membuat para barisan bodyguard Darrel mundur dan memberi jarak, Valerie berjalan mendekati Caesar dan Reagan.
“Di mana sial4n itu?” ujar Caesar, membuat Reagan memelototinya dengan tak suka. Kalau saja Caesar bukan teman baik Valerie, ia pasti sudah membuat perhitungan dengan pria gondrong yang ada di hadapannya saat ini. Terlebih, Darrel pernah memberinya amanah untuk tidak menyentuh teman-teman Valerie.
“Biar aku yang mengurus semuanya. Kalian pulang saja, aku tidak mau ada yang terluka lagi selain Antonio. Please, bisakah kalian pulang?” Valerie, sembari menangis mengedarkan pandangan kepada teman-temannya yang menatapnya dengan sedih, beberapa terlihat emosi, beberapa terlihat cemas pada Valerie.
“Tapi Val, pria itu sudah membuat Antonio nyaris kehilangan nyawanya!”
“Bukan Boss Darrel yang melakukannya. Aku bisa menjamin itu! Dia bahkan memberikan amanah padaku untuk tidak menyentuh kalian meskipun aku sangat ingin melakukannya! Berandal seperti kalian, hanya menyelesaikan masalah dengan emosi saja.”
Valerie diam-diam menarik pist0l milik Reagan dan menodongkannya senjata. Membuat Reagan mundur seketika dan bodyguard Darrel ikut mengeluarkan senjata, memasang ancang-ancang untuk menyerang Valerie jika berani menarik pelatuknya.
“Kau mau mati? Jangan sembarang bicara!” ujar Valerie dengan marah, tidak terima teman-temannya disebut berandal oleh Reagan.
“Val, berikan senjatanya. Mereka menodongkan senjata padamu!” Caesar mencoba membujuk Valerie, Valerie justru menodongkan pistol padanya.
“Mundur! Kalian harus pergi dari sini, pergi!” Valerie mengarahkan pistolnya kepada seluruh teman-temannya dengan tangis di wajahnya.
“oke, oke! Kami akan pergi, tapi serahkan dulu senjatanya. Letakkan ke lantai senjatanya Val!”
“Tidak! Sebelum salah satu dari kalian mengaku siapa yang sudah menembak Antonio!” Valerie kembali mengarahkan pistol ke para bodyguard yang juga menodongkan senjata ke arah Valerie.
“Turunkan senjata kalian! Beraninya kalian mengarahkan senjata ke calon istriku!” suara Darrel terdengar bergema, dan saat Valerie menoleh, Reagan segera merampas pistol di tangan Valerie dan Caesar segera memeluk Valerie dan membawa gadis itu menjauh dari para bodyguard.
“Berhenti! Mau kau bawa ke mana calon istriku!” Caesar menghentikan langkahnya, dan seluruh anggota C’dride sudah bersiap untuk menyerang Darrel dan bodyguardnya.
“Kau masih bertanya? Kau tak lihat Valerie seperti apa?”
“Val, kemarilah.” Perintah Darrel, Valerie tak bergeming. Ia bahkan memeluk Caesar dan menyembunyikan wajahnya di sana. Ia sudah lelah. Energinya sudah habis. Ia tidak pernah menodongkan senjata kepada siapapun dan tadi ia melakukannya pada teman-temannya sendiri. Dan itu amat menyakiti dirinya. Valerie menyayangi C’dride, melebihi nyawanya.
“Akan kubuktikan, bukan aku atau orang suruhanku yang menyerang kalian. Valerie telah membuat perjanjian padaku dan aku tidak akan menyentuh kalian. Untuk apa aku menyerang salah satu dari kalian kalau aku bisa menyerang kalian semua? Itu jelas umpan. Dan kalian sudah termakan umpan dari pelakunya. Kalian melakukan sesuai dengan apa yang pelakunya inginkan. Yaitu menyerangku. Membuat hubunganku dan Valerie hancur. Tapi asal kalian tahu, Valerie dalam bahaya dan tugasku melindunginya. Kalian tidak akan bisa membatalkan pernikahan ini. Percaya padaku, pelaku sebenarnya bukan mengincar kalian, melainkan Valerie.”
Caesar terdiam. Sepertinya Darrel berkata dengan sungguh-sungguh. Ia lalu memerintah teman-temannya untuk mundur.
“Valerie akan ikut denganku. Urusan kita belum selesai hingga kau memberikan bukti bukan kalian pelakunya. Jika kalian pelakunya, darah akan dibalas dengan darah.”