D.C | Part 9 – Trapped

2242 Words
Warning! 18+ Area! Caesar membawa Valerie ke apartemen sederhana miliknya. Sementara anggota lainnya ia pulangkan, beberapa orang ia perintah untuk menemani Mark dan ada juga yang berjaga di depan rumah sakit. Markas C’dride juga tak luput dari penjagaan. Ya, Caesar benar-benar membagi tugas kepada anggota C’dride. Jika memang perkataan Darrel benar, kemungkinan orang itu akan kembali menyerang. Entah itu menyerang Darrel, Valerie, bahkan C’dride. Usai memastikan Valerie duduk dengan nyaman di sofa ruang tamu, Caesar ke mini pantri miliknya, ia mengambil secangkir gelas dan mengisinya dengan air putih hangat. Hanya itu yang dimiliki oleh pria itu karena kulkasnya hanya terisi dengan minuman beralkohol. Tidak ada s**u ataupun jus yang cocok untuk diminum oleh Valerie dengan keadaannya saat ini. “Minum dulu, Val.” Tidak. Caesar tidak memberikan gelas itu pada Valerie, melainkan ia sendiri yang memegangi gelas itu dan memberikannya pada Valerie secara perlahan. Valerie memalingkan wajahnya dan menggeser tangan Caesar dari hadapannya. Caesar akhirnya meletakkan gelas itu dan terdiam, mengamati Valerie yang menatap sembarang dengan pandangan kosong. Valerie tampak berantakan. Meskipun tidak ada sisa maskara di mata Valerie, namun mata gadis cantik itu merah dan mulai membengkak. “Antonio akan baik-baik saja,” ujar Caesar, membuat Valerie beralih menatapnya. “Kalau tidak baik-baik saja, aku sendiri yang akan menghabisi Darrel. Terlepas ia pelakunya atau bukan. Orang itu menyerang kita karena aku dekat dengan manusia brengs3k itu. Dia pasti memiliki banyak musuh yang ingin melihatnya hancur. Entah apa yang ada dipikiran dad sehingga ia menjodohkan aku dengan pria bermasalah seperti Darrel Laurens.” Valerie melepaskan blazernya, menyisakan blouse rendah yang sedari pagi ia kenakan. Caesar menelan ludah. Biar bagaimana pun, ia adalah pria normal. Valerie tetap sangat cantik dengan mata merah dan bengkak serta rambut yang sedikit berantakan. Merasa ada yang tidak beres dengan ikatan rambutnya, Valerie mengangkat tangannya dan memperbaiki ikatan rambut panjangnya. Lagi-lagi Caesar menelan ludah. Sejak kapan Valerie sangat menggoda dan terlihat seperti perempuan seutuhnya? Apa karena ia akan menikah sehingga Caesar baru tersadar bahwa ia memiliki sahabat yang sangat cantik dan seksi? “Val, kau tidak boleh mengikat rambutmu seperti itu di depan pria lain,” celetuk Caesar tanpa sadar. Valerie telah selesai memperbaiki ikatannya dan menatap Caesar yang duduk di sampingnya dengan seringai nakal. “Kenapa? Kau baru menyadari bahwa aku ini sangat seksi?” “Tidak. Percaya diri sekali anda,” Caesar membuang muka. Setidaknya, kini Valerie tidak terlihat frustasi seperti tadi. “Kai, kau harus menjaga C’dride setelah aku menikah nanti. Ah, ngomong apa aku ini? Kalian bisa membantuku untuk membatalkan pernikahan inikan?” “Aku akan selalu menjaga C’dride, Val. Bersama denganmu di sisiku. Kita bersama membangun C’dride hingga sebesar ini. Meski sampai sekarang, aku masih menerka apa kau mendirikan ini karena Darrel Laurens? Apa hubungannya antara Darrel dengan geng motor?” Valerie terdiam, tapi ia membenarkan perkataan Caesar di dalam hatinya. Alasan terbesar ia mendirikan C’dride memang Darrel Laurens. Alasan Valerie bergaul dengan banyak pria di C’dride adalah Darrel Laurens. “Tak perlu kau jawab. Aku akan mencari tahu sendiri nanti. Kalau memang ini karena Darrel Laurens, artinya pria itu sudah punya tempat dihatimu tanpa kau sadari, Val.” “Tidak mungkin. Aku membencinya.” “Kadang, benci dan cinta itu sulit dibedakan.” “Lihat siapa yang berbicara soal cinta! Apa kau sendiri pernah jatuh cinta?” serang Valerie pada Caesar, Valerie bahkan sengaja menggoda Caesar dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Caesar. “Entahlah! Kau harus mandi Val! Aku tidak tahan melihatmu berpenampilan seperti sekretaris nakal!” “Hell, jadi sedari tadi, aku berpakaian seperti ini? Di hadapan C’dride? Oh my!” Valerie segera berdiri, menutup mukanya dan segera berlari ke kamar mandi. Valerie segera merobek blouse dan rok yang ia kenakan. Beberapa menit kemudian usai air shower membasahi tubuhnya, ia baru sadar bahwa ia tidak membawa pakaian cadangan. “Val, ini handukmu! Masih baru, baru saja kucuci satu tahun yang lalu!” “Kai! Yang benar saja!” terdengar suara tawa Caesar dari luar, membuat Valerie menyungingkan senyum di bibirnya. Ia membuka perlahan pintu kamar mandi, mengintip dari celah pintu dan mengulurkan tangannya. Berharap Caesar memberikan handuk itu padanya. “Kai! Mana handuknya!” “Sebentar, aku mencari handuk yang lebih baru, seingatku, handuk ini benar-benar kucuci satu tahun yang lalu dan tidak pernah kupakai. Aku jarang mandi di sini.” “Yah, kau memang C’dride sejati. Cepat Kai! Dingin tahu!” “Alright! Ini!” ujar Caesar sembari memberikan handuk pada tangan Valerie yang terjulur di depan pintu. Dengan isengnya Caesar mengintip dari celah pintu. Tentu saja percuma karena Valerie benar-benar bersembunyi di balik pintu kamar mandi. “Kai! Mau kupatahkan masa depanmu hah!” omel Valerie disambut tawa menggelegar dari Caesar. “Ah, syukurlah Val. Setidaknya kau bisa sedikit tertawa. Semoga Antonio benar baik-baik saja,” gumam Caesar sambil mengambil ponsel dan menghubungi Mark. *** Reagan membungkuk usai melihat bosnya masuk ke dalam penthousenya. Hari ini, Darrel meminta untuk pulang ke penthouse miliknya, bukan ke mansionnya. Jika Darrel sudah memutuskan untuk pulang ke penthouse, artinya pria itu sedang menginginkan waktu untuk sendiri. Tanpa diganggu oleh puluhan bodyguard dan juga pelayan yang selalu berkeliaran disekitar mansion. Terlebih lagi, Qeenan terkadang menjadi tamu tidak diundang di mansion itu. Darrel melonggarkan dasinya, ia melempar jasnya dengan sembarang kemudian duduk di sofa. Hari yang begitu berat membuatnya menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Darrel tanpa sadar menyentuh hidungnya dan terasa perih. “Pukulan gadis itu boleh juga,” seringai Darrel, ia tiba-tiba membayangkan Valerie di atas ranjang, apakah gadis itu juga akan sekuat dan sekasar ini? Darrel membuka matanya saat celananya tiba-tiba terasa sempit, terlebih, kolam renang di hadapannya menimbulkan suara. Seseorang sedang berenang di dalam kolam renang pribadinya. Ya, di dalam penthouse milik Darrel terdapat kolam renang yang terletak di depan sofa. Tentu saja sengaja di desain demikian oleh Darrel agar ia bisa melihat berbagai gadis seksi berenang di dalam penthousenya. Tapi, bagaimana mungkin orang itu bisa masuk ke dalam penthousenya yang memiliki sistem keamanan yang ketat? Bahkan saat ia masuk tadi, tidak ada tanda-tanda pintu dibuka dengan paksa. Orang ini pasti mengetahui pasword miliknya. Apakah ia Zihan? Adiknya Darrel Laurens? Tapi tidak mungkin. Zihan berada di paris bersama dengan suami dan anak angkatnya. Lalu, siapa orang ini?   Darrel segera berdiri dengan was-was, ia sudah bersiap menghubungi Reagan yang pasti berjaga di depan pintu, saat Darrel mulai menekan tombol di ponselnya, seorang gadis cantik berbikini hitam muncul dan menaiki tangga di tepi kolam renang. Darrel menelan ludah. Rasa was-was yang sempat menyerangnya hilang begitu saja. Pemandangan di hadapannya saat ini sesuai dengan kebutuhannya. Gadis itu melangkah dengan sangat sensuual, ia mendekati Darrel dan mendorongnya hingga Darrel  kembali terduduk. Darrel menatap gadis itu dengan penuh gairah. Terlebih dadaa gadis itu terlihat sangat menggiurkan. Sadar dengan apa yang Darrel tatap, gadis itu menduduki Darrel, tak peduli dengan tubuhnya yang basah, hal itu membuat Darrel langsung menyentuh bahkan meremass bokongg gadis itu. Darrel lalu beralih kepada gundukan yang ada di hadapannya, meremas dan mendekatkan wajahnya pada benda kenyal di hadapannya. Gadis itu tak mau menunggu lama, ia segera melepas tali bra yang terikat di punggungnya hingga daddanya terpampang dengan nyata. Darrel menelan ludah. Persetan dengan Valerie dan semua masalah di kantornya. Ia membutuhkan ini, sangat. Kapan terakhir kali ia bermain dengan wanita yang menjadi salah satu favoritnya ini? “Umh…” desah gadis itu saat Darrel bermain di salah satu gundukan indah miliknya. Gadis itu menekan kepala Darrel, meminta Darrel untuk bermain lebih di sana. Tanpa ampun, Darrel melumat gundukan itu. Meninggalkan tanda kepemilikan di sekitarnya. “Belle…” desah Darrel saat gadis itu meremas sesuatu di bawah sana yang sudah sangat mendesak untuk keluar dari celana. “Yash baby, do you miss me?” Darrel mengangguk sembari tetap bermain dengan dadda Belle, dan Belle sangat menyukai Darrel yang seperti ini. Darrel yang begitu mendamba dan menginginkan tubuhnya. Tidak sia-sia ia melakukan banyak perawatan sebelum nekat datang ke penthouse Darrel karena sudah lama pria itu tidak menghampirinya. Terakhir, saat keduanya berada di club miliknya dan bertemu dengan gadis jelek dan tomboy itu. Ya, di mata Belle, Valerie hanyalah gadis jelek yang tomboy dan kasar. “Apa kau benar-benar akan menikah dengan wanita jelek itu?” Belle menjauhkan tubuhnya dari Darrel, membuat pria itu berhenti melakukan aktivitasnya dan Darrel tidak suka aktivitasnya terhenti karena ia sedang menikmati benda kenyal itu. Darrel tak menjawab, ia menarik paksa tubuh Belle dan kembali bermain dengan kedua benda kenyal favoritnya itu. “Katakan dulu aku akan tetap menjadi favoritmu meski kau sudah menikah dengan wanita itu.” “Darrel katakan!” Darrel berdecak. Dengan berat hati ia melepas kulumannya, “Ya, Belle. Kau akan tetap menjadi favoritku. Meskipun aku sudah menikah sekalipun. Puas?” Senyum mengembang di wajah Belle, gadis itu kemudian melirik ponselnya yang tergeletak di samping sofa. Tak puas dengan posisi seperti itu, Darrel menggendong Belle ke dalam kamarnya sembari tetap bermain dengan dadda Belle. “Arght Darrel pelan-pelan!” *** Dari balik kaca, Valerie menatap Antonio yang masih tak sadarkan diri usai di operasi. Beruntung, peluru itu berhasil diangkat oleh para dokter. Valerie tidak tahu pasti di mana letak peluru itu. Yang jelas, yang ia tahu peluru itu hampir membuatnya kehilangan Antonio. Valerie tidak ingin untuk tahu lebih lanjut karena ia tidak akan bisa menahan emosinya. Bisa-bisa, ia kembali menyerang Darrel dan membuat peluru juga bersarang ditubuh pria itu. Caesar merangkul Valerie. Sudah hampir satu jam Valerie berdiri di jendela kamar rawat inap di mana Antonio terbaring usai operasi. Valerie tidak bersuara, ia hanya berdiri menatap Antonio dan itu membuat Caesar dan Mark cemas. Sementara Jane sudah dijemput oleh bodyguard ayahnya, Valerie rasa ayah Jane juga tidak akan terima putri semata wayangnya dalam bahaya. Mungkin Jane akan dikurung dalam waktu yang cukup lama dan tidak bisa mengikuti aktivitas C’dride seperti biasanya. “Kau harus pulang Val,” Valerie tidak menjawab. Caesar akhirnya menarik Valerie dan memaksa gadis itu untuk duduk di samping Mark yang tengah memijit pelipisnya. Mark kelelahan. Caesar tahu itu. Mark sama sekali tidak ingin meninggalkan Antonio. Hening cukup lama, ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Herald, ayah Valerie dan beberapa bodyguard mengekori di belakangnya tiba. Caesar menelan ludah. Firasatnya mengatakan hal buruk akan terjadi. Apa kali ini Herald akan menamparnya lagi? Setelah waktu itu Valerie kecelakaan akibat balapan di sirkuit dan Herald menyalahkannya. Caesar menyenggol lengan Valerie yang tertunduk, tidak menyadari kehadiran rombongan ayahnya. Valerie menoleh dan menatap Caesar yang memberi kode untuk melihat ke samping. “Dad?” ujar Valerie saat melihat Herald berdiri dengan penuh wibawa. Raut wajah yang tidak bisa ditebak oleh Valerie membuat ia cemas. Apa daddynya akan memarahinya? “Kau harus pulang.” “Tidak, aku akan menunggu di sini hingga Antonio sadar.” Ujar Valerie sembari berdiri, di susul Caesar dan Mark di kiri dan kanan Valerie. Kini ayah dan anak itu saling berhadapan, dengan bodyguard masing-masing. Seperti mafia dan musuh yang sudah siap untuk berperang. “Apa kau masih belum sadar, bahwa kau dalam bahaya? Bahkan seluruh teman-temanmu ini juga sedang dalam bahaya.” “Apa maksudmu, dad?” “Antonio di serang oleh orang yang mengaku bodyguard Darrel Laurens. Daddy bisa menjamin bahwa Darrel bukanlah otak dibalik serangan ini. Laurens hampir bangkrut, pernikahan kalian akan membuat Gladwin dan Laurens akan semakin kuat. Ini sudah dimulai, sejak sabotase pada truck milik L-Tech terjadi. Orang itu tidak hanya menyerang Darrel, sayang. Tapi kau, dan juga teman-temanmu. Kalian harus pulang,” Herald menatap Caesar dan Mark bergantian. “Aku akan memerintah pengawalku untuk menjaga Antonio. Dan kalian, serta seluruh anggota kalian, silahkan berkumpul di gudang milikku. Di sana kalian akan di jaga dengan ketat dan tidak akan ada yang berani menyerang kalian.” “Dad, apa ini ulah Darrel Laurens? Dia yang memerintahkanmu ke sini dan mengatakan semua bualan ini?” Valerie menatap ayahnya dengan curiga. Tidak biasanya Herald yang menangani langsung masalah seperti ini. Herald selalu duduk manis di kantornya, atau di ruang kerja di mansionnya. “Kau meragukan daddymu, hmm?” “Apa anda bisa menjamin bahwa pelaku penyerangan Antonio bukanlah Darrel Laurens?” Caesar bersuara, headband di kepalanya sangat mengganggu Herald. Herald selalu tidak suka dengan penampilan Caesar. Jangan tanyakan kenapa, Herald sendiri pasti tidak bisa memberikan alasan yang tepat kenapa ia tidak pernah menyukai Caesar. Ah, apa karena Caesar selalu mencuri putri semata wayangnya? “Ya, tidak hanya Antonio yang akan terluka. Tapi kalian semua. Kau mau Valerie terluka karena melihat kalian satu persatu menyusul Antonio?” Caesar terdiam, perkataan Herald ada benarnya. Ia tidak ingin membuat Valerie cemas. “Baiklah, jika memang itu yang terbaik untuk Valerie, kami bersedia mengikuti saranmu.” “Kai!” bentak Valerie, Mark menarik lengan Valerie dan mengangguk. Memberi kode bahwa ia juga menyetujui keputusan Caesar. “Val, ayahmu mengatakan hal yang benar. Meskipun aku masih meragukan dalang dibalik ini semua bukan Darrel Laurens, tapi ayahmu tidak mungkin membuatmu dalam bahaya, Val.” “Ya, tapi aku tidak bisa menjamin kalian akan aman di sana! Kalian tidak tahu apa yang ayahku bisa lakukan!” “Kami bisa jaga diri Val. Aku dan Mark, bisa menjaga C’dride. Dan Antonio, juga akan di awasi oleh polisi. Jadi, ku rasa mereka tidak akan berani macam-macam dengannya,” ujar Caesar. Dengan berat hati, Valerie akhirnya mengangguk. Herald merangkul Valerie dan merangkul putri semata wayangnya kemudian berjalan, para bodyguard itu segera berbaris rapi dan menunduk, memberi celah agar Herald dan Valerie lewat. “Kumpulkan seluruh anggota di markas.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD