Pagi berikutnya, Langit dan Bulan menikmati hari mereka dengan berada di balkon beserta peralatan masak berupa panggangan kecil untuk membuat barbeque sederhana. Bahan-bahan makanan pun sudah siap dan hampir matang. Aroma dari irisan kecil daging yang dipanggang cukup menggoda selera siapa pun yang menghirupnya. Apalagi matahari yang mulai menunjukkan hangatnya, menambah kesan tersendiri bagi mereka berdua. Langit yang sejak tadi duduk manis di kursi mulai menelan ludah, berat. Perutnya semakin keroncongan akibat terlalu banyak menghirup aroma masakan Bulan yang khas dengan bumbu kuat. Rasanya sudah lama sekali di tidak mencicip masakan wanita itu, hingga dia begitu merindukan momen ini. “Sudah siap!” Bulan pun mengangkat irisan dagingnya beserta sayuran segar ke piring milik Langit. “Co

