"Ma.. bangun dulu. Abra mau jelasin sama Mama." "Mama mohon sama Abra.." "Iya, Ma. Abra bakal turutin semua apa kata Mama. Tapi jangan bersujud di sini. Mama gak pantas. Harusnya Abra yang bersujud di kaki Mama." Alzam menarik sang istri dan membantu wanita itu bangun. Wajahnya sembab dan memerah. Sangat tidak cantik. Alzam membenci wajah rapuh istrinya. "Sstt, sudah. Kita bisa mendengarkan alasan Abra dulu, kan?" "Kamu gak ngerti! Kalian gak akan ngerti sama apa yang aku rasain! Riana gadis baik! Jangan rusak dia karena keserakahan kalian!" Bentak Disia. Alzam meradang mendengarnya. Ternyata masa kelam wanita ini nyatanya tidak sepenuhnya hilang. Alzam memakluminya. Ia memang sebrengsek itu dulu sampai membeli Disia untuk ia peristri. Dan apa yang Disia katakan benar. Alzam dan an

