Brak. "Woo! Akhirnya kamu datang juga," sapa seorang pria yang kini bangkit dari kursi kebesarannya. Ia menepuk tangan kecil dengan semangat. Matanya menatap lelaki yang tak lain keponakannya itu dengan tatapan remeh. Bibirnya juga menyunggingkan senyum miring. "Kenapa Om bocorin semuanya sama Mama?!" Tanya lelaki itu keras. Revano tertawa. Ia duduk di sofa dengan angkuh. Lalu tanpa aba-aba, sebuah bogem mentah menghantam pipinya. Membuat tubuh tegap itu terhuyung dan terlentang di sofa. "Sebentar. Apa ini cara seorang penerus perusahaan AR? Berkelakuan melenceng tanpa sopan santun?" Sindir Revano dengan tenang. Bahkan ketika bibirnya sudah sobek, pria itu masih mempertahankan sikap santainya. "Buat apa sopan santun?! Om bahkan bocorin semuanya tanpa kelakuan baik, kan?!" "Yang

