Sendok kecil berputar seiring dengan tangan yang memegang ujungnya. Membuat kepulan dari asap s**u itu semakin menguar keluar. Mata kecil dengan netra biru itu menatap langsung manik hijau di depannya. Ada rasa tak percaya jika sosok di depannya bisa senekat ini hanya untuk menemuinya. Riana sudah menduga sebenarnya jika Geo akan mendatanginya. Di mana pun ia berada. Apalagi lelaki itu sudah tau tempat tinggal keduanyaㅡ yang entah siapa memberikannya secara sengaja. Padahal Riana mati-matian menyembunyikan semua itu dari Geo. "Apa gak cukup buat yang tadi siang?" Jutek Riana. Kakinya mengetuk pelan lantai marmer di bawahnya. Matanya beberapa kali melihat ke arah luar di mana hujan kecil tengah membasahi tanah kering. Riana suka hujan. Dan Riana menyukai harum tanah yang basah. "Cukup b

