》empat《

1258 Words
》》☆《《 Tanganku bergerak meraba bibir tipisku. Kenapa efek ciuman itu bikin aku galau gini ya? Dan kenapa tiba-tiba Om Ali nyium aku? Bayangan kejadian singkat di dalam lift itu membuatku menggeleng cepat dan menyingkirkan bayangan wajah m***m Om Ali dari benakku. Please, ya. Aku bukan anak umur 7 tahun yang biasa dicium sama Om-Om. "Woy! Bengong aja!" seru Manda yang langsung mengambil duduk di sebelahku. Meletakkan semangkok bakso super pedas favoritnya dan segelas es teh manis. "Nggak makan lo?" Aku cuman melirik Manda dari ekor mata dan kembali sibuk sama pikiranku. Satu pertanyaan yang dari tadi menghuni pikiranku. Apa yang dipikirin Om Ali saat nyium aku? "Li, lo tau nggak di kelas sebelah ada anak baru. Cakep gila!" cerocos Manda sambil sibuk memotong bakso di mangkuknya. "Masih cakepan Om gue!" jawabku spontan tanpa sadar. Manda seketika melongo menatap kearahku dan beberapa detik kemudian, aku baru sadar atas apa yang baru aja aku ucapin. "Om Ali cakep? Beneran Li?" tanya Manda penuh antusias. Aku sedikit tergagap dan mengendik pelan. "Nggak tau!" Sial. Kenapa aku malah kepikiran sama Om Ali? Jangan baper. Jangan baper. Masa iya aku dibaperin sama Om-Om? "Lo kenapa sih dari tadi bengong mulu. Dan kenapa juga bawa-bawa Om lo?" Manda sibuk mengunyah sambil terus menatap kearahku. "Biasa aja kali, Man!" jawabku ringan. Manda meletakkan sendok garpunya lalu menyeruput es tehnya dengan cepat. Ia mencondongkan badannya kearahku sambil memicingkan matanya. "Ada yang lo sembunyiin dari gue!" Hampir aja aku kesedak air ludah aku sendiri. Bener. Aku nggak bisa bohongin Manda. Aku dan Manda udah kenal 3 tahun ini dan apapun yang terjadi sama aku, Manda selalu tau. Tapi masa iya aku cerita soal ini ke Manda? Yang ada nanti Manda malah mikir aneh-aneh ke aku. "Nggak ada lah, Man. Gue kan selalu cerita sama lo kalo ada apa-apa!" sangkalku. "Gue--gue lagi masa PMS aja. Lagi badmood banget!" Manda mengangguk beberapa kali tapi sepertinya ia masih belum percaya sama penjelasanku. Dengan gerakan ragu, Manda kembali fokus sama makanannya. Tapi matanya sesekali melirik curiga kearahku. Kali ini aku selamat. Tapi nggak tau besok! 》》☆《《 Saat bel pelajaran terakhir sudah berbunyi, dengan segera aku membereskan buku-buku yang ada diatas meja dan memasukkannya kedalam tas. "Li!"  Panggilan itu membuatku menoleh ke belakang. Mendapati wajah Nick yang tampak tersenyum hangat. "Ya?" sahutku cepat. Nick berdiri dari kursinya dan menghampiriku. "Ntar malem lo ada acara nggak?" "Ciyeeeee diajakin kencan!" celetuk Manda yang langsung aku hadiahi dengan sebuah injakan di ujung sepatunya. "AAAWSSH. SAKIT BEGO!" Aku nggak peduliin teriakan Manda dan kembali fokus sama Nick. "Biasanya sih free, Nick. Ada apaan?" "Yeeee, pura-pura bego!" celetuk Manda lagi. Kali ini aku cuman diem sambil mendengus pelan. "Ntar malem jam 7 gue jemput ya!" tawar Nick. "Mm, boleh!" sahutku pada akhirnya. "Oke. Gue cabut duluan!" pamitnya dan aku jawab dengan anggukan kepala. Setelah kepergian Nick, Manda kembali beraksi. "Ciyeeee. Kencan!" serunya lantang. "Laku juga akhirnya!" Aku menanggapinya hanya dengan memutar bolamataku. Memilih pergi dan ninggalin Manda yang teriak-teriak manggil namaku. "Tungguin kali, Li!" Manda melangkah disampingku. Ia terlihat cengar-cengir sendiri sambil sesekali menyenggol pundakku. "Kayaknya ada yang mau jadian, nih. Akhirnya, status jomblo bakalan ilang dari peradaban!" "Manda, please deh!" sungutku kesal. Dia ngatain aku jomblo sementara dia sendiri juga jomblo. Jomblo teriak jomblo! "Seriusan nih lo mau keluar sama Nick?" tanya Manda mencoba meyakinkan. Aku mengangguk semangat. "Iyalah. Emang kenapa?" tanyaku balik. "Emang Om lo ngijinin lo keluar?" Langkah kakiku seketika terhenti. Ada satu hal yang aku lupain. Om Ali. Aku mana bisa dapet ijin buat keluar sama Nick? "Mm, Man. Tolongin gue donk!" rengekku sambil memasang wajah melas. "Bau-baunya ada yang mau ngumpanin gue, nih!" "Bukan ngumpanin, tapi gue minta tolong sama lo. Lo temuin dulu Om gue di depan sana dan lo bilangin sama Om gue kalo malem nanti kita bakalan kerja kelompok. Dirumah lo!" Manda mengkerutkan keningnya sebentar lalu menggeleng. "No!" Jawaban Manda membuatku membuang nafas kesal. "Please, Man. Kali iniiii aja. Gue bener-bener butuh lo. Gue janji, setelah ini gue bakalan ceritain ke lo soal tadi pagi!" "Soal tadi pagi? Jadi bener lo nyembunyiin sesuatu dari gue?" pekik Manda tak terima. "Bukan nyembunyiin, Man. Tapi gue bingung aja!" "Bingung kenapa?" Aku menatap wajah kepo Manda sebentar lalu menggeleng. "Udah ntaran aja. Pokoknya lo kudu berhasil bikin Om gue percaya. Udah sana!" Aku mendorong tubuh tinggi Manda dan memilih menunggu di koridor kelas. Biasanya Om Ali nungguin aku di depan pintu gerbang sekolah. 》》☆《《 10 menit lamanya Manda nggak kembali. Itu membuat aku frustasi. Apa jangan-jangan Manda nggak berhasil dan ninggalin aku pulang? Ah sialan si Manda. Perhatianku teralihkan karena suara gaduh yang berasal dari luar, lebih tepatnya di depan pagar sekolah. Entah kenapa mendadak perasaanku nggak enak. Ditambah Manda yang nggak balik-balik juga. Bermodalkan kata basmallah, aku melangkah cepat menuju gerbang sekolah. Benar saja, saat aku sampai disana, semua murid cewek tengah berteriak-teriak. Aku nggak tau pasti penyebab keributan itu tapi aku mendengar teriakan cewek itu menyebut kata 'cakep'. Penasaran, akhirnya aku mendekat dan alangkah terkejutnya saat mataku melihat ke depan sana. Seorang laki-laki tampak berdiri bersandar dimobil mewahnya. Kacamata hitam melekat diwajahnya yang memang benar-benar tampan. Kenapa Om Ali hari ini kelihatan beda ya? Menyadari kehadiranku, Om Ali melepas kacamatanya. Tubuhku membeku saat bolamata hitam itu menatap kearahku. Lalu Om Ali melangkah menghampiriku. Otomatis semua pandangan tertuju kearahku dan Om Ali. "Sudah waktunya pulang!" ujarnya lembut. Mulutku melongo, kening mengkerut saat mendengar nada bicara Om Ali yang beda dari biasanya. Kenapa dengan Om Ali. "Li, dia siapa?" celetuk Manda yang tiba-tiba udah berdiri di sebelahku. Saat tak mendapat jawaban dari mulutku, Manda berinisiatif untuk menginterogasi Om Ali. "Mas. Masnya siapanya Lili? Pacarnya ya? Namanya siapa Mas?" Mataku melotot kearah Manda. Mas dia bilang? Emang muka Om Ali sebrondong itu ya sampe dipanggil Mas? "Man, lo apaan sih?" seruku pelan sambil berbisik di telinganya. Manda malah menyikut lenganku. "Diem lo ah. Punya pacar cakep diumpetin mulu. Pantesan aja lo nggak mau jadian sama Nick!" Om Ali menanggapinya hanya dengan tersenyum miring. "Sudah selesai? Ayo pulang!" "Lah. Lo pulang sama pacar lo, Li? Bukannya tiap hari lo dijemput sama Om Ali ya?" cerocos Manda yang membuatku semakin geram. Tiba-tiba Om Ali menarik tanganku lalu menggenggam jemariku. "Saya Ali!" terang Om Ali singkat lalu membawaku melangkah menuju mobil yang sudah menunggu kami. Aku sempat menoleh ke belakang sebentar dan menatap wajah cengo Manda. Begitu juga dengan murid cewek lainnya yang ikut menyaksikan kejadian langka siang ini. Memang, selama ini Om Ali jarang muncul ke publik. Kalau nganter aku ya cuman sampai di depan gerbang dan kalau jemput, Om Ali selalu nunggu di dalem mobil. Tapi nggak tau kenapa hari ini Om Ali menampakkan dirinya. Aku curi-curi pandang menatap wajah Om Ali dari samping. Nggak ada kerutan disana, sedikitpun. Wajahnya begitu mulus dan...baby face. Stylenya juga trendy dan nggak nyangka kalau Om Ali itu umurnya udah 29tahun. Laki-laki yang sudah berumur. Tanpa sadar aku menatap kearah jemari tanganku. Rasa hangat telapak tangan Om Ali rasanya masih tertinggal disana. Besar dan nyaman. Benar-benar memberikan perlindungan. "Malam ini kau tidak boleh kemana-mana!" serunya tiba-tiba. "Kenapa, Om?" tanyaku cepat. Padahal rencananya ntar malem Nick mau jemput aku. "Aku ada acara diluar!" Spontan aku menghela nafas lega. Itu artinya aku bebas bisa pergi sama Nick. "Ada acara dengan relasi bisnisku dan aku harus membawa pasangan!" sambungnya. Aku cuman manggut-manggut aja dengerin ucapan Om Ali. Kalau malem ini Om Ali pergi berarti aku bisa kencan sama Nick. "Om, aku mau jalan bentar boleh?" tanyaku hati-hati. Kepala Om Ali langsung menoleh dan keningnya terlihat mengernyit. "Mau kemana?" "Mm--aku ada janji sama temen ntar malem!" ucapku cepat. Jantungku rasanya berdebar menunggu jawaban dari mulut Om Ali. "Bukannya tadi aku sudah bilang kalau nanti malam aku ada acara?" seru Om Ali. Aku bener-bener bingung maksudnya apa. Yang puny acara kan Om Ali? Kenapa aku yang mesti ribet? "Kan itu acaranya Om Ali?" Om Ali tampak menghela nafas frustasi. Ia mengusap wajahnya sebentar sebelum mulai menjelaskan. "Nanti malam ikut aku dan jangan banyak protes!" 》》☆《《 Madiun, 03 September 2018 16.16 Ayastoria Sorry kalo visualisasi ali terlalu maksa..habisnya susah sinyal jdi pake foto seadanya. Wkwkwk
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD