》tiga《

1031 Words
》》☆《《 Udara pagi begitu menusuk kulit. Aku mengusap lengan beberapa kali, mencoba meredam semilir angin yang rasanya melekat di tubuhku. Semalem aku memasang alarm jam 3 pagi tapi alarmku belum bunyi, Om Ali udah masuk ke kamar dan membangunkan aku. Tepat jam 4 aku dan Om Ali udah nongkrong di rooftop gedung kantor milik Om Ali. Ternyata kayak gini perjuangan melihat sunrise. "Masih lama ya, Om?" tanyaku nggak sabar. "Tunggu saja!" sahutnya cepat. "Sekitar setengah jam lagi dia akan muncul!" tambahnya. Mataku melotot sempurna sambil menatap geram kearah Om Ali. "Setengah jam lagi? Tapi Om Ali bangunin aku sebelum jam 3." protesku. Om Ali menoleh dan memasang watadosnya. Nggak inget apa kejadian beberapa jam yang lalu? "Jangan banyak protes. Lihat saja, semua perjuanganmu akan terbayarkan!" Aku melemparkan pandangan kearah lain sambil mendengus kesal. Kalau tau kayak gini, mendingan aku tidur aja. "Ngantuk, Om!" rengekku. Sesekali aku menguap lebar-lebar. Om Ali lalu mengambil duduk di sebelahku. "Tahan. Kau akan menyesal jika tidak melihatnya!" Aku berusaha menepikan rasa kantukku. Sesekali melirik jam tangan yang terasa lambat menitik. Kurang 20 menit lagi sunrise bakalan muncul. Sekali lagi aku menggosok pangkal lenganku karena semilir angin yang berhembus. Aku menguap semakin lebar sampai airmataku keluar. "Ngantuk banget nih, Om!" ucapku pelan dan menyandarkan kepalaku dibahu Om Ali. Nyaman. Mataku perlahan terpejam dan kesadaranku semakin menghilang. Kali ini aku bener-bener nggak bisa nahan mataku untuk tetap terbuka. Persetan sama sunrise, intinya aku pengen tidur. 》》☆《《 "Bangun!" Aku merasa ada yang menepuk-nepuk pipiku. "Hm!" jawabku dengan menggumam pelan. Kedua tanganku memeluk guling yang begitu besar dan hangat. Sementara kepalaku menelusup, mencari tempat yang nyaman. "Bangun!" Lagi-lagi pipiku terasa ditepuk. Aku menyusun sisa-sisa nyawa dan mencoba membuka mata. Tapi entah kenapa mataku semakin terpejam rapat. Aroma mint yang menusuk hidung membuatku semakin menelusupkan kepalaku. "Bangun atau kulempar kau dari atap gedung ini!" Mataku spontan terbuka lebar. Pandangan mataku jatuh pada sebuah leher seseorang. Saat aku mendongak, saat itu juga aku terlonjak kaget. Bagaimana bisa aku tidur sambil meluk Om Ali? Dengan gerakan cepat aku menarik tangan yang sedari tadi melingkar diperut Om Ali lalu mengedarkan pandangan mataku. Aku saat ini masih berada di rooftop dan benda yang aku anggap guling tadi ternyata adalah Om Ali. Damn! "Bersihkan air liurmu!" Mataku melotot lebar dan refleks aku menyeka bibirku. "Sorry ya, Om. Aku kalo tidur nggak ileran!" sungutku. Om Ali cuman terkekeh pelan menanggapinya. "Lihatlah ke depan!" Aku mencibir dan menuruti ucapan Om Ali. Di kejauhan sana ada benda berwarna kuning-orange menyembul dari balik bukit. "Wow!" seruku penuh takjub. Benda itu perlahan memancarkan bias yang membentang dilangit yang masih gelap. "Indah banget!" "Ya. Memang indah, sepertimu!" Kepalaku dengan cepat menoleh, menatap wajah Om Ali dari samping. Om Ali tadi bilang apa? Atau aku yang salah denger? "Om Ali tadi ngomong apa?" tanyaku dengan pandangan mata memicing, menatap curiga kearahnya. Om Ali menoleh sebentar lalu kembali menatap sunrise itu. Tak ada penjelasan dari Om Ali pasca ucapannya yang terdengar ambigu. Tiba-tiba Om Ali bangkit dari tempat duduknya dan berdiri, kepalaku sampai mendongak menatapnya. "Mau kemana, Om?" "Pulang!" "Pulang?" pekikku tak terima. Yang benar aja? Aku masih pengen nikmatin sunrise tapi Om Ali malah ngajakin pulang? "Nggak mau!" teriakku saat Om Ali mulai melangkahkan kakinya. Otomatis langkah Om Ali terhenti, dia membalikkan badannya dan menatap kearahku yang masih betah duduk di tempat semula. "Aku harus kerja!" "Masih shubuh, Om. Karyawan Om Ali palingan masih pada molor!" sahutku kesal. "Aku ada pertemuan penting pagi ini!" "Kantor Om Ali kan ada dibawah, tinggal turun pake lift trus sampe deh, kenapa mesti pulang sih, Om?" Om Ali terdiam ditempatnya. Bener kan apa yang aku bilang? Udah ada dikantor ngapain juga mesti pulang? "Jangan mengulur waktu, Lili. Cepat bangun atau kutinggal kau disini!" ancamnya. Aku berdecak kesal dan memilih bangkit dari tempat dudukku. Kesal campur dongkol jadi satu dan membuat tenggorokanku terasa sesak dan kering. "Aduh!!" pekikku saat aku kehilangan keseimbangan. Kaki kiriku tiba-tiba terasa ngilu dan susah buat berjalan. "Kenapa?" "Kesemutan!" jawabku sewot dan berusaha melangkah sambil mencari benda yang bisa aku pegang biar nggak terjatuh. Aku sempat meringis ngilu saat kaki kiriku mati rasa. "Naiklah!" titah Om Ali sambil duduk jongkok di depanku. Aku sempet kaget dengan tindakan Om Ali. Aku terdiam sejenak menatap punggung Om Ali yang lebar. Tapi aku menggeleng cepat dan mengabaikan Om Ali. Melangkah mendahuluinya sambil terpincang-pincang. Kalau saja hatiku nggak dongkol, aku pasti langsung naik ke punggung Om Ali. "Makasih!" sahutku dingin. Pintu lift masih lumayan jauh dan keadaan kaki kiriku yang mati rasa membuat langkahku melambat. Double damn! "Dasar keras kepala!" sungut Om Ali dan tiba-tiba aku merasakan tubuhku melayang. Aku berteriak kencang saat dengan mudahnya kedua tangan Om Ali mengangkat tubuh mungilku dan menggendongnya ala bridal style. Kedua tanganku melingkar di leher Om Ali. "Om, turunin. Aku bisa jalan sendiri!" protesku. Om Ali nggak menjawab dan melangkah lebar menuju pintu lift. "Buka pintunya!" titahnya. Aku menoleh kearah daun pintu lift yang masih tertutup. "Turunin dulu, Om!" "Buka pintunya!" ulangnya lagi dan kali ini matanya menatap tajam kearahku. Aku mengerjap beberapa kali dan memilih menuruti perintahnya. Tangan kiriku menekan tombol dan pintu lift terbuka lebar. "Angka 11!" Tanpa menjawab, aku menekan angka yang disebutkan Om Ali setelah pintu menutup otomatis. Lift bergerak turun tapi Om Ali masih belum melepaskan gendongannya. "Om!" panggilku ragu. "Hm!" sahutnya datar. "Turunin!" lirihku. Kepala Om Ali menoleh dan mata kami saling bertemu. Bolamata hitamnya benar-benar memabukkan. Begitu tajam dan pekat. Aku bisa melihat pantulan wajahku dalam bolamata hitam itu. Deru nafas Om Ali menerpa ujung hidungku, bau aroma mint kembali menusuk indra penciumanku. Aku teringat kejadian beberapa menit yang lalu, saat aku tertidur dipelukan Om Ali dan mencium aroma yang sama. Mataku mengedip beberapa kali saat Om Ali mendekatkan wajahnya. Jantungku berpacu semakin cepat saat menyadari kemana arah pandang Om Ali. Dan di detik berikutnya, benda kenyal berwarna merah itu menempel di bibirku. Tubuhku mendadak lemas, darahku terasa berdesir. Kalau aja Om Ali nggak menopang tubuhku, bisa dipastikan. Lantai marmer lift ini akan menjadi tempat mendarat pertama untukku. Om Ali menarik pagutan bibirnya dan menatap lurus ke depan. Mataku masih mengedip beberapa kali, menatap bingung kearah Om Ali. Apa yang barusan terjadi? "Setelah ini, tidurlah di privat room. Aku sibuk dan banyak pertemuan penting!" terangnya. Aku kira Om Ali bakalan jelasin kejadian barusan. Tapi Om Ali merasa seolah nggak terjadi apa-apa diantara kami. Aku melempar pandangan mataku kearah lain. Wajahku terasa panas. Ini pertama kalinya aku ciuman dan Om Ali yang mengambilnya. Dan pernyataan Om Ali berikutnya membuat aku semakin tak mengerti. "Hari ini kuijinkan kau libur sekolah!" 》》☆《《 Surabaya, 29 Agustus 2018 》ayastoria《 Nggak pake revisi lagi jadi abaikan kalo ada typo
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD