》lima《

1480 Words
》》☆《《 Mulutku menganga lebar menatap deretan gaun party yang berjejer rapi di dalam kaca. Om Ali emang terkenal kaya tapi aku nggak pernah sekalipun pake baju party kayak gini. Jangankan pake baju dan pergi ke party, keluar rumah buat ngerjain tugas kelompok aja aku nggak dibolehin. Kebanyakan temen-temenku yang dateng kerumah. Dan Om Ali selalu memilih mengasingkan dirinya di kantor atau nggak semedi di dalam ruangannya. Maka dari itu, selama 3 tahun sekolah disana, temen-temenku nggak tau wajah Om Ali kayak apa. "Carikan baju yang sesuai dengan umurnya!" titah Om Ali pada salah satu karyawan wanita yang sudah berdiri disebelahku. Wanita itu mengangguk lalu mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan. Disana ada beberapa baju party dengan model longdress. Aku sampe bingung mau pilih yang mana. "Coba ini aja, Mbak Lili!" tawar wanita itu sambil nyodorin sebuah gaun berwarna biru tua dengan model lengan buntung. "Aduh, Mbak. Ini nggak terlalu kebuka ya?" tolakku sambil menatap gaun mewah itu. Wanita itu tersenyum lalu menarik tanganku dan mendorong tubuhku masuk ke dalam fitting room. "Saya tunggu disini ya!" Gaun mewah itu udah ada ditanganku. Aku sempat terdiam sambil menatap gaun biru ini. Ragu dan nggak pede tapi mau gimana lagi? "Ya udah deh!" ucapku pelan dan melepaskan satu persatu baju yang melekat ditubuhku. 》》☆《《 Aku melangkah ragu keluar dari ruang ganti. Wanita itu tampak tersenyum puas sambil bersedekap. "Perfect!" serunya sambil tersenyum lebar. "Tuan Ali harus lihat ini----" "Eh, nggak usah, Mbak!" potongku panik. Gila aja kalo sampe Om Ali lihat. Malu aku. "Nggak apa-apa, Mbak Lili. Om Ali pasti suka!" "Tapi, Mbak----" Protesanku nggak mempan karena wanita itu menyeretku keluar dan seketika perhatian Om Ali tertuju kearahku. Tubuhku mendadak kaku, dadaku bergemuruh. Bahkan buat menelan saliva aja rasanya susah. Kenapaku segugup ini ya? Pandangan mata Om Ali lurus menatap kearahku. Begitu tajam dan dingin. Bolamata hitam itu tampak fokus dengan objek yang dilihatnya. "Bagaimana Tuan Ali?" Pertanyaan wanita itu menyadarkan Om Ali dari keterdiamannya. Om Ali mengangguk kecil. "Bagus. Aku ambil!" putusnya. Setelah itu ia merogoh saku celananya saat mendengar deringan suara ponselnya. Bagus? Cuman ngomong itu aja? Aku kira bakalan muji aku dan bilang aku cantik. Ups--kenapa aku jadi mengharap gini? 》》☆《《 Aku menggenggam ponsel yang bergetar sedari tadi. Sial. Aku lupa kalo malem ini ada janji sama Nick. Dia pasti lagi nungguin aku di depan rumah. "Kau kenapa?" tanya Om Ali saat melirik sekilas kearahku. Aku menatap balik kearahnya, cuman sebentar lalu pandangan mataku fokus lagi kearah benda pipih di dalam genggaman tanganku. "Mm----temen Om. Mau ngajakin kerja kelompok!" dustaku. "Kenapa harus hari Sabtu?" Aku mengendik pelan dan jemari tanganku perlahan menekan tombol daya. Dalam hitungan detik saja ponselku udah mati. Ini satu-satunya cara lepas dari masalah ini. Maafin aku Nick. Tak lama kemudian mobil Om Ali berhenti didepan sebuah gedung. Om Ali lebih dulu turun sementara aku masih terdiam di dalam. Pikiranku bercabang, mikirin Nick yang pasti saat ini lagi kuatir banget sama keadaanku. "Ayo keluar!" "Hah?" suara refleksku saat menoleh kesamping dan mendapati Om Ali berdiri di sebelahku dan yang lebih mengherankan lagi, untuk pertama kalinya Om Ali ngebukain pintu mobil buatku. Jangan baper. Dua kata itu terus aku ucap. Ini adalah bentuk sandiwara Om Ali. Malam ini adalah malam pembukaan kantor baru rekan bisnisnya dan semua undangan diwajibkan membawa pasangannya. Tapi kenapa Om Ali milih aku sebagai pasangannya? Bukannya Om Ali punya banyak uang? Tinggal nyewa cewek buat diajak kondangan dan nggak ribet. "Mau sampai kapan berada disitu?" tegurnya. "Cepat. Kita hampir saja terlambat!" Om Ali menekuk lengan kanannya. Aku menatap kearah lengan itu dan aku tau apa yang harus aku lakuin. Perlahan aku turun dan mengaitkan lengan kiriku ke lengan kanan Om Ali. Kok berasa pasangan suami istri ya? "Jangan banyak bertingkah. Turuti semua ucapanku!" titahnya. Aku berdecak pelan. "Kenapa Om Ali nggak nyewa pasangan bayaran aja, sih?" protesku. "Tidak ada yang cantik!" sahutnya singkat. Seketika senyumku mengembang. "Jadi aku cantik nih, Om?" Om Ali tampak gelagapan lalu menelan salivanya dengan cepat. "Jangan banyak bicara. Jangan sampai mereka curiga!" "Kalo aku nurut, aku bakalan dapet apa?" tantangku. Om Ali menoleh dan menatap kearahku yang memasang senyum culas. "Apapun!" Kayaknya acara malam ini penting banget sampe Om Ali rela ngabulin keinginanku. Apapun katanya? Aku minta mobil dikasih nggak ya? Masa udah SMA diantar jemput. Kayak anak TK aja. "Mobil!" ucapku girang. "Pikirkan hadiah yang lain!" Aku langsung menekuk wajahku. Bener apa yang ada dipikiranku. Om Ali nggak bakalan ngijinin aku bawa mobil. "Ya udah kalo nggak mau. Liat aja ntar apa yang bakalan aku lakuin di dalem!" ancamku. Semoga aja dengan cara ini Om Ali mau beliin aku mobil. Suara riuh menggema dipenjuru aula. Nggak ada satupun dari mereka yang aku kenal, semuanya asing dan tampak berumur. Beberapa pasangan berseliweran di depanku. Tanganku masih mengait erat di lengan Om Ali. "Selamat malam, Tuan Rey!" tegur salah satu laki-laki berkepala botak dengan sebuah gelas minuman ditangannya. "Malam, Tuan Ronald!" sapa balik Om Ali. "Bagaimana kabar Anda? Sehat?" tanyanya dan cuman diangguki sama Om Ali. Mata laki-laki itu lalu beralih menatap kearahku. "Wow. Barang baru?" Mataku mendelik seketika. Kepala Om Ali menoleh kearahku dan sedetik kemudian senyumnya mengembang. "Calon!" Untuk kedua kalinya mataku membulat. Pandangan mataku dan Om Ali saling beradu. Aku hampir aja protes kalo laki-laki botak itu nggak bersuara lagi. "Wow. Ternyata dia yang membuat Anda betah dirumah dan tidak mau keluar?" serunya sambil tersenyum miring. "Sepertinya masih segelan. Apa belum Anda coba?" Aku nggak tau maksud kata 'segelan' yang laki-laki itu ucapin. Tapi satu kata itu mampu membuat rahang Om Ali mengetat. "Bukan urusan Anda, Tuan Ronald!" Om Ali menarikku menjauhi laki-laki itu. Sekilas aku sempet menoleh ke belakang dan mendapati laki-laki itu tampak tersenyum miring. Lalu melemparkan kissbye-nya kearahku. Aku bergidik ngeri dan langsung memalingkan wajahku. "Jangan hiraukan ucapannya!" ucap Om Ali. "Kadang kalau bicara sering tidak pakai otak!" Entah kenapa aku pengen ketawa tapi aku mencoba menahannya. Om Ali terus melangkah dan membawaku berkeliling. Disela-sela aktifitasku sama Om Ali, terdengar suara MC yang tampaknya sedang membuka acara. Suara riuh tepuk tangan terdengar dan Om Ali menghentikan langkahnya. Pandangan mata Om Ali tertuju kearah podium yang terletak didepan sana. Satu orang naik dan memberikan kata sambutan. "Membosankan. Ikut aku!" ajaknya. Aku bingung, bukannya ini acara relasi bisnisnya tapi kenapa Om Ali kayak nggak suka ya? Langkah Om Ali tertuju ke arah taman belakang gedung. Disini kayaknya lebih nyaman. Aku melepas kaitan tanganku dari lengan Om Ali. Om Ali melangkah kearah gazebo kecil yang terletak ditengah kolam. Disana hanya ada lampu pijar yang nggak terlalu terang. Suasananya sedikit romantis. Mungkin kalo sama Nick lebih cocok. Ngomong-ngomong soal Nick, dia lagi ngapain ya? Aku ngerasa bersalah banget udah PHP-in Nick. "Kemarilah!" Aku tersadar dan menatap sosok Om Ali yang sudah berdiri agak jauh dariku. Ragu, aku melangkah mendekati Om Ali. "Ngapain disini, Om? Bukannya acaranya baru mulai ya?" tanyaku. Om Ali diam lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Aku melemparkan pandangan mataku, menatap sekitar kolam yang tampak tenang. Udara malam yang berhembus mampu membuat kulitku sedikit merinding. Dingin. "Om, aku masuk ya. Disini dingin!" pamitku dan saat nggak mendapat tanggapan dari Om Ali, aku memutar tubuhku, berniat masuk. Tapi langkahku terhenti saat lengan atasku ditarik sama Om Ali. "Tunggu!" Aku terdiam ditempat. Entah kenapa jantungku rasanya berdebum keras. Telapak tangan Om Ali yang mencengkram lenganku begitu hangat dan membuatku nyaman. Tiba-tiba Om Ali menarik tubuhku, membuat tubuhku membentur d**a bidangnya. Aroma parfum Om Ali langsung menusuk indra penciumanku. Aku mendongak dan menatap wajah blasteran Indo-Arab itu. Sempurna. Sebuah senyum simpul tercetak di bibir merah tebal Om Ali dan sekelebat bayangan kejadian di lift pagi itu terlintas begitu aja. "Malam ini kau cantik!" bisiknya pelan ditelingaku. Entah efek hawa dingin atau suara Om Ali yang terdengar sexy, tubuhku kembali merinding. Darahku berdesir pelan saat sebuah kecupan hangat mendarat didaun telingaku. Tangan kanan Om Ali meraih pinggangku dan menarik tubuhku, membuat dadaku sepenuhnya tertempel pada d**a bidang Om Ali. Sementara tangan kirinya meraba area punggungku yang polos. Hal itu membuatku membuang nafas pelan. Aku nggak tau kenapa aku bisa senyaman ini saat tangan kiri Om Ali bergerak naik turun mengusap punggung polosku. Tangan kanan Om Ali terlepas dan menuntun kedua tanganku untuk melingkar dilehernya. Aku nurut dan nggak bisa nolak. Rasanya sarafku mati saat itu juga. Aku sadar, ada yang salah. Ini nggak bener. Dia Om Ali, Omku. Orang yang udah ngerawat aku dari kecil. Walaupun nggak ada hubungan darah tapi Om Ali udah aku anggap sebagai Ayah sekaligus kakakku. "Kau sudah dewasa dan aku baru menyadarinya!" Aku sama sekali nggak bisa membalas ucapan Om Ali. Fokusku pecah karena usapan tangan Om Ali dipunggungku. Mataku beralih menatap bibir merah Om Ali yang tampak tersenyum tipis dan kepalaku refleks mundur kebelakang saat Om Ali memajukan kepalanya. "Om---" panggilku ragu. Mata Om Ali langsung menatap bolamataku. Lagi dan lagi, aku dibuat membeku karena mata elang itu. "Tak ada yang boleh memilikimu selain aku!" ucapan Om Ali membuatku bingung setengah mati. "Maksudnya apa, Om?" aku memberanikan diri buat nanyain maksud pernyataannya. Usapan tangan Om Ali terhenti dan beralih memeluk pinggangku. Tangan kanannya terangkat dan membelai pipiku lalu merembet ke bibir tipisku. Meraba bibir bawahku dengan ibu jarinya sebelum memberikan satu kecupan singkat. Aku bener-bener terkejut dengan apa yang Om Ali lakuin. Untuk kedua kalinya aku kecolongan. Tangan kanan Om Ali berpindah kearah pinggangku, mengunci tubuhku dengan kedua tangannya. "Kau milikku dan akan kujadikan kau milikku seutuhnya!" 》》☆《《 Surabaya, 08 September 2018 10.55 》AyaStoria《
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD