⚠ WARNING!!!
》》☆《《
"Kau milikku dan akan kujadikan kau milikku seutuhnya!"
Aku membeku sesaat mendengar ucapan Om Ali. Kedua lengannya masih mengunci rapat tubuh mungilku. Menelan saliva dengan sangat susah, aku menggeliat pelan, mencoba melepaskan diri dari kungkungan tangan kekar Om Ali.
"Mm--Om Ali. Ak--aku kebelet pipis masa?"
Raut wajah Om Ali seketika datar. Menatap mataku sebentar sebelum melepaskan kaitan tangannya dipinggang rampingku. Setelah tubuhku benar-benar lepas, aku segera melarikan diri dari hadapan Om Ali.
Gila.
Jantungku bisa berhenti berdetak kalo terus-terusan sama Om Ali. Tapi kenapa aku bisa se-nervous ini ya? Dan lebih parahnya lagi, aku baper inget ucapan Om Ali.
Jadi miliknya?
》》☆《《
Aku menatap pantulan wajahku di cermin toilet. Baju yang terlihat sangat terbuka dan menampilkan lekuk tubuhku yang lumayan sempurna. Kenapa Om Ali kelihatannya suka sama aku? Apa karena bodyku? Atau karena kecantikanku?
Aku melangkah keluar toilet dan mencoba menetralkan detak jantungku yang iramanya mulai nggak beraturan. Baru beberapa langkah meninggalkan toilet, seseorang tiba-tiba menarik lenganku dengan kasar. Tubuh mungilku tertarik ke belakang dan punggungku menghempas ke dinding toilet.
"AWWW!" pekikku saat dinding itu menjadi tempat pendaratan punggungku. Mataku langsung beralih menatap seseorang yang berdiri di depanku dengan kedua tangan mencengkram pundakku.
Mataku membulat saat menatap wajah laki-laki itu.
"Pak Ronald?" seruku nggak percaya. Laki-laki itu tersenyum miring dan mendekatkan tubuhnya.
"Tak kusangka, kau begitu cantik kalau di lihat begitu dekat seperti ini!"
Aku menahan nafas saat wajah Pak Ronald ada di depan wajahku. Dengan gerakan cepat, aku mendorong d**a Pak Ronald, membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah.
"Jangan sentuh saya!" desisku sambil menatap tajam kearahnya. Tapi laki-laki itu kembali tersenyum dan melangkah maju, kedua tangannya kembali mencengkram pundakku.
"Sudah berapa lama kamu menjadi wanitanya Rey?"
Keningku mengernyit. Wanitanya? Maksudnya apa?
"Maksud Pak Ronald?" tanyaku balik.
Pak Ronald malah tertawa keras. "Jangan pura-pura bodoh manis. Kau pasti tau siapa itu Virali Reynard. Seorang pengusaha kaya raya dan terkenal suka bermain wanita. Dan aku ingin tanya, kau wanita mainan yang keberapa?"
"Ma--maaf, saya tidak mengerti maksud Anda!" jawabku gugup. Mataku mulai berair. Takut. Hanya itu yang aku rasain sekarang.
"Rey memang pintar memilih wanita dan aku---sangat menyukai pilihannya. Kau begitu cantik dan sexy. Ngomong-ngomong, sudah berapa kali Rey memakaimu, Sayang?"
Airmataku mulai menitik perlahan. Aju tau apa maksud perkataan Pak Ronald. Dia mengira kalau aku p*****r. Dan apa katanya tadi, Om Ali suka main perempuan?
Jemari Pak Ronald bergerak menyeka pipiku. "Jangan menangis, Sayang---"
"Jangan sentuh saya!" seruku sambil menepis tangan Pak Ronald. Laki-laki itu seketika murka dan menatap garang kearahku.
Kedua tangannya kembali mendorong pundakku dan wajahnya mendekat dengan gerakan cepat. Untung aja aku bisa menghindar dengan cara mendorong dadanya. Aku mencoba berlari tapi sesuatu menarik baju bagian belakangku. Terdengar suara robekan dan helai kain yang menutupi punggungku.
Tangisku pecah dan kakiku terus berlari. Nggak peduli kerumunan orang yang lagi merhatiin aku, intinya aku mau pergi dari tempat ini. Aku nggak berani noleh kebelakang karena takut laki-laki itu masih mengejarku. Kedua tanganku menyilang di depan d**a untuk mempertahankan kain itu agar nggak terbuka dan mempertontonkan aset berhargaku.
Langkahku terhenti saat kepalaku membentur d**a seseorang. Aku terlalu takut dan nggak berani mendongak. Memejamkan mata rapat-rapat dan berdoa, semoga ada Dewa Penolong.
"Lili? Ada apa?"
Suara familiar itu membuat kepala ku mendongak dengan cepat. Tangisku mengeras dan aku langsung menubruk pemilik d**a bidang itu.
"Om Ali, tolong!"
"Ada apa?" tanya Om Ali lagi. Kedua tangan Om Ali merengkuh tubuhku dengan posisi dagu berada diatas kepalaku.
Aku cuman bisa menggeleng dan menangis. Sampai akhirnya Om Ali membawaku keluar dari tempat ini.
》》☆《《
Aku duduk ditepi tempat tidur sambil menunduk. Jas hitam Om Ali masih melekat ditubuhku. Airmataku masih menetes dan sepertinya nggak mau berhenti.
"Katakan padaku, siapa yang melakukannya!" ucap Om Ali tegas. Tapi hal itu malah membuat tangisku semakin kencang. Bukan ini yang aku butuhin, aku butuh seseorang buat nenangin aku.
Melihat aku terus menangis, membuat Om Ali mendesah frustasi. Ia menghempaskan bokongnya dengan kasar di sebelahku dan kembali menginterogasiku.
"Katakan siapa yang melakukannya!" ucapnya sedikit lembut.
Aku mengangkat kepala dan menoleh. "Pak Ronald!" jawabku pelan. Raut wajah Om Ali tampak tegang. Om Ali beranjak dari duduknya dan melangkah menjauhiku. "Pak Ronald bilang kalo aku wanita mainannya Om Ali!" sambungku.
Kalimat itu sukses membuat langkah Om Ali terhenti. Ia memutar badannya dengan kening mengeryit. "Apa lagi yang dia katakan?"
Aku menggeleng pelan lalu kembali menunduk, menangis lagi. Mungkin keadaanku terlihat kacau hingga membuat Om Ali naik darah. "Akan aku beri pelajaran dia!" Om Ali memutar tubuhnya dan melangkah cepat.
"Jangan, Om!" seruku. Lagi dan lagi langkah Om Ali terhenti. Aku berdiri pelan dan tanpa sadar jas hitam Om Ali tertinggal di atas tempat tidur. "Jangan pergi. Aku butuh Om Ali!"
Mungkin kalimat yang aku ucapin terlalu ambigu tapi aku nggak peduli. Yang aku butuhin saat ini adalah support.
Jarak aku sama Om Ali mungkin terlalu deket hingga deru nafas Om Ali bisa aku dengar. Aroma nafasnya membuatku tenang lalu detik berikutnya jemari Om Ali menyusuri wajahku.
Mulai dari pipi, hidung dan berakhir di bibir tipisku. Om Ali maju selangkah dan aku refleks mundur, begitu seterusnya sampai betisku membentur pinggiran tempat tidur.
Bolamata elang itu seakan membiusku, membuatku dengan mudahnya takluk dan membiarkan Om Ali mendorong tubuhku, punggungku mendarat mulus diatas tempat tidur. Tanganku masih menyilang di depan d**a sementara posisi Om Ali udah ada diatasku.
Tangan kirinya tertekuk dan dijadikan penopang tubuhnya sementara jemari kanannya kembali bergerak. Kali ini memilih bergerak turun dan menyusuri leher jenjangku lalu terus turun dan menyentuh pundak polosku.
Senyum miring tercetak jelas di bibir merahnya. "Apa laki-laki itu sudah menyentuhmu?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk ragu. "I--iya, Om!"
"Dimana dia menyentuhmu?"
Aku teringat saat Pak Ronald menyeka airmataku. "Di pipi, Om!"
Om Ali tiba-tiba memajukan wajahnya dan mengecup singkat kedua pipiku bergantian. Mataku membelalak lebar. "Dimana lagi?"
Aku terdiam, kaget karena ulah Om Ali.
"Katakan, Lili!" desisnya.
Mataku mengerjap beberapa kali, keasadaranku mulai kembali dan dengan sangat pelan aku berkata, "pundak, Om!"
Om Ali diam dengan bolamata menatapku begitu intens lalu menjauhkan kepalanya dan bergerak mengecup pundak polosku.
Sial.
Kecupan itu membuat mataku terpejam seketika. Kepalaku refleks mendongak dan membuat leher jenjangku terekspos. "Om---" desahku saat kecupan Om Ali berpindah ke pundak satunya.
Sial. Sial. Kayaknya ada yang basah dibawah sana.
"You like it?" suaranya terdengar sexy.
Aku nggak menjawab dan menikmati sentuhan Om Ali. Untuk ketiga kalinya Om Ali mendaratkan kecupan dipundakku. Tubuhku rasanya melayang dan perutku terasa mulas saat dengan nakalnya Om Ali memainkan lidahnya.
"Please. Stop, Om!" ucapku dengan nafas memburu.
Om Ali tertawa pelan dan berpindah mengecup lagi pundak kiriku. "Ternyata disini tempatnya!" Tangan kanannya bergerak mengusap lembut pundakku dan desahan lolos lagi saat telapak tangan Om Ali merembet dan menangkup ke d**a kiriku.
Aju bener-bener nggak paham ucapan Om Ali karena konsentrasiku saat ini lagi terganggu. Kecupan dan sentuhan itu membuat tubuhku semakin melayang dan kedua tanganku mencengkram sprei dengan sangat kuat. Aku ngerasain ada sesuatu yang mau meledak dan kakiku seketika serasa ringan. Bahkan aku bisa ngerasain aliran darahku mengalir deras dari ujung kepala menuju ujung kaki.
Didetik berikutnya, tubuhku bergetar hebat. Teriakan nyaringku langsung dibungkam oleh Om Ali. Bibir merah tebal itu melumat dengan lahap bibir tipisku. Kedua tanganku masih mencengkram sprei dengan sangat kuat.
Tubuhku menggelinjang dan semua itu cuman berlangsung beberapa detik. Setelahnya, aku ngerasain lemas yang tiada tara. Cengkraman tangan aku terlepas seiring pagutan dari bibir Om Ali.
Om Ali kembali tertawa lalu mengusap lembut bibir bawah aku yang basah karena ciuman panas yang Om Ali berikan. "You trust me?"
Aku diam karena nggak paham pertanyaan Om Ali.
"I won't hurt you like he did. I will give you pleasure that you cannot get from other men!"
》》☆《《
Surabaya, 11 September 2018
23.23
》ayastoria《