》tujuh《

1171 Words
》》☆《《 Ini salah. Tapi aku nggak bisa berontak saat bibir merah Om Ali menyapu leher jenjangku. Bahkan kedua tangannya sudah aktif menjamah dadaku yang cuman tertutupi kain tipis ini. Saat telapak tangan Om Ali mulai bekerja, saat itu aku ngerasain ada yang aneh dibawah sana. Ada sesuatu yang berkedut dan perutku terasa mulas. Bibir merah Om Ali merembet naik dan menyambar dengan rakus bibir ranumku. Desahanku tertahan karena Om Ali sama sekali nggak ngelepasin pagutan bibirnya. Ya Tuhan. Inikah surga dunia yang kata orang sangat memabukkan? Aku bisa ngerasain satu tangan Om Ali terlepas dari dadaku dan turun, menyusuri area perut rataku dan berakhir di pangkal paha. Jarinya bergerak pelan menuju organ intimku yang udah basah dari tadi. Aku mendesah lagi saat jari Om Ali bergerak maju mundur mengelus organ intimku yang masih tertutupi dress dan celana dalam. Perutku semakin mulas. Om Ali sama sekali nggak memberiku ruang buat mengambil oksigen. Aku bener-bener nggak berdaya dibawah kendalinya. Saat elusan itu semakin cepat, tubuhku semakin terasa ringan. Kakiku seolah melayang dan darah yang mengalir ke otakku terasa bertambah cepat. Beberapa detik kemudian, tubuhku kembali mengejang dan bergetar. Tanpa sengaja aku menggigit bibir Om Ali membuat si empunya mengerang kesakitan. Menarik pagutan bibirnya dan menyudahi permainannya. Om Ali langsung meraba bibirnya yang terlihat berdarah karena ulahku. Sementara aku perlahan bangun dan memilih duduk bersandar di kepala ranjang. Tubuhku lemas dan kedua kakiku rasanya nggak bertulang. Deru nafasku masih memburu. Itu tadi apa ya? Kenapa tubuhku bisa kejang-kejang gitu? "Kenapa kau menggigit bibirku?" protes Om Ali sambil mengusap bibir bawahnya dengan tisue. "Maaf, Om. Aku nggak sengaja!" jawabku sambil melirik kearahnya yang masih saja sibuk menghilangkan darah yang keluar dari bibir merahnya. Om Ali tiba-tiba bangkit dan refleks kepalaku mendongak. "Istirahatlah. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku!" Setelah mengatakan hal itu Om Ali langsung melangkah keluar kamar. Aku bernafas lega dibuatnya. Seakan tersadar, aku langsung menyambar ponsel yang aku taruh diatas nakas. Menyalakannya dan beberapa notif seketika menyerbu. 21 missed calls 11 messages Semuanya dari Nick. Li, gue udah sampe Gue di bawah Lo lagi ngapain? Mandi ya? Atau lagi dandan? Gpl ya Li, kenapa telpon gue nggak di angkat? Lo dimana, Li Angkat Li Lo dirumah kan? Gak lupa kan kalo malem ini gue jemput lo? Angkat Li Aku menatap layar ponsel agak lama, sibuk merangkai kata buat bales pesan Nick. Apa aku jujur aja kali ya kalo malam ini aku ada acara sama Om Ali? Sorry, Nick. Gue lupa Akhirnya cuman kalimat itu yang bisa aku tulis. 》》☆《《 Orgasme. Ya. Aku sekarang tau apa yang terjadi sama aku malam itu. Tubuhku mengejang dan organ intimku berkedut hebat. Otakku nge-blank saat itu juga. "o*****e adalah puncak kenikmatan seksual, khususnya dialami pada akhir senggama. WEY...GILE. BACA APAAN LO?" Aku spontan menoleh dan dengan gerakan cepat mematikan ponsel yang sedari tadi kupegang. "Manda, mulut lo ya!" Aku lupa kalo saat ini lagi di dalam kelas. Untung aja pagi ini kelas masih kosong dan cuman ada aku dan Manda yang udah dateng. Aku sengaja berangkat pagi dan minta diantar Om Adam, asisten Om Ali. Sumpah. Aku malu kalo ketemu sama Om Ali. Masih keinget kejadian kemarin malam. "Lo ngapain baca kayak gituan?" selidik Manda. Keningnya mengernyit menatap curiga kearahku. "Ck. Cuman pengen tau aja, buat nambah pengetahuan!" masuk akal nggak ya alasanku? "Lo ngapain aja sama Nick?" cercanya. "Gila!" teriakku. "Gue nggak ngapa-ngapain sama Nick. Ketemu aja enggak!" Kedua mata Manda membelalak lebar. "Serius? Bukannya malming kemarin kalian jalan?" Aku terdiam sambil menggaruk bagian belakang kepalaku. "Gue lupa!" terangku sambil nyengir lebar. Manda malah melengos sambil mencibir. "Mentang-mentang punya Om ganteng, lupa janji sama pacar sendiri!" "Gue belum jadian, Man!" elakku. "Ya udah jadian sana. Status kalian itu nggak jelas. Deket tapi bukan pacar. Dibilang bukan pacar tapi perhatiannya ngalah-ngalahin orang pacaran!" Iya juga sih. Nick perhatian banget sama aku tapi sampe sekarang aku belum menyandang gelar sebagai pacarnya Nick. Andai aja Om Ali ngertiin posisiku, dunia remaja itu dunianya pacaran. Boro-boro pacaran, jalan sama Nick aja nggak boleh. Bahayalah. Inilah. Itulah. Ribet. "Eh-eh, ngomong-ngomong yang kemarin itu beneran Om Ali?" tanya Manda dengan wajah berbinar. Aku mengangguk pelan. "Iya. Kenapa?" "Kok lo nggak cerita sih kalo punya Om secakep itu?" Keningku mengkerut seketika. "Penting ya? Lagian Om Ali itu nyebelin, dingin dan suka seenaknya sendiri. Hidup sama dia, gue jamin nggak bakalan betah lo!" "Betah aja sih gue. Kalo gue jadi lo, gue bakalan pacarin tuh Om-Om ganteng---" "Sarap di pelihara!" potongku. "Om Ali itu Om gue. Masa iya gue embat?" "Apa salahnya. Lagian lo pernah cerita kalo Om Ali itu orang yang nyelametin nyawa lo waktu lo kecelakaan. Jadi nggak haram dong kalo nikah sama Om Ali!" Aku mendengus kasar. Emang iya sih nggak haram nikah sama Om Ali. Tapi masa iya sama Om Ali, sih? Ganteng sih cuman sifatnya itu yang nggak aku suka. Cuek, dingin dan nyebelin. Pokoknya semua sifat negatif ada pada diri Om Ali. "Li, gue tanya nih ya. Lo sama Om Ali kan tinggal serumah, udah tahunan hidup bareng. Nah, lo pernah nggak punya rasa sama dia?" "Rasa? Rasa apaan?" tanyaku balik. "Rasa cinta. Apa lagi emangnya?" Seketika tawaku meledak. Gila aja kalo aku sampe jatuh cinta sama Om Ali. "Man, Om Ali itu bukan type gue banget. Lagian umurnya juga jauh banget selisihnya sama gue. Gue nggak suka pria dewasa---" "Eh jangan salah, Li!" potong Manda. "Justru yang dewasa itu yang berpengalaman!" "Pengalaman apaan nih?" "Pengalaman cuscus!" "Cuscus?" cicitku. Bahasa Manda aneh banget dan aku nggak ngerti. "Alaaah masa cuscus nggak tau? Itu yang kata temen-temen ena-ena, ehem-ehem, ipik-ipik, hoho-hihi. Tau nggak?" Kali ini mataku membulat dan refleks tanganku menoyor kepala Manda. "Anjir. Ngeres banget otak lo!" umpatku. Tapi Manda malah tersenyum lebar. "Li, gue boleh nebak nggak nih?" "Nggak. Males gue ngomong sama lo. Palingan yang dibahas adegan m***m!" jawabku sewot. Manda malah terkekeh dan mencondongkan badannya kearahku. "Gue nggak bahas soal itu. Suer deh!" Aku menatap dua jari Manda yang terangkat dan membentuk huruf V. "Ngomong apa?" jawabku akhirnya. "Kayaknya Om Ali suka deh Li sama lo!" Otak Manda bener-bener nggak waras. Aku heran, tadi pagi dia makan apa ya? Kenapa jadi ngeselin gini sih? "Omongan yang unfaedah!" jawabku cuek. "Ck. Dasar cewek nggak peka!" sungut Manda. "Gue bisa liat cara Om Ali natap lo kemarin itu dan gue rasa, Om Ali beneran suka sama lo, Li!" Aku terdiam. Diam-diam aku berpikir. Apa iya Om Ali suka sama aku? Dan kalimat-kalimat yang Om Ali ucapkan malam itu kembali membayangi benakku. Apalagi soal ciuman dan adegan semi panas malam itu. "Cuman perasaan lo aja, Man!" Aku masih ngeles karena nggak mungkin Om Ali suka sama aku. "Dasar kepala batu!" sungut Manda untuk yang kedua kalinya. "Sekarang gini aja. Lo coba test deh Om Ali. Biar lo tau Om Ali suka sama lo apa nggak!" "Idih, ogah. Ngapain pake test segala?" Manda berdecak keras. "Ck. Nih anak bener-bener batu ya. Gue punya dua ide nih buat ngebuktiin Om Ali itu suka sama lo nggak!" Kepalaku menoleh kesamping, menatap wajah Manda yang terlihat tersenyum culas. "Apaan?" tanyaku pelan. "Rencana pertama, lo jauhin Om Ali dan deketin Nick. Atau lo bisa pilih rencana kedua, lo deketin Om Ali dan godain dia. Kalo Om Ali ngerespon, berarti emang Om Ali suka sama lo. Dan siap-siap jadi istrinya!" Tawa Manda seketika meledak. Sementara aku terdiam. Ide dari Manda mungkin boleh di coba. Aku pengen tau kenapa Om Ali bilang kalo aku bakalan dijadiin miliknya. Dan apa arti sentuhan Om Ali malam itu? Tapi aku bingung. Aku ambil opsi yang pertama apa kedua? 》》☆《《 Surabaya, 14 September 2018 00.25
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD