》delapan《

937 Words
》》☆《《 Gila si Manda. Masa iya nyuruh aku godain Om Ali. Yang ada aku diterkam langsung sama Om Ali. Kemarin aja aku nggak ngapa-ngapain Om Ali, mesinnya udah panas. Gimana kalo sampe ambil opsi kedua? Tamat riwayatku! Jelas aku pilih opsi pertama dan tanpa dikasih pilihanpun aku tetep ngindarin Om Ali. Masih malu soal kejadian kemarin malem. "Li!" "Hah, iya?" sahutku cepat sambil mendongak. Kedua alisku terangkat saat menatap wajah masam Nick. Aku langsung menunduk dan mengaduk minuman yang ada didepanku. Nick lalu duduk di seberangku. Aku yakin, kali ini Nick pasti mau bahas soal malming yang gagal kemarin. "Lo kemarin itu beneran lupa kalo ada janji sama gue?" Nah kan bener. Nick pasti nanyain soal ini. Aku tersenyum lalu mengangguk pelan. "Maaf, Nick. Aku beneran lupa. Dan---aku ketiduran. Habisnya capek banget!" "Tidur? Jam 7?" tanyanya seolah nggak percaya. Aku mengangguk lagi sebagai jawaban. "Tidur atau nggak dibolehin keluar sama Om lo?" Dan jus alpukat yang baru saja aku sedot langsung meluncur mulus masuk ke dalam tenggorokan. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!" "Kenapa sih lo takut banget sama Om lo itu? Emang sih dia yang ngerawat lo tapi kan nggak gitu juga kali, Li!" Bener juga sih apa yang dibilang sama Nick. Harusnya Om Ali nggak terlalu mengekangku karena gimanapun juga aku punya hak buat bebas dan menikmati masa mudaku. Aku menatap balik wajah Nick. Ada rasa bersalah yang teramat besar saat aku melihat bolamata Nick yang terlihat sayu. "Gue minta maaf, deh. Sebagai gantinya, gimana kalo nanti siang kita jalan?" Nick menatap miring kearahku. Sebelah alisnya terangkat. Agaknya dia ragu sama tawaranku. "Bukannya lo pulang sekolah selalu dijemput sama Om lo?" "Dia lagi sibuk. Lagian tadi pagi gue dianterin sama Om Adam. Jadi nanti siang pasti dijemput lagi sama Om Adam!" terangku. Sebenarnya tadi pagi aku nggak bilang sama Om Adam buat jemput aku pulang sekolah nanti tapi aku yakin kalo Om Adam yang bakalan dateng. "Gue pengen makan es krim deh, Nick!" sambungku. Dan senyum Nick mulai terbit. Ia mengangguk sekali. "Okay. Gue traktir lo karena acara malming kemaren gagal!" Ya. Ini adalah permulaan rencanaku. Dengan adanya masalah kemarin, aku jadi punya sedikit celah buat menghindar dari Om Ali. 》》☆《《 "Lo serius, Li mau jalan sama Nick?" tanya Manda setelah aku cerita ke dia kalau aku bakalan ambil opsi pertama. Aku mengangguk dengan tangan bekerja memasukkan buku ke dalam tas ransel. "Itu lebih baik. Lagian cowok mana yang nggak bakalan tertarik sama gue?" Manda mencibir pelan. "Pede lo tinggi tapi tingkat kepekaan lo rendah!" "Ya udah, sih. Selow aja. Lagian ini sebagai ganti karena acara malming kemaren gagal!" Manda menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Om lo tau nggak kalo lo mau jalan sama Nick?" Aku mengangkat kedua pundak. "Gue nggak peduli!" Kepalaku menoleh ke belakang dan menatap Nick yang masih sibuk membereskan beberapa bukunya. "Ya udah deh. Lagian bukan urusan gue juga. Tapi kalo boleh sih---gue minta ijin nih sama lo!" Manda memainkan kedua alisnya naik turun sambil memasang cengirannya. "Minta ijin buat apaan?" tanyaku bingung. "Deketin Om lo. Siapa tau aja dia jodoh gue dan gue bisa jadi Tante buat lo!" "Ih, sarap!" sungutku dan beranjak dari tempat duduk, berjalan ke belakang dan menghampiri Nick. "Ya udah, kalo lo ambil opsi pertama, gue ambil opsi kedua!" teriak Manda sambil kembali memainkan kedua alisnya. "GILA!" teriakku. Aku tau maksud Manda apaan. Intinya dia mau godain Om Ali. Manda nggak tau sih bahayanya Om Ali kalo mesinnya udah panas. Bisa-bisa dia jadi korban selanjutnya. Manda beranjak dari tempat duduknya. Sebelum pergi ia melambaikan tangannya ke arahku. "Kalian ngomongin apaan, sih?" tanya Nick penasaran. "Nggak usah dengerin omongannya si Manda yang nggak bermutu!" Nick berdiri lalu menyampirkan tas ranselnya ke pundak sebelah kiri. Tiba-tiba tangannya mengait dan menggenggam jemariku. "Yuk. Keburu panas!" Aku menahan senyum dan mengikuti langkah Nick keluar kelas. Berjalan sambil bergandengan tangan di sepanjang koridor kelas, mulutku tertutup rapat. Sesekali aku melirik jemari tanganku yang ada dalam genggaman tangan Nick. 》》☆《《 "Udah siap?" Nick menolehkan kepalanya ke belakang. "Udah. Yuk!" sahutku. Nick mengangguk dan mulai menarik tuas gas motor ninjanya. "Pegangan!" serunya sambil menarik tangan kiriku dan mengaitkan kepinggangnya. Begitu juga dengan tangan kananku nggak luput dari perhatian Nick. Motor Nick melaju pelan melewati gerbang sekolah. Dug! "Aduh!" pekikku saat helm yang kupakai membentur helm milik Nick. "Kok berhen----ti?" ucapku tersendat saat mataku menatap sebuah mobil hitam terparkir manis di depan sana. Itu mobil pribadi Om Ali. Mati aku! "Kan apa gue bilang. Bodyguard lo nyariin!" celetuk Nick dengan nada agak kesal. "Ya--ya udah jalan aja. Lagian tadi Om Ali nggak bilang kalo mau jemput gue!" ucapku cuek. "Yakin nih jalan?" tanya Nick. Aku diam dengan pandangan mata menatap mobil itu. Lalu nggak lama kemudian pintu depan sebelah kanan terbuka dan Om Ali keluar dari mobil. Langkahnya cepat menghampiriku dan Nick yang masih anteng duduk di atas motor. Mati aku. Aku yakin, Om Ali bakalan nyeret aku dan pulang kerumah. Refleks aku mencengkram jaket yang Nick pakai. Langkah Om Ali terhenti tepat di sebelahku. "O--Om ngapain kesini?" desisku pelan. "Bukannya sekarang sudah jam pulang sekolah?" tanyanya balik. Aku berdecak kesal. "Ya maksud aku Om ngapain jemput aku?" "Aku hanya ingin memastikan kau selamat. Dan---laki-laki di depanmu ini tidak berbahaya!" matanya melirik kearah Nick sebentar lalu fokus menatap gue lagi. "Hari ini aku sibuk. Kupastikan satu jam dari sekarang kau sudah ada di dalam rumah!" Setelah mengatakan hal itu, Om Ali memutar badannya 180 derajat dan melangkah pergi. Masuk ke dalam mobilnya dan langsung membawa mobil hitam itu meninggalkan area sekolah. Aku cuman bengong sambil menatap kepergian Om Ali. Kok Om Ali nggak marah aku jalan sama Nick? "Tumben diijinin?" celetuk Nick. "Gue juga bingung. Tumbenan Om Ali ngebiarin gue jalan sama cowok lain!" sahutku tanpa sadar. Kayaknya mulai ada yang nggak beres. Dalam hidupku, baru kali ini Om Ali ngebiarin aku jalan sama cowok selain dia dan lebih mentingin pekerjaannya. Emang kerjaan Om Ali sepenting apa sampe nyuekin aku? Kayaknya rencana pertamaku nggak berhasil. Apa perlu aku ganti rencana kedua? 》》☆《《 Surabaya, 14 September 2018
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD