Semua mata tertuju pada gadis cantik yang kini sedang berdiri di depan kelas. Kini kelas XII IPA 2, kedatangan murid baru.
"Monggo, nak. Perkenalkan dirimu terlebih dahulu!" perintah pak Bambang. Gadis itu mengangguk.
"Hay... Perkenalkan. Nama, gue Jessie Ardhya. Kalian bisa panggil gue Jesi, Jes, atau yang lainnya," sapa Jessie, kepada teman kelas barunya. Semua mengangguk paham.
"Jessie, kamu bisa duduk di bangku yang kosong. Kamu bisa pilih, duduk di samping Hana, atau Kayla," kata pak Bambang. Sedangkan, Jessie bingung, siapa Hana, dan siapa Kayla.
Hana, dan Kayla saling bertatapan. Namun, Kayla membuang muka. Akhirnya, Hana mempersilahkan Jessie, untuk duduk di sampingnya.
"Makasih, ya?" ucap gadis itu.
"Sama-sama."
"Nama gue Hana."
"Oh... Iya. Salam kenal ya, Han?" Jessie mengulurkan tangan, dan di sambut oleh Hana.
Para murid siswa, memandang Jessie, dengan pandangan tak berkedip. Kecantikan Jessie, mengalahkan kecantikan Hana, dan Kayla. Meskipun, hanya berbanding sedikit. Tapi... Jessie, terlihat perempuan berkelas. Dari, tas dan sepatu yang dikenakan, adalah merk ternama.
"Wah... Nambah lagi, nih. Bunga kelas di kelas kita. Ah... Mata gue jadi lebih bersinar pas liat ntuh cewek baru. Kayla mah, sekarang kaga ada apa-apanya," kata salah seorang murid laki-laki yang duduk di sebelah Kayla, dan sangat jelas suaranya. Kayla mendengar itu.
Sedangkan, gadis itu hanya mendengus malas. Entahlah, hari ini Kayla sedang malas meladeni semua orang. Kepalanya, terasa pusing. Mungkin, efek semalam bekerja hingga pagi.
Bell istirahat.
Kini Hana menghampiri Kayla yang sedang terduduk lesu, kepala ia letakkan di atas meja. Hana ingin bertanya, sebenarnya apa yang membuat Kayla menjauhi dirinya.
"Lu, gak ke kantin, Kay?" tanya Hana basa-basi. Kemudian, duduk di samping sahabatnya itu. Kayla yang memjamkan mata, sepontan membuka mata, dan melirik Hana. Kemudian menutup matanya lagi. Malas menjawab pertanyaan Hana.
"Lu, kenapa sih? Sebenarnya, gue ada salah apa sih?"
"Apaan sih, lu? Udah sana gak usah ganggu gue. Pergi, gih!" Kayla mengusir Hana. Sumpah, hari ini kepalanya sangat berdenyut, tubuhnya lemas.
Hana berdiri, menatap Kayla sengit. Kemudian menggebrak meja. Suaranya terdengar nyaring. Hingga membuat Kayla kaget, kepalanya tambah pening.
"Plis, Han! Gue lagi gak mau debat. Kepala gue pusing!" ujar Kayla kemudian pergi meninggalkan Hana. Mungkin UKS bisa menjadi tempat istirahatnya saat ini.
Jessie melihat Hana, dan Kayla yang berdebat. Gadis cantik itu tersenyum, dan segera menghampiri Hana.
"Ke kantin yuk, Han," ajak Jessie, dan Hana mengangguk.
Di lain tempat.
Kayla sedang berjalan, kebetulan Glen akan ke kelas gadis itu. Namun, ketika melihat Kayla keluar kelas. Glen langsung mengejarnya.
"Kamu kenapa?" tanya Glen, sambil merangkul tubuh Kayla. Kayla merasa risih, namun saat ini dirinya sedang tak ingin berdebat. Akhirnya, membiarkan Glen terus merangkulnya.
"Aku pusing. Mau ke UKS," jawab gadis itu.
"Aku temenin." Tiba-tiba, Glen membopong tubuh Kayla. Kayla menjerit pelan. Namun, tak dihiraukan oleh lelaki itu.
Pasang mata melihat Kayla, dan Glen heran. Ada yang gemas, dan ada yang merasa jijik. Namun, Glen tidak peduli. Berbeda dengan Kayla, gadis itu menengelamkan wajahnya di d**a Glen. Jatungnya berpacu tak karuan. Antara, senang atau marah. Yang jelas, Kayla nyaman saat ini.
Kini mereka sudah sampai di UKS. Glen membaringkan tubuh Kayla. Kemudian melepas sepatu gadis itu. Kayla tersenyum tulus, dan senyumnya diilihat oleh Glen. Lelaki itu mengusap lembut rambut Kayla.
Jantung gue... Astaga. Emang bener ya? Glen memang ganteng kalo dilihat-lihat, batin Kayla.
"Woy... Ngalamun bae. Gue tau, kok. Gue emang gantengnya di atas rata-rata. Gak usah ngiler gitu ngeliatinnya," kata Glen. Sepontan, Kayla mencubit lengan Glen, Membuat lelaki itu mengaduh, namun akhirnya tertawa, karena melihat ekspreksi lucu Kayla.
Suasana menjadi hening, ketika Glen mengenggam tangan gadis itu. Menatapnya dengan tatapan lembut. Seperti ada sesuatu yang ingin diucapkan, namun tertahan. Hal itu membuat Kayla menjadi salah tingkah.
"Lu kenapa, dah? Aneh banget tau gak?"
Kayla menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya. Ia merasa malu, diperhatikan seperti itu.
"Nanti malam, kalo lu senggang. Gue pingin ngajak lu jalan-jalan. Ada satu hal yang mau gue omongin," ujar Glen.
Kayla bingung, padahal nanti malam ada job besar. Waluyo mengajak untuk menginap di hotel. Dengan bayaran 10 juta, siapa yang rela kehilangan uang sebanyak itu? Namun, di sisi lain, ia juga ingin merefresh otak, dan ingin lebih dekat dengan Glen.
Duh... Gimana, ya? Apa gue batalin job gue? Ah... Iya, cancel aja dulu, ganti hari besok, batin Kayla.
Akhrinya dengan pertimbangan yang paling ditimbang, dan keputusan yang paling putus. Kayla lebih memilih membatalkan jobnya, dan memilih untuk pergi bersama Glen.
"Iya, tapi jemput gue!"
"Pasti gue jemput." Glen tersenyum.
*****
Malam harinya.
Kayla sudah siap, gadis itu nampak cantik dengan balutan dres berwarna kuning. Make up yang natural, menambah kesan alami. Gadis itu duduk di ruang tamu, menunggu Glen datang menjemputnya.
"Kamu mau ke mana, nak?" tanya Mifta.
"Aku mau keluar sama Glen, ma."
"Tumben... Kamu lagi libur kerja?"
Kayla terdiam.
Situasi saat ini yang membuat Kayla bingung. Ketika sang ibu membahas tentang pekerjaannya. Entah, sampai kapan, Kayla harus berbohong.
"Hehe... Iya, ma," jawab Kayla.
"Oh iya, ma. Nanti, mbak Wati kesininya agak malam. Katanya anaknya lagi sakit. Mama baik-baik di rumah, ya?" Mifta hanya mengangguk.
Mbak Wati adalah, tetangga Kayla, yang Kayla bayar untuk menemani Mifta, ketika dirinya sedang bekerja.
Kini Glen sudah datang. Lelaki itu turun dari motor, dan langsung masuk ke rumah Kayla. Karena, pintunya sudah terbuka. Tak lupa mengucap salam, dan meminta ijin kepada Mifta.
"Kami pergi dulu ya, tan?" Glen mencium punggung tangan Mifta.
"Hati-hati, ya?"
"Iya, ma."
****
Glen mengajak Kayla ke rumahnya. Tapi, itu semua tak jadi masalah untuk gadis itu. Itung-itung bersembunyi dari Waluyo. Karena, dirinya telah berbohong. Membatalkan job, dengan alasan sedang tak enak badan.
Rumah Glen nampak mewah, namun ia hanya tinggal dengan pembantunya. Ayah, dan ibunya bekerja di luar negri. Kayla duduk, sambil memandang rumah megah yang terkesan elegan itu. Tak menyangka, jika rumah Glen sebesar itu.
Glen duduk di samping Kayla. Jantungnya berdegub kencang. Mungkin saat ini, adalah waktu yang tepat.
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Kayla tiba-tiba. Membuat Glen yang sedang berpikir, jadi buyar.
"Eh... Iya, Kay," jawab Glen. Kayla mengangguk mengerti.
Kini Glen semakin mendekati Kayla.
"Kay?" lelaki itu menangkup wajah Kayla. Kini wajah mereka berhadapan sangat dekat. Kedua jantung manusia berbeda jenis kelamin itu berdegub sangat kencang. Glen menempelkan bibirnya di bibir Kayla.
Cup.
Mereka saling melumat, dari yang lembut menjadi kasar. Namun, Glen menghentikan aktivitasnya. Kembali menatap wajah Kayla.
"Aku suka kamu." Mata Kayla membelalak sempurna. Tapi, gadis itu hanya terdiam. Bingung harus menjawab apa.
"Awal pertama kali Aku lihat kamu, aku udah ngerasa ada yang berbeda. Kamu unik, dan istimewa."
"Kamu mau jadi pacar aku?"
Kayla bingung harus menjawab apa.
Seketika ia merasa lemas.
"Aku...."
Lidah Kayla kelu, seakan tak sanggup untuk menjawab.
"Aku, mau."
Glen mengenggam tangan Kayla. Lelaki itu tersenyum.Dalam hati ia merasa senang.
"Aku gak pernah merasa sebahagia ini," ujar Glen.
Ketika menerima hati tanpa memilih. Rasanya sangat menegangkan. Ada tantangan tersendiri dalam menjalani hubungan ini. Dan, aku berharap semoga kamu bisa menjadi alasan disetiap senyum yang terukir di wajahku, batin Kayla.
****
Kabar tentang Kayla yang jadian dengan Glen menyeruak begitu cepat. Seisi sekolah gempar. Banyak hati lelaki yang patah. Lantaran Kayla, gadis populer yang banyak diincar kaum adam, akhirnya tidak jomblo lagi.
Hana melirik Kayla yang sedang asik mengobrol dengan Glen. Dunia seakan milik mereka berdua, dan itu membuat Hana risih. Karena, kedua sejoli yang sedang kasmaran, tak segan untuk menempel. Bahkan mencium satu sama lain. Menurut Hana, hal yang mereka lakukan itu sangat lebay.
"Mentang-mentang udah punya pacar. Sahabat lama di lupakan. Emang dasar, ya? Kacang lupa kulit itu bener-bener nyata," sindir Hana dengan nada ngeggas.
Kayla semakin erat memeluk lengan Glen. Niatnya, ingin semakin membuat Hana iri, dan makin nyinyir.
"Ya Ampun. Liat tingkahnya, Jes. Macam cabe-cabean," ujar Hana lagi.
Jessie tak menghiraukan perkataan Hana, gadis itu malah asing memandangi Glen. Rasa tertarik muncul begitu saja. Glen tampan, dan terlihat sempurna, siapa yang sanggup menolak pesona Glen.
"Ups... Dia kan emang cabe-cabean bokingan. Gak punya malu banget," kata-kata Hana membuat Kayla menoleh.
Apa maksud Hana berbicara seperti itu? Apakah Hana memang sengaja? Atau hanya sebatas memancing dirinya saja? Kayla menatap sengit Hana, dan Jessie. Tapi, kemudian ia membalikkan badan kembali bergelayut manja dengan kekasih barunya itu.
"Jijik!" teriak Hana.
*****
Waktu istirahat.
Di kantin.
Hana, Alfa, Alvin, dan Jessie. Mereka sedang berkumpul, dan menatap Kayla sinis. Tapi tidak dengan Alfa, dan Alvin. Jangankan menatap, melirikpun tidak
"Liat tuh, cabe-cabean. Sekarang udah punya pacar baru. Temen lama dilupain," kata Hana.
"Cabe-cabean? Jadian?" tanya Alfa.
"Maksud kamu apa sih, Yank?" tanya Alvin.
"Lah itu, si Kayla. Dia kan jadian sama Glen. Temen kalian," jelasnya.
Deg.
Jantung Alfa seperti berhenti sejenak. Benarkah? Kayla pacaran dengan Glen? Ah... Alfa jadi teringat dengan kata-kata Glen.
"Bener-bener, Kayla itu memang gatel! Lenjeh, nemplek sana-sini, namanya aja cabe-cabean," ujar Hana.
"Kamu ngomong apaan, sih? Dia temen kamu, loh. Gak baik ngomong kaya gitu!" ujar Alvin.
"Kan emang bener! Iya kan, jes?"
Jessie hanya tersenyum kikuk. Tak mau terlibat terlibat dengan permasalahan ini.
Alfa menggebrak meja. Tak terima jika Kayla dijelek-jelekan seperti itu.
"Mulut kalian bisa dijaga gak?" Hana tersentak, langsung memeluk lengan Alvin. Baru kali ini, Hana dibentak Alfa.
"Lu kok gitu sih, Fa? Kan emang kenyataanya gitu. Kayla itu cewek gak bener. Dia ganjen, dan udah ninggalin kita semua," ujar Hana.
"Tapi, bukan berati li seenaknya jelek-jelekin Kayla kaya gitu. Lu itu temen dia!" tegas Alfa.
"Itu dulu, bukan sekarang! Dia bukan temen gue lagi. Sekarang temen gue Jessie."
Alfa meninggalkan teman-temannya. Entah, mengapa emosinya tersulut ketika mendengar ada yang berbicara tentang kejelekkan Kayla.
"Dasar sensian," ujar Hana.
"Udah, yank. Cukup!"
Kini Kayla menghampiri Hana. Menatap dengan tatapan datar. Hanapun begitu. Menatap datar Kayla.
"Ikut gue sekarang!" Kayla menarik lengan Hana.
"Apaan, sih? Gak usah pegang gue." Hana menepis tangannya.
Alvin menatap Kayla sinis.
"Tenang aja, Vin. Gue gak akan nyakitin cewek lu."
"Ayo buruan bangun!" Lagi-lagi, Kayla menarik lengan Hana. Membuat gadis itu semakin jengkel.
"Gue bisa sendiri," bentaknya.
Di gudang kelas.
"Ngapain lu bawa gue ke sini?" tanya Hana to the point.
"Harusnya, lu gak perlu ngomong tentang kejelekan gue."
"Terus?" tanya Hana menantang.
"Lu temen gue kan?"
"Sekarang bukan!"
Kayla melipatkan tangannya di d**a.
"Gue gak pernah, bocor tentang rahasia lu kesiapapun. Mungkin kalo gue jahat. Hidup lu bakal hancur dalam sekejap," ancaman Kayla mampu membuat bibir Hana kelu.
Hana tahu, bahwa Kayla tidak akan pernah main-main dalam berucap.
"Ingat! Rahasia, lu. Ada di tangan gue. Berani lu macam-macam, gue gak segan buat bocorin semua," ucap Kayla.
"Gue cuma butuh waktu untuk menyendiri. Tapi, lu malah kaya gitu. Dasar, sahabat TAI," lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Hana.
Hana menghentak-hentakan kakinya kesal. Kayla benar-benar membuatnya jengkel.
*****
Glen mengajak Kayla ke rumahnya. Awalnya Kayla menolak, karena siang ini ia ada job. Tetapi Glen memaksa, Mau tidak mau Kayla harus menurut, dan lagi-lagi membatalkan jobnya.
"Mau minum apa?" tanya Glen.
"Terserah."
5 menit kemudian, Glen datang dengan membawa gelas berisi jus mangga. Dalam hati Glen mengagumi kecantikan Kayla. Beruntungnya dia memiliki pacar secantik itu. Pemuda itu menaruh gelas itu di meja. Kemudian duduk di samping sang pacar. Kayla merasa gugup, Glen terus memperhatikannya. Kayla merasa risih saat ini. Ia mendorong Glen, dan menutup wajahnya. Glen gemas melihat tingkah pacarnya.
"Mau makan gak?"
"Emm ... boleh, aku juga laper."
"Ayo masak!" kata Glen, ia segera bangkit dan mengandeng tangan Kayla. Gadis itu bingung,dan merasa was-was, karena sesungguhnya ia tidak bisa memasak. Pernah sekali ia belajar masak. Ia sudah PD, dan yakin bahwa masakannya akan seenak baunya, Hana sebagai kelinci percobaannya. Kayla menyuruh Hana memakan nasi goreng buatannya. Hana menurut, Ia melahap satu sendok nasi goreng buatan Kayla, dan alhasil Hana muntah-muntah. Nasi goreng rasa garam, Rasanya sangat asin sekali, dan sejak saat itu, Kayla sudah tak pernah memasak lagi. Ia trauma dengan kejadian lalu.
Glen memakaikan celemek untuk Kayla. Gadis itu hanya meringis. Dia tak tahu harus berbuat apa. Merasa malu mengaku kalau dirinya tak bisa memasak. Mau ditaruh di mana harga dirinya sebagai perempuan?
"Masakin aku ya?" pinta Glen.
"Ta ... tapi, aku ... aku gak bisa masak." kayla menunduk. Ia merasa saat ini tak berguna menjadi seorang perempuan. Ia merasa tak bisa apa-apa. Glen tersenyum, dan menangkup wajah Kayla.
"Ya sudah, kamu duduk saja! Biar aku yang masak." Glen mengecup kening gadisnya. Mesikpun sudah sering dicium banyak lelaki, tapi jantungnya tidak berdetak sekencang ini. Mungkin, terasa beda. Jika dicium dengan seseorang yang ia sayang.
Glen mulai menyiapkan bahan-bahan. Ia ingin memasak nasi goreng. Kayla memperhatikan Glen yang sepertinya sudah mahir melakukan itu, Gadis itu merasa malu. Tak butuh waktu lama Glen sudah selesai melakukan aktivitas memasaknya. Gadis itu bertepuk tangan, dan menghampiri sang kekasih.
"Emmm ... baunya enak. Pinter deh. Jago juga pacar gue, " kata Kayla. Glenn tersenyum mendengar perkataan Kayla.
****
Glen, dan Kayla sedang asik bermain mobile legend. Gadis itu bersandar di d**a Glen. Sesekali Glen mengecup puncak kepala Kayla.
"Haduh ... Kagura cemen ih, masa kalah sama Alucard." Kayla cemberut ketika Glen mendapatkan Kill pertama.
"Kagura lemah gemulai, beda sama Alucard yang gagah, kuat, dan perkasa." Glen menjawab.
"Ih ... kata siapa Kagura lemah gemulai? Mentang-mentang Kagura cewek gitu dikata lemah? Lu, tuh yang lemah!" balas Kayla
Aku lemah ketika kau menjauh. Batin Glen.
"Apa buktinya kalau aku lemah?"
"Nih ya ... bandingkan dengan cewek. Cewek walapun bawa dua gunung mereka tetap strong. Gak kaya lu, cuma bawa dua telur puyuh aja masih minta bantuan burung. Ah payah!" ujar Kayla. Glen tergelak mendengar jawaban gadisnya.
"Kok bisa gitu ya? Hahahahah."
"Ya gak tau. Makanya jangan bicara sembarangan. Walapun cewek lemah, dia bisa membangunkan barang yang tidur."
"Maksudnya?"
"Mau aku kasih contoh?" tanya Kayla. Glen mengangguk.
Tiba-tiba ide terlintas di kepala Kayla. Gadis itu menghadap Glenn dan duduk di pangukan Glenn. Ia melingkarkan tangannya di tengkuk sang pacar. Ia menempelkan keningnya.
"Mau ngapain?"
"Mau menghidupkan barang yang sedang tidur."
Kayla mengoyang-goyangkan pinggulnya, dan ia merasakan sesuatu menojol di bawahnya. Kayla merasa puas dan ingin tergelak.
"Ternyata kamu nakal," kata Glen, lelaki itu ingin membalas perlakuan pacarnya, dan ia akan mengambil alih permainan yang telah Kayla mulai. Glen mengusap bibir Kayla.
"Mau apa?"
"Mau memperkosa kamu."
"Woy! Awas aja, lu. Gue getok," ancam Kayla.
*****
Tbc.
Give me love and komen, satu love dari kalian bagian dari semangatku. Thankyou ?